>| Yang di bawah ini, bagaimana kalau anda sediakan tiketnya?
>It would be a waste of $

Yah, susah deh.

>Jaya, Jaya, Jaya ... atau Anjasmara ... mau sembunyi kemana lagi? Lha
>sekarang kok malah mencoba "berlindung" dibalik cerita wayang. Kalau
>mau "insult the intelligence" dari sidang pembaca Permias Net ini
>mbok ya kira-kira. Apa dianggap anggota list ini nggak bisa baca
>konteksnya, atau seakan semua orang itu "buta wayang" sama sekali (on
>the contary, a number of people I know are very articulate in the
>subject of wayang and javanese lores). Bisa saja dibuat seribu
>"penjelasan" sesudah peristiwa terjadi, untuk mengurangi kadar
>joroknya, tetapi konteks dimana kata-kata tersebut dipakai tokh tidak
>bisa menipu. Apakah labeling komunis, atheis itu memang rutin dipakai
>dalam dunia pewayangan? Demikian juga, apakah ada orang --dengan
>intelegensia normal-normal saja-- bisa salah mengerti kalimat dibawah
>ini sebagai "sanjungan" kepada Gus Dur
>
>        "Wahai  mahaguru Dur-jana, siapakah engkau? Ulamakah?
>         Ataukah seorang komunis tulen berbulu Islam?" (Anjasmara/Jaya)


Nah, anda lompat lagi ke hal lain dengan kesimpulan yg sudah ada di tangan.
Di kalimat di atas, siapa yg menyanjung Gus Dur? Jelas saya mempersoalkan
Gus Dur kan? Memang anda gimana sih? Di dalam posting saya tersebut jelas
saya mempertanyakan Gus Dur. Itu jelas sekali tidak perlu diotak-atik.
Banyak tokoh komunis fasih bicara tentang Islam. Berhubung Gus Dur membuat
beberapa kebijakan yg merugikan umat Islam (di sini tentang TAP MPRS), saya
perlu bertanya siapakah sebenarnya dia. Gini aja kok mau diputar-putar.
Tidak ada yg perlu disembunyikan kok mas...!!


>Dalam paribasan Jawa kuno --yang sudah jarang terdengar dalam
>pegelaran wayang jaman sekarang-- pembelaan yang Anda lakukan ini
>disebut "ambalithuk kukum" - artinya melanggar hukum/peraturan dengan
>belagak pilon, pura-pura bego tidak tahu aturan, atau tidak tahu malu.

Itu terserah anda dalam mengambil kesimpulan, sebagai mana saya menyimpulkan
bahwa anda suka mengambil istilah aneh-aneh hanya untuk membantu
meningkatkan kesan tingginya intelektualitas anda.

>Semakin saya renungkan, mungkin ada benarnya juga kalau ada yang
>mengusulkan bantuan seorang professional. Bukan tidak mungkin ini
>memang problem Multiple Personality Disorder (MPD) --sekarang sudah
>diganti nama dengan Dissociative Identity Disorder (DID*)-- dimana
>dominant personality yang muncul adalah Anjasmara. So please, Mr.
>Anjasmara, would you call out Mr Brawijaya, or tell him this message?
>He may be the only hope to get out from this mess.

Nah, ini adalah kesimpulan yg langsung menyangkut diri pribadi. Memakai
suatu nama adalah hak orang tersebut. Saya juga punya alasan mengapa pilih
nama Jeffrey Anjasmara. Anda kesannya tahu wayang. Nah, berarti semua tokoh
wayang punya penyakit DID juga ya? Hehehe.... menggelikan. Gimana dg artis?
Gimana dg banyak sastrawan? Semua kena DID ya? Hohoho.... wabah DID nih.

>Tulisan saya ini merupakan yang terakhir dalam thread ini (I have
>much better things to do).

Oh really? Like what? Collecting somebody's emails, combining, and send it
at the right time? Yes, sure that's a very big job.

>Seandainya yang telah saya tulis ada
>gunanya, jadi semacam obat [walau kadang terasa pahit] saya akan
>sangat senang - send me feedback, japri saja. Kalaupun tidak, well
>... some cases are just incurable -- as my doctor always says. Kalau
>ada yang merasa tersinggung ... maapin deh, tetapi ini bukan apologi
>dalam artian, apa yang saya tulis adalah sesuatu yang sudah saya
>pertimbangkan masak-masak. Sesuatu yang perlu --dan akan saya ulangi
>lagi dalam situasi yang sama-- untuk diungkapkan; so that we may all, as a
>community, learn from it.

Mungkin anda yg incurable. Muncul setiap 6 bulan untuk pamer intelektual
tanpa pernah menyampaikan informasi atau thread-thread populer kecuali yg
bersifat pribadi. Saya menganjurkan agar anda sebagai bagian dari komunitas
untuk belajar juga.

>Akhirnya saya akan tutup dengan pitutur Jawa kuno, tetapi masih
>sangat relevan dengan tatacara ber-mailing-list-ria di jaman
>cyberspace ini: "ajining salira saka wicara." Ujar-ujar supaya
>manusia itu hati-hati, penuh pertimbangan dalam menggunakan mulut
>(kata-kata) nya. Ini begitu penting terutama buat mereka yang sering
>omong atau nulis di net, supaya tidak mengalami nasib seperti
>"dhalang kambrukan panggung" - yang mengibaratkan orang yang
>mengalami kesulitan atau kesengsaraan sebagai akibat dari kata-kata
>yang diucapkannya.

Dari dulu anda paling suka sibuk tentang tata cara bermailing-list. Dari
dulu pula saya selalu oppose dengan aturan-aturan yg membelenggu kebebasan
peserta milis untuk mengekspresikan pikirannya. Tidak ada dalang di milis
ini. Apakah anda hendak menyarankan agar orang berhati-hati nulis di sini?
Supaya sepi begitu?

>    Nawung krida, kang menangi jaman gemblung, iya jaman edan,
>    ewuh aya kang pambudi, yen meluwa  edan yekti nora tahan.
>    Yen tan melu, anglakoni wus tartamtu, boya keduman,
>    melik kaling donya iki, satemahe kaliren wekasane.

Tidak ada relevansinya karya Ranggawarsita dengan posting anda. Ini cuma
salah satu bukti bahwa anda memang suka pamer-pamer istilah untuk
menunjukkan intelektualitas anda. Mirip dengan kritik thd Aretha Franklim si
Diva yg terlalu mendominasi: "Kalau ada yg menyanyi dg nada tinggi, maka dia
akan lebih tinggi lagi. Kalau ada yg menyanyi dg nada rendah, maka dia akan
lebih rendah lagi". Sayang tak ada relevansinya mas..... :) Cari ide lain
lagi aja mas... monggo....:)

Terakhir nih, apa ini bagian dari usaha kolektif untuk menutup mulut saya
kah? Mewakili siapakah ini?


Anjasmara

______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com

Kirim email ke