Buat Irwan,
Kalau boleh saya berkomentar terhadap tulisan yang kelihatannya
mencerminkan sikap anda ini.
Sebagai analis (tukang menganalisa) dan moderator milis yang berkaitan
dengan nilai tukar rupiah, saya kira justru kurang tepat kalau anda
bersikap 'pasif' dengan hanya mencermati perkembangan situasi yang
berkaitan dengan pergerakan nilai rupiah di Indonesia saat ini. Tulisan
anda di bawah ini mensiratkan hal tersebut. Mudah-mudahan saya tidak
salah.
Menurut saya, kehandalan seorang analis adalah justru terletak pada
kemampuannya menganalisa berbagai faktor yang mempengaruhi obyek analisa
(dalam kasus diskusi ini adalah nilai rupiah di Indonesia).
"Perkembangan di dalam negeri yang semakin tidak menentu" dalam tulisan
anda tsb-lah yang sebenarnya menjadi TANTANGAN seorang analis untuk
berkutak-katik guna sampai pada keluaran yang mungkin berupa suatu
prediksi nilai tukar rupiah itu sendiri. Saya rasa, semua analis saham
dan kurs mata uang dimanapun sehari-harinya adalah begelut dengan segala
macam fenomena yang terjadi dan yang mungkin dapat berpengaruh kepada
perubahan-perubahan nilai saham dan mata uang itu sendiri, dengan
melepaskan diri dari perasaan suka ataupun tidak suka, agar dapat
menganalisa 'confounding factors' tsb secara jernih dan akurat.
Keluaran dan prediksi analis dalam situasi yang semakin tidak menentu
justru sangat ditunggu oleh para pemerhati dan pembuatan kebijakan. Nah,
kalau anda justru bersikap 'pasif' dalam hal ini, lalu mana dong
sumbangsih kemampuan anda dalam analisa saham dan rupiah tsb?
Selamat berkarya.
Salam,
Budi
Irwan Ariston Napitupulu wrote:
>
> Berikut ini tulisan saya di milis saham dan rupiah yg
> baru saja saya kirimkan.
>
> jabat erat,
> Irwan Ariston Napitupulu
>
> The first principle of non-violent action is that of non-cooperation
> with everything humiliating. - Mahatma Gandhi
>
> =========fwd==========
> Subj: [saham] Saya tarik semua analisa saham dan rupiah.
> Date: 4/14/00 9:48:12 AM Eastern Daylight Time
> From: [EMAIL PROTECTED]
> Reply-to: [EMAIL PROTECTED]
> To: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]
>
> 14 April 2000, 8:45 PM WIB.
>
> Salam,
>
> Setelah melihat perkembangan dalam negeri yang
> semakin tidak menentu, karenanya saya menarik
> semua analisa terakhir yang sudah lemparkan di milis
> ini, milis saham dan rupiah.
> Saya akan coba terus mengikuti perkembangan
> yang terjadi di tanah air.
>
> Terus terang, saya tidak menyukai dengan perkembangan
> terakhir yang terjadi yang menurut saya semakin
> meningkatkan ketidakpastian situasi yang berkembang.
>
> Dua berita yang saya baca di detik.com semakin melengkapi
> terhadap rumors yang saya dengar akhir2 ini.
>
> http://detik.com/peristiwa/2000/04/14/2000414-182843.shtml
> http://detik.com/peristiwa/2000/04/14/2000414-191120.shtml
>
> Dengan demikian, saat ini berarti saya tidak punya
> prediksi apa pun atas perkembangan nilai tukar rupiah
> atau pun indeks BEJ termasuk support atau pun resistance.
> Tidak tertutup kemungkinan akan terjadi gerakan2 harga
> yang tidak anda perkirakan sebelumnya bila memang situasi
> di tanah air makin berkembang ke arah yang lebih buruk....:(
>
> Semoga para politisi benar2 memperhatikan kepentingan
> rakyat banyak di atas kepentingan individu atau pun kelompok.
>
> jabat erat,
> Irwan Ariston Napitupulu
>
> catatan:
> Tulisan ini saya bcc khan ke beberapa pihak termasuk ke
> alamat email yang diyakini memiliki akses ke orang
> puncak di beberapa partai politik di tanah air.