Perasaan pasukan TNI cuman 250,000 orang. Makanya saya heran kalau anda
sebut "tak lebih" dengan pasukan AS+Inggris. Kesannya kok hampir setaraf.
Apa anda nambahin dengan pasukan jin-nya Gus Dur ya?

Soal penempatan pasukan Malaysia di sana, sudah saya baca bertahun silam.
Tentu mereka juga cukup pintar bahwa mereka tidak perlu bawa senjata
lengkap. Istilahnya itu hanya "numpang nampang" saja. Perasaan Indonesia
juga punya perwakilan di situ juga. Ini yg saya baca dulu lho ya. Tidak tahu
juga kalau segelintir pasukan TNI itu sudah ditarik atau gimana. Mungkin
bosan disuruh numpang nampang doang atau enggak tahan disuruh lihat orang
pada telanjang di pantai.

Sekali lagi, point saya adalah pemberian statement yg lebih keras dari
sekedar statement seorang Menlu. Itu yg perlu dipikirkan. Tentu saja
pengerahan pasukan jadi pilihan terakhir. Tapi kalau ternyata tidak mempan,
apa boleh buat...:) SOrry lho ya, kesannya anda ini ingin suapay Indonesia
nuntut doang. Masalah dikasih atau enggak yah monggo kerso...:) Wah, ke laut
mas...:)

Anjasmara


Note:
(1) Dapat belajar dari mana kalau perang terbuka tidak mungkin lagi? Selama
manusia masih ada di dunia, konflik secara fisik akan selalu ada. Mau
disebut jaman informasi atau jaman internet, perang baik terbuka maupun
terbatas akan selalu ada. Saya jadi pengen belajar karya filosof militer
Mardhika nih..hehehe....:)

(2) Soal Fidel, sudah mendengarkan langsung pidato Fidel waktu bentrok
dengan AS di tahun 1960an nggak? Dia sadar kalau tidak mampu melawan AS.
Tapi semangat nasionalime orang Cuba mampu dibangkitkan, dan bertekad akan
memberi perlawanan maksimal. Hasilnya: Peristiwa Teluk Babi. Pasukan elite
AS terbasmi.


-------------------
>From: Mardhika Wisesa <[EMAIL PROTECTED]>
>Reply-To: Indonesian Students in the US <[EMAIL PROTECTED]>
>To: [EMAIL PROTECTED]
>Subject: Fidel Anjasmara Re: [Sipadan lagi]
>Date: Tue, 2 May 2000 13:55:04 EDT
>
>Jeff..jeff...Kita bukannya pengecut, kita hanya memperjuangkan
>Hak kita secara damai dan didalam hukum. Kamu itu memang
>mental preman ya...semua harus secara kekerasan...ini sudah
>bukan jamannya lagi, heran saya di Rochester, premanismenya
>tidak kalah dengan Bearland atau Palmeriam.
>
>Coba baca dan teliti lagi situasi sebelum penculikan, Karena
>Malaysia belum menempatkan militernya di resort islan tersebut.
>saya membaca dari sumber di berita Indonesia. Jelas saja
>satpam-satpam tidak akan bisa melawan para serdadu-serdadu
>gendeng ini. Kalah kuat lah...
>
>Coba cari SEATO, bahwa penyerangan kepada salah satu
>negara anggota adalah penyerangan terhadap semua negara
>anggota, yang diartikan solidaritas militer mereka akan
>sangat kental, dan Amerika adalah salah satu principal
>member of SEATO.
>
>Jelas, dalam dunia hukum, barang sengeketa tidak boleh
>diperjual belikan sampai ada kejelasan siapa pemilik yang
>sesungguhnya. Nah dalam kasus kita ini, Hukum International
>belum dapat diterapkan secara bijaksana, dalam hal ini
>tentunya sangat pro Malaysia, sehingga mereka berdagang
>bebas di dalam pulau yang masih disengketakan tanpa terkena
>teguran oleh Mahkamah international.
>
>Tapi penggunaan kekerasan dalam pengusiran para pedagang
>ini jelas salah. Lah mereka bukan pedangan kaki lima
>yang berdagang di tepi-tepi jalan kok, mereka membuka
>resort dengan ijin yang tentunya dikeluarkan oleh Malaysia
>bukan kita. Nanti, case pulau sipadan dimenangkan oleh kita
>tapi para investor enggan kembali kesana karena dendam
>kesumat pernah diusir pasukan walikota penangkap becak
>terlarang. Wah susah dikita donk..investor kabur... Pikirkan
>secara ekonomisnya.
>
>yah ngambil ide kok ke cina, siapa yang mau jalan-jalan
>di beijing, orang tentara cina saja mencapai 2 juta, Amerika
>ditambah reserve baru, ini baru lho, hampir sejuta. Jelas
>kalap donk para senator-senator di Washington D.C., ngirim
>anak ayam walau dipersenjatai seperti komando tapi masih
>kalah rasio. Ambil ide lain donk...saya ngambil ide
>Indonesia karena saya tahu jumlah tentara kita ngga lebih
>dari jumlah tentara Amerika ditambah inggris. Aduh ketahuan
>Military Science kamu masih kurang!!
>
>Bandung lautan api!, kamu saja bakar rumahmu sendiri, ogah
>saya bakar rumah saya...selain ngga ada insurance juga masih
>rumah warisan kakek moyang, yang ada digampar Bapak ibu, Pak Le dan
>Bu de. Enak saja bakar-bakar...kamu kira segampang itu
>suruh rakyat membakar rumah sendiri, ditempelengi sama
>hansip kamu....Sekarang bukannya jaman perang puputan lagi
>mas...sekarang jaman perang ekonomi dan embargo, ngga
>bakalan deh kita perang secara terbuka lagi seperti
>perang dunia 1 dan 2. Lagian, kalau anda yang nyuruh sih
>ogah saya, mendingan bersihin kandang burung sekalian,
>semoga laku dijual ke serdadu-serdadu bule, kibulin
>burung perkutut dengan burung Elang kesukaan mereka itu.
>Sapa tau lantaran blond, mereka bego-bego banget.
>
>Udah lah...nafsu anda yang gemar bertempur ini dihilangkan
>dunia ini sudah jenuh dengan peperangan, capai kita sebagai
>manusia gebuk-gebukan...mending belajar seperti kang acu
>mikirin bagaimana dumb brain bisa sepintar alber einstein.
>
>Mardhika Wisesa
>
>Jeffrey Anjasmara <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>Menyambung sambutan rekan Mardhika Wisesa bahwa pasukan AS dan Inggris bisa
>jalan-jalan ke Monas, saya jadi makin prihatin. Ini adalah salah satu
>bentuk
>kepengecutan kita (no offense ya).
>
>Kalau Mardhika masih ingat, Malaysia juga menempatkan pasukan di situ.
>Sedangkan kekawatiran bahwa AS akan jalan-jalan ke Monas, ya silakan saja.
>Cuman AS nggak ada kepentingan dengan hal ini. Kalau begitu As melakukan
>invasi tanpa dasar. Payahnya kita ini (dengan asumsi bahwa opini Mardhika
>mewakili opini sebagian besar rakyat indonesia) ternyata benar-benar
>pengecut yang mudah ditakut-takuti oleh negara besar.
>
>Penempatan pasukan di Sipadan dan Ligitan harusnya tidak ada bedanya dengan
>penempatan orang sipil di sana. Malaysia jelas sudah kelewatan dengan
>mengabaikan keberatan yg sudah dilakukan secara sopan oleh Indonesia baik
>di
>jaman Suharto maupun di jaman Gus Dur. Ibarat kita punya sengketa atas
>rumah, dan rumahnya dinyatakan status quo. Lalu apakah anda boleh berdagang
>di rumah itu? Itu yg dilakukan oleh Malaysia! Dengan dasar itu kita dapat
>memperkarakan Malaysia. Kalau perlu mengusir pedagang itu, yaitu Malaysia.
>Kalau perlu dengan kekerasan.
>
>Lihat Spratly! Apakah ada pasukan AS yang jalan-jalan ke Manila atau ke
>Beijing sehubungan dengan penempatan pasukan Philipina di salah satu pulau
>di Spartly? Demikian juga dengan keberadaan China di salah satu pulau di
>situ? Bagaimana dengan akal-akalan China yang mereklamasi pulau yg diduduki
>itu sehingga makin luas? Tidak ada urusan dari pihak di luar pihak yg
>bertikai untuk campur tangan, apalagi mau jalan-jalan di Monas. Kalau itu
>yg
>terjadi, siap-siap bikin Bandung Lautan Api. Bukannya jadi banci.
>
>Ciri-ciri kebancian kita ini benar-benar jauh dari sikap bermartabat dari
>Vietnam. Mereka tak takut dengan 100.000 pasukan Perancis, dan membantai
>mereka di Dien Bhien Phu. Korban di Vietnam? Jelas lebih banyak, tetapi
>apakah mereka jadi takut dengan keperkasaan Perancis? Tidak!!! Mari lihat
>lagi bagaimana AS meluncurkan tak kurang dari 600.000 pasukan ke Vietnam.
>Tahu berapa total pasukan AS yg aktif saat ini? Cuman 1 juta!! Artinya
>mereka mengerahkan 60% kekuatannya. Apakah Vietnam takut? Sejarah
>membuktikan sebaliknya. Dan jelas mereka bukan bangsa pengecut. Kalau kita
>membaca statistik Perang Vietnam, maka total pasukan AS yg diterjunkan
>mencapai lebih dari 800.000 dengan jumlah korban 50.000 orang. Tahu berapa
>korban Vietnam? Sebagai referensi, pasukan Vietnam Selatan yg mati
>kira-kira
>1 juta. Dengan kelebihan dalam persenjataan AS + Vietnam Selatan (dan
>kekejaman mereka dengan napalm dan orange agent), maka saya dapat katakan
>angka 2 juta korban di pihak Vietnam Utara sangat konservatif. Apakah
>mereka
>takut? Silakan jawab sendiri.
>
>Indonesia paling tidak mempunyai dua pengalaman (yg sifatnya kolosal):
>Peristiwa 10 Nov di Surabaya dan Bandung lautan Api. Tekad warga Surabaya
>dan sekitarnya harus dibayar dengan tak kurang dari 300.000 nyawa. Ada yg
>menyebut hampir satu juta, jadi ambil angka 500.000 nyawa hilang. Apakah
>percuma? Tanpa pengorbanan mereka Inggris akan mudah mempreteli senjata
>dari
>rakyat, dan Belanda lewat KNIL dengan mulus menguasai kita lagi. Andapun
>tidak akan dapat dengan enak sholat lima waktu, dan selalu harus siap-siap
>bila anak perempuan anda digondol serdadu bule, baik bule beneran atau bule
>coklat kehitaman.
>
>Seorang rekan pernah melihat film bagaimana rakyat dengan pentungan
>mengeroyok tank Inggris (dokumentasi di Arsip Nasional). Nah, jangan bikin
>malu rakyat Surabaya yg berbekal pentung, dan kita sekarang
>terkencing-kencing ketakutan dengan keunggulan militer Malaysia yg cuman
>segaris.
>
>Tindakan Malaysia ini mirip tindakan China. Diam-diam tapi terus menerus
>menancapkan kukunya ke tanah tersebut. Bagaimana kalau tidak ada response
>yg
>cukup dari Indonesia? Gampang saja, dalam 10 tahun seluruh pulau akan jadi
>resort-resort pariwisata milik Malaysia.
>
>Buat Bung Utomo, apakah anda pernah dengar nama "Sandakan"? Itu adalah kota
>sodom dan gomoroh yg berada di dalam wilayah Malaysia. Di tempat itu dulu
>ribuan wanita dari Malaysia dan Indonesia dipaksa melacur (dengan diculik).
>Sekarang, apa yg dilakukan oleh Malaysia di Sipadan? Membuat resort untuk
>para bule bertelanjang di pinggir pantai. Dengan demikian, rasanya tidak
>benar kalau kita diam saja bila Malaysia terus-terusan menampar muka kita,
>baik dengan alasan nasionalisme maupun dengan alasan brotherhood in Islam.
>
>
>Jeffrey Anjasmara
________________________________________________________________________
Get Your Private, Free E-mail from MSN Hotmail at http://www.hotmail.com

Kirim email ke