Alaaahhh, penakut amat. Pesawat Australia dicegat juga enggak ada tuh
pasukan AS jalan-jalan ke Monas. Yang enggak seneng dengan AS juga banyak.
Emangnya anda pikir AS dengan enteng mau memerangi Indonesia? Coba sebutkan
apa hanya karena SEATO lalu mereka berani mengancam Indonesia? Ya itu sih
pemikiran pengecut (sekali lagi no offense, kalau tetap mau diambil silakan
saja).
Sebetulnya kalau kita mau mengekang sifat penakut itu, maka kita dapat
berpikir bagaimana memainkan dadu Sipadan ini. Malaysia sudah memainkan
dadunya. Nah, bagaimana sekarang Indonesia memainkannya. Apakah tekanan
dengan ucapan Shihab cukup? Itu yg perlu kita pikirkan. Bukan menjadi Nice
Ho atau apa kek. Kita harus belajar bahwa dengan ucapan, Malaysia
mengabaikan, maka langkah selanjutnya apa suapaya Malayisa mendengar apa yg
kita mau. Itu lho oom....:) Wah, kalau ngikut cara anda sih bener-bener 1000
tahun Siapadan selesai. Itupun setelah Sipadan tenggelam oleh naiknya air
laut oom...:)
Kalau anda mau menyimak sedikit, seharusnya pelajaran yg dapat kita ambil
dari Uncle Ho itu adalah tekadnya untuk memperjuangkan sampai mendapatkan
apa yg dicita-citakan. Bukan diambil ucapan 1000 tahun secara literal, yaitu
sabar menunggu. Itu sih namanya salah mengartikan ucapan si oom Ho itu. Iya
enggak? Hayoo ngaku.
Nah, apa anda tahu gimana penyelesaian yg baik menurut anda itu? Apakah
menunggu setelah dunia internasional mengasosiasikan Siapdan dan Ligitan
adalah wilayah Malaysia? Tolong search di Internet kata "Sipadan" ya. Nanti
kan anda akan dapat impression demikian. Kalau ini yg terjadi, maka lembaga
arbitrari internasional bisa terpengaruh.
Anjasmara
-------------
>From: Mardhika Wisesa <[EMAIL PROTECTED]>
>Reply-To: Indonesian Students in the US <[EMAIL PROTECTED]>
>To: [EMAIL PROTECTED]
>Subject: Pemberakan [Re: [Sipadan]
>Date: Tue, 2 May 2000 13:29:49 EDT
>
>Pointnya apa coba mas...? Indonesia sudah menunjukan
>kemauan untuk menyelesaikan sengketa kedua pulau ini.
>Buktinya kita sudah mengajukan ya istilahnya gugatan
>kepada Malaysia, yang menyatakan bahwa Pulau Sipadan
>masih didalam landas kontinent Indonesia. Ini yang
>dijelaskan oleh Pak Alwi, yang selain itu juga mengingatkan
>pers bahwa Sipadan bukanlah termasuk teritorial Malaysia
>tapi adalah daerah sengketa yang kasusnya ini sekarang
>masih dalam pengadilan international.
>
>Kirim pasukan untuk latihan?? Bermimpi kamu mas...
>ini bisa diartikan salah oleh Malaysia, yang juga
>notabene adalah anggota SEATO (South East Asia Teritorial
>Organizationa), Natonya kawasan Asia Tenggara pimpinan
>Amerika dan Inggris, kita ngirim pasukan latihan, mereka
>bisa ngirim pasukan se-armada, wah.....pusing kita...
>
>mau kirim pasukan yang mana sekarang coba? semua pasukan
>kita sudah lunglai dan capai di Aceh dan Ambon. Kirim
>Siskamling bagaimana coba? Mungkin ini Good Idea yah...
>ngga pakai peluru, hanya pentungan
>
>Sudah ada kok Kodam Tanjungpura, buat apa lagi ngirim-ngirim
>pasukan, kalau hanya main-main sama orang utan di hutan kalimantan
>atau malah ikut-ikut ngedeking penyeludupan lintas batas lagi.
>Tambah susah kan??
>
>Ngga usahlah pakai istilah "Berak dan memberaki" sudah
>ada jamban kok masih berak di WCT (WC Terapung)
>Ini malah merendahkan martabat bangsa kita yang katanya
>sudah mau tinggal landas (Tinggalin landasan istilah IPTN,
>alias ngga naik-naik malah jadi besi tua)
>Selesaikan secara baik-baik lah, ngga usah unjuk kekuatan
>kaya mang udel preman senen. Unjuk kekuatan tapi ditantang
>malah lari terbirit-birit. Hilangkan sok premanisme anda.
>
>Terserah kita mau dicap pengecut, tapi kasus harus diselesaikan.
>mau berapa lama kek, 1000 tahun pun kita tunggu seperti
>kata Uncle Ho yang akhirnya juga bisa mempersatukan
>seluruh Vietnam. Namun jangan Gung Ho seperti Uncle Ho,
>cukup Be A Nice Ho (I dont mean to be a nice hooker OK!)
>
>Mardhika Wisesa
>
>Jeffrey Anjasmara <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>Pointnya harusnya Indonesia menunjukkan bahwa Indonesia serius sekali dalam
>menyelesaikan masalah Sipadan dan Ligitan tsb. Itu dulu yg harus
>ditunjukkan. Kalau tidak Malaysia akan makin membandel. Masalah apa bentuk
>yg pas untuk menunjukkan keseriusan kita, itu bisa dipikirkan.
>
>Contohnya, bikin statement yg sudah dibuat Shihab kemarin. Bila pernyataan
>seorang Menlu diabaikan oleh Malaysia, berarti itu adalah suatu ancaman
>serius yg harus ditanggapi dengan lebih serius lagi. Bisa saja kirim
>pasukan
>ke Kaltim dengan alasan latihan militer. Entar kan Malaysia baru merasa
>bahwa kita serius. Jangan terus menterjemahkan statement saya secara
>literal
>terus dong. Iya nggak?
>
>Hubungan antar negara ASEAN kan didasari oleh sikap saling menghargai.
>Kalau
>Malaysia bertahun memberaki muka kita dalam masalah Sipadan dan Ligitan,
>maka kita harusnya tidak tinggal diam. Coba tunjukkan bagaimana usaha
>Malaysia dalam menyelesaikan masalah tsb dalam konteks keakraban ASEAN yg
>anda sebut tadi? Nggak bisa mas... Kalau caranya gitu kita sih bagai terus
>terusan diberaki.
>
>Mau contoh lain? Pembuangan sampah/limbah Singapura ke pulau-pulau di Riau.
>Mau akrab-akraban kalau diberaki gini terus? Wah, itu sih artinya kita ini
>punya negara tidak bermartabat.
>
>Posisi kita ini mirip dengan posisi Iran dulu. Iran berpenduduk 10 kali
>Irak. Karena martabat Iran yg tersungkur karena sudah kelelahan dengan
>revolusinya, maka Irak menyerbu. Saya tidak akan bilang Malaysia akan
>menyerbu kita, tetapi pemberakan terus terusan ini juga dapat disebut
>penyerbuan terhadap harga diri bangsa.
>
>
>Anjasmara
>
>
>
>____________________________________________________________________
>Get free email and a permanent address at http://www.netaddress.com/?N=1
________________________________________________________________________
Get Your Private, Free E-mail from MSN Hotmail at http://www.hotmail.com