Wah, bidikan-bidikan bahwa Amien Rais perlu di-impeach segala macam kok
cuman dipelopori oleh orang-orang non-muslim. Itu dilihat dari namanya,
silakan lihat lagi berbagai forward-an oom Irwan. Kalau salah berarti cuma
saya yang salah. Cuma kita perlu bertanya kepada diri sendiri, apa kita
yakin kalau cuman Anjas seorang yg memandangnya seperti itu sih? Sorry kalau
saya ngomong langsung-langsung saja kan.

Hal-hal seperti ini kan dibaca oleh banyak orang. Jangan dikira cuman saya
yg melihatnya dari sisi seperti ini, tetapi jutaan orang yg membaca berita
itu juga akan melihat dari sisi yg sama dengan saya. (atau puluhan ribu yg
langganan korannya). Ini adalah suatu reaksi umat non-muslim yg
mengherankan. Mengapa mengherankan? Karena para pembidik atau kebetulan
teman-teman kita non-muslim ini mengira bahwa faktor Amien yg mampu membawa
opini umat Islam terhadap kasus Ambon. Bahwa Amien yang menyulut laskar
Jihad untuk berangkat ke Ambon/Maluku.

Pandangan-pandangan yg sangat salah ini (atau sengaja salah) sangat
berlawanan dengan kenyataan. Ini saya ngomong masih dalam rangka pencetusan
ide untuk PERMIAS itu. Ambil asumsi bahwa pandangan umat non-muslim memang
benar-benar murni, maka mereka tidak sadar bahwa di bawah arus permukaan,
orang-orang Muslim sangat jengkel mengapa setiap jatuhnya korban di kalangan
muslim didiamkan, tetapi sebaliknya kalau jatuh korban di kalangan Kristen
lalu semua bersuara. "Diam"-nya umat Islam bukan berarti tidak tahu.

Untuk saya sendiri, saya memaklumi peredaman atas berita-berita pembantaian
umat muslim di Maluku dan Poso. Pasti banyak pula yg sepaham dengan saya.
Saya maklum bahwa ini penting untuk menjaga/meredam potensi munculnya reaksi
yg berlebihan dari 85% kali 200 juta penduduk. Tetapi hendaknya kalangan
non-muslim juga harus sadar bahwa terdapat peredaman berita-berita macam
ini. Dengan demikian, jangan lalu menyulut berita pembantaian umat Kristen
secara tidak proporsional karena hal ini dapat mengubah pandangan
orang-orang yg "memaklumi" peredaman berita menjadi jengkel.

Ambil contoh berita hari ini tentang berbagai persatuan gereja yg membuat
pernyataan agar "kelompok" yang memancing kerusuhan baru di Maluku ditindak.
Walaupun tidak disebutkan secara jelas, semua orang kan tahu siapa yg
dituju. Nah, ini benar-benar suatu tindakan yang salah, bila dilihat dari
usaha rekonsiliasi. Walaupun yg diarah adalah laskar jihad, apa umat Islam
tidak ikut tersinggung dengan permintaan persatuan gereja kepada pemerintah
yang seperti ini?

Makanya sudahi lah segala tetek bengek yang makin memperuncing keadaan. Rasa
saling curiga boleh-boleh saja tetap ada, tetapi marilah kita bikin sesuatu
yg konstruktif.

Penerapan darurat sipil saya kira tepat, tetapi jangan harap hal beginian
akan menyelesaikan masalah. Darurat sipil saya pandang hanya suatu cara
untuk menciptakan iklim yg kondusif bagi usaha rekonsiliasi. Itu saja.
Dengan demikian jalan masih panjang untuk menciptakan kedamaian di Maluku
dan Poso.

Bahwa terdapat komentar dari warga Maluku agar orang luar jangan campur
tangan, dan menyerahkan penyelesaian masalah sepenuhnya kepada orang Maluku
sendiri saya pikir tidak realistis atau terlalu overkonfiden. Ibarat dalam
suatu rumah pada berantem lalu menolak mediator dari luar rumah kan sudah
lucu. Kalau sebagai bahan semangat rekonsiliasi sih bagus bagus aja, tapi
lihat waktu yg dibutuhkan dan korban yg akan berjatuhan kalau masih menunggu
lagi dong.

Lalu apa yang saya sarankan? Ambil langkah yg belum pernah ditempuh
sebelumnya. Sebagaimana yg saya bilang, hanya orang Kristen yg mampu meminta
umat Kristen di Maluku berhenti bertikai. Sebaliknya hanya orang Islam yg
mampu meminta umat Islam di Maluku berhenti bertikai. Bukan Gus Dur, bukan
Mega, bukan Amien, dan bukan pula pejabat beragama Hindu, apalagi melibatkan
PBB, wah.....:) Untuk itu, silakan diajak-ajak para pengurus PERMIAS di
forum@ untuk mendiskusikan dan mengeluarkan PERNYATAAN SIKAP PERMIAS
TERHADAP PERTIKAIAN SARA.

Pernyataan ini harus bebas dari sikap memihak, atau kalau perlu bersikap
saling berkorban. Paling tidak korban perasaan. Hanya saja, pernyataan macam
mana sih yg tidak memihak tetapi bukan cuman berujud pernyataan yang sering
berujud pernyataan kosong?

Sudah ada beberapa organisasi yg menyampaikan pernyataan agar pertikaian di
Maluku dihentikan. Sayang sasaran pernyataan lebih ditujukan kepada
pemerintah. Kalau tidak, pernyataan ditujukan kepada suatu pihak yg
berhadapan dengan mereka. Tegasnya kayak persatuan mahasiswa islam ambon di
sulsel yg menuntut umat Kristen menghentikan tindak kekerasan dan meminta
maaf kepada umat Islam. Atau sebaliknya kayak pernyataan persatuan gereja
tadi. Wah, bukannya meredam malahan menyiram bensin baru.

Lalu apa idenya? Minta persatuan mahasiswa indonesia di AS yg beragama
Kristen mendesak umat Kristen di Maluku dan Poso serta di  Indonesia secara
umum untuk menahan diri. Sebaliknya, anggota PERMIAS yg beragama Islam juga
melakukan hal yg sama. Dengan demikian, tidak ada sikap saling memihak atau
menyalahkan pihak lain.

Isi dari pernyataan silakan dibahas sendiri lah. Kan otak lima puluh orang
lebih baik lima ratus individu (kayak saya). Kan ada sinergi. Saya juga
bikin sejak hari Jumat (waktu pertama dapat email dari oom Marianus), tapi
komputernya nge-hang melulu jadi makin kesal.

Lalu gimana strategi pemasaran dalam penyampaian PERNYATAAN PERMIAS? Seperti
saya bilang, jangan memihak, tetapi jangan cuman umum doang. Kalau misalnya
dibuat pernyataan bersama umat Islam dan Kristen PERMIAS, wah, nggak laku.
Yang seperti ini salah-salah hanya dikira buat numpang ngetop di media
massa, sebagaimana organisasi-organisasi lain yg bikin pernyataan atau
keprihatinan.

Lalu apa akal? Saya pikir dibuat jadi dua bagian. Yang saya pikir sih warga
PERMIAS yg Kristen duluan. Ini agar punya nilai jual. Setelah itu disusul
oleh yg Muslim. Beda waktunya bisa dalam jam atau satu hari. Pokoknya cukup
untuk menjadi pembatas/jeda penyampaian lah. Untuk menjaga agar tetap dibaca
sebagai suara yg utuh dari PERMIAS, maka di akhir pernyataan pertama perlu
ditulis bahwa akan terdapat pernyataan susulan dari rekan-rekan kita yg
beragama Islam (misalnya).

Oya, saya sendiri kan cuman orang kecil yang sudah capek. Nyumbang ide yg
sepele begini saja butuh mikir lama. Jadi saya pikir sampai sejauh
penyampaian ide saja keterlibatan saya. Harapan saya sih PERNYATAAN PERMIAS
ATAS PERTIKAIAN SARA (DI MALUKU DAN POSO) jadi ditindaklanjuti oleh yang
masih punya semangat tinggi. Mungkin orang kayak Faran bisa lebih aktif
gitu. Lalu oom Pohan bisa ikut mengusahakan diseminasinya.

Begitu Oom Marianus, sekedar tulisan/ide kasar.


Salam rekonsiliasi nasional (tapi komunis nggak termasuk),
Jeffrey Anjasmara

---------------------------------------
>From: Ramadhan Pohan <[EMAIL PROTECTED]>
>Reply-To: Indonesian Students in the US <[EMAIL PROTECTED]>
>To: [EMAIL PROTECTED]
>Subject: Nama-Nama (Re: Fw: [is-lam] Kesehatan Amien Rais Diragukan Tidak
>            Layak Ketua MPR
>Date: Tue, 27 Jun 2000 14:56:10 EDT
>
>Bung Anjas, nama (apakah belakang atau depan atau semuanya) nggak menjamin
>soal partisan atau tidaknya orang. Soalnya selain diakui adanya faktor
>'kebetulan', biasanya nama memang tak bisa digeneralisir. Dulu ada yg
>posting, bilang bahwa isterinya Hasyim Wahid "BPPN" alias Gus Im (adiknya
>Gus
>Dur) juga boru Napitupulu.  Saya pikir info itu pun tak menjelaskan
>apa-apa--
>kecuali semua berdiri sendiri.
>
>Dulu ada teman saya, namanya Marhaen Pakpahan-- tapi SS ekonominya 'borju'
>tuh. Ada lagi namanya Jatuh Bangun (orang Karo), tapi namanya sering saya
>lihat tercantum di teve sebagai pemberi sumbangan setiap ada bencana di
>Sumut
>dulu-dulu sekali. Teman baik saya, si Tigor (bahasa Batak, Lurus), jalan
>hidupnya malah zig-zag terus. Ada pula orang yang namanya berbau "Budha"
>tapi
>agamanya Islam. Ada juga namanya berbau Islam, tapi dianya Nasrani. Belum
>lagi ada orang yang menurut pakem, namanya perempuan, tapi faktanya dia
>lelaki. Sebaliknya juga gitu. Di kampus dulu, soal begini pernah heboh dan
>menggemparkan ruangan kelas. Pasalnya, seorang dosen terjebak salah
>mengklasifikasi jenis kelamin orang. Di sebuah milis, soal begini pun
>sempat
>jadi rame dan panas. Semua lagi-lagi, gara-gara nama.
>
>Karena itu, saya pun (untungnya) sejak dulu sudah tidak percaya pada
>nama-nama. Termasuk nama politisi, nama negeri, nama sejarah, nama tokoh
>dan
>nama-nama lainnya. Semua itu, jika mau dinamai kembali, monggo saja.
>
>salam,
>penyimak pinggiran
>
>###
>
>  In a message dated 6/27/00 1:17:50 PM Eastern Daylight Time,
>[EMAIL PROTECTED] writes:
>
><< Lihat aja nama belakangnya. Nanti kan ketahuan komentarnya partisan atau
>  tidak. Gitu aja kok repot.
>
>
>  >From: Irwan Ariston Napitupulu <[EMAIL PROTECTED]>
>  >Reply-To: Indonesian Students in the US <[EMAIL PROTECTED]>
>  >To: [EMAIL PROTECTED]
>  >Subject: Re: Fw: [is-lam] Kesehatan Amien Rais Diragukan  Tidak Layak
>  >        Ketua MPR
>  >Date: Mon, 26 Jun 2000 07:18:53 EDT
>  >
>  >In a message dated 6/26/00 6:18:23 AM Eastern Daylight Time,
>  >[EMAIL PROTECTED] writes:
>  >
>  > > > "Terakhir saya dengar ia bilang akan diam sampai bulan Agustus
>2000.
>  > >  > Yah,
>  > >  > mari kita lihat apakah Amien Rais bisa diam atau konsisten dengan
>  > >  > omongannya", David Napitupulu mengakhiri pengamatannya.***
>  > > >>

________________________________________________________________________
Get Your Private, Free E-mail from MSN Hotmail at http://www.hotmail.com

Kirim email ke