Melakukan provokasi itu tidak harus dengan lisan, seperti
"Serbuuuuuuuuuu !!!!!"
Dengan tersyirat pun ternyata tidak kalah efektifnya.
Misalkan seorang pemimpin dengan penuh kesal menceritakan tentang
pengalaman pahit masa lampau kepada para anak buah dekatnya. Dikatakannya
bahwa ia telah diperlakukan begini dan begitu oleh pihak tertentu.
Ia memang tidak memberikan saran apa pun kepada para anak buahnya itu.
Misalkan melakukan pembalasan dalam rangka membela kehormatan.
Tetapi ia punya target, analisis, dan prediksi bahwa dengan
menceritakannya itu ... para anak buahnya cepat/lambat akan melakukan follow
up berupa pembalasan dendam terhadap pihak tertentu itu.
Maka terjadilah pergolakan.
Apa mudah mencari dalang intelektual untuk peristiwa tersebut ? Kan
susah ! Siapa pun nggak akan merasa bahwa mereka telah diperintah oleh sang
pemimpin itu untuk melakukan pergolakan.
Salam,
Nasrullah Idris
----------------------
Bidang Studi : Reformasi Sains Matematika Teknologi
http://bdg.centrin.net.id/~acu