From: "Agnes Samil" <[EMAIL PROTECTED]> 
PR untuk Permias: "Bagaimana Memajukan IPTN, Merebut Kembali Pasar Aeronautik
di pangsa Asia Pasifik, Menjual produk dalam negeri yang berteknologi tinggi
tanpa menjerumuskan APBN negara?"

Keberhasilan Konsorsium Airbus, mungkin bisa menjadi tolak ukur bagi industri
udara Asia. 

Apakah IPTN akan tetap mubazir seperti jaman-jaman Habibie?

Coba FNU BRAWIJAYA kasih pemikiran, mungkin untuk topik ini, anda masih eling
alias sadar....

Mardhika Wisesa

To: [EMAIL PROTECTED] 
Subject: IPTN 
Date: Fri, 21 Jul 2000 17:51:05 PDT 

IPTN; Suatu tanggapan atas keberadaannya. 

Bagi awam mendengar nama IPTN barangkali akan mengingatkan atas suatu 
kegagalan petualangan teknologi tinggi yang pernah dilakukan di era Orde 
Baru. Beberapa kritik memang telah dilontarkan pada saat langkah 
pengembangan industri dirgantara ini dicanangkan, karena jauhnya industri 
ini dengan kondisi industri agraris yang tentunya akan lebih menyentuh 
masyarakat luas. Perkembangan yang pesat dari industri ini selanjutnya 
lebih mengutamakan perwujudkan mimpi besar untuk suatu lompatan besar yang 
bisa menempatkan negara ini sejajar dengan negara maju tanpa melihat 
realita pasar yang seharusnya dapat menunjang hidup industri itu sendiri. 
Namun demikian, yang perlu dilihat kini tentunya adalah bagaimana 
pemanfaatan aset industri penerbangan IPTN ini untuk langkah ke depan. 

Euforia pertumbuhan ASIA ditahun 90-an. 

Diawal tahun 90-an ini dimana banyak pihak di Asia merasa untuk harus 
memiliki pesawat komuter berpenumpang 100-an karena merasa memiliki pasar, 
uang dan infrastruktur-nya (Asian Express oleh Korea Selatan dan China, 
YSX project oleh Jepang, dan N-2130 oleh IPTN) telah diperingati oleh 
pemain pemain utama pembuat pesawat terbang sipil didunia untuk tidak 
melanjutkan rencananya. Adam Brown dari AIRBUS pernah menyampaikannya 
secara langsung bahwa pasar pesawat 100 penumpang bukanlah milik 
Asia-Pasifik.. 

Lain halnya dengan BOEING, mereka lebih �elegan� caranya yaitu dengan 
berdiskusi terus menerus untuk menjalin kemitraan dengan membicarakan 
penanaman modal, pengembangan, dsb yang berujung kepada penundaan semua 
program dipihak Asia dan berlanjutnya program mereka sendiri yang telah 
maju beberapa langkah didepan. Cerdik memang, dimana pihak Asia dengan 
�lugu� mengharapkan keuntungan teknologi dari kerja sama yang dilakukan, 
sementara pihak BOEING selalu berhasil menghentikan langkah awal 
penguasaan Asia terhadap pasaran pesawat terbang. Pada hakekatnya 
penguasaan mereka terhadap pasar Asia akanlah berujung pada penguasaan 
terhadap para operator di Asia (Airlines) sebagai sandera ekonomi 
(commercial hostage) dunia barat. 

Keberadaan IPTN selama ini lebih merupakan kebanggaan nasional yang telah 
mengalahkan akal sehat perdagangan, yang pernah dijadikan klimaks oleh 
resim Orde Baru sebagai suatu keberhasilan pembangunan setelah 50 tahun 
merdeka. 

Hikmah serta pelajaran dari kegagalan. 

� Memang awal pemikiran pengembangan industri penerbangan di Indonesia 
antara lain diniatkan untuk dijadikan lokomotif yang dapat menarik gerbong 
industri lain disekitarnya. Namun yang terjadi bukanlah seperti yang 
diharapkan. Gerbong industri lainnya ternyata tidak pernah tumbuh. Hal ini 
mungkin disebabkan industri yang diharapkan timbul terlihat tidak akan 
pernah mencapai skala ekonomi yang menguntungkan. Contohnya landing gear, 
atau gerbong industri lainnya yang memiliki kaitan yang lebih dekat dengan 
industri diluar penerbangan seperti Aircraft Interior. Meskipun IPTN telah 
mengeluarkan lebih dari 2 juta dolar untuk pengembangan interior-nya N250 
namun dalam kenyataannya tidak pernah memberikan hasil bagi IPTN. 

� IPTN yang secara kumulatif telah menghabiskan sekitar 700-an juta dolar 
untuk proyek pesawat komuter N-250 berhasil melampaui tahap rancangan dan 
membuktikan bahwa rancangan itu �berhasil�, meskipun akhirnya tergelincir 
pada masalah sertifikasi. Dunia barat melalui badan kelaikan terbang 
mereka (FAA/CAA) dengan cerdik telah memanfaatkan kelemahan IPTN/Indonesia 
yang memiliki pemahaman yang kurang memadai atas norma kerja yang 
di-standard-kan untuk menghasilkan pengakuan kelaikan. Masalah sertifikasi 
antara lain telah berhasil menghambat IPTN memasuki tahap pemasaran. 

� Argumentasi bahwa penjualan satu pesawat mempunyai nilai lipat ganda 
dari produk industri lainnya (misalnya otomotif) memang benar jika pasar 
itu sendiri bisa kita kuasai. Namun dalam industri penerbangan 
kenyataannya pasar itu hanyalah dikuasai oleh kedua pemain besar tersebut. 
Industri otomotif meskipun dikembangkan dengan pemikiran tipikal Orde Baru 
yang sangat manipulatif, namun jelas memiliki pasar. Contoh paling kasar 
pemikiran manipulatif adalah �mobil nasional� TIMOR. Juga kendaraan niaga 
yang di�sedan�kan menjadi minivan seperti Kijang, Panther, Espas dsb. 
Sedangkan industri penerbangan IPTN yang dalam perjalanannya juga sarat 
dengan perkeliruan tidaklah memiliki pasar yang jelas. Satu satunya 
captive market yang bisa diharapkan waktu itu adalah pasar domestik yang 
dilakukan dengan kiat instruktif, contohnya Merpati Nusantara Airline 
telah menjadi korban karenanya. 

� Penerapan teknologi canggih pada pesawat N-250 yang tentunya telah 
dibeli mahal seperti; Fly by wire, Glass cockpit dsb. Telah melanggar asas 
yang oleh pemain besar seperti BOEING-pun tidak akan mereka lakukan untuk 
pesawat kelas 100 penumpang. Simple is the best, begitu kata BOEING. Yang 
dicari oleh pembeli pesawat tentunya adalah MURAH dan MUDAH merawatnya. 
Jika kita perhatikan pesawat pesawat BOEING, tiap jenis pesawat mereka 
pada dasarnya hanyalah up atau down-sizing dari model dasarnya. Demikian 
juga pesawat prototip yang selalu diusahakan menjadi revenue dan bukan 
aset, akhirnya akan mereka lepas pada pembeli dan tidak pernah mereka 
pertahankan sebagai research aircraft. 

� Keberhasilan merancang serta mewujudkan rancangan itu memberikan 
pengalaman kemampuan mengintegrasikan sistim komponen pesawat terbang. 
Kemampuan mengintegrasikan sistim inilah yang merupakan aset penting yang 
telah dimiliki IPTN serta dapat diterapkan untuk penggunaan lain diluar 
industri penerbangan. 

� Fasilitas manufacturing IPTN yang memiliki kadar pembuatan dengan 
ketelitian tinggi dapatlah dimanfaatkan untuk pembuatan produk produk lain 
di luar produk penerbangan. Dengan tidak memperhitungkan elemen deprisiasi 
dalam biaya manufacturing tentunya produk diversifikasi yang akan dibuat 
dapatlah menjadi murah dan bersaing. 

� Bagaimanapun industri penerbangan sipil saat kini tetaplah dikuasai oleh 
dunia barat, terutama the two big (poker) player; BOEING dan AIRBUS. 
Mereka akan tetap berupaya mempertahankan pangsa pasarnya di Asia, 
meskipun bangsa bangsa di Asia sendiri merasa memiliki previlese atas 
pasarnya sendiri. Setiap pendatang baru di Asia selalu akan putus di 
tengah jalan. Belum pernah ada pemain di Asia yang berhasil memasuki tahap 
pemasaran. Apabila anda mencoba terjun sebagai pemain, maka posisi anda 
hanyalah akan berakhir sebagai perantara atau pemasok yang merupakan 
bagian dari sistim industri mereka. 

� Kiat Eropa untuk mengatasi dominasi Amerika Serikat dengan membentuk 
konsorsium Airbus mungkin bisa dijadikan contoh bagi para pemain Asia 
untuk merebut kembali pasarnya sendiri di Asia-Pacific. Tentunya hal ini 
baru akan terpenuhi jika masing masing pemain di Asia memiliki visi bisnis 
yang sama serta ada kemauan politik. Bagi IPTN sendiri peran yang bisa 
diambil adalah pemanfaatan Brainware dalam sistim integrasi atas 
keberhasilan mewujudkan rancangannya di program N-250. Di era globalisasi 
pengandalan pada aspek perangkat keras semata hanyalah akan menyulitkan 
persaingan, karena perangkat keras itu sendiri (terutama yang commercially 
off the shelf) pada hakekatnya bisa dengan mudah diperoleh melalui 
berbagai jalur di pasar yang telah sangat terbuka. 

A. Samil 

____________________________________________________________________
Get free email and a permanent address at http://www.netaddress.com/?N=1

Kirim email ke