Wah, ini baru email bagus. Capek ngelihatin marianus yg cuman muncul kalau
nama saya hadir, lalu bikin huru-hara. Kayaknya nggak pernah ngebahas apa
gitu. Sudah kali keempat nih si Marianus bikin ginian.
Kalau anda lihat, tulisan Agnes Samil (atau Dr. Achmad Syamil ya?) kan
sebetulnya banyak yg sama intinya dengan ocehan saya. Cuman ini bungkusnya
lebih bagus. Kan lain doktor sama partikeliran kayak saya. Cuman ya itu,
kalau saya sih memandang nggak ada itu kegagalan. Belum dicoba secara
maksimal kok sudah divonis gagal. Gimana tuh...:)
Sebagai mana sudah pernah saya tulis, nggak ada yg rugi dari investasi yang
lalu-lalu, terutama dalam hal SDM-nya. Ini dulu yang mesti diendapkan dalam
hati. Kenapa saya ngomong demikian? Lha kan dalam rangka menghajar Habibie
lalu semua yang berbau teknologi dipinggirkan. Tak kurang dari ahli-ahli
pertanian (ya mereka-mereka ini pentolan-pentolan yg hebat menghujat
teknologi di luar pertanian) selalu saja menyorot IPTN sebagai kegagalan
besar. Masalahnya mereka mau menutupi kegagalan di sektor pertanian.
Alasannya ada saja...:)
Sebetulnya nggak usah lah lihat market luar. Lihat dulu market dalam negeri.
Khusus untuk penerbangan dalam negeri bikin market tertutup. Beres deh.
Coba, berapa pesawat yang diperlukan oleh Merpati dan ehm... apa itu yg
milik TNI.... ah, Mandala. Juga ada Bouroq. Pesawat-pesawat perintis yang
macam Fokker-27 ke bawah kalau sudah harus diremajakan harus pakai N250 atau
CN235. Gampang. Negara lain boleh saja sibuk protes kanan-kiri, tapi lihat
deh, berapa biji pesawat bikinan luar AS yang beroperasi di AS. Dikibulin
melulu sama AS kok mau.
Coba sekarang berapa sih jumlah pesawat yang harus dibuat agar mencapai
breakeven? Masak lebih dari 50 buah? Lagipula yang namanya investasi bidang
pesawat butuh masa 30-40 tahun untuk settle kan? Itu yg saya baca sekilas.
Yang jelas, gimana bisa survive dari tekanan-tekanan perusahaan raksasa itu.
Soal kualitas, waduh, sampai saya ikutan percaya bahwa CN235 itu brengsek
banget. Giliran sampai sini, pesawat-pesawat kecil mereka malah jelek
banget. Kelas kayak Beech yang rada bagus juga masih kalah sama CN235 yg
saya tumpangi tahun 90an. Jadi selera masyarakat (kepercayaan) juga harus
ditumbuhkan. Susah sih kalau "selera nusantara" jadi bahan lecehan.
Soal mobil Timor dll (kayak Maleo), ya emang kita apes. Cuman saya termasuk
yg membela proyek seperti ini. Nggak perduli si pemiliknya Tommy, atau
Ciputra, pokoknya bikin di dalam negeri. Masalahnya masyarakat kita suka
melihat dalam jangka pendek melulu. Ditunggangi orang LN mau saja. Mana
nggak ngerasa lagi...:). Munculnya ancaman WTO malahan disambut dengan tepuk
tangan. Gimana tuh...:)
Kok nggak melihat mobil Jepang tahun 70an. Lalu mobil Korea tahun 80an.
Semuanya dimulai dari kotak sabun, dianggap cheap quality. Nyatanya mereka
tumbuh. Makanya sikap-sikap yg "memihak" atau bahasa sekarang "partisan" ini
yang harus diberantas.
Point agar IPTN bikin produk sampingan sih saya setuju banget. Mereka punya
ability untuk itu. Tapi kalau dibilang harus banting setir ke arah di luar
basisnya (yaitu pesawat) yg seperti dibilang A. Syamil ini, wah, rugi berapa
tahun kita? Nggak ada cerita bahwa pembuatan perangkat keras akan kalah
dalam persaingan. Saya emang bilang SDM yg sudah terbentuk bukan kerugian,
tetapi kalau mengandalkan perangkat lunak saja, kita makin tercecer. Emang
berapa sih uang yg ditanam untuk riset? Untuk mengolah otak kan butuh dana
yang nggak dang-thek alias intermitten gitu. Kalau SDM nggak dipelihara juga
akan berhenti sampai segitu saja.
Tulisan di bawah terlalu pesimis. Kurang melihat keberhasilan bangsa asia
lain macam India. Biarpun puluhan tahun diledekin nyatanya industrinya
jalan. Mau motor? Mobil? Truk? Nah, tinggal pesawat yang mereka belum urus.
Itu juga karena kondisi geografis yg berupa bagian dari benua. Coba kalau
kayak Indonesia dijamin langkah pertama mereka bikin kapal dan pesawat.
Sekarang begini deh, kenapa FAA jadi algojo industri pesawat negara lain
sih? Kalau terus dibuat lalu dipakai sendiri lalu konsekuensinya apa?
Sudahlah, yg penting kemauan politiknya aja dulu. Kalau orang LN pada nggak
mau pakai, ya sudah pakai saja untuk penerbangan perintis. Buat perusahaan
baru khusus untuk perintis. Untuk menghindari macam-macam tingkah FAA,
pisahkan dari Merpati deh. Keselamatan macam apa sih yg mereka gombalkan?
Wong bikin pesawat penumpang kayak hercules semua gitu kok mau nyetir negara
lain. Tergantung kitanya deh, mau disetir atau mau menyetir diri sendiri.
Tapi ya itu, kalau masyarakatnya memandang semua yg berbau amerika kayak
dewa, bakalan repot mulu.
Anjasmara
(Bukan orang iptn atau bppt)
----------------------------------------
From: Mardhika Wisesa <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Tue Jul 25, 2000 12:27pm
Subject: Permias Bantu IPTN??
From: "Agnes Samil" [EMAIL PROTECTED]
PR untuk Permias: "Bagaimana Memajukan IPTN, Merebut Kembali Pasar
Aeronautik
di pangsa Asia Pasifik, Menjual produk dalam negeri yang berteknologi tinggi
tanpa menjerumuskan APBN negara?"
Keberhasilan Konsorsium Airbus, mungkin bisa menjadi tolak ukur bagi
industri
udara Asia.
Apakah IPTN akan tetap mubazir seperti jaman-jaman Habibie?
Coba FNU BRAWIJAYA kasih pemikiran, mungkin untuk topik ini, anda masih
eling alias sadar....
Mardhika Wisesa
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: IPTN
Date: Fri, 21 Jul 2000 17:51:05 PDT
IPTN; Suatu tanggapan atas keberadaannya.
Bagi awam mendengar nama IPTN barangkali akan mengingatkan atas suatu
kegagalan petualangan teknologi tinggi yang pernah dilakukan di era Orde
Baru. Beberapa kritik memang telah dilontarkan pada saat langkah
pengembangan industri dirgantara ini dicanangkan, karena jauhnya industri
ini dengan kondisi industri agraris yang tentunya akan lebih menyentuh
masyarakat luas. Perkembangan yang pesat dari industri ini selanjutnya lebih
mengutamakan perwujudkan mimpi besar untuk suatu lompatan besar yang bisa
menempatkan negara ini sejajar dengan negara maju tanpa melihat realita
pasar yang seharusnya dapat menunjang hidup industri itu sendiri. Namun
demikian, yang perlu dilihat kini tentunya adalah bagaimana pemanfaatan aset
industri penerbangan IPTN ini untuk langkah ke depan.
Euforia pertumbuhan ASIA ditahun 90-an.
Diawal tahun 90-an ini dimana banyak pihak di Asia merasa untuk harus
memiliki pesawat komuter berpenumpang 100-an karena merasa memiliki pasar,
uang dan infrastruktur-nya (Asian Express oleh Korea Selatan dan China, YSX
project oleh Jepang, dan N-2130 oleh IPTN) telah diperingati oleh pemain
pemain utama pembuat pesawat terbang sipil didunia untuk tidak melanjutkan
rencananya. Adam Brown dari AIRBUS pernah menyampaikannya secara langsung
bahwa pasar pesawat 100 penumpang bukanlah milik Asia-Pasifik..
Lain halnya dengan BOEING, mereka lebih �elegan� caranya yaitu dengan
berdiskusi terus menerus untuk menjalin kemitraan dengan membicarakan
penanaman modal, pengembangan, dsb yang berujung kepada penundaan semua
program dipihak Asia dan berlanjutnya program mereka sendiri yang telah
maju beberapa langkah didepan. Cerdik memang, dimana pihak Asia dengan
�lugu� mengharapkan keuntungan teknologi dari kerja sama yang dilakukan,
sementara pihak BOEING selalu berhasil menghentikan langkah awal penguasaan
Asia terhadap pasaran pesawat terbang. Pada hakekatnya
penguasaan mereka terhadap pasar Asia akanlah berujung pada penguasaan
terhadap para operator di Asia (Airlines) sebagai sandera ekonomi
(commercial hostage) dunia barat.
Keberadaan IPTN selama ini lebih merupakan kebanggaan nasional yang telah
mengalahkan akal sehat perdagangan, yang pernah dijadikan klimaks oleh resim
Orde Baru sebagai suatu keberhasilan pembangunan setelah 50 tahun merdeka.
Hikmah serta pelajaran dari kegagalan.
� Memang awal pemikiran pengembangan industri penerbangan di Indonesia
antara lain diniatkan untuk dijadikan lokomotif yang dapat menarik gerbong
industri lain disekitarnya. Namun yang terjadi bukanlah seperti yang
diharapkan. Gerbong industri lainnya ternyata tidak pernah tumbuh. Hal ini
mungkin disebabkan industri yang diharapkan timbul terlihat tidak akan
pernah mencapai skala ekonomi yang menguntungkan. Contohnya landing gear,
atau gerbong industri lainnya yang memiliki kaitan yang lebih dekat dengan
industri diluar penerbangan seperti Aircraft Interior. Meskipun IPTN telah
mengeluarkan lebih dari 2 juta dolar untuk pengembangan interior-nya N250
namun dalam kenyataannya tidak pernah memberikan hasil bagi IPTN.
� IPTN yang secara kumulatif telah menghabiskan sekitar 700-an juta dolar
untuk proyek pesawat komuter N-250 berhasil melampaui tahap rancangan dan
membuktikan bahwa rancangan itu �berhasil�, meskipun akhirnya tergelincir
pada masalah sertifikasi. Dunia barat melalui badan kelaikan terbang mereka
(FAA/CAA) dengan cerdik telah memanfaatkan kelemahan IPTN/Indonesia yang
memiliki pemahaman yang kurang memadai atas norma kerja yang di-standard-kan
untuk menghasilkan pengakuan kelaikan. Masalah sertifikasi antara lain telah
berhasil menghambat IPTN memasuki tahap pemasaran.
� Argumentasi bahwa penjualan satu pesawat mempunyai nilai lipat ganda
dari produk industri lainnya (misalnya otomotif) memang benar jika pasar itu
sendiri bisa kita kuasai. Namun dalam industri penerbangan
kenyataannya pasar itu hanyalah dikuasai oleh kedua pemain besar tersebut.
Industri otomotif meskipun dikembangkan dengan pemikiran tipikal Orde Baru
yang sangat manipulatif, namun jelas memiliki pasar. Contoh paling kasar
pemikiran manipulatif adalah �mobil nasional� TIMOR. Juga kendaraan niaga
yang di�sedan�kan menjadi minivan seperti Kijang, Panther, Espas dsb.
Sedangkan industri penerbangan IPTN yang dalam perjalanannya juga sarat
dengan perkeliruan tidaklah memiliki pasar yang jelas. Satu satunya captive
market yang bisa diharapkan waktu itu adalah pasar domestik yang dilakukan
dengan kiat instruktif, contohnya Merpati Nusantara Airline telah menjadi
korban karenanya.
� Penerapan teknologi canggih pada pesawat N-250 yang tentunya telah
dibeli mahal seperti; Fly by wire, Glass cockpit dsb. Telah melanggar asas
yang oleh pemain besar seperti BOEING-pun tidak akan mereka lakukan untuk
pesawat kelas 100 penumpang. Simple is the best, begitu kata BOEING. Yang
dicari oleh pembeli pesawat tentunya adalah MURAH dan MUDAH merawatnya. Jika
kita perhatikan pesawat pesawat BOEING, tiap jenis pesawat mereka pada
dasarnya hanyalah up atau down-sizing dari model dasarnya. Demikian juga
pesawat prototip yang selalu diusahakan menjadi revenue dan bukan aset,
akhirnya akan mereka lepas pada pembeli dan tidak pernah mereka pertahankan
sebagai research aircraft.
� Keberhasilan merancang serta mewujudkan rancangan itu memberikan
pengalaman kemampuan mengintegrasikan sistim komponen pesawat terbang.
Kemampuan mengintegrasikan sistim inilah yang merupakan aset penting yang
telah dimiliki IPTN serta dapat diterapkan untuk penggunaan lain diluar
industri penerbangan.
� Fasilitas manufacturing IPTN yang memiliki kadar pembuatan dengan
ketelitian tinggi dapatlah dimanfaatkan untuk pembuatan produk produk lain
di luar produk penerbangan. Dengan tidak memperhitungkan elemen deprisiasi
dalam biaya manufacturing tentunya produk diversifikasi yang akan dibuat
dapatlah menjadi murah dan bersaing.
� Bagaimanapun industri penerbangan sipil saat kini tetaplah dikuasai oleh
dunia barat, terutama the two big (poker) player; BOEING dan AIRBUS. Mereka
akan tetap berupaya mempertahankan pangsa pasarnya di Asia, meskipun bangsa
bangsa di Asia sendiri merasa memiliki previlese atas pasarnya sendiri.
Setiap pendatang baru di Asia selalu akan putus di tengah jalan. Belum
pernah ada pemain di Asia yang berhasil memasuki tahap pemasaran. Apabila
anda mencoba terjun sebagai pemain, maka posisi anda hanyalah akan berakhir
sebagai perantara atau pemasok yang merupakan bagian dari sistim industri
mereka.
� Kiat Eropa untuk mengatasi dominasi Amerika Serikat dengan membentuk
konsorsium Airbus mungkin bisa dijadikan contoh bagi para pemain Asia
untuk merebut kembali pasarnya sendiri di Asia-Pacific. Tentunya hal ini
baru akan terpenuhi jika masing masing pemain di Asia memiliki visi bisnis
yang sama serta ada kemauan politik. Bagi IPTN sendiri peran yang bisa
diambil adalah pemanfaatan Brainware dalam sistim integrasi atas
keberhasilan mewujudkan rancangannya di program N-250. Di era globalisasi
pengandalan pada aspek perangkat keras semata hanyalah akan menyulitkan
persaingan, karena perangkat keras itu sendiri (terutama yang commercially
off the shelf) pada hakekatnya bisa dengan mudah diperoleh melalui berbagai
jalur di pasar yang telah sangat terbuka.
A. Samil
________________________________________________________________________
Get Your Private, Free E-mail from MSN Hotmail at http://www.hotmail.com