Ini sangat menarik. Saya akan reply lagi nanti.


>From: Mardhika Wisesa <[EMAIL PROTECTED]>
>Reply-To: Indonesian Students in the US <[EMAIL PROTECTED]>
>To: [EMAIL PROTECTED]
>Subject: Permias Bantu IPTN??
>Date: Tue, 25 Jul 2000 00:27:05 EDT
>
>From: "Agnes Samil" <[EMAIL PROTECTED]>
>PR untuk Permias: "Bagaimana Memajukan IPTN, Merebut Kembali Pasar
>Aeronautik
>di pangsa Asia Pasifik, Menjual produk dalam negeri yang berteknologi
>tinggi
>tanpa menjerumuskan APBN negara?"
>
>Keberhasilan Konsorsium Airbus, mungkin bisa menjadi tolak ukur bagi
>industri
>udara Asia.
>
>Apakah IPTN akan tetap mubazir seperti jaman-jaman Habibie?
>
>Coba FNU BRAWIJAYA kasih pemikiran, mungkin untuk topik ini, anda masih
>eling
>alias sadar....
>
>Mardhika Wisesa
>
>To: [EMAIL PROTECTED]
>Subject: IPTN
>Date: Fri, 21 Jul 2000 17:51:05 PDT
>
>IPTN; Suatu tanggapan atas keberadaannya.
>
>Bagi awam mendengar nama IPTN barangkali akan mengingatkan atas suatu
>kegagalan petualangan teknologi tinggi yang pernah dilakukan di era Orde
>Baru. Beberapa kritik memang telah dilontarkan pada saat langkah
>pengembangan industri dirgantara ini dicanangkan, karena jauhnya industri
>ini dengan kondisi industri agraris yang tentunya akan lebih menyentuh
>masyarakat luas. Perkembangan yang pesat dari industri ini selanjutnya
>lebih mengutamakan perwujudkan mimpi besar untuk suatu lompatan besar yang
>bisa menempatkan negara ini sejajar dengan negara maju tanpa melihat
>realita pasar yang seharusnya dapat menunjang hidup industri itu sendiri.
>Namun demikian, yang perlu dilihat kini tentunya adalah bagaimana
>pemanfaatan aset industri penerbangan IPTN ini untuk langkah ke depan.
>
>Euforia pertumbuhan ASIA ditahun 90-an.
>
>Diawal tahun 90-an ini dimana banyak pihak di Asia merasa untuk harus
>memiliki pesawat komuter berpenumpang 100-an karena merasa memiliki pasar,
>uang dan infrastruktur-nya (Asian Express oleh Korea Selatan dan China,
>YSX project oleh Jepang, dan N-2130 oleh IPTN) telah diperingati oleh
>pemain pemain utama pembuat pesawat terbang sipil didunia untuk tidak
>melanjutkan rencananya. Adam Brown dari AIRBUS pernah menyampaikannya
>secara langsung bahwa pasar pesawat 100 penumpang bukanlah milik
>Asia-Pasifik..
>
>Lain halnya dengan BOEING, mereka lebih �elegan� caranya yaitu dengan
>berdiskusi terus menerus untuk menjalin kemitraan dengan membicarakan
>penanaman modal, pengembangan, dsb yang berujung kepada penundaan semua
>program dipihak Asia dan berlanjutnya program mereka sendiri yang telah
>maju beberapa langkah didepan. Cerdik memang, dimana pihak Asia dengan
>�lugu� mengharapkan keuntungan teknologi dari kerja sama yang dilakukan,
>sementara pihak BOEING selalu berhasil menghentikan langkah awal
>penguasaan Asia terhadap pasaran pesawat terbang. Pada hakekatnya
>penguasaan mereka terhadap pasar Asia akanlah berujung pada penguasaan
>terhadap para operator di Asia (Airlines) sebagai sandera ekonomi
>(commercial hostage) dunia barat.
>
>Keberadaan IPTN selama ini lebih merupakan kebanggaan nasional yang telah
>mengalahkan akal sehat perdagangan, yang pernah dijadikan klimaks oleh
>resim Orde Baru sebagai suatu keberhasilan pembangunan setelah 50 tahun
>merdeka.
>
>Hikmah serta pelajaran dari kegagalan.
>
>� Memang awal pemikiran pengembangan industri penerbangan di Indonesia
>antara lain diniatkan untuk dijadikan lokomotif yang dapat menarik gerbong
>industri lain disekitarnya. Namun yang terjadi bukanlah seperti yang
>diharapkan. Gerbong industri lainnya ternyata tidak pernah tumbuh. Hal ini
>mungkin disebabkan industri yang diharapkan timbul terlihat tidak akan
>pernah mencapai skala ekonomi yang menguntungkan. Contohnya landing gear,
>atau gerbong industri lainnya yang memiliki kaitan yang lebih dekat dengan
>industri diluar penerbangan seperti Aircraft Interior. Meskipun IPTN telah
>mengeluarkan lebih dari 2 juta dolar untuk pengembangan interior-nya N250
>namun dalam kenyataannya tidak pernah memberikan hasil bagi IPTN.
>
>� IPTN yang secara kumulatif telah menghabiskan sekitar 700-an juta dolar
>untuk proyek pesawat komuter N-250 berhasil melampaui tahap rancangan dan
>membuktikan bahwa rancangan itu �berhasil�, meskipun akhirnya tergelincir
>pada masalah sertifikasi. Dunia barat melalui badan kelaikan terbang
>mereka (FAA/CAA) dengan cerdik telah memanfaatkan kelemahan IPTN/Indonesia
>yang memiliki pemahaman yang kurang memadai atas norma kerja yang
>di-standard-kan untuk menghasilkan pengakuan kelaikan. Masalah sertifikasi
>antara lain telah berhasil menghambat IPTN memasuki tahap pemasaran.
>
>� Argumentasi bahwa penjualan satu pesawat mempunyai nilai lipat ganda
>dari produk industri lainnya (misalnya otomotif) memang benar jika pasar
>itu sendiri bisa kita kuasai. Namun dalam industri penerbangan
>kenyataannya pasar itu hanyalah dikuasai oleh kedua pemain besar tersebut.
>Industri otomotif meskipun dikembangkan dengan pemikiran tipikal Orde Baru
>yang sangat manipulatif, namun jelas memiliki pasar. Contoh paling kasar
>pemikiran manipulatif adalah �mobil nasional� TIMOR. Juga kendaraan niaga
>yang di�sedan�kan menjadi minivan seperti Kijang, Panther, Espas dsb.
>Sedangkan industri penerbangan IPTN yang dalam perjalanannya juga sarat
>dengan perkeliruan tidaklah memiliki pasar yang jelas. Satu satunya
>captive market yang bisa diharapkan waktu itu adalah pasar domestik yang
>dilakukan dengan kiat instruktif, contohnya Merpati Nusantara Airline
>telah menjadi korban karenanya.
>
>� Penerapan teknologi canggih pada pesawat N-250 yang tentunya telah
>dibeli mahal seperti; Fly by wire, Glass cockpit dsb. Telah melanggar asas
>yang oleh pemain besar seperti BOEING-pun tidak akan mereka lakukan untuk
>pesawat kelas 100 penumpang. Simple is the best, begitu kata BOEING. Yang
>dicari oleh pembeli pesawat tentunya adalah MURAH dan MUDAH merawatnya.
>Jika kita perhatikan pesawat pesawat BOEING, tiap jenis pesawat mereka
>pada dasarnya hanyalah up atau down-sizing dari model dasarnya. Demikian
>juga pesawat prototip yang selalu diusahakan menjadi revenue dan bukan
>aset, akhirnya akan mereka lepas pada pembeli dan tidak pernah mereka
>pertahankan sebagai research aircraft.
>
>� Keberhasilan merancang serta mewujudkan rancangan itu memberikan
>pengalaman kemampuan mengintegrasikan sistim komponen pesawat terbang.
>Kemampuan mengintegrasikan sistim inilah yang merupakan aset penting yang
>telah dimiliki IPTN serta dapat diterapkan untuk penggunaan lain diluar
>industri penerbangan.
>
>� Fasilitas manufacturing IPTN yang memiliki kadar pembuatan dengan
>ketelitian tinggi dapatlah dimanfaatkan untuk pembuatan produk produk lain
>di luar produk penerbangan. Dengan tidak memperhitungkan elemen deprisiasi
>dalam biaya manufacturing tentunya produk diversifikasi yang akan dibuat
>dapatlah menjadi murah dan bersaing.
>
>� Bagaimanapun industri penerbangan sipil saat kini tetaplah dikuasai oleh
>dunia barat, terutama the two big (poker) player; BOEING dan AIRBUS.
>Mereka akan tetap berupaya mempertahankan pangsa pasarnya di Asia,
>meskipun bangsa bangsa di Asia sendiri merasa memiliki previlese atas
>pasarnya sendiri. Setiap pendatang baru di Asia selalu akan putus di
>tengah jalan. Belum pernah ada pemain di Asia yang berhasil memasuki tahap
>pemasaran. Apabila anda mencoba terjun sebagai pemain, maka posisi anda
>hanyalah akan berakhir sebagai perantara atau pemasok yang merupakan
>bagian dari sistim industri mereka.
>
>� Kiat Eropa untuk mengatasi dominasi Amerika Serikat dengan membentuk
>konsorsium Airbus mungkin bisa dijadikan contoh bagi para pemain Asia
>untuk merebut kembali pasarnya sendiri di Asia-Pacific. Tentunya hal ini
>baru akan terpenuhi jika masing masing pemain di Asia memiliki visi bisnis
>yang sama serta ada kemauan politik. Bagi IPTN sendiri peran yang bisa
>diambil adalah pemanfaatan Brainware dalam sistim integrasi atas
>keberhasilan mewujudkan rancangannya di program N-250. Di era globalisasi
>pengandalan pada aspek perangkat keras semata hanyalah akan menyulitkan
>persaingan, karena perangkat keras itu sendiri (terutama yang commercially
>off the shelf) pada hakekatnya bisa dengan mudah diperoleh melalui
>berbagai jalur di pasar yang telah sangat terbuka.
>
>A. Samil
>
>____________________________________________________________________
>Get free email and a permanent address at http://www.netaddress.com/?N=1

________________________________________________________________________
Get Your Private, Free E-mail from MSN Hotmail at http://www.hotmail.com

Kirim email ke