catatan: tulisan ini saya tujukan kepada daeng Ida, sahabatku yang baik,
         dan pesan saya kepada rekan2 yang lain, bila ingin menanggapi
         tulisan ini, silahkan, tapi saya mohon dengan sangat, simak dan
         baca dengan seksama, sehingga tidak asal membuat komentar yang
         'asal bunyi' dan (mungkin) membuka peluang untuk polemik baru.
         Terima kasih.


Salam PERMIAS,

Daeng Ida yang baik, terima kasih sekali atas pendapatnya dan saya sangat
terharu, karena dalam diam anda tetap mengikuti perkembangan yang terjadi
di milis ini, dan mengingatkan saya pada tanya yang tak mampu saya jawab,

"what if it is only a dream
it would be like yesterday
when I was blanked with series of dreams,
constantly!"

(Notrida Mandica, 3 November 1999)

Daeng Ida, sudah barang tentu, saya tidak akan membalas tuduhan dengan
tuduhan, karena itu bukan karakter saya sebagaimana daeng Ida ketahui,
dan apa yang saya lakukan di dalam tulisan saya yang terakhir hanyalah
meminta pertanggungjawaban ybs. dan kalaupun itu memang tidak ada niat
untuk dipenuhi -sebagaimana pengalaman sebelumnya- saya semakin yakin,
bahwasanya, menuduh itu lebih mudah daripada mengakui kesalahan atawa
kekhilafan yang kita perbuat.

Daeng Ida yang saya hormati, mungkin daeng bertanya, mengapa untuk kali
ini, saya begitu tegas di dalam masalah ini, yaitu menuntut suatu jawab
atas tuduhan2 yang tidak mendasar itu, tidak lain dan tidak bukan, yaitu
karena tuduhan mengganggu isteri orang lain adalah tuduhan yang teramat
sangat menyakitkan, apalagi dikaitkan dengan kata-kata,

"Saya mempertanyakan apakah memang tata krama seperti ini wajar di dalam
kehidupan saat ini, atau wajar di dalam ajaran agama anda?" (Brawijaya
alias Eyang Troy alias Jeffrey Anjasmara, 20 Juli 2000).

Daeng Ida, sahabat yang saya kasihi, kata-kata inilah yang membuat saya
teramat sangat terhina, dan bertanya, segitu rendahkan agama yang saya
anut, sehingga iblis yang satu ini -maaf, ini bukan tuduhan, tapi hanya
iblis lah yang sanggup melakukan hal seperti ini- berani mengatakan,
apakah wajar di dalam agama saya untuk mengganggu isteri orang lain?

Jujur saja, daeng Ida, saat membaca kalimat tsb. saya sangat terhina dan
puji syukur, masuk surat2 dari rekan2 PERMIAS via japri, yang meminta saya
untuk bersabar dan tabah menghadapi tuduhan2 yang tidak mendasar itu, dan
akhirnya saya putuskan untuk tidak mengangkat masalah tsb. dalam tulisan2
saya, karena saya pun menyadari -boleh jadi- ada yang mau 'bermain' di air
keruh dengan membawa masalah ini ke topik SARA.

Daeng Ida, sahabat dalam setiap guratan puisi saya, kalaupun sekarang ini
saya mengungkapkan masalah ini, semata-mata adalah untuk memberikan suatu
kejelasan kepada daeng Ida, bahwa inilah jawaban saya, mengapa saya tegas
meminta jawaban atas tuduhan2 yang tidak mendasar tsb. karena ini sudah
merupakan penghinaan terhadap suatu agama, dalam hal ini, agama Katolik,
mengingat iblis itu mengetahui agama saya.

Saya percaya, Tuhan Jesus Kristus telah memaafkan dia yang telah menghina
namaNya, tapi saya, sebagai manusia lemah dan berdosa ini, masih perlu
waktu untuk dapat menerima kenyataan ini dan saya pikir, kata-kata daeng
Ida di bawah ini, sangat tepat untuk mengungkapkan pedih hati saya saat
ini, terhina dalam amarah yang terpendam,

"maafkan saya,
masih aku terduduk di hadapan kebesaran Allahku yang tak terlihat
meminta sinarnya membuka mata hati inspirasiku
mengirim pesan damai sebagaimana imanku menginginkannya
kemarahanku belum reda, hingga hari ini"

(Notrida Mandica, 15 Januari 2000)

Daeng Ida yang saya kasihi, tolong sampaikan kepada sahabat anda, mbak
Evi, selama ini, saya sudah berusaha untuk bersabar diri terhadap sikap
dan tindakan suaminya terhadap saya dan agama saya, dan maafkan saya
apabila sekarang ini, batas kesabaran saya telah habis menghadapi iblis
yang satu ini.

Maafkan saya, daeng Ida.
Maafkan saya, mbak Evi.
Maafkan saya, rekan2 PERMIAS.
Maafkan saya, Tuhan atas segala dosa-dosaku ini.


Teriring salam dan doa dalam kesedihan,
Marianus Dharma Datubara
ps: mohon maaf buat rekan2 yang sudah menunggu kisah 'penyu' seri kedua,
    karena malam ini saya harus membalas emailnya daeng Ida yang sangat
    baik untuk saya, terutama untuk bisa menerima suatu kenyataan, bahwa
    hidup adalah 'hidup'.














On Tue, 25 Jul 2000, Notrida Mandica wrote:

> BTW. mengetahui karakter anda Bang Dharma, please stay cool.  Tidak ada
> gunanya membalas tuduhan dengan tuduhan. Dan tidak ada gunanya membuktikan
> tuduhan yang tidak ada manfaatnya untuk karir dan masa depan anda.
> Kadang-kadang ada masalah yang tidak membutuhkan penjelesan atau
> penyelesaian.  Sebaiknya kita saling menjaga mulut dan tulisan. Saling tuduh
> tidak akan menghasilkan Patung Liberty or Medali Emas di Olimpiade
> Australia.
>
> Well, stay cool.  Mari kita bangun suasana yang diskusi yang menarik.
>
> salam,
>
>
> ida
> ________________________________________________________________________
> Get Your Private, Free E-mail from MSN Hotmail at http://www.hotmail.com
>
>

Kirim email ke