You never reply my email mon ami....:) Sudah kali ketiga saya kirim tuh.
Dengan demikian anda yg memang nggak pernah punya maksud baik dari dulu
memang tak pernah berubah. Mungkin pola kerja komplotan hendaknya diganti
saja. Dulu yg anggotanya lebih banyak saja nggak berhasil tuh. Apalagi
setelah Blucer pulang, kerja komplotan Marianus-Irwan-Mardhika-Ida jadi agak
slopy. Minta bantuan Moko (sebagai kaum establihment) untuk nolongin dong.
-------------------------
>From: Marianus DATUBARA <[EMAIL PROTECTED]>
>Reply-To: Indonesian Students in the US <[EMAIL PROTECTED]>
>To: [EMAIL PROTECTED]
>Subject: Re: BUAT BANG DHARMA DAN REKAN PERMIAS
>Date: Wed, 26 Jul 2000 02:20:49 -0400
>
>catatan: tulisan ini saya tujukan kepada daeng Ida, sahabatku yang baik,
> dan pesan saya kepada rekan2 yang lain, bila ingin menanggapi
> tulisan ini, silahkan, tapi saya mohon dengan sangat, simak dan
> baca dengan seksama, sehingga tidak asal membuat komentar yang
> 'asal bunyi' dan (mungkin) membuka peluang untuk polemik baru.
> Terima kasih.
>
>
>Salam PERMIAS,
>
>Daeng Ida yang baik, terima kasih sekali atas pendapatnya dan saya sangat
>terharu, karena dalam diam anda tetap mengikuti perkembangan yang terjadi
>di milis ini, dan mengingatkan saya pada tanya yang tak mampu saya jawab,
>
>"what if it is only a dream
>it would be like yesterday
>when I was blanked with series of dreams,
>constantly!"
>
>(Notrida Mandica, 3 November 1999)
>
>Daeng Ida, sudah barang tentu, saya tidak akan membalas tuduhan dengan
>tuduhan, karena itu bukan karakter saya sebagaimana daeng Ida ketahui,
>dan apa yang saya lakukan di dalam tulisan saya yang terakhir hanyalah
>meminta pertanggungjawaban ybs. dan kalaupun itu memang tidak ada niat
>untuk dipenuhi -sebagaimana pengalaman sebelumnya- saya semakin yakin,
>bahwasanya, menuduh itu lebih mudah daripada mengakui kesalahan atawa
>kekhilafan yang kita perbuat.
>
>Daeng Ida yang saya hormati, mungkin daeng bertanya, mengapa untuk kali
>ini, saya begitu tegas di dalam masalah ini, yaitu menuntut suatu jawab
>atas tuduhan2 yang tidak mendasar itu, tidak lain dan tidak bukan, yaitu
>karena tuduhan mengganggu isteri orang lain adalah tuduhan yang teramat
>sangat menyakitkan, apalagi dikaitkan dengan kata-kata,
>
>"Saya mempertanyakan apakah memang tata krama seperti ini wajar di dalam
>kehidupan saat ini, atau wajar di dalam ajaran agama anda?" (Brawijaya
>alias Eyang Troy alias Jeffrey Anjasmara, 20 Juli 2000).
>
>Daeng Ida, sahabat yang saya kasihi, kata-kata inilah yang membuat saya
>teramat sangat terhina, dan bertanya, segitu rendahkan agama yang saya
>anut, sehingga iblis yang satu ini -maaf, ini bukan tuduhan, tapi hanya
>iblis lah yang sanggup melakukan hal seperti ini- berani mengatakan,
>apakah wajar di dalam agama saya untuk mengganggu isteri orang lain?
>
>Jujur saja, daeng Ida, saat membaca kalimat tsb. saya sangat terhina dan
>puji syukur, masuk surat2 dari rekan2 PERMIAS via japri, yang meminta saya
>untuk bersabar dan tabah menghadapi tuduhan2 yang tidak mendasar itu, dan
>akhirnya saya putuskan untuk tidak mengangkat masalah tsb. dalam tulisan2
>saya, karena saya pun menyadari -boleh jadi- ada yang mau 'bermain' di air
>keruh dengan membawa masalah ini ke topik SARA.
>
>Daeng Ida, sahabat dalam setiap guratan puisi saya, kalaupun sekarang ini
>saya mengungkapkan masalah ini, semata-mata adalah untuk memberikan suatu
>kejelasan kepada daeng Ida, bahwa inilah jawaban saya, mengapa saya tegas
>meminta jawaban atas tuduhan2 yang tidak mendasar tsb. karena ini sudah
>merupakan penghinaan terhadap suatu agama, dalam hal ini, agama Katolik,
>mengingat iblis itu mengetahui agama saya.
>
>Saya percaya, Tuhan Jesus Kristus telah memaafkan dia yang telah menghina
>namaNya, tapi saya, sebagai manusia lemah dan berdosa ini, masih perlu
>waktu untuk dapat menerima kenyataan ini dan saya pikir, kata-kata daeng
>Ida di bawah ini, sangat tepat untuk mengungkapkan pedih hati saya saat
>ini, terhina dalam amarah yang terpendam,
>
>"maafkan saya,
>masih aku terduduk di hadapan kebesaran Allahku yang tak terlihat
>meminta sinarnya membuka mata hati inspirasiku
>mengirim pesan damai sebagaimana imanku menginginkannya
>kemarahanku belum reda, hingga hari ini"
>
>(Notrida Mandica, 15 Januari 2000)
>
>Daeng Ida yang saya kasihi, tolong sampaikan kepada sahabat anda, mbak
>Evi, selama ini, saya sudah berusaha untuk bersabar diri terhadap sikap
>dan tindakan suaminya terhadap saya dan agama saya, dan maafkan saya
>apabila sekarang ini, batas kesabaran saya telah habis menghadapi iblis
>yang satu ini.
>
>Maafkan saya, daeng Ida.
>Maafkan saya, mbak Evi.
>Maafkan saya, rekan2 PERMIAS.
>Maafkan saya, Tuhan atas segala dosa-dosaku ini.
>
>
>Teriring salam dan doa dalam kesedihan,
>Marianus Dharma Datubara
>ps: mohon maaf buat rekan2 yang sudah menunggu kisah 'penyu' seri kedua,
> karena malam ini saya harus membalas emailnya daeng Ida yang sangat
> baik untuk saya, terutama untuk bisa menerima suatu kenyataan, bahwa
> hidup adalah 'hidup'.
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>On Tue, 25 Jul 2000, Notrida Mandica wrote:
>
> > BTW. mengetahui karakter anda Bang Dharma, please stay cool. Tidak ada
> > gunanya membalas tuduhan dengan tuduhan. Dan tidak ada gunanya
>membuktikan
> > tuduhan yang tidak ada manfaatnya untuk karir dan masa depan anda.
> > Kadang-kadang ada masalah yang tidak membutuhkan penjelesan atau
> > penyelesaian. Sebaiknya kita saling menjaga mulut dan tulisan. Saling
>tuduh
> > tidak akan menghasilkan Patung Liberty or Medali Emas di Olimpiade
> > Australia.
> >
> > Well, stay cool. Mari kita bangun suasana yang diskusi yang menarik.
> >
> > salam,
> >
> >
> > ida
> > ________________________________________________________________________
> > Get Your Private, Free E-mail from MSN Hotmail at http://www.hotmail.com
> >
> >
________________________________________________________________________
Get Your Private, Free E-mail from MSN Hotmail at http://www.hotmail.com