Wah, kok ngomong kayak anak kecil sih? Anda itu mengikuti konflik Maluku
enggak sih? Sejak kapan Maluku aman? Sejak jaman Habibie umat Islam di sana
dibantai. Ribuan muslim asal Bugis dan Makasar terpaksa pulang kampung. Apa
ini yang disebut aman? Aman dari HongKong? Lihat kondisi para pelarian ini
di pulau-pulau dekat Makasar dong. Cek dulu sudah berapa lama mereka
terpaksa meninggalkan harta bendanya di Ambon. Tanya ya....:)

Dulu kenapa orang diam karena tidak care. Kalau disebut dendam, wah ngapain
saya dendam. Saudara juga bukan. Tapi lihat dulu dong kenyataannya. Apa ada
orang gereja yang menyatakan ikut menyesal atas pembantaian di Poso. Ini ada
buktinya berupa kuburan masal dan mayat-mayat yang dipancingi dari sungai.
Jumlahnya tak kurang dari 250 mayat. Sejumlah 111 mayat diketemukan di satu
tempat "killing field" yaitu di Kilo sembilan. Apa ada yang care? Woooo....
tidak. APakah orang akan ingat dengan kejadian ini? Wooo,..... selama
ratusan tahu orang akan ingat dengan kejadian ini. Ini bukan saya dendam ya.
Ngapain dendam? Nggak ada urusan pribadi tuh. Saya cuma menyayangkan dan
mengecam kelakuan non muslim Indonesia yang hanya bersuara kalau ada non
muslim yang dibantai. Langsung saja sibuk minta internasional masuk. Kalau
mau dihitung secara angka, lihat dulu jumlah yang jelas-jelas mati di Poso
dan Maluku. Apakah non muslim ini pernah menyebut kasus Poso?
Tidakkkkkk...:) Apakah orang memperhatikan hal ini? Jelasssss....:) Jadi ini
bukan urusan saya ya. Mau mati seribu saya tetap ada di sini. Tapi lihat
dulu dong kepedulian kita, baik yang muslim maupun yang non muslim. Apa iya
sudah menunjukkan kepedulian? Pedulinya juga nggak pakai IF-IF-an segala.
Masak peduli cuman kalau ada non muslim yang mati. Caranya gitu ya jangan
salahkan kalau yang muslim hanya akan peduli hanya bila ada muslim yg mati.
Contohnya ya laskar jihad itu. Nah, pertanyaannya kita mau apa?

Ngomong kok retorika melulu lho. Takut menyinggung orang? Tulisan anda ini
persis orang jualan singkong. Nggak ada point-nya. Semua yang anda tulis
dengan muslimin dan Islam dapat diganti dengan kristen, katolik, budha,
hindu, shinto, dll tanpa mengubah arti dari kalimat anda.


--------------------------------------
From: Mardhika Wisesa  <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Thu Aug 3, 2000 11:26pm
Subject: Re: wawancara TAMRIN Tomagola - Maluku - 4 Jenderal Biang Kerok


Inilah kelemahan bagi kita Muslimin dan muslimat Indonesia, tidak bisa
menekan hawa nafsu kedengkian, kecurigaan dan selalu mempertahankan prinsip
bahwa ORANG ISLAM selalu benar (Bukan Agama Islam, karena sebagai
pemeluknya, saya yakin akan Kebenaran dan Kesolehan agama saya). Inilah yang
SALAH, orang yang beragama Islam tidak selalu benar, dan mereka ini bukan
yang kita sebut pemeluk yang taat beragama, kalau mereka taat dan mengaku
bahwa mereka Muslim, mengapa mereka malah turut merusak dan megacau apa yang
sudah disebut Nabi
besar sebagai ZALIM ?

Curiga, bila ada yang menyerang ORANG ISLAM, langsung menuduh Agama kita
juga ikut diserang, ini yang disebut masih KAMPUNGAN, KEDES00N, ILLETERATE
bahasa bulenya

walau saat ini, mungkin ke-4 jendral TNI-AD yang disebut-sebut sebagai biang
kerok masih merupakan perkiraan dari Pak Tamrin dan Pak Manuputty, namun
saya sangat MENGECAM dan MENGUTUK tindakan para muslimin yang ikut-ikutan
mengacaukan ketentraman di Maluku, TAUBATTT....TAUBATT.....kembalilah ke
jalan
            yang benar, jauhi angkara dan dusta, NABI MUHAMAD SAW TIDAK
PERNAH MENGAJARKAN
            KITA UNTUK MEMBUNUH DAN MERUSAK, TIDAK ADA DI QUR'AN YANG
MENGANJURKAN
            MUSLIMIN UNTUK BERBUAT NISTA DAN DUSTA,

            Untuk FNU BRAWIJAYA alias Jeffrey Anjasmara :
            DENDAM DAN CURIGA TIDAK AKAN MEMBAWA KITA KE KEMAJUAN DAN
KETENTRAMAN.
            Rajin-rajin ke pengajian mas, supaya tidak ikut dunia yang zalim
dan nista
            ini.

            Mardhika Wisesa
________________________________________________________________________
Get Your Private, Free E-mail from MSN Hotmail at http://www.hotmail.com

Kirim email ke