Silahkan baca berita lengkapnya di:
http://satunet.com/artikel/isi/00/08/03/22697.html
Akhirnya, penderitaan rakyat Ambon/Maluku yg dijadikan
obyek politik dengan tumbal darah dan nyawa selama ini
mendapatkan bantuan dan perhatian yg semestinya.
Beberapa pihak mungkin saja ada yg tidak senang
dan menganggapnya sebagai intervensi asing.
Bagi saya komentar2 seperti wajar2 saja timbul.
Hal ini mengingat intervensi asing itu bisa mengandung
banyak arti tergantung dari sisi mana kita melihatnya.
Bantuan atau pun pinjaman dana yg diberikan oleh IMF
(baca: asing) kepada Indonesia sebenarnya juga termasuk
kegiatan intervensi asing. Tapi tidak banyak yg protes
akan hal tersebut.
Contoh lain, bisa kita baca pada berita baru2 ini di:
http://www.detik.com/peristiwa/2000/08/07/200087-163831.shtml
Bantuan atau pun kerjasama antara Polri dan LAPD juga
sebenarnya adalah bentuk kegiatan intervensi asing.
Lagi2, tidak banyak yang protes akan hal tersebut.
Latihan dan kerjasama militer selama ini antara Indonesia
dengan AS atau pun negara lain, sebenarnya juga termasuk
kegiatan intervensi asing. Tapi, lagi2 tidak banyak yang protes
karenanya.
Pengiriman personal ABRI (jaman orba) untuk bergabung ke
pasukan DK PBB ke negara2 atau daerah yg sedang terjadi
kemelut keamanan di LN, juga adalah satu bentuk kegiatan
intervensi kita pada negara lain. Tapi, lagi2 tidak banyak
yg protes atas kegiatan tersebut.
Karenanya, bagi saya justru jadi pertanyaan besar, kenapa
ketika ada pihak atau kelompok yg mencoba meminta bantuan
keamanan atau pun kemanusiaan atas peristiwa sedih di Ambon/Maluku
ke PBB sempat dikatakan sebagai suatu kegiatan intervensi asing
yg perlu dilarang? Beberapa kelompok yg menentangnya bahkan
sempat mengatakan bahwa urusan Ambon/Maluku adalah urusan
Indonesia dan karenanya hanya Indonesia sajalah yg berhak
mengatasinya. Bahkan dikatakan pula, Indonesia sanggup
menyelesaikannya sendiri.
Ntah dari mana dasar pemikirannya sampai terucap kata2
seperti itu, tapi yg jelas kondisi di Ambon/Maluku bukannya makin
baik tapi makin parah. Korban yg berjatuhan bertambah banyak.
Sementara kegiatan bunuh2an pun makin mengerikan
[beberapa diantara kita mungkin telah melihat foto2 atas
korban Ambon/Maluku]
Kalau kita mau jujur, untuk kasus Ambon/Maluku kita
tidak dapat lagi mengharapkan perlindungan dari aparat
keamanan khususnya dalam hal ini TNI. Hal ini mengingat
telah terbukti beberapa kali personal2 TNI yg tidak bisa
membedakan antara tugas sebagai pelindung masyarakat
dan urusan pribadi. Beberapa personal TNI malah terlibat
mendukung kelompok masing2 dalam pengertian yg sesuai
dengan agama yg diimani. Mungkin hal ini akibat kurang
profesionalnya anggota TNI kita dalam menjalankan tugas.
Atau mungkin memang hal tersebutlah yg diinstruksikan
oleh atasannya?
Untuk pertanyaan yg terakhir, akan sangat sulit dijawab.
Tapi yang jelas, ketika terjadi kunjungan presiden dan
wakil presiden ke Ambon/Maluku beberapa waktu yg lalu,
mendadak sontak kondisi di Ambon/Maluku jadi aman.
Setelah kunjungan selesai, beberapa waktu setelahnya,
ramai lagi. Suatu kejadian yg dapat menimbulkan banyak
pertanyaan
Karenanya, tim kemanusiaan dari PBB yg kini telah resmi
masuk ke Ambon/Maluku bekerjasama dengan pemerintah RI
diharapkan dapat menolong saudara2 kita di Ambon/Maluku
yg telah banyak menderita selama ini. Mereka sebagai manusia,
berhak untuk hidup aman dan tenteram.
Semoga rakyat Ambon/Maluku bisa segera dipulihkan kondisinya,
baik fisik maupun psikisnya.
jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu