Ah, gombal. Ternyata yang dimaksud di sini adalah UNDP, WHO, WFP, UNICEF.
Wah, kalau yang ini sih dari dulu sudah ada mas. Gimana....:) Kena kita
dikibulin.....:) Nggak usah di Maluku, di mana-mana juga ada. Masak nggak
pernah lihat MCK bercat biru muda dengan tulisan UNDP? Ah, ada-ada saja...:)

Apakah dengan kehadiran mereka suasana akan berubah damai? Hohho.... Dengan
kelakuan pihak yang bertikai masih seperti ini, maka saya sangat
menyangsikan. Nggak ada itu napas lega. Konyol kalau berpikiran kehadiran
organisasi-organisasi macam itu bisa membuat suasana damai.

Justru saya melihat potensi konflik yang makin parah bila nantinya mereka
tidak diawasi, dan memasukkan orang-orang berbaju WHO (misalnya)tapi bisa
keluyuran ke dalam-dalam. Inget aja dengan pengalaman Timtim. Makanya mereka
mesti diawasin, apa bener menyediakan bantuan kemanusian atau memberi
ceramah pembentukan RMS? UNDP dan WHO nggak punya track record sebagai
tukang kipas. UNICEF pernah jadi tukang kipas waktu di Timtim, makanya perlu
dikawal terus tuh. Masak mestinya ngurusin anak-anak lalu yang dewasa juga
diurusin.

Yang lucu dari posting Irwan di bawah adalah responnya yang demikian
terlambat. Di awal konflik dulu ke mana aja suaranya? Ribuan muslim mati
kenapa diem aja? Eh, sekarang kayak orang menang taruhan aja lagaknya.
Hehehe...:)

Ini ada yg lucu:

IMF emang intervensi asing. Makanya banyak yang protes. Siapa bilang nggak
ada yg protes?

Latihan dan kerja sama militer = intervensi asing? Wuih, sejak kapan itu?
Justru Indonesia nyari-nyari kesempatan beginian. Namanya juga latihan.
Misal latihan pendaratan, ya udah bakalan disediakan pulau kosong atau
pantai kosong untuk didaratin. Latihan nyerang, ya udah dikasih kapal tua
lalu ditembakin bareng-bareng. Mana intervensinya?

Kerja sama Polisi dg LAPD = intervensi asing? Wuih, gimana ngelihatnya?
Waktu Polri ngejar si Zarima apa polisi Indonesia boleh gedebukan ngegeledah
apartmen orang? Apa LAPD boleh berlaku yang kayak demikian pula di Jakarta?
Wah, enggak tuh....:) Caranya gitu ada orang impor mobil dibilang intervens
asing tuh.

Pengiriman personil ABRI dalam DK-PBB itu nggak selalu sebagai pasukan
aktif. Seringnya sebagai observer. Kehadirannya setahu saya juga karena PBB
diundang oleh pemerintah bersangkutan. Kayak di Bosnia perasaan Indonesia
cuman nyumbang pasukan medis. Kalau di Timteng karena memang ada perang.
Yang di Kongo nggak tahu deh. Di Kamboja? Perasaan emang udah nggak ada
pemerintahan ya...:) Paling Hun Sen.

Bantuan keamanan dan kemanusiaan itu lain. Kalau yang anda sebut di bawah
ini jelas bukan bantuan keamanan. Ngapain dibantu keamanannya? Wong
daruratnya masih sipil. Nah, bantuan kemanusiaan yang macam-macam, sekaligus
yang sering jadi pisau bermata dua. Bilangnya kemanusiaan tapi mensuplai
makanan hanya untuk kelompok tertentu. Kan bisa dijadikan lumbung makanan
untuk menyerang kelompok lain. Ngasih duit bisa dipakai untuk beli senjata.

Ambon nggak makin parah oom. Cuma situasinya berbalik. Kalau dulu yang
muslim diusiri dan dibunuhi, sekarang situasinya tidak ada yang diusiri
kayak orang BBM (Bugis, Buton, Makasar) setahun lalu, tetapi kelompok merah
yang terdesak dan ada yg terbunuh. Yah, tentunya parah untuk anda. Dasar
partisan ya repot deh....:) Coba kalau nggak partisan apa si penulis ini
punya ide menempatkan kembali orang-orang BBM yg sudah terusir dari tanah
dan mata pencariannya? Pasti enggak....:)

Pikiran bahwa TNI tidak mampu mengatasi masalah itu adalah tipikal pemikiran
sempit, dan tidak berpikir secara sistem. Kalau sekarang kondisinya darurat
sipil artinya yang bertanggung jawab adalah pemerintahan sipil. Polisi
adalah instrumen pemerintahan sipil yang harus bertanggung jawab. Sayangnya
lebih banyak yang bloon daripada yg pinter sehingga malah banyak yang
berpihak. Sekali lagi sekarang ini polisi sudah terpisah dari TNI. Mestinya
ini yg dicamkan.

Berhubung kita nggak punya National Guard, lalu tentara dikerahkan. Tapi
lagi-lagi masih dalam komando pemerintahan sipil. Dengan keterlibatan mereka
yang masih belum lama, maka melakukan penilaian terhadap mereka dn
men-judge-nya perlu diteliti apa motivasinya atau pola pikirnya. Ada
beberapa kemungkinan yaitu:

- sekedar senang dengan yang berbau luar negeri.
- terlalu partisan sehingga tidak sabar dengan kenyataan posisi pasukan
merah yg terdesak.
- mendukung pembentukan RMS, sebagaimana si penulis ini pernah mendukung
pembentukan Timtim merdeka.
- mendukung disintegrasi dengan cara menghembus-hembuskan opini bahwa TNI
tidak mampu sebagai pelindung, sehingga TNI sebagai basis pertahanan
terakhir masyarakat dapat diusir keluar dari Maluku. Ujung-ujungnya kekuatan
RMS bisa naik.


Jeffrey Anjasmara

---------------------------------------------
Date: Mon Aug 7, 2000 12:41pm
Subject: PBB resmi masuk Maluku

Silahkan baca berita lengkapnya di:
http://satunet.com/artikel/isi/00/08/03/22697.html

Akhirnya, penderitaan rakyat Ambon/Maluku yg dijadikan
obyek politik dengan tumbal darah dan nyawa selama ini
mendapatkan bantuan dan perhatian yg semestinya.

Beberapa pihak mungkin saja ada yg tidak senang
dan menganggapnya sebagai intervensi asing.
Bagi saya komentar2 seperti wajar2 saja timbul.
Hal ini mengingat intervensi asing itu bisa mengandung
banyak arti tergantung dari sisi mana kita melihatnya.

Bantuan atau pun pinjaman dana yg diberikan oleh IMF
(baca: asing) kepada Indonesia sebenarnya juga termasuk
kegiatan intervensi asing.  Tapi tidak banyak yg protes
akan hal tersebut.

Contoh lain, bisa kita baca pada berita baru2 ini di:
http://www.detik.com/peristiwa/2000/08/07/200087-163831.shtml
Bantuan atau pun kerjasama antara Polri dan LAPD juga
sebenarnya adalah bentuk kegiatan intervensi asing.
Lagi2, tidak banyak yang protes akan hal tersebut.

Latihan dan kerjasama militer selama ini antara Indonesia
dengan AS atau pun negara lain, sebenarnya juga termasuk
kegiatan intervensi asing. Tapi, lagi2 tidak banyak yang protes
karenanya.

Pengiriman personal ABRI (jaman orba) untuk bergabung ke
pasukan DK PBB ke negara2 atau daerah yg sedang terjadi
kemelut keamanan di LN, juga adalah satu bentuk kegiatan
intervensi kita pada negara lain. Tapi, lagi2 tidak banyak
yg protes atas kegiatan tersebut.

Karenanya, bagi saya justru jadi pertanyaan besar, kenapa
ketika ada pihak atau kelompok yg mencoba meminta bantuan
keamanan atau pun kemanusiaan atas peristiwa sedih di Ambon/Maluku
ke PBB sempat dikatakan sebagai suatu kegiatan intervensi asing
yg perlu dilarang? Beberapa kelompok yg menentangnya bahkan
sempat mengatakan bahwa urusan Ambon/Maluku adalah urusan
Indonesia dan karenanya hanya Indonesia sajalah yg berhak
mengatasinya. Bahkan dikatakan pula, Indonesia sanggup
menyelesaikannya sendiri.

Ntah dari mana dasar pemikirannya sampai terucap kata2
seperti itu, tapi yg jelas kondisi di Ambon/Maluku bukannya makin
baik tapi makin parah. Korban yg berjatuhan bertambah banyak.
Sementara kegiatan bunuh2an pun makin mengerikan
[beberapa diantara kita mungkin telah melihat foto2 atas
korban Ambon/Maluku]

Kalau kita mau jujur, untuk kasus Ambon/Maluku kita
tidak dapat lagi mengharapkan perlindungan dari aparat
keamanan khususnya dalam hal ini TNI. Hal ini mengingat
telah terbukti beberapa kali personal2 TNI yg tidak bisa
membedakan antara tugas sebagai pelindung masyarakat
dan urusan pribadi. Beberapa personal TNI malah terlibat
mendukung kelompok masing2 dalam pengertian yg sesuai
dengan agama yg diimani. Mungkin hal ini akibat kurang
profesionalnya anggota TNI kita dalam menjalankan tugas.
Atau mungkin memang hal tersebutlah yg diinstruksikan
oleh atasannya?

Untuk pertanyaan yg terakhir, akan sangat sulit dijawab.
Tapi yang jelas, ketika terjadi kunjungan presiden dan
wakil presiden ke Ambon/Maluku beberapa waktu yg lalu,
mendadak sontak kondisi di Ambon/Maluku jadi aman.
Setelah kunjungan selesai, beberapa waktu setelahnya,
ramai lagi. Suatu kejadian yg dapat menimbulkan banyak
pertanyaan

Karenanya, tim kemanusiaan dari PBB yg kini telah resmi
masuk ke Ambon/Maluku bekerjasama dengan pemerintah RI
diharapkan dapat menolong saudara2 kita di Ambon/Maluku
yg telah banyak menderita selama ini. Mereka sebagai manusia,
berhak untuk hidup aman dan tenteram.

Semoga rakyat Ambon/Maluku bisa segera dipulihkan kondisinya,
baik fisik maupun psikisnya.


jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu

________________________________________________________________________
Get Your Private, Free E-mail from MSN Hotmail at http://www.hotmail.com

Kirim email ke