Tentu di antara anda sudah mendengar apa yang dinamakan dengan
NanoTeknologi, yaitu teknologi yang berbasiskan skala "SATU PER MILYAR".
Ilmu ini muncul antara lain sebagai akibat adanya keinginan manusia-manusia
yang pemikirannya berlandaskan "kecepatan engineering, kecepatan analisis,
dan kecepatan kalkulasi", plus dorongan untuk menyelami tentang "KEMUNGKINAN
TERBENTUKNYA PRODUK YANG JAUH LEBIH KECIL TANPA MENGURANGI SUBSTANSI FUNGSI
DAN RUANG OPERASIONAL".
     Sketsanya kalau dibuat secara matematis antara lain begini :
     0,001 : 0,0002 = 5 <MILITEKNOLOGI>
     0,000001 : 0,0000002 = 5 <MIKROTEKNOLOGI>
     0,000000001 : 0,0000000002 = 5 <NANOTEKNOLOGI>

     Dalam hal ini "5" adalah simbol dari Substansi Fungsi dan Ruang
Operasional.
     Konsekwensi dari aplikasi dari NanoTeknologi antara lain  terwujudnya
berbagai produk dengan volume jauh lebih kecil, sistem jauh lebih komplek,
bentuk jauh lebih revoluisioner, sampai fungsi jauh lebih efektif.
     Atas dasar itulah maka NanoTeknologi bisa dipandang sebagai cikal bakal
revolusi tahap berikutnya.
     Bila dilarikan dengan trend Teknologi di negara berkembang,
Nanoteknologi semakin mengindikasikan bahwa apa yang kita banggakan dengan
teknologi di Indonesia merupakan produk ketinggalan zaman.

     Saya memprediksi tentang sejumlah konsekwensi yang bakal terjadi dari
hasil aplikasi NanoTeknologi.
     *)  Pudarnya berbagai nilai tradisional yang selama ini sangat
mengkristal.
     *)  Terwujudnya manusia yang bisa terbang dengan memegang sebuah alat
yang bisa digenggam.
     *)  Membudayanya industri produk teknologi yang dirancang,
dioperasionalkan,  diproduksi, sampai dipasarkan dari jarak jauh.
     *)  Banyaknya jenis kelainan/gangguan dalam tubuh yang tidak hanya
menjadi otoritas spesialis penyakit dalam.
     *)  Munculnya apa yang saya istilahkan dengan TELE PENCIUMAN, TELE
PERABAAN, dan TELE PERASAAN, tiga sistem telekomunikasi yang tampil
bergandengan bersama TELE PENDENGARAN <Audio> dan TELE PENGLIHATAN <Visual>,
dua sistem telekomunikasi yang jauh lebih dulu membudaya.
     *) Turunnya pamor minyak sebagai sumber energi.

      Dalam kaitan itu semua : APAKAH KITA MASIH TETAP SEPERTI BAK KATAK
DALAM TEMPURUNG?

Salam,

Nasrullah Idris
----------------------
P.O. Box 1380 - Bandung 40013
Bidang Studi : Reformasi Sains Matematika Teknologi
http://bdg.centrin.net.id/~acu

Kirim email ke