Seperti yang mungkin anda telah baca sendiri di kompas, pendidikan dasar di Indonesia sangat beda sekali dengan Amerika.
Suatu saat pada waktu saya menonton film Imax, ada tanya jawab antara pihak bioskop dengan penonton. Dan saya sangat kaget or lebih tepatnya kagum sekali, dimana yang bertanya adalah para kaum 'anak kecil' dan pertanyaan mereka sangat kritis sekali, seperti misalnya " "apa kepanjangan dari IMAX" dll. Dulu teman saya Japanese pernah bilang kalau Jepang sendiri walaupun mempunyai banyak orang-orang pintar, tapi mereka kurang kritis , dan hal ini dikarenakan karena sistem pendidikan serta kultur yang sangat berbeda dengan kultur amerika. Dan dia berkesimpulan bahwa hal ini yang menyebabkan banyak orang pintar di Asia, tapi hanya sedikit yang dapat menjadi Nobel Prize Winner, dikarenakan bangsa Asia kurang kritis. Apakah teori ini benar? Hanya waktu yang bisa membuktikannya... Kembali kepada pendidikan Indonesia, "Bukankah hari depan sebuah bangsa ada di tangan anak-anak ini?" (Leila Ch. Budiman) Selamat menikmati, tino ++++++ http://WWW.KOMPAS.com/kompas-cetak/0201/27/KELUARGA/bela20.htm Belajar di Indonesia dan di Amerika TANGGAPAN pembaca di bawah ini menarik sebab mengalami sendiri perbedaan pendidikan dasar di Amerika dan Indonesia. Pendidikan dasar sepatutnya menumbuh kembangkan berbagai potensi yang baik-baik yang ada pada seorang anak, bukan malah menghambatnya, apalagi melenyapkannya. Enam bulan (16/9/01) lalu soal pendidikan ini saya ungkapkan dalam rubrik ini, sebagai oleh-oleh kunjungan ke Amerika. Saya pun melihat sendiri dulu ketika tinggal di Amerika sekitar delapan tahun, bagaimana anak-anak kami yang masih kecil sangat senang kesekolah dan suka sekali mengerjakan tugas-tugas dari sekolah yang memang menarik. Di sana tiap anak diterima dengan segala perbedaannya dan kemampuan kecil-kecil pun dihargai, sehingga anak termotivasi untuk belajar dan berprestasi. Kreativitas dan inisiatif sangat dihargai, betapapun sederhana dan "aneh"-nya. Motivasi untuk belajar dikembangkan dengan baik sekali, juga kemampuan berpikir, inisiatif, dan kreativitas. Mungkin itulah yang membuat bangsa Amerika maju pesat. Bukankah hari depan sebuah bangsa ada di tangan anak-anak ini? Banyak bedanya - M di Jkt Bu, saya (17) telah membaca tulisan Anda di Kompas Minggu 16 September 2001 berjudul Surat yang Hilang & Sekilas Pendidikan di Amerika. Saya pernah mengalami apa yang Ibu tulis. Saya pernah belajar di Michigan, Amerika, selama lima setengah tahun sejak saya berumur empat tahun. Saya banyak merasakan bedanya belajar di Amerika dan di Indonesia. Dan saya sangat bersyukur bahwa kepribadian saya banyak dibentuk pada masa-masa itu. Selama saya sekolah di sana, hidup saya bagaikan sebuah rainbow (pelangi). Selalu indah. Saya merasa aman dan terjamin. Saya merasa dihargai sebagai manusia. Saya adalah anak yang sangat pemalu dan sensitif, tetapi saya merasa nyaman di sekolah. Tentu saja saya tidak tahu bahwa keadaan di negara asal saya sangat berbeda. Ketika saya kelas 2 SD, saya berlibur ke Indonesia. Saya mendapat banyak kenangan buruk di Indonesia. Singkatnya, liburan itu membuat saya trauma. Saya melihat banyak kenyataan menyedihkan. Saya malu jadi orang Indonesia. Sampai suatu hari (lupa kelas berapa) entah bagaimana, saya sadar saya tidak akan tinggal di Michigan selamanya. Saya harus kembali ke Indonesia suatu saat. Hari itu saya stres berat. Begitu turun dari bus sekolah, saya langsung berlari ke rumah saya sambil menangis. Ibu saya menanyakan kenapa saya menangis. Saya bilang, "I don't wanna go back to Indonesia." Ibu saya bilang kita tidak akan ke sana, tetapi ternyata ibu berbohong. Beberapa bulan kemudian kami mulai mengepak barang untuk pergi ke Indonesia. Saya stres melihat Indonesia. Karena saya belum bisa berbahasa Indonesia (tetapi bisa mengerti sedikt-sedikit), saya selalu dijadikan bahan tertawaan. Lalu mereka akan menyuruh saya mengucapkan sesuatu dalam bahasa Inggris, dan saya pun menjadi bahan tontonan. Padahal seperti yang saya katakan tadi, saya sangat pemalu. Ibu sebagai psikolog bisa bayangkan, bagaimana menderitanya saya. Pada titik inilah saya mulai membenci orang Indonesia. Saya menganggap mereka primitif, seperti manusia purba yang baru dikunjungi The Jetsons. Lalu saya mulai bersekolah. Lagi-lagi saya menjadi bahan tontonan. Betapa menyebalkan. Saya sangat suka menggambar. Dulu di Michigan, gambar saya sering dipamerkan di pameran lukisan anak SD, bahkan dua tahun yang lalu saya menang juara pertama lomba melukis poster. Saya sangat excited menjelang pelajaran menggambar. Tapi, saya kecewa, gurunya menyuruh kami menggambar sawah!!! Saya kaget melihat kami didikte seperti itu. Akhirnya saya menggambar sawah, tetapi not just a sawah. Sawah itu saya beri rumah, orang, ada pesawat terbang di atasnya, ada air mancurnya, ada toko ada mal. Pokoknya imajinasi saya, saya tuangkan semua. Dan berapa nilai yang saya dapat? Enam! Sedangkan teman saya yang menggambar sawah seperti aslinya dan petak-petaknya digambar menggunakan penggaris (!), mendapat 9. Saya langsung mendapat kesan betapa kakunya orang Indonesia: tidak bisa menghargai karya seni orang. Dan tidak mengerti kreativitas. Bu Leila, tanpa bermaksud meng-over estimate diri sendiri, saya termasuk anak yang cukup cepat dewasa dalam beberapa hal. (Walaupun saya masih suka cengeng, manja, dan secara fisik saya agak lambat tumbuh dan memasuki masa puber). Di kelas 6, ketika teman-teman baca Bobo, saya sudah membaca Gadis, di SMP saya mulai baca Kompas. Ketika kelas 4 SD saya sudah bisa menganalisis kepribadian orang, apakah orang yang mendekati saya karena memang ingin berteman atau karena saya "anak Amerika". Saya cukup sensitif pada perasaan orang... Band favorit saya adalah Boyzone, sejak kelas 6, sebab saya mempunyai banyak kesamaan dengan dia. Yang paling menarik adalah karena the fact that he is shy and sensitive and "he made it". Sekarang saya sudah SMU kelas 3. Saya sering merasa down. Saya tidak suka pendidikan Indonesia yang begitu kaku. Setiap hari otak saya dijejali teori. Misalnya saya belajar tentang vektor, saya malah tidak mengerti pemakaian vektor dalam kehidupan sehari-hari, gawat kan, Bu? Bagaimana Indonesia mau maju? Saya beruntung waktu masuk SMU, NEM saya kedua tertinggi di sekolah. Akhirnya saya diikutkan di "kelas khusus" yang cara belajarnya agak lain. Jam belajar kami sangat lama dan kami dapat guru-guru terbaik... "Buku"-ku dan buku hapalan - Ri di Ohio Saya (30) tertarik dengan tulisan Ibu tentang pendidikan di Amerika yang berbeda dari di Indonesia. Saya jadi teringat masa kecil saya di Cambridge ketika belajar lima tahun di elementary school dan dua tahun di California. Memang sistem pendidikannya berbeda dari di Indonesia. Perbedaan yang sangat terasa adalah di Amerika sangat diusahakan agar para siswa tertarik pada subjek yang dipelajari. Juga materi tidak hanya dari buku-buku saja, tetapi juga meneliti alam di sekitar. Misalkan dalam pelajaran biologi. Anak SD-kira-kira kelas 5-harus mencari sendiri berbagai fauna dan flora yang hidup di darat, dalam air tawar, laut, dan udara. Saya ingat diantar orangtua saya ke tepi pantai, mencari berbagai kerang dan siput (atau pecahannya), serpihan rumput-rumputan laut, akar-akaran, sisa karang dan batuan yang aneka warna. Lalu kami ditugaskan mencari keterangan dari berbagai "penemuan" ini dari ensiklopedia. Akhirnya benda-benda ini disusun menurut jenisnya dan lekatkan dalam buku gambar lengkap dengan keterangannya (yang kadang hanya beberapa kalimat). Jadilah dia sebuah buku, yang saya buat sendiri, lengkap dengan judul, isi buku, contoh-contoh konkret, keterangannya, dan penulisnya nama saya sendiri. Tiap anak punya buku biologinya yang aneka ragam dan hal itu dibicarakan di kelas. Kami sangat bangga dengan karya kami. Pelajaran biologi ini, terutama buku itu masih saya ingat sampai sekarang. Ini berbeda dari di Indonesia yang berpegang pada texbook saja dan banyak hapalannya. Dalam pelajaran matematik, ada sebuah buku dengan berbagai kotak kosong. Jawaban soal, harus diisi dalam buku menurut aturannya. Jika semua betul akan muncul gambar tertentu, misalkan kapal terbang, gajah, ikan dan sebagainya. Saya suka mengerjakan matematik juga 'spelling' sebab penasaran melihat gambar apa yang akan muncul kelak. Hal lain yang mengesankan adalah mereka menghargai prestasi individu, betapapun crazy-nya. Saya ingat kami (saya dan adik) pernah memenangkan perlombaan mewarnai gambar dalam sebuah supermarket. Banyak anak-anak yang mengikutinya. Ketika akhir bulan diumumkan pemenangnya, saya juga adik saya jadi juara dalam golongan umur kami masing masing (9 dan saya 11 tahun). Saya ingat adik saya mewarnai satu gedung dengan macam macam warna, yang bagian kiri berbeda dari bagian kanannya dan dia tetap memenangkan lomba buat golongan umurnya. Saya merasa senantiasa di di-encourage dan dihargai, sehingga saya terpacu buat berprestasi. Sedang di Indonesia, jika berbeda dengan apa yang dikatakan guru, pasti kami disalahkan, seakan mengajarkan kami untuk tidak boleh punya inisiatif dan tidak boleh berpikir sendiri. *
