Salam permias, nah kan lebih enak diskusi pendidikan daripada diskusi politik yang tidak bakal selesai sampai ganti generasi... :o)
michael, point saya dan saya rasa juga point dari penulis adalah : "kreatifitas anak tersebut", dimana dia menuruti imajinasinya dan mengerjakan sesuatu bukan karena dia harus menuruti kemauan si guru. Saya teringat dosen pembimbing saya, dimana dia diberikan kesempatan mengajar di sekolah TK anaknya. Dia sendiri sampai terkagum-kagum sekali dengan sikat kritis dan penuh keinginantahuan dari para anak-anak. Si kecil selalu bertanya: Why? What? etc. Di amerika, semua anak-anak diajarkan kreatif, diajarkan kritis, berani bertanya yang membuat sikap percaya diri anak tersebut meningkat. Salah satu kunci keberhasilan seseorang adalah dari sikap percaya diri. Sedangkan di negara Asia, karena kultur kita, maka kita tidak bisa bersikap kritis. Melakukan sesuatu yang berbeda sudah dianggap "berbeda" dan biasanya dianggap "aneh". Mengenai Nobel Prize Winner, memang ada hubungan dengan R&D. Tapi yang paling penting adalah who's the man behind the gun. Teman Japanese saya hanya mencoba mengutarakan bahwa karena sistem kultur serta dunia akademisnya (misalnya sistem hirarki yang sangat kuat di jepang), maka kreatifitas dan kekritisan mereka di belenggu. Sehingga mereka tidak bisa melahirkan ide-ide/projek/theori yang cutting the edge. Setiap kali mereka menemukan suatu ide baru, harus menembus birokrasi yang sedemikian panjangnya, sehingga mereka tidak bisa berkembang menjadi dirinya sendiri. Mereka hanya menjadi bayangan dari si Profesor. Dan hal ini adalah sesuatu yang common di asia, karena memang kultur kita seperti itu. Sedangkan di US, selain sistim kompetisi sangat kuat, mereka sangat kritis sekali. Dan sifat kekritisan ini yang membuat level pendidikan naik dan naik terus, sehingga secara tidak langsung banyak melahirkan the best of the best person. Disini, semua manusia bisa menjadi apa yang dia mau. Dia bisa menjadi the best in something . Dan dia juga bisa fokus in something karena memang dunianya mendukung semuanya. Mengenai Indonesia sendiri, kita mempunyai banyak sekali orang pintar, walaupun kreatifitas kita/sikap kritis kita tidak dikembangkan sejak kecil. Nah coba anda bisa bayangkan bila dengan mutu SDM yang kita punya, kemudian sistem pendidikan dasar di rubah, pastilah banyak Nobel Prize Winner dari Indonesia. Semua hal yang dicoba ditulis oleh ibu Leila dan beberapa pakar pendidikan lainnya adalah suatu metode pengajaran dasar yang berbeda dari yang ada sekarang ini. Apakah hasilnya akan lebih baik? atau lebih buruk? Jawabannya tidak ada yang tahu karena memang kita belum pernah mencobanya. So sekarang semuanya tergantung dari kita sendiri, apakah kita sudah puas dengan sistem pendidikan dasar kita? apakah kita berani merubah sistem? etc. salam, tino
