Sdr Tino, ada beberapa hal yang ingin saya tambahkan mengenai perbedaan dasar di USA dan Indonesia.
Sebenarnya, tingkat kemampuan murid Asia (dan Eastern European) dari level 1 sampai 12, jauh diatas kemampuan murid Amerika sendiri. Pernah ada suatu research yang meranking murid level 9 sampai 12, ranking pertama dimenangkan murid dari Singapore, disusul Korea, HK, dan Jepang. USA..? Untung2x-an jatuh di nomer 20-an, dibawah Inggris dan German. Kesalahan (atau ketidak sempurnaan) system pendidikan di USA ini ya karena itu tadi, terlalu menonjolkan sikap kreativitas murid. Ini menurut saya kurang tepat, apalagi buat mereka yang masih di level dasar. Tahu apa mereka mengenai kreativitas..?? Kreativitas dari anak seusia ini adalah olah raga dan main game. Nggak heran kalau mereka cuman cengengas-cengengesan saat ditanya "berapa square root dari 144...?", atau "dimanakah Antartika ?". Karena ya itu tadi, maunya kreatif, malah jadi nggak bisa apa2x. Being kreatif does not mean being smart,yes...?? Saya kok kurang melihat hubungan antara pemenang nobel, kepandaian, serta kekreatifan. Bill Gates itu bukan pemenang nobel, tapi saya kira dia itu jenius. Kreatifkah dia..?? No. He is stealing the idea of Apple, IBM, and Xerox, and put them together. That is genius. Sebelum tahun 1950, para pemenang nobel banyak yang berasal dari German, Austria, Perancis, dan negara2x Eropa lainnya. System pendidikan yang mereka gunakan sama persis dengan yang dikopi di Singapore, Japan, Korea, dan Indonesia. Setelah tahun 50, negara2x Eropa tersebut mulai 'mengadopsi' system Amerika yang menitikberatkan kreativitas murid. Kita semua lihat, berapa banyak pemenang nobel yang dari negara2x di Eropa..? Sedikit banyak, para pemenang nobel tersebut masing2x didukung oleh negara dan uni masing2x. Di USA sendiri, billion of dollars dipakai untuk research (kita bisa lihat komparasinya di best grad school website). Di USA, duit untuk R&D ini seperti nggak ada batasnya. Berapa duit yang dikeluarkan di uni2x Asia..? Saya lebih melihat hubungan antara pemenang nobel dengan level R&D suatu negara, bukan dengan level kekreatifan.. salam, tj. PS: Sedikit pesan mengenai cerita dibawah. Kalau anda melihat gambar sawah, terus ada mall, air mancur, serta pesawat terbang, apa yang melintas dibenak anda..? Ya nggak salah kalau diberi nilai 6. Ini nggak ada hubungannya dengan kreatif. Ini sih, salah imajinasi... >From: cortino sukotjo <[EMAIL PROTECTED]> >Reply-To: Indonesian Students in the US <[EMAIL PROTECTED]> >To: [EMAIL PROTECTED] >Subject: Perbedaan Dasar Pendidikan Indonesia dan Amerika >Date: Mon, 28 Jan 2002 12:06:53 +0900 > >Seperti yang mungkin anda telah baca sendiri di kompas, pendidikan dasar di >Indonesia sangat beda sekali dengan Amerika. > >Suatu saat pada waktu saya menonton film Imax, ada tanya jawab antara pihak >bioskop dengan penonton. Dan saya sangat kaget or lebih tepatnya kagum >sekali, dimana yang bertanya adalah para kaum 'anak kecil' dan pertanyaan >mereka sangat kritis sekali, seperti misalnya " "apa kepanjangan dari IMAX" >dll. > >Dulu teman saya Japanese pernah bilang kalau Jepang sendiri walaupun >mempunyai banyak orang-orang pintar, tapi mereka kurang kritis , dan hal >ini dikarenakan karena sistem pendidikan serta kultur yang sangat berbeda >dengan kultur amerika. Dan dia berkesimpulan bahwa hal ini yang menyebabkan >banyak orang pintar di Asia, tapi hanya sedikit yang dapat menjadi Nobel >Prize Winner, dikarenakan bangsa Asia kurang kritis. Apakah teori ini >benar? Hanya waktu yang bisa membuktikannya... > >Kembali kepada pendidikan Indonesia, "Bukankah hari depan sebuah bangsa ada >di tangan anak-anak ini?" (Leila Ch. Budiman) > >Selamat menikmati, >tino >++++++ > > > > >http://WWW.KOMPAS.com/kompas-cetak/0201/27/KELUARGA/bela20.htm > > >Belajar di Indonesia dan di Amerika > > >TANGGAPAN pembaca di bawah ini menarik sebab mengalami sendiri perbedaan >pendidikan dasar di Amerika dan Indonesia. Pendidikan dasar sepatutnya >menumbuh kembangkan berbagai potensi yang baik-baik yang ada pada seorang >anak, bukan malah menghambatnya, apalagi melenyapkannya. > >Enam bulan (16/9/01) lalu soal pendidikan ini saya ungkapkan dalam rubrik >ini, sebagai oleh-oleh kunjungan ke Amerika. Saya pun melihat sendiri dulu >ketika tinggal di Amerika sekitar delapan tahun, bagaimana anak-anak kami >yang masih kecil sangat senang kesekolah dan suka sekali mengerjakan >tugas-tugas dari sekolah yang memang menarik. Di sana tiap anak diterima >dengan segala perbedaannya dan kemampuan kecil-kecil pun dihargai, sehingga >anak termotivasi untuk belajar dan berprestasi. Kreativitas dan inisiatif >sangat dihargai, betapapun sederhana dan "aneh"-nya. Motivasi untuk belajar >dikembangkan dengan baik sekali, juga kemampuan berpikir, inisiatif, dan >kreativitas. Mungkin itulah yang membuat bangsa Amerika maju pesat. >Bukankah hari depan sebuah bangsa ada di tangan anak-anak ini? > >Banyak bedanya - M di Jkt >Bu, saya (17) telah membaca tulisan Anda di Kompas Minggu 16 September 2001 >berjudul Surat yang Hilang & Sekilas Pendidikan di Amerika. > >Saya pernah mengalami apa yang Ibu tulis. Saya pernah belajar di Michigan, >Amerika, selama lima setengah tahun sejak saya berumur empat tahun. Saya >banyak merasakan bedanya belajar di Amerika dan di Indonesia. Dan saya >sangat bersyukur bahwa kepribadian saya banyak dibentuk pada masa-masa itu. >Selama saya sekolah di sana, hidup saya bagaikan sebuah rainbow (pelangi). >Selalu indah. Saya merasa aman dan terjamin. Saya merasa dihargai sebagai >manusia. Saya adalah anak yang sangat pemalu dan sensitif, tetapi saya >merasa nyaman di sekolah. Tentu saja saya tidak tahu bahwa keadaan di >negara asal saya sangat berbeda. > >Ketika saya kelas 2 SD, saya berlibur ke Indonesia. Saya mendapat banyak >kenangan buruk di Indonesia. Singkatnya, liburan itu membuat saya trauma. >Saya melihat banyak kenyataan menyedihkan. Saya malu jadi orang Indonesia. >Sampai suatu hari (lupa kelas berapa) entah bagaimana, saya sadar saya >tidak akan tinggal di Michigan selamanya. Saya harus kembali ke Indonesia >suatu saat. Hari itu saya stres berat. Begitu turun dari bus sekolah, saya >langsung berlari ke rumah saya sambil menangis. Ibu saya menanyakan kenapa >saya menangis. Saya bilang, "I don't wanna go back to Indonesia." Ibu saya >bilang kita tidak akan ke sana, tetapi ternyata ibu berbohong. Beberapa >bulan kemudian kami mulai mengepak barang untuk pergi ke Indonesia. > >Saya stres melihat Indonesia. Karena saya belum bisa berbahasa Indonesia >(tetapi bisa mengerti sedikt-sedikit), saya selalu dijadikan bahan >tertawaan. Lalu mereka akan menyuruh saya mengucapkan sesuatu dalam bahasa >Inggris, dan saya pun menjadi bahan tontonan. Padahal seperti yang saya >katakan tadi, saya sangat pemalu. Ibu sebagai psikolog bisa bayangkan, >bagaimana menderitanya saya. Pada titik inilah saya mulai membenci orang >Indonesia. Saya menganggap mereka primitif, seperti manusia purba yang baru >dikunjungi The Jetsons. > >Lalu saya mulai bersekolah. Lagi-lagi saya menjadi bahan tontonan. Betapa >menyebalkan. Saya sangat suka menggambar. Dulu di Michigan, gambar saya >sering dipamerkan di pameran lukisan anak SD, bahkan dua tahun yang lalu >saya menang juara pertama lomba melukis poster. > >Saya sangat excited menjelang pelajaran menggambar. Tapi, saya kecewa, >gurunya menyuruh kami menggambar sawah!!! Saya kaget melihat kami didikte >seperti itu. Akhirnya saya menggambar sawah, tetapi not just a sawah. Sawah >itu saya beri rumah, orang, ada pesawat terbang di atasnya, ada air >mancurnya, ada toko ada mal. Pokoknya imajinasi saya, saya tuangkan semua. >Dan berapa nilai yang saya dapat? Enam! Sedangkan teman saya yang >menggambar sawah seperti aslinya dan petak-petaknya digambar menggunakan >penggaris (!), mendapat 9. Saya langsung mendapat kesan betapa kakunya >orang Indonesia: tidak bisa menghargai karya seni orang. Dan tidak mengerti >kreativitas. > >Bu Leila, tanpa bermaksud meng-over estimate diri sendiri, saya termasuk >anak yang cukup cepat dewasa dalam beberapa hal. (Walaupun saya masih suka >cengeng, manja, dan secara fisik saya agak lambat tumbuh dan memasuki masa >puber). Di kelas 6, ketika teman-teman baca Bobo, saya sudah membaca Gadis, >di SMP saya mulai baca Kompas. Ketika kelas 4 SD saya sudah bisa >menganalisis kepribadian orang, apakah orang yang mendekati saya karena >memang ingin berteman atau karena saya "anak Amerika". Saya cukup sensitif >pada perasaan orang... Band favorit saya adalah Boyzone, sejak kelas 6, >sebab saya mempunyai banyak kesamaan dengan dia. Yang paling menarik adalah >karena the fact that he is shy and sensitive and "he made it". > >Sekarang saya sudah SMU kelas 3. Saya sering merasa down. Saya tidak suka >pendidikan Indonesia yang begitu kaku. Setiap hari otak saya dijejali >teori. Misalnya saya belajar tentang vektor, saya malah tidak mengerti >pemakaian vektor dalam kehidupan sehari-hari, gawat kan, Bu? Bagaimana >Indonesia mau maju? Saya beruntung waktu masuk SMU, NEM saya kedua >tertinggi di sekolah. Akhirnya saya diikutkan di "kelas khusus" yang cara >belajarnya agak lain. Jam belajar kami sangat lama dan kami dapat guru-guru >terbaik... > > >"Buku"-ku dan buku hapalan - Ri di Ohio >Saya (30) tertarik dengan tulisan Ibu tentang pendidikan di Amerika yang >berbeda dari di Indonesia. Saya jadi teringat masa kecil saya di Cambridge >ketika belajar lima tahun di elementary school dan dua tahun di California. >Memang sistem pendidikannya berbeda dari di Indonesia. Perbedaan yang >sangat terasa adalah di Amerika sangat diusahakan agar para siswa tertarik >pada subjek yang dipelajari. Juga materi tidak hanya dari buku-buku saja, >tetapi juga meneliti alam di sekitar. > >Misalkan dalam pelajaran biologi. Anak SD-kira-kira kelas 5-harus mencari >sendiri berbagai fauna dan flora yang hidup di darat, dalam air tawar, >laut, dan udara. Saya ingat diantar orangtua saya ke tepi pantai, mencari >berbagai kerang dan siput (atau pecahannya), serpihan rumput-rumputan laut, >akar-akaran, sisa karang dan batuan yang aneka warna. Lalu kami ditugaskan >mencari keterangan dari berbagai "penemuan" ini dari ensiklopedia. > >Akhirnya benda-benda ini disusun menurut jenisnya dan lekatkan dalam buku >gambar lengkap dengan keterangannya (yang kadang hanya beberapa kalimat). >Jadilah dia sebuah buku, yang saya buat sendiri, lengkap dengan judul, isi >buku, contoh-contoh konkret, keterangannya, dan penulisnya nama saya >sendiri. Tiap anak punya buku biologinya yang aneka ragam dan hal itu >dibicarakan di kelas. Kami sangat bangga dengan karya kami. Pelajaran >biologi ini, terutama buku itu masih saya ingat sampai sekarang. Ini >berbeda dari di Indonesia yang berpegang pada texbook saja dan banyak >hapalannya. > >Dalam pelajaran matematik, ada sebuah buku dengan berbagai kotak kosong. >Jawaban soal, harus diisi dalam buku menurut aturannya. Jika semua betul >akan muncul gambar tertentu, misalkan kapal terbang, gajah, ikan dan >sebagainya. Saya suka mengerjakan matematik juga 'spelling' sebab penasaran >melihat gambar apa yang akan muncul kelak. > >Hal lain yang mengesankan adalah mereka menghargai prestasi individu, >betapapun crazy-nya. Saya ingat kami (saya dan adik) pernah memenangkan >perlombaan mewarnai gambar dalam sebuah supermarket. Banyak anak-anak yang >mengikutinya. Ketika akhir bulan diumumkan pemenangnya, saya juga adik saya >jadi juara dalam golongan umur kami masing masing (9 dan saya 11 tahun). > >Saya ingat adik saya mewarnai satu gedung dengan macam macam warna, yang >bagian kiri berbeda dari bagian kanannya dan dia tetap memenangkan lomba >buat golongan umurnya. Saya merasa senantiasa di di-encourage dan dihargai, >sehingga saya terpacu buat berprestasi. Sedang di Indonesia, jika berbeda >dengan apa yang dikatakan guru, pasti kami disalahkan, seakan mengajarkan >kami untuk tidak boleh punya inisiatif dan tidak boleh berpikir sendiri. * _________________________________________________________________ MSN Photos is the easiest way to share and print your photos: http://photos.msn.com/support/worldwide.aspx
