Note: forwarded message attached.

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
*** Utk menghemat bandwith hapus attachment yg tdk berguna ***
Arsip Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Website : ---dream works project---
Friendster :
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

--- Begin Message ---
<<< text/html; charset=utf-8: Unrecognized >>>
--- Begin Message ---
Rekan-rekan sekalian, menarik juga cerita (nyata ?) dari Jamil Azzaini (Kubik 
Leadership) di bawah ini. Semoga kita tidak hidup dari uang "haram" hasil 
korupsi, karena hal itu bisa membawa dampak buruk buat kita.
Salam sehat dan sejahtera,
Antariksa

"Uang Korupsi Itu Merusak Anak Saya"
Jamil Azzaini - Kubik Leadership

 

Jakarta, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan bahwa korupsi di 
Indonesia sudah terlalu besar dan diluar kontrol. Korupsi sudah merasuki semua 
sendi kehidupan dan telah terjadi baik di eksekutif, legislatif maupun 
yudikatif. Pernyataan presiden yang disampaikan pada acara Presidential Lecture 
di Istana Negara pada Rabu, 2 Agustus 2006, itu mengisyaratkan bahwa 
pemberantasan korupsi di Indonesia masih jauh dari harapan. 

Kendati pelaku korupsi tampak tak terjamah, tapi yakinkah kita bahwa mereka 
benar-benar lolos dari jerat hukum? Ngomong-ngomong soal korupsi saya ingin 
berbagi cerita. 

Suatu hari, saya diundang untuk berbicara di depan staff dan pimpinan sebuah 
perusahaan ternama. Pada kesempatan tersebut saya berbicara tentang "hukum 
kekekalan energi", yang intinya, menurut hukum kekekalan energi dan semua 
agama, apapun yang kita lakukan pasti akan dibalas sempurna kepada kita di 
dunia. Dengan kata lain, apabila kita melakukan "energi positif" atau kebaikan 
maka kita akan mendapat balasan berupa kebaikan pula. Begitu pula bila kita 
melakukan "energi negatif" atau keburukan maka kitapun akan mendapat balasan 
berupa keburukan pula. 

Ketika sesi tanya jawab, salah seorang pimpinan di perusahaan itu mengkritik 
pedas "hukum kekekalan energi". Walau saya sudah menjelaskan dengan beragam 
argumen ilmiah dan contoh-contoh dalam kehidupan nyata, dia tetap tidak yakin. 
Sampai kami berpisah, kami masih pada pendapat masing-masing.

Tujuh bulan berlalu, pimpinan itu tiba-tiba menelpon saya. "Pak Jamil, saya 
ingin bertemu anda," ujarnya singkat. 

Karena penasaran, undangan dari beliau saya prioritaskan. Singkat kata, pada 
waktu dan tempat yang telah disepakati kami bertemu.

Rupanya beliau tiba lebih dulu di tempat kami janjian. Begitu saya datang, 
beliau segera menyambut dengan sebuah pelukan erat. Cukup lama beliau memeluk 
saya. "Maafkan saya pak Jamil. Maafkan saya," ucapnya, sambil terisak dan terus 
memeluk saya. Karena masih bingung dengan kejadian ini saya diam saja.

Setelah kami duduk, beliau membuka percakapan. "Saya sekarang yakin dengan apa 
yang pak Jamil dulu katakan. Kalau kita berbuat energi positif maka kita akan 
mendapat kebaikan dan bila kita berbuat energi negatif maka pasti kita akan 
mendapat keburukan," ujarnya.

"Bagaimana ceritanya sekarang kok bapak jadi yakin?" tanya saya.

"Selama saya menjabat pimpinan di perusahaan itu, saya menerima uang yang bukan 
menjadi hak saya. Semuanya saya catat. Jumlahnya lima ratus dua puluh enam juta 
rupiah," katanya.

Sembari menarik napas panjang beliau melanjutkan bercerita. Kali ini tentang 
anaknya. 

"Anak saya sekolah di Australia. Karena pengaruh pergaulan, dia terkena 
narkoba. Sudah saya obati dan sembuh. Ketika liburan, dia ke Amerika dan 
Kanada. Tidak disangka, disana dia bertemu dengan teman pengguna narkobanya 
ketika di Australia. Anak saya sebenarnya menolak menggunakan lagi. Namun dia 
dipaksa dan akhirnya anak saya kambuh lagi, bahkan makin parah, pak." Selama 
bercerita, beliau tak henti mengusap pipinya yang basah dengan air mata yang 
terus meleleh seperti tak mau berhenti. 

"Pak Jamil tahu berapa biaya pengobatan narkoba dan penyakit anak saya?" Tanpa 
menunggu jawaban saya, lelaki separuh baya itu berkata lirih, "Biayanya lima 
ratus dua puluh enam juta rupiah. Sama persis dengan uang kotor yang saya 
terima, pak!"

Beliau tertunduk dan menggeleng-gelengkan kepala disertai isak tangis yang 
makin keras. Dengan terbata lelaki itu berkata, "Uang korupsi itu telah merusak 
anak saya, pak. Saya menyesal. Saya bukan orang tua yang baik. Saya telah 
merusak anak saya, pak!" 

Saya peluk erat lelaki itu. Saya biarkan air matanya tumpah. Tangisnya semakin 
keras....

Wahai saudara, haruskah menunggu anak kita menjadi pengguna narkoba dan sakit 
untuk berhenti korupsi?

Keterangan Penulis: 
Jamil Azzaini adalah Senior Trainer dan penulis buku Best Seller KUBIK 
LEADERSHIP; Solusi Esensial Meraih Sukses dan Kemuliaan Hidup.

[Non-text portions of this message have been removed]



========= HAPUS BAGIAN FOOTER INI SEBELUM ME-REPLY ============

== Milist Alumni MMUI - Media Komunikasi Alumni MMUI ==========
- Attachment harap ditujukan kepada moderator 
  ([EMAIL PROTECTED]). Moderator 
  berhak untuk tidak memposting attachment.
- Mohon cantumkan identitas (nama,kelas/angkatan) 
  di akhir posting
== Administrasi Milis =========================================
Subscribe                : [EMAIL PROTECTED]
1-email per hari         : [EMAIL PROTECTED]
Tdk terima email smntara : [EMAIL PROTECTED]
== MMUI Friendster ============================================
- Untuk lebih mengenal satu dgn yang lain,bisa ikutan ini :
  http://www.friendster.com/join.jsp?invite=7149099
- kalau sudah gabung friendster bisa add dengan email: 
  [EMAIL PROTECTED]
=============================================================== 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/iluni-mmui/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 





--- End Message ---

--- End Message ---

Kirim email ke