|
Salam untuk Warga Pirus,
Saya hanya sedikit memberikan opini saja, saya cuma
manusia biasa yang masih jauh dari pada keimanan....
Rejeki datang nya semata-mata dari Alloh,
satu hal yang harus di ingat bahwa sejauh Om Eko tdk meminta dan dalam
hati yang paling dalam sudah menunjukan penolakan yang tulus dan juga
tdk merugikan kepada kedua belah pihak anggap saja uang tersebut hasil
kerja Om Eko sebagai karyawan lepas dari sebuah perusahaan asuransi yang
mana uang tersebut adalah komisi penjualan yang telah Om Eko
lakukan.
Jadi kalau menurut saya sah-sah saja dan bukan
perbuatan korupsi.
Mohon maaf kalau ada kata2 yang salah, sekali lagi
saya hanya manusia biasa yang belum banyak memahami mengenai ini.
Mohon di benarkan jika salah.....
Warga Pirus
K1/16
----- Original Message -----
Sent: Tuesday, August 15, 2006 10:51
AM
Subject: [pirus] Re: Fwd:
[FW][iluni-mmui] Uang Korupsi Itu Merusak Anak Saya
eh sory om Mu...
hal kata "ananda"...
maksudnya musibah yg lagi dialami "putranya" om
Mu...musthopa kamal <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
Waduh, perkenankanlah saya secara pribadi mengucapkan terima kasih
banyak sama Om Eto atas masukannya yang sangat berguna khususnya bagi saya
mungkin umumnya untuk teman-teman.
Perlu saya paparkan kronologis mengenai uang ucapan terima kasih
mungkin ingin tahu teman-teman, begini ceritanya :
Seperti biasanya, saya memberi bisnis kepada perusahaan asuransi,
setelah saya memberi bisnis, biasa lah orang asuransi mengajak saya untuk
lunch di sebuah restoran di Plaza Senayan, setelah selesai acara lunch saya
dikasih sejumlah uang yang jumlahnya menurut ukuran saya cukup besar, dan
menanyakan kembali kepada orang asuransi, uang apa ini, pan saya hanya
menjalankan tugas saya mencari back up asuransi untuk klien saya ? kemudian
orang asuransi menjawab, begina Pak Musthopa ini hanya uang ucapan terima
kasih saja karena Bapak sudah memberikan bisinis kepada kami, jujur saja
saya pada saat itu menolak, tetapi orang asuransi keukeuh sumeukeuh uang
tresebut harus diterima, apalagi dia juga hanya mendapat tugas dari Direktur
sebuah perusahaan nasional yang sangat terkenal, daripada berantem dengan
uang asuransi akhirnya dengan rasa degdegan saya menerimanya uang tersebut.
saya belum tahu jumlahnya uang tersebut masih didalam amplop,
sesampainya di rumah saya cerita kepada isteri seperti cerita diatas,
saya tidak berani membuka amplop tersebut, akhirnya dengan meminta izin
kepada saya, isteri saya membuka amplop tersebut, tapi saya sempat kaget
karena jumlahnya ternyata sangat besar menurut ukuran saya,
Setelah diskusi denga isteri saya, akhirnya saya zakatkan 2,5 % kepada
yang berhak menerimanya, tetapi tetap saja saya merasa belum plong perasaan
saya, karena uang tersebut membayangi dan menghantui saya,
Dan perlu saya sampaikan, uang saya saya terima, tidak mengurangi
haknya perusahaan asuransi, karena saya berfikir saya sudah digaji
alhamdullilah cukup oleh perusahaan saya,
Yang menjadi pertanyaan saya, semakin sering saya memberi bisnis ke
perusahaan asuransi dan semakin sering juga saya menerima uang ucapan terima
kasih tersebut.
padahal saya sudah bilang ke orang perusahaan asuransi, Pak saya hanya
menjalankan tugas saya, tetapi orang asuransi tetap tidak memperdulikan
penolakan saya.
Akihrnya saya pilih asuransi lain untuk mengcover asuransi klien saya,
tetapi sama saja perusahaan asuransi baru melakukan hal yang sama bahkan
perusahaan asuransi yang baru bisa memberi lebih banyak,
Harus gimana ya, Please dong tolong saya dikasih masukan lagi
Sebelumnya saya ucapka terima kasih yan sama kakanda (Om Eto), dan
teman-teman yang baik hati tidak sombong,
Warga Baru Sektor Pirus
Budianto Eko <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
Wah saya salut dengan keberanian om Mu
mengungkapkan kegundahan nya
saya yakin temen2 pun mungkin banyak yg
menghadapi ato terperangkap kondisi demikian
mungkin saya harus mengalami persis
kondisi om Mu saat itu
dan itupun baru pada posisi memahami
saja....
selanjutnya jugdement nya pun mungkin ya
akan gundah kaya om Mu juga kali ya
tingkat dosa kita, tingkat taqwa kita,
tingkat iman kita
kayanya hanya Allah yang tau persis rapot
kita....
lakukan yg terbaik ajalah om
Mu
tapi "baik" yg gimana yah ?
jangan2 cuma baik menurut kita aja yah
?
yang jelas, dengan kondisi yg dialami
ananda
bersabar aja om Mu...
dan kalo lagi seneng, bersyukur selalu
om...
maaf kalo kurang berkenan
hanya saling mengingatkan
sajah....
musthopa kamal
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
sebelumnya saya mengucapkan terima aksih sama Om Thony, yang telah
mengirim email ini, karena saya menpunyai dua anak laki-laki, saya
menjadi takut peristiwa tersebut menimpa anak-anak kami,
Dalam kesempatan yang mulia ini saya ingin mengutarakan beberapa
pertanyaan, mungkin teman-teman yang lain bisa memberikan masukan
Adapun pertanyaan kami adalah sebgai berikut :
1. Saya sering menerima uang ucapkan terima kasih baik itu dari
perusahaan asuransi maupun dari klien, karena posisi saya adalah
sebagai broker asuransi,
Apakah uang yang saya terima halal atau haram ? mohon saya
diberikan haditsnya mengenai hal tersebut ?
2. Saya sering mengenterint atau dientertaint baik itu di cafe, di
karoeke bahkan di hotel, Bagaimana batasannya supaya saya dalam
melaksanakan tugas bisa bekerja dengan bersih artinya tidak unsur
maksiat ?
Demikian disampaikan, atas perhatian dan perkenan Bapak, sebelum
dan sesudahnya saya ucapkan terima aksih.
Hormat saya,
Warga Pirus
K14/2
thony fathony
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Note:
forwarded message attached.
__________________________________________________ Do You
Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection
around http://mail.yahoo.com korupsi, karena hal itu bisa
membawa dampak buruk buat kita. Salam sehat dan
sejahtera, Antariksa
"Uang Korupsi Itu Merusak Anak
Saya" Jamil Azzaini - Kubik Leadership
Jakarta,
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan bahwa korupsi di
Indonesia sudah terlalu besar dan diluar kontrol. Korupsi sudah
merasuki semua sendi kehidupan dan telah terjadi baik di eksekutif,
legislatif maupun yudikatif. Pernyataan presiden yang disampaikan pada
acara Presidential Lecture di Istana Negara pada Rabu, 2 Agustus 2006,
itu mengisyaratkan bahwa pemberantasan korupsi di Indonesia masih jauh
dari harapan.
Kendati pelaku korupsi tampak tak terjamah, tapi
yakinkah kita bahwa mereka benar-benar lolos dari jerat hukum?
Ngomong-ngomong soal korupsi saya ingin berbagi cerita.
Suatu
hari, saya diundang untuk berbicara di depan staff dan pimpinan sebuah
perusahaan ternama. Pada kesempatan tersebut saya berbicara tentang
"hukum kekekalan energi", yang intinya, menurut hukum kekekalan energi
dan semua agama, apapun yang kita lakukan pasti akan dibalas sempurna
kepada kita di dunia. Dengan kata lain, apabila kita melakukan "energi
positif" atau kebaikan maka kita akan mendapat balasan berupa kebaikan
pula. Begitu pula bila kita melakukan "energi negatif" atau keburukan
maka kitapun akan mendapat balasan berupa keburukan pula.
Ketika sesi tanya jawab, salah seorang pimpinan di perusahaan
itu mengkritik pedas "hukum kekekalan energi". Walau saya sudah
menjelaskan dengan beragam argumen ilmiah dan contoh-contoh dalam
kehidupan nyata, dia tetap tidak yakin. Sampai kami berpisah, kami
masih pada pendapat masing-masing.
Tujuh bulan berlalu,
pimpinan itu tiba-tiba menelpon saya. "Pak Jamil, saya ingin bertemu
anda," ujarnya singkat.
Karena penasaran, undangan dari beliau
saya prioritaskan. Singkat kata, pada waktu dan tempat yang telah
disepakati kami bertemu.
Rupanya beliau tiba lebih dulu di
tempat kami janjian. Begitu saya datang, beliau segera menyambut
dengan sebuah pelukan erat. Cukup lama beliau memeluk saya. "Maafkan
saya pak Jamil. Maafkan saya," ucapnya, sambil terisak dan terus
memeluk saya. Karena masih bingung dengan kejadian ini saya diam
saja.
Setelah kami duduk, beliau membuka percakapan. "Saya
sekarang yakin dengan apa yang pak Jamil dulu katakan. Kalau kita
berbuat energi positif maka kita akan mendapat kebaikan dan bila kita
berbuat energi negatif maka pasti kita akan mendapat keburukan,"
ujarnya.
"Bagaimana ceritanya sekarang kok bapak jadi yakin?"
tanya saya.
"Selama saya menjabat pimpinan di perusahaan itu,
saya menerima uang yang bukan menjadi hak saya. Semuanya saya catat.
Jumlahnya lima ratus dua puluh enam juta rupiah,"
katanya.
Sembari menarik napas panjang beliau melanjutkan
bercerita. Kali ini tentang anaknya.
"Anak saya sekolah di
Australia. Karena pengaruh pergaulan, dia terkena narkoba. Sudah saya
obati dan sembuh. Ketika liburan, dia ke Amerika dan Kanada. Tidak
disangka, disana dia bertemu dengan teman pengguna narkobanya ketika
di Australia. Anak saya sebenarnya menolak menggunakan lagi. Namun dia
dipaksa dan akhirnya anak saya kambuh lagi, bahkan makin parah, pak."
Selama bercerita, beliau tak henti mengusap pipinya yang basah dengan
air mata yang terus meleleh seperti tak mau berhenti.
"Pak
Jamil tahu berapa biaya pengobatan narkoba dan penyakit anak saya?"
Tanpa menunggu jawaban saya, lelaki separuh baya itu berkata lirih,
"Biayanya lima ratus dua puluh enam juta rupiah. Sama persis dengan
uang kotor yang saya terima, pak!"
Beliau tertunduk dan
menggeleng-gelengkan kepala disertai isak tangis yang makin keras.
Dengan terbata lelaki itu berkata, "Uang korupsi itu telah merusak
anak saya, pak. Saya menyesal. Saya bukan orang tua yang baik. Saya
telah merusak anak saya, pak!"
Saya peluk erat lelaki itu.
Saya biarkan air matanya tumpah. Tangisnya semakin
keras....
Wahai saudara, haruskah menunggu anak kita menjadi
pengguna narkoba dan sakit untuk berhenti korupsi?
Keterangan
Penulis: Jamil Azzaini adalah Senior Trainer dan penulis buku Best
Seller KUBIK LEADERSHIP; Solusi Esensial Meraih Sukses dan Kemuliaan
Hidup.
[Non-text portions of this message have been
removed]
========= HAPUS BAGIAN FOOTER INI SEBELUM
ME-REPLY ============
== Milist Alumni MMUI - Media Komunikasi
Alumni MMUI ========== - Attachment harap ditujukan kepada
moderator ([EMAIL PROTECTED]). Moderator berhak
untuk tidak memposting attachment. - Mohon cantumkan identitas
(nama,kelas/angkatan) di akhir posting == Administrasi Milis
========================================= Subscribe :
[EMAIL PROTECTED] 1-email per hari :
[EMAIL PROTECTED] Tdk terima email smntara :
[EMAIL PROTECTED] == MMUI Friendster
============================================ - Untuk lebih mengenal
satu dgn yang lain,bisa ikutan ini
: http://www.friendster.com/join.jsp?invite=7149099 - kalau
sudah gabung friendster bisa add dengan email:
[EMAIL PROTECTED] ===============================================================
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the
web, go
to: http://groups.yahoo.com/group/iluni-mmui/
<*> To
unsubscribe from this group, send an email
to: [EMAIL PROTECTED]
<*> Your
use of Yahoo! Groups is subject
to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
|