oke deh.. ini sekelumit isi buku dari jerry d gray (not green mas
andik) ingin lebih jelas..silahkan mampir ke toko2x buku kesayangan
anda.. 

rgds/gbm

Jerry D Gray "The Real Truth" : Membongkar Kebohongan AmerikaOleh :
Redaksi=
 17 Feb, 05 - 3:00 pm

Peristiwa 11 September Sungguh Janggal=20
"Perhatikan betapa mulus dan rapinya rumput di depan Pentagon. Tidak
satu s=
entimeter pun kerusakan terlihat, Bagaimana itu mungkin? Semua saksi
mata s=
etiap media massa memahami pemberitaan yang senada. Pesawat terlebih
dahulu=
 menghantam tanah, lalu meluncur menabrak gedung. Perhatikan gambar di
atas=
! Apalagi yang perlu dikatakan. Media massa berbohong terhadap kejadian
yan=
g sesungguhnya. Mengapa?"

Begitu jeritan hati Jerry D. Gray, mantan anggota AD Amerika yang
kemudian =
memeluk Islam ( Baca artikelnya Jerry =93Abdurrahman=94 Gray Mendapat
Hiday=
ah di Arab Saudi ), telah lama tinggal di Indonesia dan mempersunting
istri=
 asal Garut, dalam bukunya ketika ia merasa terpanggil untuk meluruskan
seg=
ala pemberitaan ihwal runtuhnya gedung Pentagon pada 11 September 2001
sila=
m. :swf

"Kita tahu hampir 90 persen media massa di AS adalah milik Yahudi. Maka
tak=
 heran kalau mereka berbohong," ujar Jerry dalam acara peluncuran dan
bedah=
 bukunya, di Masjid Al 'Araf, Walisongo, Jakarta, Ahad, 19 Desember
2004.

Jerry, seorang jurnalis (kameramen) yang juga mantan mekanik pesawat
ini, t=
elah mencium ketidakberesan tragedi 11 September 2001 yang
meluluhlantakkan=
 menara kembar WTC di New York, Ia mengumpulkan berbagai fakta dari
sumber =
yang ada, lalu menyusunnya secara cermat, membeberkan
kebohongan-kebohongan=
 Amerika melalui temuan-temuan spektakulernya.

Seperti diketahui selama ini, serangan terhadap menara WTC dan Pentagon
dil=
akukan oleh kelompok teroris Al Qaidah dan otak atau aktor
intelektualnya i=
aiah Osama bin Laden. Pembentukan opini global ini telah berlangsung
selama=
 tiga tahun sehingga dampaknya terasa juga di Indonesia seperti adanya
tudu=
han-tuduhan yang keji seakan-akan sarang teroris berada di negeri ini.

Dalam pengantar buku tersebut, Suripto SH, Ketua Dewan Penasehat
Lembaga St=
udi Pertahanan dan Studi Strategis Indonesia (LESPERSSI) yang juga
anggota =
Komisi I DPR dan mantan Kabak ini mengatakan, Tragedi 11 Septernber
yang me=
runtuhkan gedung WTC dan Pentagon ini mustahil dilakukan oleh Jaringan
Al Q=
aidah pimpinan Osama Bin Laden. Menurut Suripto, tindakan teroris yang
sede=
mikian rapi dan canggih hanya bisa dilakukan oleh apa yang dinamakan
terori=
srne negara (State Terrorism).

"Hanya terorisme negara yang mempunyai kapabilitas untuk melakukan
tindakan=
 terror yang didukung oleh fasilitas negara; berupa dukungan anggaran
yang =
besar, didukung pula oleh organisasi intelijen dan menggunakan mesin
propag=
anda resmi (pemerintah). Sejarah telah membuktikan terorisme negara
pernah =
dilakukan oleh Hitler di Jerman, Stalin di Uni Soviet, Mussolini di
Italia,=
 Pol Pot di Kamboja, dan Soeharto di Indonesia," ujar anggota DPR dari
PKS =
initegas.

Dalam menjalankan mesin terornya, AS menggunakan badan intelijen CIA
dan in=
stitusi USIS - sekarang bernama USIA. Salahsatu propaganda pada tingkat
glo=
bal yang digunakan AS adalah CNN. Maka tayangan langsung CNN atas
peristiwa=
 11/9 terkesan kuat merupakan bagian dari kegiatan terorisme negara
yang se=
benarnya adalah suatu skenario dari Bush dengan mengutuk aksi teror WTC
dan=
 Pentagon. Jadi kelas berita-berita yang ditayangkan CNN itu termasuk
kateg=
ori Black Propaganda, lempar batu sembunyi tangan.

Operasi itu telah disiapkan dengan matang, dengan sasaran jangka
pendek, ba=
hkan jangka menengah dan panjang. Maksud dan tujuan sasaran jangka
pendek i=
tu adalah untuk membangkitkan kebencian rakyat Amerika dan sekutunya
terhad=
ap umat Islam yang diberi label "teroris", membangun opini global
tentang a=
danya musuh bersama yang harus diperangi, seperti ucapan Bush setelah
terja=
dinya peristiwa 11/9: "If you are not with us, you're against us."

Berkembang slogan Mimpi Amerika, Mimpi Buruk Dunia. Slogan tersebut
sangat =
tepat menggambarkan Amerika saat ini. Terpilihnya kembali George W Bush
men=
gukuhkan slogan di atas, mengingat janjinya untuk melanjutkan perang
melawa=
n 'terorisme' yang dialamatkan kepada Islam. Padahal, tragedi. WTC di
New Y=
ork 11 September 2001 masih meninggalkah banyak misteri dan tetap tidak
jel=
as siapa pelakunya. Sementara itu, Amerika yang menyerukan perang
melawan t=
erorisme; dengan bebas malah rnembuat teror, khususnya di
negeri-negeri, Mu=
slim seperti Afghanistan, Palestina (melalui Yahudi-lsrael), Irak dan
Sudan=
. Di Fallujah dan kota-kota lain di Irak, bahkan masjid-masjid di
Fallujah,=
 terus dibombardir oleh pasukan Amerika.

Di forum dunia, dengan penguasaannya terhadap media, Amerika terus
membuat =
kebohongan demi kebohongan. Amerika menyangka, masyarakat dunia begitu
muda=
h dibohongi, termasuk masyarakatnya sendiri. Hingga saat ini,
kebohongan ma=
sih terus terjadi! (Amanah online)

Kebohongan datang dan kebohongan pun terungkap. Begitulah kesimpulan
buku i=
ni.=20

Judul Buku : The Real Truth The Hard Evidence Exposed=20
Penulis : Jerry D. Gray
Penerbit : Sinergi (Kelompok Penerbit Gema Insani)
Tebal :xviii + 118halaman

Jerry D Gray : Peristiwa 11 September Sungguh Janggal=20
Jerry D Gray ingat betul kejadian yang dialaminya tanggal 11 September
2001=
. Saat itu, mantan kameraman freelance CNBC Asia ini tengah asyik
berselanc=
ar di internet. Tiba-tiba telepon di sampingnya berdering. "Hidupkan
televi=
simu sekarang!" demikian bunyi suara di ujung sana.=20

Telepon itu berasal dari ibunda Jerry yang ketika itu berada di
Wisconsin, =
Amerika Serikat. Jerry sendiri menetap di Jakarta -- dia sudah lama
tinggal=
 di kota ini sejak tahun 80-an. Mendengar suara gugup ibundanya, tanpa
piki=
r lama-lama, dia pun segera menyalakan televisi.=20

Terlihatlah suasana menegangkan usai meledaknya menara kembar World
Trade C=
enter (WTC) New York, akibat hantaman dua buah pesawat berbadan lebar.
Keja=
dian tersebut disiarkan langsung oleh sebuah stasun televisi asing dan
dise=
barluaskan ke seluruh penjuru dunia. Serta merta, hati Jerry
berkecamuk, se=
dih sekaligus marah melihat banyak orang tak berdosa menjadi korban.
Terbay=
ang warga di negara tempat kelahirannya itu panik bukan kepalang.=20

Itulah awal dari peristiwa yang kemudian dikenal sebagai Tragedi 11
Septemb=
er 2001. Sebuah kejadian yang hingga kini masih menyisakan kisah sedih.
Tak=
 hanya bagi keluarga korban yang ditinggalkan, namun juga komunitas
umat Mu=
slim di seluruh dunia. Beberapa saat setelah pihak yang berwenang di AS
men=
gadakan penyelidikan, maka ditengarai kelompok teroris asal Timur
Tengah be=
rada di balik kejadian tersebut. Karena wilayah Timur Tengah identik
dengan=
 agama Islam, serta merta perhatian dunia pun tertuju pada Islam serta
para=
 penganutnya.=20

Media massa Barat dengan segala reportasenya menjadikan momentum itu
sebaga=
i sarana untuk mengupas tuntas tentang Islam. Begitu gencarnya
pemberitaan =
tentang peristiwa 11 September dan Islam sendiri, hingga tak jarang --
sepe=
rti dikhawatirkan sebagian kalangan Muslim -- media Barat kerap
menyudutkan=
 umat Islam.=20

Hal itu pula yang kemudian membuat Jerry gundah. Berdasarkan pengamatan
ser=
ta observasi terhadap gambar-gambar berita maupun informasi aktual,
lelaki =
asal AS ini merasa bahwa banyak kejanggalan dan fakta yang
disembunyikan ol=
eh kalangan pemerintah serta media massa AS berkaitan peristiwa 11
Septembe=
r tadi. Apalagi kemudian, umat Islam didudukkan sebagai "terdakwa"
dalam ke=
jadian ini.=20

Tetapi, kenapa Jerry merasa resah dengan berita menyudutkan dari media
mass=
a Barat terhadap Islam? Jangan lihat dia dari namanya. Jerry, atau
tepatnya=
 Haji Jerry, telah menjadi Muslim sejak 1984. Sepulang menunaikan
ibadah ha=
ji, ia mengantongi nama baru, H Abdurrahman.=20

Sebagai Muslim, lelaki kelahiran Wiesbaden Jerman, 24 September 1960,
ini m=
erasa teriris hatinya dengan tudingan tanpa dasar mengenai keterlibatan
Mus=
lim dalam tragedi WTC. Hari-hari selanjutnya, waktunya seperti habis
untuk =
mengikuti pemberitaan 11 September melalui media cetak, televisi,
maupun in=
ternet. Tapi lama kelamaan, berdasarkan pengalaman sebagai jurnalis
televis=
i, dirinya melihat ada banyak keanehan dan kejanggalan atas kejadian
terseb=
ut.=20

Awal kecurigaannya adalah, bagaimana CNN dapat begitu cepat menyiapkan
siar=
an langsung 11 September ke seluruh dunia? Dari pengalamannya ketika
memban=
tu persiapan siaran sebuah stasiun televisi swasta di Jakarta, paling
tidak=
 butuh waktu 20 menit untuk mengeset peralatan bagi keperluan siaran
langsu=
ng di lapangan.=20

Dikatakan, rentang waktu antara insiden penabrakan pertama dan insiden
pena=
brakan kedua tak lebih dari 18 menit. "Akan tetapi, CNN sudah mampu
menayan=
gkan langsung kejadian tabrakan kedua hanya dalam waktu kurang dari 18
meni=
t dari tabrakan pertama," kata dia dalam bahasa Indonesia yang fasih.
Jerry=
 berasumsi, situasi ini yang tidak mungkin terlaksana dalam kondisi
normal.=
 "Kecuali jika CNN memang telah mengetahui rencana peristiwa tersebut
hingg=
a dapat terlebih dahulu menyiapkan segala peralatannya," imbuhnya.

Sejak itulah batin dan sanubarinya terus didera gejolak. Sampai pada
akhirn=
ya, dia memutuskan, bahwa sebagai manusia dia tidak bisa tinggal diam
serta=
 tidak melakukan apa-apa menyangkut kejanggalan ini. The needs of the
many =
outways the needs of the few, begitu prinsipnya. Maka, Jerry pun mulai
meng=
adakan penelitian terhadap semua gambar, pemberitaan, foto, dan video
terka=
it peristiwa mengenaskan itu.=20

Dari situ makin banyaklah kejanggalan serta keanehan berhasil dia
temukan m=
engenai fakta-fakta kejadian 11 September. Semuanya itu lantas
dituangkan d=
alam sebuah buku berjudul The Hard Evidence Exposed! The Real Truth
9-11. S=
alah satu kesimpulan pada buku setebal 116 halaman ini adalah:
sesungguhnya=
 ada sesuatu lebih besar di balik kejadian 11 September 2001.=20

Perkenalan Jerry dengan Islam terjadi di Arab Saudi tahun 80-an. Saat
itu d=
ia bertugas sebagai mekanik pesawat AU AS serta menjadi instruktur di
New S=
audi Mechanics. Awalnya, dia mengaku enggan masuk ke Arab Saudi karena
mera=
sa takut dengan orang Arab dan Islam. Tapi apapun alasannya, tugas
tetap ti=
dak bisa ditolak. Akan tetapi, setelah sekian lama, kekhawatirannya
tidak t=
erbukti. Sebaliknya, dilihatnya orang-orang Islam jauh dari kesan
teroris. =
"Mereka sangat cinta Tuhan, selalu shalat lima waktu, mengerjakan puasa
dan=
 banyak lagi," kenangnya.=20

Rasa ingin tahunya terhadap agama Islam pun kian bertambah. Jerry
lantas mu=
lai berani bertanya tentang Islam kepada rekan-rekannya yang beragama
Islam=
. Hingga kemudian, seorang rekannya yang berasal dari Yaman
membawakannya t=
erjemahan kitab suci Alquran berbahasa Inggris. "Saya pun membaca
terjemaha=
n itu, dan seketika usai membaca satu ayat -- saya lupa nama ayatnya --
tak=
 sadar saya menangis," ungkap Jerry.=20

Usai membaca tiga empat ayat berikutnya, Jerry merasa tidak perlu waktu
lam=
a untuk menyimpulkan bahwa apa yang tertulis di dalam Alquran adalah
benar =
adanya. Namun hingga saat itu, dia mengaku belum berniat masuk Islam,
hanya=
 sekedar ingin tahu saja. Beberapa bulan berikutnya, seorang rekannya
dari =
Indonesia mengajak dia kepada seorang guru agama. "Saya katakan kepada
guru=
 itu, saya tidak mau masuk Islam, tapi guru tersebut memintanya ikut
menden=
garkan ceramah dan pembacaan Alquran di tempatnya."=20

Pulang dari situ, Jerry banyak termenung. Hatinya berkecamuk. Sampai di
rum=
ah dia langsung masuk kamar dan membaca kembali Alquran terjemahan
pemberia=
n rekannya terdahulu. Sejak saat itu, hidayah datang kepadanya yang
menetap=
kan niatnya untuk masuk Islam. Setelah masa tugasnya di Arab Saudi
berakhir=
, ia tidak kembali ke AS, tapi memutuskan pindah ke Indonesia. Di
Jakarta, =
mantan mekanik US Air Force tersebut kemudian menggeluti dunia
jurnalistik =
televisi.=20

Kini setelah sukses dengan bukunya, Jerry lebih giat untuk memantau
berita-=
berita dan informasi tentang Islam. Bukan cuma itu, kegiatannya pun
kian be=
rtambah dengan aktivitas dakwahnya di masjid-masjid dan majlis taklim
seput=
ar Jabotabek. Kepada saudara-saudara Muslimnya, ia banyak berkisah
tentang =
mulianya Islam dan temuan-temuannya.=20

Ia juga kerap menyampaikan pesan-pesan singkat, tapi mengena. "Pendek
kata,=
 umat Islam harus menunjukkan wajahnya yang ramah dan cinta damai.
Jangan r=
eaksi berlebihan karena itulah yang tengah ditunggu-tunggu oleh
kalangan me=
dia Barat untuk menyudutkan kita," kata dia.=20

Jerry D.Gray
Kelahiran : Wiesbaden, 24 September 1960
Karier :=20
- mekanik pesawat AU AS
- instruktur selam
- kameraman freelance CNBC Asia
Nama istri : Ratna Komala
Nama anak : Adam=20
--- yosep susanto <[EMAIL PROTECTED]> menulis:

> MessageIkutan......
> Ane juga ikutan minta dijelasken dong...
> tanya ken napa?
>   ----- Original Message ----- 
>   From: irsan bayu aji 
>   To: [email protected] 
>   Sent: Wednesday, September 27, 2006 8:47 AM
>   Subject: [pirus] Re: Puasa dan Rekonstruksi Makna Jihad
> 
> 
>   kalo kasus denmark ane inget...trus paus juga sempet denger di
> tipi...
>   nah kalo kasus yang laen sih...tolong dijelaskan sejelas2nya dong..
> 
>     ----- Original Message ----- 
>     From: Andik Harjono 
>     To: [email protected] 
>     Sent: Wednesday, September 27, 2006 8:21 AM
>     Subject: [pirus] Re: Puasa dan Rekonstruksi Makna Jihad
> 
> 
>     Ass Wr Wb,
> 
>     wah, ada yg ngomongin Jihad ane jadi semangat neh :-D
>     mau tanya2 dikit nih , apakah disini :
>     1. ada yang inget gak kasus pemuatan kartun nabi di denmark &
> australia ? yg melecehkan nabi muhammad SAW
>     2. ada yang inget paus benedictus XVI dalam pidatonya di
> universitas jerman juga melecehkan nabi & ajaran islam ?
>     3. ada yang percaya gak kalo kasus 11 september 2001 di WTC itu
> rekayasa yahudi & AS ?
>     4. ada yang percaya gak kalo kasus kerusuhan 14-5-1998 , ambon ,
> poso , timika , sambas itu kerjaan yahudi & AS juga ?
>     5. tahu gak kenapa grup musik DEBU hijrah dari AS ke
> Indonesia(padahal negara islam itu banyak)
> 
>     nah kalo mayoritas menjawab ADA atau mayoritas "tanya kenapa"
> baru ane mau kasih bocoran dari mantan teknisi jet tempur US Air
> Force yg pernah bertugas di perang teluk kemudian atas izin 4JJ1 SWT
> masuk Islam di Jeddah dan berguru Islam di Madinah kemudian juga
> hijrah dan menetap di Indonesia. Namanya Jerry D Green, kelahiran
> Jerman Warga Negara AS. Beliau banyak menulis buku2 tentang
> konspirasi Barat melenyapkan Islam, salah satunya judulnya "BAYANG
> GURITA" terbitan Iqra, dan serem banget ternyata...... kebetulan
> kemaren siang belia ceramah di Musholla Indosat, saya cuma mau share
> aja bahwa ADA BAHAYA BESAR MENGANCAM negri ini atau Ummat Muslim
> Indonesia pada khususnya... biar kita2 gak terlena getoloh...........
> 
>     Wss Wr Wb,
>     K4/8 
> 
>     -----Original Message-----
>     From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On
> Behalf Of Heru Gandamana
>     Sent: 27 September 2006 7:59
>     To: PIRUS MAILIST
>     Subject: [pirus] Puasa dan Rekonstruksi Makna Jihad
> 
> 
> 
> 
> 
> 
>         Puasa dan Rekonstruksi Makna Jihad
> 
>         Oleh: Zacky Khairul Umam
> 
> 
>         Terorisme pada dasarnya merupakan pembajakan terhadap nilai
> luhur keagamaan. Secara eksplisit, Bom Bali jilid II di Jimbaran dan
> Kuta (3/10) dengan jelas menunjukkan ideologi kekerasan yang
> dikelindankan dengan keagungan ajaran agama. Agama, oleh pengusung
> ideologi terorisme, hanya legitimasi teologis dan justifikasi yang
> sebenarnya sama dengan memolitisasi dan memonopoli tafsir agama
> (Religious Uuthoritarianism, Abou Fadl).
> 
>         Kasus bom bunuh diri (suicide bombing) dalam Bom Bali jilid
> II, sekaligus deretan pemboman lain di wilayah nusantara dengan
> kentalnya sentimen agama dalam lima tahun terakhir, selalu berakar
> pada konsep "jihad" di dalam Islam. Jihad kerap diartikan sebagai
> perjuangan fisik yang berbuntut pada penghalalan atas penyerangan,
> kekerasan, bahkan permusuhan terhadap pihak lain (the others). Muara
> problematika epistemologis jihad sebagai sikap ofensif adalah sebuah
> krisis keagamaan, bahkan krisis nurani kemanusiaan.
> 
>         Kalau diperhatikan secara seksama, terorisme dalam bentuk
> yang ultim seperti kasus bom bunuh diri di Bali, hanyalah sisi
> parsial dari ekstremisme beragama. Potensi ekstremisme beragama yang
> dengan banal ditunjukkan sekelompok umat beragama melalui pemaksaan
> otoritas kebenaran tunggal (kasus Ahmadiyah), penutupan tempat ibadah
> (kasus penutupan gereja), dan terorisme terhadap aktivis
> liberal-pluralis, dan seterusnya, amat membahayakan kehidupan umat
> beragama. Meskipun prosentase kelompok ekstrim-radikal tidak besar,
> namun opini publik yang menyebar akan membangun eksklusivisme secara
> evolusionis.
> 
>         Kecenderungan masyarakat elite dan awam yang masih parokial
> dalam beragama (dangkal pemikiran dan kesalehan) dengan sikap ekstrim
> dan eksesif dalam beragama tidak bisa dipungkiri. Indikator dari
> ekstremisme beragama, menurut Yusuf al-Qardhawi (1981) antara lain:
> Pertama, fanatisisme dan intoleransi sebagai akibat dari prasangka
> (prejudice), kekakuan (rigidity), dan kepicikan pandangan (lack of
> insight). Hal itu membuahkan reperkusi terhadap orang lain, baik
> dalam bentuk terorisme intelektual dengan fitnah dan tuduhan penganut
> bid'ah, kafir, fasik, murtad dan sebagainya.
> 
>         Kedua, berlebih-lebihan atau melampaui batas. Yakni mengambil
> garis keras (hardliners) yang eksklusif dengan gaya demonstrasi
> berupa penghakiman sepihak dan bahkan ancaman kekerasan. Ketiga,
> membebani orang lain tanpa mempertimbangkan situasi dan kondisi. Dan
> terakhir, keras dalam memperlakukan diri sendiri dan orang lain,
> sehingga misalnya, asas praduga tak bersalah tidak pernah dihiraukan.
> Semua ciri yang bersifat tiranik (tughyan) dan tidak egaliter ini
> jelas membahayakan hak-hak orang lain, terutama berkaitan dengan hak
> asasi untuk hidup dan kebebasan beragama. 
> 
>         Sikap-sikap yang ditunjukkan sebagai bagian dari klaim
> identitas dan solusi agama itu, selalu saja diembel-embeli dengan
> jihad dalam makna yang sesungguhnya amat parokial, rigid, dan
> literal. Tindakan semacam itu adalah bagian dari anakronisme sejarah
> yang akut. Dengan telanjang, penggunaan makna jihad sebagai ideologi
> kekerasan (bukan pembelaan yang dibenarkan Qur'an) seringkali
> dikaitkan dengan romantisme sejarah Islam masa lalu yang gemilang dan
> eksotis. Sebagai sebuah upaya mengembalikan kemenangan, justru
> penggempuran atas pihak lain yang dianggap sebagai representasi
> modernitas yang hegemon (baca: kafir) dihalalkan. Di sisi lain,
> makna-makna progresif dan dinamis dari ajaran Islam yang selalu
> mengajarkan the idea of progress secara universal-kosmopolitan
> dipungkiri. 
> 
>         Distorsi makna jihad sebagai melulu fisik yang amat
> partikular, pada urutannya bukan saja terus menodai citra agama
> (Islam) sebagai pembawa rahmat bagi semesta, melainkan juga terus
> menghantui umat sebagai kekuatan laten yang destruktif dan traumatik,
> justru dari dalam psikologis umat sendiri. Alhasil, implikasi negatif
> itu tak lain hanyalah sebuah beban psikologis-historis umat yang
> malah menambah persoalan, bukan solusi itu sendiri yang cenderung
> digembor-gemborkan.
> 
>         Kalau tidak disadari betul, bahaya perjuangan jihad yang
> ofensif cenderung membawa arus zaman umat yang resisten terhadap
> kemajuan peradaban dalam dimensi kini dan masa depan. Sebab, jihad
> sebagai ideologi kekerasan akan terus menutup ego-kreatif umat (ala
> Iqbal) dan ijtihad kultural dalam pemberdayaan masyarakat madani.
> 
>         Secara teologis, Tuhan selalu tidak membenarkan tindakan
> kekerasan sebagai perjuangan membela agama (lii'lai kalimatillah)
> yang destruktif dan tanpa sebab. Bukankah dalam Kitab Suci disebutkan
> bahwa "membunuh jiwa orang lain, hakikatnya sama dengan membunuh
> seluruh umat manusia." Sebuah ajaran yang humanis! Dalam kerangka
> filosofis, Camus dan Popper mewanti-wanti sejak awal bahwa penggunaan
> kekerasan untuk mencapai tujuan mulia, yakni ultimate goal beragama
> untuk membebaskan manusia dari kesengsaraan dan penderitaan, mutlak
> tidak dapat dibenarkan. 
> 
>         Karena itu, jihad selalu harus direkonstruksi sebagai sebuah
> ajaran yang substansial. Misalnya, pertama, membebaskan makna jihad
> dari tirani kognitif-epistemologis yang sempit. Jihad harus
> diletakkan sebagai sebuah pesan agama yang mengandung makna terdalam.
> Hermeneutika terhadap jihad adalah pencarian akar atau episteme makna
> yang ditujukan berdasarkan kemaslahatan umum (bonum commune). 
> 
>         Dalam konteks itu, kata jihad dalam bahasa Arab erat sekali
> relasinya dengan makna dalam ijtihad yang secara definitif diartikan
> sebagai upaya bersungguh-sungguh untuk mencari solusi keagamaan dan
> persoalan sekular. Upaya pemaknaan ini lebih tepat disebut sebagai
> jihad dalam bidang kultural dan intelektual sebagai energi kehidupan
> umat menuju kemajuan peradaban.
> 
>         Kedua, rekonstruksi jihad dalam konteks ibadah puasa. Yakni,
> jihad sebagai reformasi moral-spiritual, sebagaimana penyebutan
> "jihad al-akbar" oleh Nabi Muhammad. Momentum puasa adalah saat tepat
> memperbarui corak keberagamaan kita. Corak yang menunjukkan teror dan
> kekerasan publik (wacana maupun fisik) mesti didekonstruksi sebagai
> religiusitas yang illicit. Sebaliknya, jihad mesti dibangun sebagai
> militansi konstruktif ke arah toleransi nirkekerasan yang menggunakan
> ekspresi halus dan toleran, serta berimplikasi positif dalam
> memperlakukan yang lain. 
> 
>         Bentuk-bentuk toleransi tanpa kekerasan ialah seperti yang
> diteladankan Muhammad dan Yesus (ajaran damai), perjuangan Martin
> Luther melawan kejahatan sebagai kewajiban agama dengan non-violent
> resistance, atau ajaran ahimsa Mahatma Karamchand Gandhi.
> 
>         Tentu, yang utama ialah penghayatan terhadap pesan takwa,
> sebagaimana tujuan hakiki puasa sebagai arena kembali ke kesucian
> fitrah (nurani) dan penyucian diri (purgatorio, meminjam Dante
> Alighieri) menuju kemenangan moral-spiritual. Kemudian, penggapaian
> ibadah transendental (paradiso) direfleksikan secara horizontal ke
> tengah-tengah kehidupan manusia dalam bentuk keberagamaan yang
> toleran, lapang, dan tidak eksklusif (al-hanifiyyah al-samhah). 
> 
>         Sejatinya, kesalehan sejati membawa pada keberagamaan yang
> toleran, moderat, solider, beradab, dan tidak membelenggu. Dengan
> demikian, tujuan teleologis agama adalah memanusiakan manusia melalui
> pembebasan yang fitrah secara universal tanpa kecuali. Di situlah
> makna jihad mesti diletakkan.[]
> 
> 
>         Zacky Khairul Umam, Ketua Umum KSM Eka Prasetya Universitas
> Indonesia, mahasiswa Program Studi Arab Fakultas Ilmu Budaya UI
> 
>         Versi asli dapat dibaca di:
>         http://islamlib.com/id/page.php?page=article&id=910
> 
> 
> 
> 
> 
> 
>
--------------------------------------------------------------------------
>       Get your email and more, right on the new Yahoo.com 
> 
> 
> 
>             =================================
>             scanned by Indosat TM-IMSS System
>            
> 
> 
> 
> 
> 
>           =================================
>           scanned by Indosat TM-IMSS System
>          
> 
> 
> 
>   
> 
> 
>
------------------------------------------------------------------------------
>   Stay in the know. Pulse on the new Yahoo.com. Check it out. 
> 
> 
> > 


-------------------
Graha Bayu Mochamad


        

        
                
_______________________________________________________________________________ 
Apakah Anda Yahoo!?
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru! 
http://beta.id.yahoo.com/

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Arsip Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Album Foto : http://pirus.fotopic.net
MultiplyWeb : http://www.pirusers.multiply.com
Friendster : http://www.friendster.com/9379274
Administrator email : [EMAIL PROTECTED]
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke