Protes Kenaikan Tarif, KRL Mania Surati SBY Upaya hukum juga akan ditempuh, baik somasi atau gugatan warga.
JUM'AT, 17 JUNI 2011, 10:40 WIB Desy Afrianti VIVAnews - Komunitas penumpang kereta rangkaian listrik terus berupaya menggagalkan rencana PT Kereta Api Indonesia menerapkansingle operation yang akan diberlakukan pada 2 Juli 2011. Mekanisme itu mengharuskan seluruh rangkaian kereta Jabodetabek berhenti di setiap stasiun. Dengan berlakunya pola operasi ini, maka hanya ada dua kereta yang dijalankan yaitu kereta ekonomi yang mendapat subsidi dari pemerintah dan kereta Commuter Line yang nonsubsidi. Harga karcis kereta ekonomi tidak naik yaitu dengan tarif Rp1.000 hingga Rp2.000. Sementara itu, kereta Commuter Line untuk tujuan Bogor-Jakarta ditetapkan Rp9.000, rute Bekasi-Jakarta Kota Rp8.000, dan tujuan Manggarai-Serpong Rp8.000. Itu artinya, penumpang kereta ekonomi AC Bogor-Jakarta yang sedianya membayar karcis seharga Rp5.500, Sabtu mendatang harus membeli tiket dengan harga Rp9.000, baik untuk jarak dekat maupun jauh. Saat ini KRL Mania tengah menggalang dukungan dengan mengumpulkan tanda tangan penumpang di seluruh stasiun. Tanda tangan dukungan itu akan diserahkan kepada Presiden SBY. "Sampai hari ini sudah terkumpul seribu tanda tangan," kata anggota KRL Mania Agam Faturahman kepada VIVAnews.com, Jumat 17 Juni 2011. Agam menjelaskan, tanda tangan itu akan dilampirkan dalam surat yang akan di kirim ke Presiden SBY, Senin 20 Juni 2011. "Kami minta tarif yang lebih adil dan jadwal sesuai kebutuhan," ungkapnya. Menurut Agam, kenaikan tarif itu tidak pantas karena selama ini pelayanan yang diberikan PT KAI jauh dari memuaskan. Berbagai masalah seperti keterlambatan, pembatalan kereta, mogok di tengah jalan, pengumuman yang tidak jelas, dan fasilitas stasiun yang amburadul tak pernah teratasi. "Kami sebagai pengguna reguler merasakan hampir setiap hari ada keterlambatan kereta dan pembatalan. Akibatnya penumpang dirugikan," kata dia. Agam mengungkapkan, rencana untuk membatalkan perubahan pola operasi itu juga mendapat dukungan berbagai kalangan. Bahkan, kata dia, LSM Kontras juga sudah menawarkan sinergi untuk melakukan langkah hukum terhadap langkah PT KAI. "Apakah nanti bentuknya somasi atau gugatan warga. Sekarang itu masih dalam pembahasan," kata dia. Sementara PT KAI memastikan pola operasi itu akan tetap dijalankan pada 2 Juli mendatang. PT KAI sudah melakukan sosialisasi mulai dari pemasangan spanduk maupun jadwal baru yang di pasang di setiap Stasiun. Sabtu 18 Juni 2011, PT KAI juga akan melakukan uji coba. PT KAI menampik pemberlakukan aturan single operation sebagai upaya terselubung untuk menaikan harga karcis. Menurut Corporate Secretary PT KAI Commuter Jabodetabek Makmur Syaheran, pola ini diterapkan mengingat sejak 2010 pemerintah tak lagi memberikan subsidi pada kereta ekonomi dan ekonomi AC. "Kalau produknya sama itu bisa dikatakan peningkatan tarif, tapi kalau ini kan produknya beda. Sejak 2010 kemarin kami tidak dapat subsidi. Untuk itu kami jalankan tanpa subsidi. Ekonomi AC kami hapus. Logikanya seperti masyarakat disuruh beralih dari premium ke pertamax," ujar Makmur. Dengan pola ini, Makmur memperhitungkan akan ada kenaikan jumlah penumpang hingga 25 persen per harinya. Karena, ditambahkan Makmur, mulai 2 Juli 2011 mendatang jumlah perjalanan otomatis bertambah dari 444 perjalanan per hari menjadi 460 perjalanan. "Distribusi pelayanan ke masyarakat jadi lebih merata, karena kereta akan berhenti di setiap stasiun kecuali Gambir untuk ekonomi," ungkapnya. Makmur menegaskan rencana pola operasi baru ini bukan untuk memuaskan keinginan kalangan tertentu. Melainkan demi kepentingan sekitar 400 ribu penumpang per hari dengan keinginan beragam. "Saya kira mereka harus berpikir bagaimana saudara-saudara kita di kereta ekonomi yang sering disusul kereta ekspres. "Tapi, tanpa ekspres dihapus pun kami diharuskan memenuhi standar pelayanan minimum, itu harus dinaikkan," ujarnya. (umi)
