KRL Mania Tolak Tarif Tunggal
Insaf Albert Tarigan - Okezone Senin, 13 Juni 2011 17:16 wib JAKARTA - Komunitas penumpang Kereta Api Listrik Jakarta (KRL Mania) menyesalkan kebijakan pemerintah yang membiarkan rencana kenaikan tarif KRL Ekonomi AC hampir 90%, dalam pola baru Single Operation per 2 Juli nanti. Jika sebelumnya pengguna komuter dapat menggunakan layanan fasilitas KRL Ekonomi AC dengan harga Rp 5.500 dan juga berhenti di tiap stasiun, mulai tanggal 2 Juli mendatang PT KAI memberlakukan tarif tunggal untuk seluruh KRL Jabodetabek berhenti di tiap stasiun yakni Rp9 ribu. Berdasarkan hasil evaluasi KRL Mania atas pemenuhan Standard Pelayanan Minimal (SPM) Angkutan Orang dengan Kereta Api (Permenhub 9/2011) yang telah ditandatangani dan berlaku sejak 8 Februari 2011, tampak PT Kereta Api Indonesia (KAI) dan anak perusahaannya PT KAI Commuter Jakarta (KCJ), belum bisa memberikan pelayanan yang optimal. Bahkan, untuk pelayanan sesuai SPM yang sangat mudah dan murah dilakukan tetapi berdampak langsung. "Jika yang mudah saja gagal dilakukan, bagaimana dengan tugas yang lebih berat untuk menjamin keselamatan, kenyamanan, ketepatan waktu dan mengangkut 1,2 juta penumpang/hari?," demikian kata Nurcahyo dalam rilis yang diterima okezone, Senin (13/6/2011). Dia mencontohkan, beberapa kali kejadian papan nama kereta yang bukan jurusan yang sebenarnya, seperti KRL yang seharusnya Bekasi Ekspres tapi bertuliskan Pakuan Ekspres (arah Bogor). Atau KRL bertuliskan Bekasi Ekspres tapi pengumuman oleh annoucer di stasiun adalah KRL ke Depok. "Kelalaian mengganti papan nama ini berakibat "bencana" buat penumpang terbawa ke jurusan lain. Yang lebih parah lagi adalah KRL Depok Ekspres tetapi masih bertuliskan huruf kanji Jepang jurusan stasiun Tokyo, lengkap dengan pengumuman otomatis via speaker di dalam kereta dalam bahasa Jepang," katanya. Menurut KRL Mania, KAI/KCJ tidak punya SOP pemberian informasi yang konsisten dilaksanakan, dan SOP penanganan kondisi darurat jika terjadi hal semacam ini. Akibatnya, tidak ada usaha petugas untuk "meminimalkan dampak bencana", misalnya meminta izin stasiun berikutnya agar penumpang bisa turun dan tidak tersesat terlalu jauh. "Ini menunjukkan bahwa masalah utama KAI/KCJ adalah corporate culture yang meremehkan hal yang dianggap kecil. KRL Mania berkeyakinan ketika hal-hal kecil tersebut tidak dibenahi, nantinya akan menjadi masalah yang menggunung dan akhirnya sulit diselesaikan, dan hak-hak dasar penumpang kurang bisa dipenuhi," ujarnya lagi. Oleh karena itu, KRL Mania berpendapat bahwa rencana kenaikan 90% tarif KRL Ekonomi AC tidak dapat diterima, dan menyerukan kepada Kementerian Perhubungan untuk meninjau rencana ini. (abe)
