Dari milis sebelah ....
----- Original Message -----
TIDAK USAH MEMUJI MASAKAN MAMA
Ketika di kelas, kami memberi tugas kecil kepada murid untuk 'memuji' orangtua
mereka, memuji hasil pekerjaan ayah dan ibu di rumah, yang menurut mereka
bagus, tugas ini dirasakan ganjil oleh kebanyakan murid. Namun seorang murid
kami, sebut saja Andri, laki-laki berusia 14 tahun, bersikap sangat marah
terhadap tugas ini. Suaranya kencang berkata, "Saya tidak mau memuji orangtua
saya! Apalagi mama saya! Itu hal yang sangat tolol! Dan saya rasa tidak ada
gunanya memuji siapapun juga!"
Belum sempat pelatih bertanya mengapa, Andri melanjutkan, "Coach tahu, kalau
saya memuji masakan mama saya, mama akan berkata, 'Nggak usah dibahas! makan
aja!'... Tapi, kalau saya tidak berkomentar tentang masakannya, mama saya akan
menanyakan bagaimana masakannya. Pernah, saya menjawab, "keasinan". Mama saya
marah, mama bilang, "Eh! Suka nggak suka, makan aja! Mama sudah capek-capek
masak, kamu cuma tinggal makan, masih ngedumel!" Papar murid kami... "Tuh kan,
coach, kalau ngomong sama mama saya, semuanya salah! Ngomong baik, salah.
Ngomong jujur, salah. Memang mama saya itu dan semua orangtua, tidak masuk
akal! Saya nggak ngerti!" Kata Andri menyamaratakan semua orangtua. Akhirnya,
kami meminta Andri untuk mencoba memuji ayahnya dan melaporkan reaksi sang
ayah. Syukurlah, sang ayah bereaksi lebih positif terhadap pujiannya sehingga
murid kami tersebut mengerti bahwa tidak semua orangtua akan menyepelekan
pujian yang tulus.
Suatu hari, kami berkesempatan berbicara dengan mama Andri. Di ujung
pembicaraan ia berkata, "Belakangan saya melihat anak saya itu akrab dengan
papanya. Dulu tidak begitu, tetapi jika saya mendengarkan percakapan mereka,
sebenarnya bagi saya sangat asing, mereka berbicara tentang hal-hal yang jujur,
seperti ketika warna dasi papanya tidak bagus, Andri bilang bahwa dasi itu
tidak bagus dan papanya segera mengganti dasinya tanpa ngedumel. Tapi ketika
papanya mengajak makan ke sebuah restoran, Andri berkata, wah! Makanannya enak,
Pa.. Memang papa hebat deh kalau memilih restoran, seru!" Jelas ibu itu sambil
mengernyitkan dahinya.
"Lalu kenapa ibu bingung?" Tanya saya.
"Di dalam hidup saya, saya melihat bahwa pujian-pujian yang dilontarkan itu
kebanyakan palsu. Ayah-ibu saya pedagang, mereka banyak berkata-kata manis
hanya supaya dagangannya laku. Itulah sebabnya, saya tidak pernah percaya pada
pujian. Semua pujian itu palsu." ujarnya.
"Semua pujian, bu?" Kembali saya bertanya.
"Melihat Andri dan papanya sekarang, saya jadi belajar bahwa tidak semua
pujian adalah bohong dan tidak semua kritikan berasal dari hati yang jahat."
Katanya datar.
Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM
Principal of Yemayo Advance Education Center