Ini adalah copy-paste dari majalah detik, www.majalahdetik.com, sekedar menambah informasi.
Catatan : Orang menjadi takjub saat dengar cerita rumah tak terbakar di tengah kobaran api. Kita mungkin perlu membuktikan kita "tak terbakar" di tengah "perlombaan" yang terjadi di tengah-tengah kita. Testify!!! ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Di Balik Keroyalan & Kekayaan Sang Eyang Subur hobi membagi-bagikan uang, emas bahkan mobil. Rumahnya pun penuh kristal yang harganya miliaran. Dari mana kekayaan Subur berasal? Derum mobil Jaguar mengagetkan Sutik. Derum itu berhenti tepat di dekat rumahnya di Kampung Tugu Kepatihan, Gang IV, Jombang, Jawa Timur. Beberapa menit kemudian pengemudi mobil menyerahkan kunci dan surat kepemilikan untuknya. "Titipan dari Eyang Subur," kata si pengemudi seperti diingat Sutik. Sutik mengaku lupa kapan tepatnya mobil itu dikirim. Ia hanya memastikan kiriman itu datang sebelum tahun 2005. Mobil itu kiriman dari Subur, kakaknya yang sudah puluhan tahun meninggalkan rumah. Sayang mobil itu tak bertahan lama di tangan keluarga Sutik. Hidup mereka yang sederhana tak mampu menanggung beban pajak mobil mewah itu. Subur memang dikenal royal. Tidak hanya keluarga yang kecipratan kekayaan dukun artis yang kini berseteru dengan Adi Bing Slamet itu. Seorang tukang ojek pun pernah diberi televisi oleh Subur. Ia dikenal hobi membagikan uang, emas, barang elektronik dan bahkan mobil kepada siapa saja. Ia juga suka mentraktir wine berkelas kepada tamunya bila melakukan pertemuan di hotel. Sejumlah pekerja seni juga banyak yang merasakan keroyalan Subur. Anggota Srimulat, Kabul Basuki alias Tessy, misalnya mengaku mendapat limpahan rezeki dari Subur. "Yang pertama diberi hadiah sama Eyang itu saya. Saya dibelikan mobil," ucap Tessy. Lantas anggota Srimulat lainnya, Tarzan mengaku mendapat cipratan televisi, gelang emas 100 gram, dan uang Rp 1-2 juta tiap kali bertemu. "Ya namanya dikasih masa saya tolak," akunya. Keroyalan Subur memberi kesan pria asal Jombang ini adalah seorang miliarder yang hartanya tiada habisnya sehingga dengan gampang ia bagikan kepada siapa pun yang ia kehendaki. Rumah Subur sendiri di Gang Beringin III No. 64, Jalan Duri Kepa, Jakarta Barat bak istana kristal. Sejak 1992, Subur memang hobi mengoleksi kristal. Kini, di lantai dua rumah itu, ratusan barang berupa kristal, batu giok dan logam berharga berserakan di manamana. Subur memfungsikan lantai dua rumahnya sebagai gudang. Barang yang sudah berbentuk patung dan perhiasan berserakan di setiap sofa. Patung buaya dan ikan lumba-lumba dari batu giok, lampu kristal, patung perunggu, serta ratusan barang lainnya berserak tanpa proporsi. Semuanya hanya diletakkan secara asal-asalan. "Ada yang harganya ratusan juta. Berapa 'M' (miliarred), kamu hitung sendiri. Koleksinya ratusan," ujar Sigit, pengikut Subur. Dari mana Subur memperoleh harta kekayaan yang melimpah ruah itu? Subur datang ke Jakarta dari tanah kelahirannya, Jombang, Jawa Timur, bukan sebagai orang kaya. Supri, teman Subur di saat remaja, menyebutkan Subur datang ke Jakarta karena terjerat tagihan judi togel. Di Jakarta, Subur memulai dengan membuka usaha jahit, "Penjahit Antik Tailor". Ia membuka toko di Blok C, Slipi, Jakarta Barat. Usaha ini tak berjalan dengan lancar. Ia pun menempuh segala cara, termasuk bertemu dengan orang pintar bernama Lindun. Tahun 1974, ia rajin mengunjungi rumah Lindun di Jalan Raya Parung-Bogor, Kampung Lebak Wangi RT 02/RW 02 Kelurahan Pemagar Wangi, Kecamatan Parung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, sebulan tiga kali. Ia datang bersama istrinya, Heri, dengan membawa kemenyan dan minyak wangi. Mereka datang ketika magrib dan sampai menginap. Biasanya, ia meninggalkan uang sekitar Rp 30-40 ribu untuk Lindun. Lindun pun membakar kemenyan dan memantrai minyak wangi yang dibawa Subur. Lindun dikenal se bagai orang pintar yang dapat membantu usaha orang secara gaib, lewat ajian pelaris. "Saya mintanya sama Tuhan Yang Kuasa, sama malaikat. Ini Subur ngejait di Blok C supaya ramai, laku. Pada ngejait sama dia," cerita Lindun kepada majalah detik. Apakah ada hubungan dengan pelaris Lindun atau bukan, yang jelas tahun 1977, Antik Tailor yang dikelola Subur berkembang. Modal berupa dua mesin jahit bertambah menjadi tujuh. Usaha menjahit ini mempertemukan Subur dengan grup lawak Srimulat. Anggota Srimulat mengaku sering menjahitkan jas dan baju ke tempat Subur. Sanggar Srimulat kebetulan terletak dekat dengan toko Antik Tailor. Tahun 1991 menjadi titik balik bagi kehidupan Subur. Ia memenangi undian Sumbangan Dana Sosial Berhadiah (SDSB). Empat angka yang dipasangnya, 1503, memenangi undian. Ia mendapat uang sebanyak Rp 1,8 miliar. Subur pun kaya mendadak. Sebagian uang ini digunakan Subur untuk membeli tanah seharga Rp 30 juta yang kini menjadi rumah nya. Namun pada tahun yang sama, kebakaran besar terjadi di Pasar Patra dekat rumah Subur. Sebanyak 300 rumah tetangganya hangus terbakar. Hanya rumah Subur yang selamat dari jilatan api karena sudah berupa bangunan permanen. "Saat itu saya, istri dan anak-anak di lantai dua ini, berdiam diri saja, pasrah waktu itu, tapi Tuhan mungkin berkehendak lain," cerita Subur tentang kebakaran itu kepada majalah detik. Karena selamat dari kebakaran, anak-anak Subur menganggap sang ayah sakti. Mereka pun menyebarkan klaim kesaktian itu kepada semua orang. Subur sendiri kemudian meminta dirinya dipanggil Eyang. Masyarakat sekitar diberi tahu agar tidak bicara sembarangan soal Subur. Masyarakat diminta memanggil Eyang Subur jika menyebut nama Subur. "Jangan sembarangan ngomong ke Eyang, dia itu sakti," kata Sholeh menirukan permintaan Heri, putra Subur. Kedekatan dengan Srimulat turut melambungkan kabar kesaktian Subur di kalangan artis. Sejumlah artis diikuti pengusaha lantas ramai-ramai menjadikan Subur sebagai guru spiritual. Beberapa artis seperti Adi Bing Slamet, Septian Dwi Cahyo, dan Thenzara 'Bu Subangun' Zaidt mengakui bertandang ke rumah Eyang Subur. Keroyalan Subur membagi uang, emas ataupun mobil, pun makin membuatnya moncer. Tahun 2005 tamu yang menghadap ke Subur mencapai 300-350 orang. Tentu saja, konsultasi spiritual yang diberikan Subur tidak gratis. Thenzara yang populer karena memerankan tokoh Ibu Subangun, mengaku dimintai uang ketika bertandang ke rumah Subur. Setoran uang ini dilakukan secara rutin ketika bertamu. Jumlahnya tidak pasti, tapi setiap setoran mencapai Rp 20 juta. Pengakuan yang sama diungkapkan oleh Adi. "Kepada pengusaha yang datang dibilang harus yang banyak ya. Yang banyak itu kan nggak pernah di bawah Rp 10 juta," tutur Adi. Ujang, mantan pembantu Subur menjelaskan, sebenarnya orang yang datang ke Subur itu kebanyakan untuk membeli kekayaan. "Ini semuanya beli kekayaan supaya usaha kita berhasil. Kalau ngasih Rp 500 juta kaya rayalah. Pokoknya kalau ngasih harta kembali harta," kata Ujang. Ujang mengisahkan, ada seorang pengusaha yang awalnya miskin kemudian berhasil menjadi kaya setelah menjadi pengikut Subur. Biasanya setelah kaya, syarat yang diminta Subur makin berat. Syarat itu selalu disebut sebagai permintaan Eyang Gaib lewat Subur. "Saya pernah disuruh telepon minta dia bawa syarat ratusan juta," ceritanya. Tentang keroyalan Subur, Ujang punya versi sendiri. Baginya, Subur bukan orang yang royal. Selama 23 tahun sebagai pegawainya, Ujang tidak pernah diberi apa-apa. Memang ia pernah disuruh menyimpan gelang emas sekitar 60-70 gram, tetapi diminta kembali. "Paling lama satu minggu, setelah itu dikasih ke orang lain," ungkap Ujang. Meski 'royal', Subur pilih-pilih dalam memberi. Ia biasanya meminta timbal balik atas pemberiannya. Penyanyi dangdut Novi Oktora pernah akan diberi satu tas uang. Namun Subur minta Novi jadi istri ketujuh. Novi pun menolak. (ARY /IYE ) Reporter: Tamam Mubarok, Bahtiar Rifai, Monique Shintami, Evi Tresnawati dan Isfari Hikmat. Foto: detikfoto
