----- Original Message -----
From: "rid" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Thursday, November 23, 2000 11:54 AM
Subject: [daarut-tauhiid] Fw: Harta yang paling berharga


> From: endang-winarti
> Sent: Tuesday, November 21, 2000 12:24 AM
> Subject: Harta yang paling berharga
>
>
> Tahukan anda, harta apa yang paling berharga dalam hidup anda? Berikut ada
satu kisah untuk kita renungkan :
>
> Suatu hari, terik matahari menyengat kota Surabaya, namun tak menyurutkan
semangat ku untuk berburu belanja karena anak-anak akan liburan. Ku hentikan
sebuah taksi, dan kami melaju. Sesampai di depan Tugu Pahlawan aku minta
sopir berhenti disebelah tukang jual minuman botol dan aku minta 2, satu
untukku, 1 untuk sang sopir. Begitu kuacungkan 1 botol teh bapak sopir itu
tercengang,
> " Mari pak kita minum dulu, udara panas gini pasti haus" kataku. Maka
tanpa ragu si bapak sopir menyelesaikan tugas menghabiskan  minuman.
> "terima kasih bu, ibu baik sekali" katanya,  lalu kami ngobrol. Maklum
perjalanan cukup jauh, jadi obrolan kami berkembang kemana saja. Lalu
sampailah kami pada obrolan seperti ini :
> EW: Bapak Sudah lama jadi driver?
> S   : belum bu, baru sekitar 3 tahun
> EW: Dulu profesi bapak sebagai apa?
> S   : (sambil sedikit malu-malu dia bercerita)
> Dulu ceritanya saya punya perusahaan travel sendiri Bu, juga punya Cv di
bidang kontraktor. Travel saya ya lumayan ada 6 unit mobil jurusan jawa
tengah. lalu suatu haru hari saya sakit, komplikasi diabetes, liver dan
ginjal. 3 bulan rawat inap di RS RKZ, sisanya 1 tahun rawat jalan. Jadi Bu,
semuanya amblas untuk biaya pengobatan saya. Sekarang yang tersisa hanya
salah satu rumah saya, justru yang terkecil. Anak saya 4, semuanya masih
kecil2. Jadi dengan taksi ini saya menghidupi anak-anak."
> " bapak hebat" kataku
> " dalam keadaan hancur bapak mampu bangkit dan tidak terlena dalam
penyesalan dan kekecewaan."
> " tapi justru dalam keadaan begini saya bisa bersyukur bu. Kalau inget
waktu sakit, Masya Allah....duit banyak gak bisa nikmati, makanan banyak gak
bisa merasakan, mobil ada gak bisa mengendarai, mau ngapa-ngapain gak bisa,
hidup benar2 tersiksa, maka saya ber nazar, kalau sembuh, maka akan saya
sumbangkan satu lokasi tanah saya untuk keperluan amal."
> ' Dan bapak melaksanakna nazar itu?"
> " Tentu Bu, janji adalah hutang. saya sumbangkan tanah saya yang tersisa
karena Allah memberi saya kesembuhan. Mungkin harus dengan jalan ini saya
bisa bersyukur."
>
> sambil tertawa pak Sopir meneruskan...
> " Dulu waktu banyak uang rasanya duit berapapun tidak ada artinya,
sekarang setelah jatuh baru tahu, bahwa 100 perak pun sangat berharga. Maka
itu pesan saya ke Ibu, jangan lupa beramal, Infaq dan zakat itu harus Bu "
>
> Silahkan teman2 mengartikan sendiri pelajaran yang terkandung dalam cerita
ini.
>
> salam'
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>
> -------------------------- eGroups Sponsor -------------------------~-~>
> eLerts
> It's Easy. It's Fun. Best of All, it's Free!
> http://click.egroups.com/1/9699/2/_/8396/_/974954909/
> ---------------------------------------------------------------------_->
>
>
============================================================================
=================
> Untuk berlangganan kirimkan e-mail kosong ke
[EMAIL PROTECTED]
>
> Untuk berhenti kirimkan e-mail kosong ke
[EMAIL PROTECTED]
> (Jangan lupa me-reply e-mail konfirmasi yang dikirimkan sistem)
>
> Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
>
============================================================================
=================
>
>

Kirim email ke