----- Original Message -----
From: "Dudi Susanto" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Thursday, November 23, 2000 9:04 AM
Subject: [daarut-tauhiid] Dakwah Rasulullah dan \"Dakwah\" Kita
> Assalamu 'alaikum wa rohmatullahi wa barokatuhu
>
> "Diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a katanya: Rasulullah s.a.w pernah
> bersabda: Permudahlah dan jangan menyulitkan, tenangkan dan jangan
> menakut-nakuti" [Bukhari-Muslim]
>
> Dalam berdakwah, Nabi menganjurkan agar kita mempermudah serta menenangkan
> hati orang yang didakwahi. Memang terkadang kita harus mengingatkan bahaya
> tentang api neraka, tapi jika yang kita sampaikan cuma hal-hal yang
> menyeramkan, kemudian hal-hal yang sulit, bukan tak mungkin akhirnya yang
> didakwahi jadi lari terbirit-birit.
>
> "Diriwayatkan dari Abu Musa r.a katanya: Ketika Rasulullah s.a.w
> memerintahkan seorang Sahabat untuk melaksanakan salah satu perintahnya,
> dengan bersabda: Sampaikanlah kabar gembira dan jangan menakut-nakutkan.
> Permudahkanlah dan jangan memayahkan" [Bukhari-Muslim]
>
> Materi Dakwah Rasulullah:
> "Diriwayatkan dari Muaz r.a katanya: Aku diutuskan oleh Rasulullah s.a.w.
> Baginda bersabda: Engkau akan mendapati golongan Ahli Kitab, oleh itu
> dakwahlah mereka supaya mengucap Dua Kalimah Syahadat. Jika mereka
> menerima Dua Kalimah Syahadat tersebut, ajarkanlah mereka bahawa Allah
> mewajibkan kepada mereka mendirikan sembahyang lima waktu sehari semalam.
> Sekiranya mereka tetap mentaati perintah tersebut, ajarkanlah pula kepada
> mereka bahawa Allah mewajibkan kepada mereka agar mengeluarkan zakat. Jika
> mereka tetap mentaatinya, beritahulah mereka supaya berhati-hati terhadap
> harta mereka dan takutlah doa orang yang teraniaya kerana doa mereka
> adalah mustajab" [Bukhari-Muslim]
>
> Hukuman orang yang tidak mempraktekan apa yang didakwahkannya:
> "Diriwayatkan daripada Usamah bin Zaid r.a katanya: Aku telah mendengar
> Rasulullah s.a.w bersabda: Seorang lelaki telah dilempar ke Neraka pada
> Hari Kiamat, terberai keluar ususnya dan dia berputar dalam Neraka seperti
> seekor keledai berputar mengelilingi pengisar gandum dalam kandang. Ahli
> Neraka mengerumuninya dan mereka bertanya: Hai kamu! Apa yang telah
> terjadi kepadamu? Bukankah kamu dahulu menyuruh manusia melakukan kebaikan
> dan mencegah manusia dari melakukan perkara munkar? Dia menjawab: Memang
> benar. Aku telah menyuruh orang melakukan kebaikan tetapi aku (sendiri)
> meninggalkannya dan aku mencegah manusia dari melakukan perkara mungkar
> sedangkan aku melakukannya" [Bukhari-Muslim]
>
> Aku berlindung pada Allah dari kejadian seperti itu. Mudah-mudahan di
> antara kita tidak ada yang mengalami hal seperti itu. Di koran Republika
> hari ini, saya melihat satu kolom yang mengutip petuah mantan presiden
> Soeharto dalam bahasa Jawa yang isinya kira-kira begini: Seorang pemimpin
> yang hidup bergelimang harta dan kejam pada rakyatnya, maka dia akan mati
> dalam keadaan sengsara dan terhina.
>
> Satu petuah yang baik, tapi sejarah membuktikan bahwa mantan presiden
> tersebut ternyata tidak mempraktekkan apa yang dianjurkannya. Hukuman di
> akhirat belum diterima, tapi hukuman di dunia nampak jelas bagi kita
semua.
>
> Jadi jika ada seorang muballigh yang menganjurkan hidup sederhana,
> sementara dia sendiri mondar-mandir dengan BMW, Mercy dan tinggal di rumah
> mewah dengan jumlah tak terhingga, bisa jadi dia akan merasakan hal itu.
> Bukankah Nabi sendiri yang di tangannya terletak kunci kerajaan Persia dan
> Romawi (2 superpower dunia saat itu) hidup begitu sederhana? Dia tidur di
> atas pelepah daun kurma, sehingga ketika bangun, di punggungnya terlihat
> jelas guratan daun kurma. Seorang sahabat sampai menangis terharu
> menyaksikan hal tersebut.
>
> Ada juga muballigh yang menganjurkan agar tidak serakah, sementara dia
> sendiri justru memasang tarif yang tinggi (Rp 1,5 juta lebih sebelum
> Krismon) untuk acara ceramahnya yang paling-paling cuma 1 jam. Untuk
> memanggilnya, kita harus mengontak managernya yang tentunya juga mendapat
> bagian. Jika uang kita tak cukup, maka kita tak dapat "menikmati" dakwah
> mereka. "Dakwah" benar-benar telah jadi suatu bisnis!
>
> Meski aral melintang, janganlah hal tersebut jadi rintangan bagi kita.
> "Sampaikanlah dariku walau hanya 1 ayat!" begitu perintah Nabi. Jadi
> dakwah itu sebenarnya merupakan kewajiban bagi kita semua.
>
> Nabi tetap melakukan dakwah meski tidak menerima upah sepeserpun. Bahkan
> di Thaif, meski ditimpuki hingga patah giginya dan berdarah oleh penduduk
> sana, toh beliau tetap gigih berdakwah meski bahaya menghadang. Itulah
> sunnah Nabi dalam berdakwah: tak mengharapkan imbalan dan rela menghadapi
> bahaya.
>
> Saya tidak menyalahkan jika ada muballigh yang menerima uang sekedarnya
> ketika berdakwah, karena bagaimanapun mereka harus menghidupi keluarganya.
> Tapi jika ada yang sampai mematok tarif yang tinggi hanya sekedar agar
> bisa menikmati mobil dan rumah mewah yang tak terhingga, nampaknya hal ini
> sudah tidak etis lagi dan menyimpang dari ajaran Islam. Tindakan seperti
> ini hanya akan mencemarkan nama baik muballigh yang sebenarnya dan membuat
> buruk kesan Islam di mata masyarakat awam.
>
> Wassalamu 'alaikum wa rohmatullahi wa barokatuhu
>
>
> -------------------------- eGroups Sponsor -------------------------~-~>
> eLerts
> It's Easy. It's Fun. Best of All, it's Free!
> http://click.egroups.com/1/9699/2/_/8396/_/974946113/
> ---------------------------------------------------------------------_->
>
>
============================================================================
=================
> Untuk berlangganan kirimkan e-mail kosong ke
[EMAIL PROTECTED]
>
> Untuk berhenti kirimkan e-mail kosong ke
[EMAIL PROTECTED]
> (Jangan lupa me-reply e-mail konfirmasi yang dikirimkan sistem)
>
> Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
>
============================================================================
=================
>
>