SEPERTINYA SIA-SIA SAJA MENGKRITISI PENGUASA INDONESIA YANG SUDAH BUTA MATA
HATINYA. BETAPA BANYAK SUDAH TULISAN BUNG UMAR SAID YANG TERCERAHKAN, NAMUN
TIDAK DIGUBRIS SAMASEKALI
Pernyataan Kalla yang mendukung Hamid Awaluddin dapat kita pahami dimana
memang mereka itu termasuk "Cina satu gedung atau satu atab" dengan keluarga
Suharto. Justru itulah mustahil Indonesia itu untuk reformasi. Yang dibutuhkan
Indonesia sekarang ini bukan reformasi tapi Revolusi. Indonesia itu bagaikan
sebidang tikar yang sudah lusuh dan lapuk, sementara reformasi itu sifatnya
tambal sulam. Jadi ketika kita menyulam sudut ini rusak sudut sana, ketika kita
menyulam sudut sana rusak sudut lainnya lagi. Yang jelas perlu kita beli tikar
lain kendatipun mahal harganya demi terjamin dari berbagai macam penyakit yang
sudah mewabah ditikar tersebut.
Menurut hemat saya setelah merenungkan sedalam-dalamnya memang tidak ada
jalan lain untuk Rakyat Indonesia yang berakhlak mulia, jujur, optimis dan
dinamis kecuali bersiap-siap untuk Revolusi, maaf memang "No Way" atau tidak
ada alternatif lainnya, kalau memang ingin membela kaum dhu'afa disana.
Mafkan saya kalau terlambat menaggapinya, Bung Umar Said.
alqbr,-
Umar Said <[EMAIL PROTECTED]> skrev:
Kalla Mendukung Tindakan Hamid Awaludin
Kepada para pembaca diharapkan untuk membaca dan merenungkan berita yang
disiarkan oleh Tempo Interaktif tanggal 24 Maret 2007, yang berbunyi sebagai
berikut di bawah ini. Kemudian, diharapkan juga kepada para pembaca untuk
menyampaikan komentar, pendapat, atau perasaan, sebebas-bebasnya atau
setulus-tulusnya, langsung kepada saya dengan alamat E-mail : [EMAIL PROTECTED]
Segala reaksi, atau pendapat, terhadap isi berita ini, akan diperlakukan
sebagai masukan pribadi, dan sebagai sumbangan fikiran, untuk bisa menelaaah
masalah ini dari berbagai segi. Saya tunggu tulisan saudara-saudara, dan
sebelumnya saya sampaikan terimakasih.
A. Umar Said
Paris, 24 Maret 2007
* * *
TEMPO Interaktif, Jakarta: Wakil Presiden Jusuf Kalla mendukung tindakan
Menteri Hukum dan Hak Azasi Manusia Hamid Awaludin yang membantu Tommy Soeharto
untuk mencairkan duit di BNP Paribas London sebesar Rp 90 miliar. Apalagi saat
itu Tommy tidak terlibat perkara korupsi.
"Pertanyaannya adalah, apakah uang itu haram atau tidak? Sudah ada surat
keterangan bahwa pada saat itu tiga orang pengusaha itu tidak ada yang terlibat
pidana korupsi," kata Jusuf Kalla kepada wartawan di Kantor Kementrian
Pendayagunaan Aparatur Negara Jakarta, kemarin.
Menurut Kalla, biasanya setelah melakukan korupsi orang membawa kabur uang
jarahannya itu ke luar negeri. "Orang korupsi itu tidak pernah bawa masuk uang
ke dalam negeri. Orang korupsi itu dari sini dibawa keluar," ujarnya. Karena
itu, dia meminta pencairan duit Tommy ini tidak dicurigai. Dia berharap,
masuknya uang Tommy ke Indonesia bisa berguna untuk investasi.
Memang diakui Kalla, masalah pencairan itu menimbulkan pro kontra pemikiran di
masyarakat. Padahal kalau ada orang Indonesia yang bawa uang keluar negeri,
selalu dianggap tidak benar. Sekarang ketika Tommy membawa masuk dana ke tanah
air, masyarakat juga mencurigai sebagai hasil korupsi. "Bawa uang keluar negeri
marah, bawa uang masuk dalam negeri juga marah," ujarnya.
Sejauh ini Kalla sendiri tidak tahu apakah penggunaan rekening Departemen Hukum
dan Hak Azasi Manusia untuk mencairkan duit itu melanggar undang-undang atau
tidak. "Itu soal prosedural. Wakil Presiden tidak bisa membaca semua." kata
dia.
---------------------------------
Klaustrofobisk innboks? Få deg en Yahoo! Mail med 250 MB gratis lagringsplass
http://no.mail.yahoo.com