Tembusan:
   
  [EMAIL PROTECTED]
[EMAIL PROTECTED]
[EMAIL PROTECTED]



Coba teliti komentar Tgk Faisal Ali pada kutipan koran dibawah, bukankah sudah 
seperti perpanjang tangannya juru bicara si Pa'i di Cilangkap?
  


Pasca MOU (Baca: Memorandum Otonomi Understanding), banyak sekali elemen 
pranata sosial di Aceh berubah 180 derajat dengan mengeluarkan 
statemen-statemen yang jelas menguntungkan si Pa'i sehingga dengan sendirinya 
serdadu merasa mendapatkan impunitas atas apa yang dilakukannya ketika DOM dan 
DM.
  


Mengapa demikian? lihat saja, semua euphoria tenggelam dengan kedamaian semu 
yang rapuh, belum apa-apa sudah bersorak sorai gembira dengan mengeluarkan 
komentar yang semisi dan visi seperti si Pa'i.  Contohnya, dari komentar Tgk 
Faisal Ali bisa dianalisa bahwa, setelah adanya pelanggaran HAM dasyat di Aceh 
ketika DOM dan DM maka masalah HAM sebaiknya "dilupakan saja" ???  Bukankah 
sama seperti apa yang diinginkan oleh TNI??
  

(Baca komentarnya:"Kita semua sudah sepakat untuk tidak membicarakan masalah 
luka lama dan para pihak juga telah bertekad membangun Aceh dalam suasana damai 
dan aman dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)") 
  


Makna "damai" sudah dipelintir seperti jangan ribut-ribut lagi, mau hilang tdk 
tau rimba, cedera ketika konflik atau dibunuh tanpa proses pengadilan semuanya 
mau dilupakan saja??  Damai model apa ini?? Itu masih dalam tataran HAM, belum 
lagi menyangkut masalah politik yang semua orang sudah tau bahwa Aceh terjebak 
dalam perangkap Otonomi.
  


Sebagai perbandingannya, di Sarajevo ketika terjadi pembantaian oleh Kafir 
terhadap muslim Bosnia kira-kira 12 tahun lalu saja hingga kini masih berlaku 
hukum internasional terhadap para pemberi perintah genosida tersebut, salah 
satunya Jenderal Ratko Mladic yang diyakini berada di balik segala kekejaman 
tersebut dan sampai sekarang kafir tersebut masih buron.
  


Jauh-jauh Louise Arbour, Komisioner tinggi HAM PBB yang datang ke Aceh malah 
disambut dengan komentar "tipuan asing" lah, "adu domba" lah.  
  

"Kita perlu mempertanyakan kok masih ada orang-orang yang mengatasnamakan 
masyarakat  Aceh yang ingin mengungkit masa lalu. Padahal kita semua telah 
berkomitmen membangun Aceh baru yang damai dan aman dibawah tuntunan Syariat 
Islam," tambahnya.
  


Tidak ada yang menolak dengan syariat Islam, tapi perlu diingat bahwa jangan 
mentang-mentang sebagai rohaniawan lalu berlagak maksum.  Siapa yang menduga 
jika semasa DOM lalu beberapa ulama terkooptasi dengan kekuasaan, malah 
sama-sama dengan GOLKAR (Gerombolan, Orang, Licik, Korup, Anarkis & Rakus) 
mengancung-ancungkan tangan dengan huruf V yang menandakan "Victory" atau angka 
2, tanda partai GOLKAR, berkampanye untuk memilih partai bajingan itu.  Siapa 
yang tidak kenal dengan nama "Haji Muhammad Soeharto" ?? semua orang sudah tau 
siapa Soeharto dan anak-anaknya yang semuanya sudah bertitelkan "Haji" dan 
"Hajjah" itu.
  


Cendikiawan, aktivis NGO di Aceh banyak yang sudah kritis tapi kadang 
rohaniawan Aceh berselindung dibalik umara yang zalim, kalau melawan nanti 
bisa-bisa keluar fatwa sebagai "bughah" kepada negara NKRI (Neo Kolonialis 
Republik Iblis)
  


KESIMPULAN: "Rohaniawan kalau sudah masuk tataran politik tidak boleh dipercaya 
ucapannya"





  
Dua Belas Tahun Menanti Keadilan atas Pembantaian Srebrenica 



  
 
  PBB dan Belanda Digugat



  SARAJEVO - Pembantaian etnis muslim Bosnia (Bosniak) di Bosnia-Herzegovina, 
Srebrenica, sudah 12 tahun berlalu. Namun, bagi ribuan perempuan Bosnia yang 
ditinggalkan suami dan anak laki-laki mereka dalam pembunuhan keji itu, 
keadilan masih belum terlihat. Bahkan, Jenderal Ratko Mladic yang diyakini 
berada di balik segala kekejaman tersebut masih buron hingga kini.

  
Keluarga dan kerabat dari sekitar 8.000 muslim Bosnia yang tewas di tangan unit 
khusus Tentara Republik Srpska (VRS) dan unit paramiliter Serbia (Scorpions) 
tersebut tak pernah lelah memperjuangkan keadilan. Untuk membuktikan keseriusan 
mereka, para pencari keadilan itu mengajukan gugatan baru terkait dengan 
genosida yang terjadi pada 11-13 Juli 1995. Dalam berkas setebal 228 halaman 
itu, mereka menuntut PBB dan pemerintah Belanda yang dianggap lalai. 

  
Gugatan yang diajukan ke Pengadilan Kriminal Internasional untuk bekas 
Yugoslavia (ICTY) di Den Haag tersebut juga berisi tuntutan kompensasi keluarga 
korban. Mereka mendesak PBB dan pemerintah Belanda yang dianggap gagal mencegah 
pembantaian tersebut untuk memberikan ganti rugi material. Mereka juga 
menyesalkan respons PBB dan pemerintah Belanda yang dinilai lambat. 
  

"Pasukan Belanda yang dikirim ke Srebrenica atas mandat PBB itu justru 
meninggalkan posisinya ketika pasukan paramiliter Serbia menyerang pada 11 Juli 
1995," tulis keluarga korban dalam berkas gugatan yang dirumuskan selama enam 
tahun terakhir ini. Menurut mereka, pasukan Belanda yang bertugas menjaga area 
aman (safe area) itu justru menyerahkan ribuan pria dan anak laki-laki Bosnia 
untuk dibunuh.
  

PBB dituding tidak serius dalam menangani kemelut di Srebrenica. Sebab, PBB 
maupun pemerintah Belanda sudah mengetahui aksi besar-besaran militer Serbia 
tersebut sekitar dua pekan sebelumnya. Tapi, bukannya mencegah serangan itu, 
mereka justru sibuk mengamankan pasukan masing-masing. "PBB dan pemerintah 
Belanda telah mengabaikan sekitar 40.000 penduduk lokal yang ada di kawasan 
tersebut," tuding keluarga para korban. 
  

Munira Subasic, ketua organisasi Mothers of Srebrenica, mengaku kecewa terhadap 
sistem peradilan Barat. "Negara-negara Barat sudah terlalu lama 
menggembar-gemborkan hukum dan keadilan dalam buku-buku karangan mereka. Kini, 
tiba saatnya bagi mereka untuk membuktikan bahwa masyarakat Eropa menghormati 
hukum. Korban dan segenap keluarga yang ditinggalkan juga berhak menikmati 
kedamaian," paparnya dalam wawancara telepon dengan ISN Security Watch. 
  

Dalam perkara hukum itu, keluarga korban didampingi satu tim pengacara Bosnia 
dan Belanda. Mereka berjanji bisa membuktikan bahwa PBB dan pemerintah Belanda 
bertanggung jawab atas pembantaian tersebut. Selain itu, mereka juga yakin 
bahwa PBB dan pemerintah Belanda bisa dijerat sesuai dengan hukum. 
  

Namun, pemerintah Belanda berbalik menuding PBB bersalah. Sebab, PBB tidak 
memberikan persenjataan yang cukup kepada pasukan mereka untuk mengamankan 
penduduk setempat. Sedangkan mengenai kompensasi, negeri kincir angin itu 
melimpahkannya kepada pemerintah Bosnia Serbia sebagai pelaku pembantaian. 
(isn/themuslimweekly/wikipedia/hep)
   
  

Sunny <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
            http://www.lampungpost.com/aktual/berita.php?id=1963
   
          Jum'at, 13 Juli 2007    
          NASIONAL            
  Ulama Aceh Pertanyakan Keinginan LSM Ungkit Masa Lalu 
  
   
            BANDA ACEH, Lampost Online: Kalangan ulama di Provinsi Nanggroe 
Aceh Darussalam (NAD), mengingatkan komponen masyarakat untuk tidak mengungkit 
"luka" lama setelah Pemerintah dan pihak Gerakan Aceh Merdeka (GAM) telah 
menyatakan kesepakan mengakhiri konflik di daerah ini.
  "Kita semua sudah sepakat untuk tidak membicarakan masalah luka lama dan para 
pihak juga telah bertekad membangun Aceh dalam suasana damai dan aman dalam 
wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)," kata Sekjen Himpunan Ulama 
Dayah Aceh (Huda) Tgk Faisal Aly di Banda Aceh, Jumat.
  Oleh karenanya, ia mengimbau masyarakat untuk tidak terprovokasi pihak-pihak 
tertentu yang kemungkinan ingin mengembalikan konflik di Aceh.
  Hal itu disampaikan menyikapi keinginan sejumlah aktivis lembaga swadaya 
masyarakat (LSM) bergerak bidang HAM yang meminta Komisi HAM PBB agar mendesak 
Pemerintah RI untuk mengusut kasus-kasus pelanggaran HAM masa konflik Aceh.
  "Kita perlu mempertanyakan kok masih ada orang-orang yang mengatasnamakan 
masyarakat Aceh yang ingin mengungkit masa lalu. Padahal kita semua telah 
berkomitmen membangun Aceh baru yang damai dan aman dibawah tuntunan Syariat 
Islam," tambahnya.
  Bukankah dalam Islam sudah disebutkan bahwa orang yang saling memaafkan atas 
kesalahan masa lalu itu lebih besar pahalanya disisi Allah SWT, jelasnya.
  Menurut Faisal, yang paling penting dilakukan pemerintah dan elemen 
masyarakat adalah bagaimana memperhatikan keluarga korban konflik, misalnya 
terhadap anak yatim sehingga dapat memperoleh pendidikan yang layak dan 
kehidupan ekonominya tertanggulangi.
  "Sebenarnya perhatian terhadap korban konflik, memberikan perlindungan kepada 
anak yatim yang ditinggalkan orangtuanya akibat konflik bersenjata itu harus 
menjadi pemikiran pegiat reformasi, pemerintah dan legislatif, bukan masalah 
yang dikemudian hari menimbulkan rasa dendam," kata dia.
  Di pihak lain, Faisal Aly yang juga Ketua Rabithah Thaliban Aceh (RTA) juga 
mengimbau masyarakat agar tidak terpedaya dengan tipuan asing.
  "Mari kita tingkatkan ukhwah Islamiah sesama umat Islam. Jangan terpengaruh 
pihak asing yang jelas-jelas menginginkan umat ini terpecah-pecah dengan 
praktek adu dombanya," kata dia.(Antara/N-1)

  

         

 
---------------------------------
Never miss an email again!
Yahoo! Toolbar alerts you the instant new Mail arrives. Check it out.

Kirim email ke