KBS (BERAHIM KAB BUSOU) NYANG PAIH CIT KA BI LAPORAN
BAK MA KEUH MENYO MANTONG HUDEP, SEBAB
KAPIKE KAH URENG HAYEE DAN HAN
KAPATEH NYANG RAKAN PEUGAH
NYAN COK  LIEH MA KEUH.....
PREH KEUH SABOH-SABOH
JIPEUHABEH
 
 
Versi KPA Sementara itu, Juru Bicara Komite Peralihan Aceh (KPA) Ibrahim bin 
Syamsuddin alias Ibrahim KBS menyatakan, polisi telah melanggar hukum dan 
bertindak berlebihan dalam kasus tewasnya Hamdani Sulaiman. Sebab, setelah 
menembak kaki Hamdani, polisi juga memuntahkan kembali timah panas ke bagian 
perutnya, hingga Hamdani tewas di tempat. Tak hanya itu, kata Syamsuddin, 
polisi juga mengumpulkan seluruh warga Desa Pulo Masjid dan diperintahkan 
tiarap, termasuk kaum wanita. Bahkan, menurut KBS, ada wanita yang 
ditelanjangi. Terkait kasus ini kami mengutuk penembakan dan tindakan polisi 
yang telah melanggar hukum dan sangat berlebihan-lebihan, kata KBS melalui SMS 
yang dikirim kepada wartawan, sore kemarin. Menurut KBS, penembakan Hamdani 
terjadi Kamis (22/11) sekitar pukul 01.30 WIB di Desa Pulo Mesjid Truseb, 
Kecamatan Tiro, Pidie. Saat itu, warga desa sedang berkumpul di sebuah rumah 
untuk mempersiapkan pesta perkawinan. Tiba-tiba, muncul delapan mobil yang 
ditumpangi lebih dari 40 polisi berpakaian dinas dan preman. Mereka mengepung 
rumah itu dan menembak Hamdani di kaki. Tak cukup dengan itu, belakangan 
Hamdani ditembak di perut dan tewas di tempat. Polisi kemudian mengumpulkan 
warga, termasuk kaum wanita, untuk disuruh tiarap. Pengakuan warga ada wanita 
yang ditelanjangi, kata Jubir KPA ini. Menurutnya, polisi tak menemukan apa pun 
dalam penggerebekan itu. Tentang adanya temuan HP, KBS malah menuding bahwa 
polisi mengambil tiga HP milik warga dan menangkap Fakruddin (24). Sampai saat 
ini pihak keluarga tidak mengetahui keberadaan Fakhruddin, walaupun sudah 
dicari ke beberapa Polsek dan Polres Pidie. Rasanya kami kehabisan suara 
menyerukan polisi untuk menghentikan tindakan militeristik dalam penegakan 
hukum. Polisi jangan lagi mempertontonkan sikap arogansi ketika menghadapi 
masyarakat. Cukup sudah nyawa rakyat melayang di ujung senjata, katanya. 
Terkait kasus itu, KBS berharap agar para petinggi Polri dapat mengevaluasi 
jajarannya. Sebab, menurut dia, kasus tersebut kembali memproklamirkan bahwa 
polisi bukanlah pengayom masyarakat, melainkan penebar teror. Rakyat Aceh tidak 
butuh monster polisi, tapi butuh polisi rakyat, timpalnya. Jubir KPA ini 
berpendapat, bilapun polisi marah karena belum berhasil meminimalisasi 
kejahatan dan memenuhi target pimpinan, polisi tak perlu melakukan tindakan 
seperti gorombolan bersenjata. Polisi, sambungnya, berbeda dengan kelompok 
kriminal karena polisi dididik untuk menegakkan hukum dan dibayar dengan uang 
rakyat. Kami menuntut investigasi lengkap terhadap kasus ini. Siapa pun yang 
terlibat harus dihukum. Ada banyak kasus yang sama telah terjadi sejak 
perdamaian, tapi sampai kini tak satu pun sampai ke pengadilan. Bila kemudian 
kasus ini tidak sampai ke pengadilan, jangan salahkan rakyat bila makin tak 
patuh pada hukum, demikian Ibrahim KBS. Tukang ojek Dari Pidie juga dilaporkan 
bahwa M Shaleh Majid (40), warga Desa Mali Masjid, Kecamatan Sakti, Pidie 
ditemukan telah menjadi mayat, Kamis (22/11) sekitar pukul 06.00 WIB di kebun 
Cot Arang, Desa Blang Dot, Kecamatan Tangse, Pidie. Pria yang berprofesi 
sebagai tukang ojek itu, diduga dibunuh oleh penumpang yang berjumlah dua orang 
saat mengantar mereka ke Tangse. Kapolres Pidie, AKBP Dedy Setyo Yudo Pranoto 
SSTmK, melalui Kasat Reskrim Polres Pidie, Sudarmin SIK, kepada Serambi kemarin 
mengatakan, polisi sudah menangani kasus ini, sembari mengejar pelaku yang 
jumlahnya dua orang. Salah satu pelaku sudah kita kantongi indetitasnya, ungkap 
Sudarmin. (nr/saf) 
_________________________________________________________________
Funderar du på Paris? 
http://search.live.com/results.aspx?q=Paris+reseguide&form=QBRE 

Kirim email ke