BANDA ACEH - Dana pembangunan                                 kembali Aceh 
pascatsunami dilaporkan terjadi                                 penciutan cukup 
signifkan akibat dikorupsi secara                                 massal. 
Nilainya dilaporkan tidak                                 tanggung-tanggung, 
mencapai 500 juta dolar AS atau                                 sekitar Rp 4,5 
triliun. Informasi terjadinya                                 korupsi dana 
tsunami Aceh diungkap oleh Frank                                 Montil, mantan 
Wakil Direktur Investigasi PBB yang                                 juga 
seorang pejabat Badan Intelijen Australia                                 
(Australian Security Intelligence                                 
Organization-ASIO). Menurut Montil, terjadinya                                 
kasus korupsi ini tidak lepas akibat kegagalan tim                              
   anti-korupsi badan dunia   tersebut.</FONT></DIV><BR>                    
            <DIV align=justify><FONT face=Verdana                               
  color=#000000 size=2>Montil yang selama satu                                 
dekade sempat menjadi Wakil Direktur Unit Pengawas                              
   Internal PBB untuk menyelidiki setiap dugaan                                 
adanya korupsi di tubuh PBB atau lembaga-lembaga                                
 di bawahnya, seperti WHO, ILO atau lainnya.                                 
<BR><BR>Dia mengatakan, PBB tidak mengambil hikmah                              
   dari kegagalan pembangunan kembali Irak                                 
pascaperang (minyak untuk pangan), di mana                                 
sejumlah pejabat PBB terlibat di dalamnya.                                 
<BR><BR>Montil menegaskan indikasi awal korupsi                                 
sudah mulai terlihat sejak bantuan masa                                 
tanggap-darurat untuk Aceh, tetapi PBB sepertinya      
                           mengabaikan berbagai peringatan. <BR><BR>Montil      
                           pernah dikirim ke Aceh, seiring derasnya bantuan     
                            dunia ke daerah ini. Dia memiliki tugas untuk       
                          menilai tingkat penyelewengan, pemborosan, dan        
                         kesalahan manajemen bantuan karena dana masyarakat     
                            internasional itu menjadi tanggungjawab PBB untuk   
                              disalurkan kepada para korban tsunami.            
                     <BR><BR>Saat Anda berhadapan dengan zona bencana,          
                       peluang penyelewengan selalu ada dan para penipu         
                        berjalan di atasnya. Ini sama seperti memburu           
                      emas, jelas Montil. Bahkan, temuannya yang                
                 dirangkum dalam sebuah laporan selama berkunjung               
                  ke Aceh,
 membuat para pembaca terkejut.                                 
<BR><BR>Bagaiman tidak, dia melaporkan bahwa                                 
terindikasi adanya penyelewengan sebesar 10 persen                              
   dari setiap proyek tsunami, baik yang terlibat                               
  langsung atau tidak, termasuk yang memiliki                                 
pengaruh di kawasan itu. <BR><BR>Bukan itu saja,                                
 katanya, dalam setiap proyek fisik berskala besar,                             
    timnya menemukan bahwa selalu terjadi kolusi                                
 antara pemenang proyek dan pejabat publik.                                 
Sedangkan proyek-proyek yang tidak melibatkan                                 
pemerintah setempat, kolusi juga terjadi antara                                 
kontraktor besar dan sering bermain di belakang                                 
layar. <BR><BR>Dalam laporannya, Montil juga           
                      menyebutkan adanya permainan, seolah-olah                 
                perusahaan pemenang tender mendapatkan proyek                   
              dengan tawaran terendah, padahal sudah diarahkan                  
               untuk menang. Lebih parah lagi, katanya, proyek                  
               itu diberi lagi ke kontraktor yang tidak berhasil                
                 memenangkan tender atau disubkan lagi.                         
        <BR><BR>Lembaga-lembaga pemerintah hanya bisa                           
      melipatgandakan kebutuhannya sampai tiga kali dan                         
        bahkan empat kali saat mendekati lembaga-lembaga                        
         bantuan asing dan badan-badan PBB yang beroperasi                      
           di Aceh dengan tujuan mendapatkan kebutuhan yang                     
            sama, jelas Montil dalam Sidang Umum PBB, seusai                    
             berkunjung ke
 Aceh. <BR><BR>Dia mencontohkan                                 indikasi 
penyelewengan di tubuh pemerintah seperti                                 
melaporkan memperluas ruang kantor sampai dua                                 
bahkan empat kali untuk melipatkangandakan                                 
kebutuhan kantornya, termasuk sepeda motor.                                 
Tetapi, laporan Montil sempat terbengkalai selama                               
  delapan bulan di meja mantan Sekjen PBB, Kofi                                 
Annan. <BR><BR><B>Kasus di Banda Aceh</B>                                 
<BR><BR>Montil juga menduga telah terjadi                                 
penyelewengan dana cukup besar di ibukota Provinsi                              
   Aceh, Banda Aceh. Saya memperkirakan,                                 
penyelewengan dana tsunami di Banda Aceh, antara                                
 80-90 juta dolar AS. Itu belum termasuk setengah                      
           miliar dolar AS yang hilang dikorupsi selama masa                    
             rekonstruksi, ungkapnya. <BR><BR>Sementara itu,                    
             saat media Australia, Sydney Morning Herald                        
         mengkonfirmasi pejabat PBB pada awal Oktober 2007                      
           terhadap laporan Montil, seorang Juru Bicara PBB                     
            menyatakan dana tsunami sudah diaudit. Wakil                        
         Sekjen PBB menyatakan sejumlah dana dan program                        
         tsunami sudah diaudit dan laporan lanjutan tidak                       
          akan berguna lagi, ujar jubir itu.                                 
<BR><BR>Menanggapi hal itu, Montil menilainya                                 
sebagai sebuah bentuk pengabaian yang disengaja                                 
PBB, sama seperti skandal minyak untuk pangan                                 
Irak. <BR><BR>Dari beberapa negara
 yang telah                                 mengalokasikan bantuan untuk 
tsunami, seperti                                 Jerman sebesar 73,5 juta Euro 
pada awal masa                                 tanggap-darurat dalam bentuk 
hibah. Tetapi,                                 bantuan dari negeri Panzer itu 
terus bertambah                                 menjadi 243 juta Euro sampai 
Agustus 2006 lalu dan                                 Inggris 75 juta dolar AS. 
<BR><BR>Dana yang                                 terkumpul di Multi Donor Fund 
(MDF) sebesar 650                                 juta dolar AS. MDF 
mengkoordir dana rekonstruksi                                 Aceh-Nias dari 15 
donor termasuk dari Komisi                                 Eropa, Bank Dunia, 
Bank Pembangunan Asia, Belanda,                                 Inggris, 
Jerman, Denmark, Swedia, Norwegia,                                 Kanada, 
Finlandia, Belgia, Amerika Serikat,                                
 Selandia Baru, dan Irlandia. <BR><BR><B>Tersisa Rp                             
    1,4 triliun</B> <BR><BR>Selain itu, pada awal                               
  bulan ini, Kuntoro Mangunsubroto, Kepala Badan                                
 Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias                                 
menyatakan dana donor internasional yang tersisa                                
 150 juta dolar AS atau sekitar Rp 1,4 triliun.                                 
Tetapi, katanya, beberapa negara juga masih                                 
berkomitmen menambah bantuan, seperti Jerman,                                 
Inggris, dan Belanda. <BR><BR>Perihal pencegahan                                
 korupsi, Kuntoro menyatakan akan melakukan                                 
supervisi dan pengawasan lebih tajam pada setiap                                
 proyek untuk menjaga kualitas proyek. Badan ini                                
 (BRR) akan mengakhiri tugas pada April
 2009 dengan                                 mentargetkan seluruh pembangunan 
akan berakhir                                 November 2008. <BR><BR>Sementara, 
pada pertengahan                                 2005, pemerintah Indonesia 
pernah menyatakan bahwa                                 kebutuhan dana untuk 
rekonstruksi Aceh-Nias                                 mencapai Rp 45 triliun 
untuk masa lima tahun.                                 Sebagian besar dana 
rekonstruksi diplotkan untuk                                 sarana dan 
prasarana fisik, terutama perumahan                                 bagi para 
korban tsunami, yang mencapai ratusan                                 ribu 
unit.(muh/*) <BR></FONT></DIV><BR></LI>

       
---------------------------------
Går det långsamt? Skaffa dig en snabbare bredbandsuppkoppling.
Sök och jämför hos Yahoo! Shopping.

Kirim email ke