http://www.banjarmasinpost.co.id/content/view/11541/309/


      Visi Misi Daerah  


      Rabu, 02-01-2008 | 00:32:09  
      Jika kita menarik sebuah garis lurus yang panjang, maka kecenderungan 
yang terjadi garis akan semakin tidak jelas.

      Visi berasal dari kata vision, artinya Kemampuan untuk melihat terutama 
melihat ke depan (looking ahead) sehingga diperlukan sebuah imaginasi yang 
kuat, halusinasi yang tajam. Oleh karena itu, visi bisa diartikan mimpi (dream) 
karena merupakan tinjauan ke depan (foresight).

      A dream not come true or false, everything will be happen or nothing, 
kiranya kalimat sederhana yang bakal muncul ketika kita membicarakan suatu yang 
akan datang. Namun ketika visi dibuat, bukan berarti meletakkan kita pada 
sebuah terowongan yang gelap, atau kondisi tidak menentu (uncertain conditon). 
Visi dibentuk berdasarkan poin atau faktor pendukung yang dikaji dan 
diperhitungkan sedemikian rupa, sehingga faktor itu benar-benar menjadi penguat 
pencapaian visi.

      Sebuah visi merupakan sasaran tembak, di mana semua orang yang terlibat 
harus memberikan perhatian penuh ke arah titik sasaran itu. Dengan demikian, 
seluruh kemampuan atau kekuatan terhimpun dan terkonsentrasi serta terarah 
kepada sasaran. Artinya, sasaran tembak tidak boleh kabur, tidak jelas. Apalagi 
memiliki banyak titik yang menjadi sasaran, jelas kondisi demikian akan sangat 
membuat ragu tim penembak. Tindakan yang ragu jelas menimbulkan disefisiensi 
kinerja. Atau, tim penembak akan mengarahkan ke sembarang sasaran dengan 
harapan salah satu titik akan kena secara tidak sengaja.

      Sebuah visi dibentuk harus memiliki kejelasan dan ketegasan. Namun 
selanjutnya sasaran yang jelas dan tegas saja pun tidak cukup, jika tidak 
didasarkan kemampuan seperti jarak pandang si penembak. Juga dipengaruhi 
kemampuan atau skill sipenembak yang memadai. Di samping kemampuan peralatan 
atau sarana parasarana yang juga harus memadai.

      Semua itu menjadi suatu rangkaian yang saling mengisi. 1) Visi tegas dan 
jelas, jarak pandang untuk melihat visi tersebut sangat terbatas, juga akhirnya 
mengakibatkan visi itu menjadi tidak jelas terlihat. 2) Visi jelas, jarak 
pandang memadai, namun jika kemampuan si penembak tidak memadai maka juga 
berakibat tidak tepat sasaran (human error). 3) visi jelas, jarak pandang 
memadai, kemampuan SDM penembak juga tidak ada masalah, namun senapan atau 
revolver yang dipergunakan kurang memadai juga pada akhinya tidak mencapai 
sasaran. Begitulah kira-kira visi suatu daerah, dibentuk harus dengan memenuhi 
unsur atau berdasarkan variabel seperti yang dijelaskan di atas.

      Jika kita menarik sebuah garis lurus yang panjang, maka kecenderungan 
yang terjadi garis akan semakin tidak jelas. Terjadi lengkungan atau berbelok 
secara tidak sengaja. Begitu pula jika kita menerima perintah dengan penjelasan 
yang panjang, mengakibatkan menurunnya intensitas ketegasannya. Juga yang 
berkaitan dengan pembentukan sebuah visi dalam rangkaian kalimat yang panjang, 
maka akan berakibat sama: Visi akan menjadi tidak tegas lagi atau kabur, mudah 
terjadi salah dalam menafsirkan atau terjadi multitafsir dan misleading.

      Visi sebaiknya dibentuk seperti sebuah kalimat propaganda yang mudah 
diingat bagi setiap orang, terutama yang berada di seluruh jajaran organisasi 
sebab visi merupakan goal (sasaran). Jangan sampai ada yang tidak hapal pada 
visi, atau sama sekali tidak tahu apa yang menjadi visi daerahnya. Kondisi yang 
sangat fatal ketika sebuah rombongan perjalanan tidak jelas atau kurang tahu 
tujuan, akhirnya singgah di mal dan berbelanja.

      Visi dibentuk dapat berdasarkan keunggulan daerah, sumberdaya (resources) 
yang tersedia terutama sumberdaya alam, sumberdaya manusia dan sumberdaya 
lainnya. Itu menjadi kekuatan untuk mencapai visi tersebut.

      Tidak mungkin kita merencanakan ke Jakarta sementara dana untuk tiket 
saja tidak cukup, waktu tidak tersedia, tidak tahu akan naik apa untuk menuju 
ke sana, tidak tahu akan menginap di mana, makan apa selama di Jakarta, apa 
yang harus dilakukan selama di Jakarta dan lain sebagainya. Oleh karena itu, 
visi dan misi yang dibentuk harus merupakan terjemahan dari kumpulan strategi 
dan langkah operasional yang dapat membangkitkan motivasi.

      Artinya, ada sesuatu yang bersifat stimulan serta diperlukan komitmen 
yang kuat dan kerjasama yang erat di semua level organisasi. Dengan demikian, 
visi dan misi dibuat tidak lagi dipandang hanya sebagai pelengkap administrasi 
pembangunan. Setelah selesai disusun, semua orang juga melupakannya. Atau perlu 
waktu khusus untuk menghapal visi dan misi, namun tidak pernah hapal karena 
sedemikian rumitnya. Penuh sesak dengan kalimat normatif pembangunan namun 
sulit dioperasionalisasi, apalagi diukur.



      Oleh :
      Ismed Setia Bakti
      Pegawai BID Kalsel
     

Kirim email ke