SETAU KAMI OMAR PUTEH YG BUKAN BANGSA ATJÉH DIA BERASAL DARI KETURUNAN INDIA KLÉNG... TIDAK PERCAYA LIHAT ORANG NYA .SEPERTI KATA ORANGTUA RIMUÉNG HANJIBOEH KURÉNG GAJAH HAN JIBOÉH GADENG. DIA TIDAK BOLEH BERSEMBUNYI DI BAWAH WAJAH YG DIBERIKAN OLEH ALLAH SWT. DIA JUGA ADA HUBUNGAN WAJAH DENGAN OM MAKNU LIHAT WAJAH PENJUAL ACEH.... SETELAH PULANG BERLANCONG KE MEKAH DIA SEKARANG SUDAH ADA NAMA TAMBAHAN BAPAH HANJI PKI JAWA. KABAR NYA DIA SESEKALIMASIH MEMAKAI TAHI LANGÉNG DIDAHI NYA, DIA TIDAK DAPAT MEMBUANG ADAT-ADAT BUDHA DAN HINDU NYA MUNGKINBJUGA DIA MASIH MENYEMBAH SYETAN SEPERTI NENEK-NENEK NYA LIHAT DIBAWAH INI...
I. Pendahuluan Perkembangan kebudayaan di pulau Sumatra tidak terlepas dari pengaruh kebudayaan India. Yang masuk ke Langsa dan Berbagai kelompok masyarakat dari anak benua India telah datang ke Sumatra sejak masa pra-sejarah. Karena itu, seperti dikatakan Duta Besar India, HK Singh untuk Indonesia, Rakyat India dan Indonesia memiliki ikatan batin yang kuat. Sebab, mereka saling mempengaruhi dalam aneka ragam bidang kehidupan, baik kepercayaan, ideologi keagamaan, kebudayaan, kesenian, bahasa maupun filsafat. Hal ini diawali dengan adanya hubungan wilayah-wilayah yang dihuni orang Melayu dengan India (terutama India Selatan) sejak masa Hindu, kemudian Budha, dan akhirnya Islam tidak pernah putus baik dagang maupun budaya. Sejak abad ke-13 M, sebagian India selatan (terutama malabar) sudah memeluk agama islam dan bermazhab sama dengan orang melayu, yaitu mazhab Syafei. Tidak hanya Islam, menurut dosen arkeologi UI Agus Aris Munandar, Indonesia mewarisi Hinduisme, Buddhisme, bahkan Islam, dari India. Warisan agama-agama ini masih tersisa di beberapa tempat di Sumatera. Selain itu di beberapa tempat, tampak sisa-sisa keturunan dan kebudayaan masyarakat India yang telah berbaur dengan masyarakat di Sumatra. Dengan apa yang diuraikan di muka, saya berusaha menerangkan pengaruh kebudayaan asal India, khususnya India Selatan yang banyak berkembang di pulau Sumatra. Karena, teringat kembali pada kata-kata Prof.Veth kira-kira satu abad yang lalu. Ia mengatakan bahwa,kita tidak usah selalu saja berfikir bahwa arus pengaruh kebudayaan Hindu itu harus datang dari pulau Jawa. Hal ini saya anggap penting karena sering dilupakan orang. Semenjak munculnya kudayaan Hindu Jawa-Bali,semua perhatian banyak tertuju ke sana. Hampir terlupakan sebuah penetrasi lain yang berasal dari India Selatan. Masuk melalui suatu kota pelabuhan di Sumatra Utara yang dulu mungkin merupakan salah satu kota dagang tertua, terbesar dan paling internasional dibandingkan dengan kota pelabuhan lain di Nusantara. II. PEMBAHASAN a.Bahasa Sejak abad ke-4 dan ke-5, pengaruh budaya India menjadi semakin jelas. Bahasa Sansekerta digunakan dalam berbagai prasasti. Namun sejak abad ke-7, huruf India semakin sering dipergunakan untuk menulis bahasa-bahasa setempat yang kini sudah mengandung banyak kata pinjaman bukan saja dari bahasa Sansekerta, tetapi juga dari berbagai prakrit dan bahasa-bahasa Dravida. Sampai saat ini, kitab-kitab aksara yang masih sering di gunakan di masyarakat, Lampung,dan Batak berasal dari aksara Pallava yang di terima oleh nenek moyang kita dari hasil berinteraksi dengan pendatang dari india yang dinasionalisasikan. Beberapa ahli berpendapat bahwa orang Batak Karo (marga besar Sembiring) dianggap sebagai keturunan Tamil yang hingga sekarang paling banyak memperlihatkan pengaruh kebudayaan dari india Selatan itu. Banyak nama marga atau sub-marga rumpun Sembiring seperti Pandia,Meliala,dan Cholia berasal dari bahasa Tamil. Selain itu, Pengaruh kebudayaan ini (terutama bahasanya) juga melebar di Minangkabau dan beberapa daerah di bagian tengah pulau sumatra. Menurut seorang ahli bahasa Prof.Van Ronkel,kata-kata seperti,gudang,kuli,suasa,kodi,kolam,peti, niaga,bedil,dan tembaga,berasal dari Tamil. Begitu juga kata-kata sehari-hari seperti marapulai,kuli,pualam,cemeti,jodoh,gundu,badai,kolam,belenggu,dahaga,kanji, mahligai,maupun nama kue-kue lezat khas minang seperti talam,onde-onde,apam,dan serabi. b.Kesenian Mendu atau mungkin asalnya bernama main hindu adalah jenis teater tradisional melayu,karena lahirnya diilhami oleh wayang farsi yang dibawa mula-mula oleh orang India ke jajahan Ingris di Penang dan Singapura dalam kurun 1870-an. Mula-mula wayang farsi memakai bahasa india (Gargi,1962:154-161). Mendu membawakan cerita dari Persia dan Timur Tengah lainnya, yang ceritanya seperti Hikayat Dewa Mendu, dipenggal menjadi delapan episode yang tamat kurang-lebih dua bulan. Meskipun cerita yang dibawakan masih cerita dewa-dewa pengaruh hindu, sedah ditutupi oleh pengaruh islam dengan pemimpin permainan yang disebut syekh. Mendu juga populer di Riau sampai sekarang dan di Sumatra Timur pada awal abad ke-20. Semua teater tradisional itu bertemakan: 1.Pengalaman seorang pangeran yang mengalami penderitaan dan akhirnya dengan bantuan pihak ketiga (jin atau dewa) berhasil mencapai kemenangan dan memperoleh putri yang cantik sebagai istri. 2.Benturan antara baik dan buruk dengan kemenangan pada pihak yang baik. 3.mengekalkan tatanan sosial istana dan para bangsawan selaku pelindung rakyat dan sebagai panutan peradaban serta tradisi. Dari Mendu ini, dengan pengaruh barat (opera) lahir teater yang bersifat peralihan ke teater modern,yaitu Bangsawan. Di Palembang, Jambi dan Kalimantan teater ini lebih populer dengan nama Dul Muluk. Bangsawan sudah berbentuk dua dimensi, sudah berpanggung dan berlayar banyak dan diiringi pemain-pemain musik. Berbeda dengan struktur indianisasi Jawa-Bali, tipologi peran dalam rumpun Sumatra lebih berdasarkan jenis makhluk dan kedudukan (raja,mentri,jin, putri,dll), sedangkan pada rumpun Jawa-Bali menekankan pada watak manusia. Berbagai raga musik India Selatan juga berpengaruh pada lagu senandung Melayu. Seperti musik Pesta Boria yang memperingati terbunuhnya cucu Nabi yaitu Hasan dan Husin di padang Korbala. Lalu, Calti yang kini populer disebut Pop Melayu (dangdut) yang juga menyebar ke seluruh penjuru indonesia, merupakan hasil perpaduan antara dua budaya itu. c. Makanan Salah satu contoh masakan khas sumatra yang merupakan makanan yang dipengaruhi oleh india ialah masakan Rendang Daging. Pada masakan ini, digunakan bumbu ketumbar,bawang putih,bawang merah,cabe merah,jahe,laos,kunyit,serai,daun salam, asam,kunyit,dll. Racikan bumbu-bumbu tersebut,merupakan pengaruh cara memasak dari india. Seperti yang dikatakan oleh Prof. Dr. Ir. Murdijati Gardjito, dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM).Pengaruh India dapat dilihat dari penggunaan jinten, kunyit, ketumbar, dan jahe. kata Prof. Dr. Ir. Murdijati Gardjito, dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM). d. Adat-Istiadat dan Kebiasaan Begitu pula dengan pengaruhnya terhadap adat-istiadat di beberapa daerah di Sumatra. Contohnya pada rumpun Borbor, di daerah Toba atau Dairi. Mereka memilki adat membakar mayat dan menghanyutkan sebagian dari tulang-tulang di sungai. Menurut Joustra itupum juga merupakan kebiasaan marga Sembiring yang berasal dari bangsa Tamil. Dalam cerita-cerita mitologi Batak, beberapa kebiasaaan dan adat Batak, kalender mereka, malah permainan caur, dianggap berasal dari kebudayaan yang sama. III. PENUTUP Berbagai kebudayaan dari India telah banyak masuk dan menyerap ke berbagai sendi kehidupan masyarakat Sumatra. Sistem kepercayaan,adat-istiadat pun bercampur baur antara yang murni masyarakat setempat dengan asal India. Banyak hal di daerah sumatra, terutama di Sumatra Barat dan Utara yang mencerminkan pengaruh India yang sangat kuat. Selain itu di beberapa tempat, tampak sisa-sisa keturunan masyarakat India yang telah berbaur dengan masyarakat di sana. Nama-nama keluarga (marga) di kalangan masyarakat Sumatra, berasal dari nama-nama India, hal ini menunjukkan adanya warisan percampuran antara kedua budaya tersebut . Maka Lipaya masih ada hubunga denga syetan WAJAH NYA SEPERTI ORANG BERSIHIR. --- Ahmad Sudirman <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > http://www.dataphone.se/~ahmad > [EMAIL PROTECTED] > > Stavanger, 31 Desember 2007 > > Bismillaahirrahmaanirrahiim. > Assalamu'alaikum wr wbr. > > > > ACHÈH SEBAGAI SEBUAH BANGSA DAN ACHÈH SEBAGAI > NASIONALISMENYA! > Omar Puteh > Stavanger - NORWEGIA. > > > > SEKILAS MENYOROT ACHÈH SEBAGAI SEBUAH BANGSA DAN > ACHÈH SEBAGAI NASIONALISMENYA! > > Catatan: > Rencana Bapak Gubernur Irwandi Yusuf mengajurkan > kurikulum bahasa Achèh di seluruh sekolah-sekolah di > Achèh adalah sangat disanjung atau dialu-alukan! > Apakah salahnya kita belajar bahasa Achèh? > Mengapakah tidak dikatakan ada salahnya kalau kita > belajar bahasa Inggris atau Perancis? > ........ > > Orang Pidië bukan sebagai orang Achèh kalau melihat > pada asal namanya: Pidië (Pidir), karena itu sebuah > nama bawaan dari sebuah perkampungan di India! > > Tetapi mereka akan langsung marah-melatah kalau > sempat dikatakan sedemikian rupa. > Kèë Achèh! Pakôn ka(h) peugah kèë kôn Achèh? > Demikianlah kira-kira agaknya respon yang masih > manis(?), sekalipun tercuat kesinisannya. > > Tetapi sebenarnya kalau juga dikatakan orang Pidië > itu bukan orang Achèh, yah itu adalah dikarenakan > kesalahan mereka juga. Mengapakah mereka masih > menuliskan Wilayah (Kabupaten) mereka sebagai > Wilayah (Kabupaten) Pidië, tetapi belum lagi > menuliskan nama wilayah mereka sebagai Wilayah > (Kabupaten) Achèh Pidië? > > Nah, ini akan menjadi salah satu tugas paling > penting dari "Bapak Gubernur" Irwandi Yusuf agar > segera menepung tawari Wilayah (Kabuten) Pidië > sebagai Wilayah (Kabupaten) Achèh Pidië! > > Yang sekalipun sudah jelas-jelas terbaca sejarahnya > bahwa, orang Pidië itu berasal dari India, tetapi > meraka akan tetap bersitegang untuk mengatakan diri > mereka (orang Pidië) sebagai Achèh dan tidak lagi > sebagai orang Pidië-India, seterusnya sampai ke hari > kiamat, kecuali cukup dengan orang (Achèh) Pidië > saja, karena mereka telah lama dan telah banyak > berbauran dengan orang awal dan kemudian dengan > orang berbilang etnis luar lainnya! Apalagi kalau > mengenangi kembali akan tapak nostalgia asal kata > Pidië itu, yang dulunya adalah hanya sebuah areal > pekan kecil di Kota Sigli. > > Siapa orang awal di Pidië, sebelum kedatangan khusus > orang Pidië dari India itu? > > Sultan Iskandar Muda Meukuta Alam-pun, Sultan > Kerajaan (Negara) Achèh yang memerintah dari > 1617-1641 adalah orang Pidië! Tetapi kemudian > beliau terkenal sebagai symbol keagungan bangsa > Achèh dan nasionalisme-nya. > > Suatu hal yang lain dan agak berbeda keanehannya > datang dari orang-orang tempatan di Pulau Jawa > (kini) yang datangnya lebih awal (dari mana > datangnya ya?) dan orang-orang Jawa, yang berasal > dari India (dulu) yang datang kemudiannya, tetapi > telah ikut menamakan diri kedua rumpun itu, sebagai > orang-orang (masyarakat) Jawa, sesuai dengan nama > yang diberikan oleh mereka, dari rumpun yang berasal > dari India (dulu) itu. > > Jawa (Java) artinya emas. Pulau Jawa artinya Pulau > Emas, Pulau mas Jawa! > > Tetapi orang-orang (masyarakat) Jawa ini, kemudian > dengan kerasnya telah menolak, untuk menerima sebuah > nama sceintific anugrah dari para archiologist > sebagai Javaman. > > Karena nama sceintific ini, berunsur ganda: Yang > pertama berunsur pure scientifik dan yang kedua > berunsur politis, yang bisa mengkamoflasekan unsur > historikal: Yang mengatakan bahwa, Jawa yang > sekarang ini sebagai hasil pembauran antara > orang-orang asal Jawa datang lebih awal (dari mana > datangnya yo mas?) dengan orang-orang yang datang > kemudian dari India (dulu). > > Menerima nama Javaman, yang hanya berunsur pure > sceintifik: Javaman, berarti telah menerima sebutan > sebagai bermoyangkan keturunan dari orang-orang asal > temuan Eugine Dubois atau von Koningvald, yang > Mojokertois atau Solois, walaupun dalam konteks yang > berunsur politis telah selalu diagung-agungkan oleh > Soekarno dan Suharto atau orang-orang (masyarakat) > sekuturunan sceintifik itu, yang seketurunan dengan > Darwin dan si kera Hanoman. > > Manusia asal yang akan memerintah Nusantara?! > Deutchland uber alles! > Manusia seketurunan dengan Rima Gulam Pawôn @ Rima > Buya Laôt @ Alauddin Ziyadovich Umarov yang > atheis-komunis yang akan menggugat sejarah dari > Halleførs, Fitya, Norsborg, Swedia? > > Tahun 645 M. I Tsing, pengembara dari negeri China > telah melihat orang-orang (masyarakat) di Pulau Jawa > di tahun itu, sebagai orang-orang (masyarakat) Jawa! > Dan orang-orang (masyarakat) di Pulau Sumatra > sebagai orang-orang (masyarakat) Melayu. > > Tahun 1995 M. Prof Dr Noercholis Madjid, pengembara > dari Pulau Jawa terlihat di Seminar Melayu Antara > Bangsa di Hotel Hilton, Shah Alam, Malaysia, masih > sebagai orang Jawa yang masih sanggup mengatakan > perasaan ke-Melayu-an dalam dirinya dan dalam diri > orang-orang (masyarakat) Jawa, di pulau Jawa baru > sedikit sekali tersemi, walaupun telah dipohonkan > oleh Prof Dr Siddiq Fadhil, seorang Melayu, > Malaysia, yang dulunya juga pengembara dari > Ponorogo, Jawa, agar Prof Dr Noercholis Madjid, > sebagai "duta" orang-orang (masyarakat) Jawa segera > berorintasi ke Melayu dan bertukar menjadi Melayu. > > Nah, Abu Takengon bisa tanyakan kepada rakan saya > Yusra Habib Abdul Gani atau bisa menjumpai Dr > Hasballah Saat, mantan Menteri HAM dalam Kabinet > Gusdur Abdurrahman Wahid, bagaimana sesungguhnya > gambaran struktur sosial-kultural orang-orang > (masyarakat) Jawa sekarang ini, jika menoleh > kesejarah asal-muasal struktur sosial-kultural dari > mereka yang hadir di seminar itu, atau jika kita > menjeling ke pernyataan Prof Dr Noercholis Madjid si > "duta" orang-orang (masyarakat) Jawa itu, orang yang > dikirim Suharto ketika itu. > > Sebentar datang pertanyaan: Dari manakah asal-muasal > orang-orang yang telah mendiami awal Pulau Jawa, > sebelum kedatangan ribuan pendatang dari India > (dulu) itu? Kalau dari Gunung Kidul? Tidak! Siapa > yang melempar mereka kesana? Dari Gunung Bromo? Juga > tidak! Rima Gulam Pawôn @ Rima Buya Laôt @ > Alimuddin Ziyadovich Umarov juga tidak pernah > melemparkan mereka kesana. Sedangkan mereka > orang-orang (masyarakat) Jawa disana, di Pulau Jawa, > sebagaimana telah dikatakan diatas, telah menolak > menerima diri mereka untuk dikatakan sebagai hasil > keturunan atau yang seketurunan dengan Darwin atau > si kera Hanoman, seketurunan dengan Rima Gulam Pawôn > @ Rima Buya Laôt @ Alauddin Ziyadovich Umarov yang > atheis-komunis yang akan menggugat sejarah dari > Halleførs, Fitya, Norsborg, Swedia? > > Itulah sebabnya orang Jawa yang berunsur historikal > hanya mau dituliskan nama Jawa dalam bahasa Inggeris > sebagai: Javanese atau Jawanese tetapi tidak sebagai > Javaman atau Javamen, untuk menepik agar tidak > dikaitkan dengan nama sceintific itu! > > Itulah juga sebabnya mungkin Wage Rudolf Supratman > (yang telah memilih Katholik sebagai agamanya, sama > Katholiknya, seperti pilihan yang dianut oleh R. A. > Kartini) anak seorang KNIL Belanda dari satuan Korps > Musik, yang ketika tinggal ditangsi KNIL Belanda di > Makassar, telah menciptakan lagu "Indonesia Raya", > hasil sebuah gubahan dari sebuah lagu hula-hula dari > USA, menuliskan kata Indonesia sebagai "Indones" > saja kedalam teks lagu aslinya, mengikut > karakteristik semangat guratan Javanese atau > Jawanese, walaupun kemudian telah ditukar ganti oleh > anak-anak Jawa Komunis, pelopor Soempah Pemoeda 28 > Oktober, 1928, sebagai Indonesia, bersesuaian nama > kepartaian mereka Partai Komunis Indonesia (PKI) > yang didirikan ditahun 1924 itu, selain mereka > menukarkan juga teks lain: Indonesia Mulia menjadi > Indonesia Merdeka. > > Mengikut pengamatan J.S. Pilliang, Soempah Pemoeda > 28 Oktober, 1928, teranggap sebagai sumpah sampah, > karena sumpah pemuda itu, tampa nasionalisme, tampa > semangat kebangsaan. Karena semangat kebangsaan atau > nasionalisme Indonesia baru bercambah diantara tahun > 1945 - 1949, puluhan tahun kemudian. > > Sebegitupun bangsa Jawa sejak beribu tahun lalu, > walaupun telah menolak disebut sebagai Javamen, > namun tidak pernahpun memperdulikan prihal kehidupan > kebangsaan Jawanya atau nasionalisme Jawanya, > sekalipun. ____________________________________________________________________________________ Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now. http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ
