Omar Putéh menulis: Tidak mengapa. Tapi yang mengherankan mengapakah kamu, 
dengan email:Bias Agam/"Merdeka": 2002 dan 2007 yang badannya besar macam badak 
Jawa, kulit itam macam babi hutan, berjalan membungkuk dengan lekuk hidup 
anjlok kedalam macam gorilla dari Kenya, tetapi selalu membahasakan diri 
sebagai babi peliharaan, sehingga dipanggil orang kini sebagai  bangsa babi 
pelihararaan. Dan dalam versi lain mebahasakan diri email: Paya Bujok, dengan 
membahsakan diri sebagai biawak, sehingga kamu dipanggil orang kini sebagai 
bangsa Biawak.  
   
  Hormatilah diri kedua orang tuamu, jangan dikira orang seperti anak yang 
keluar dari pokok pisang.  Cukuplah si Alauddin Ziyadovich Umarov seorang yang 
mengatakan dirinya terlahir karena kehendak alam.
   
  Bertaubatlah kamu dari membahasakan dirimu sebagai bangsa babi peliharaan dan 
sebagai bangsa biawak, walaupun kamu di Halleførs, Fitya, Norsborg, Swedia, 
telah diketahui oleh seluruh bangsa Achèh di Achèh, di Skandinavia, di 
Findlandia, di Belanda, di Jerman, di Canada, di USA,di Australia, di New 
Zealand, di Malysia dan di Indonesia sebagi orang yang lari dari tugas National 
Service, sebagai orang Kayoë!

BIAS AGAM <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          
SETAU KAMI OMAR PUTEH YG BUKAN BANGSA ATJÉH
DIA BERASAL DARI KETURUNAN INDIA KLÉNG...
TIDAK PERCAYA LIHAT ORANG NYA .SEPERTI KATA
ORANGTUA RIMUÉNG HANJIBOEH KURÉNG GAJAH HAN
JIBOÉH GADENG. DIA TIDAK BOLEH BERSEMBUNYI
DI BAWAH WAJAH YG DIBERIKAN OLEH ALLAH SWT.
DIA JUGA ADA HUBUNGAN WAJAH DENGAN OM MAKNU
LIHAT WAJAH PENJUAL ACEH....
SETELAH PULANG BERLANCONG KE MEKAH DIA SEKARANG
SUDAH ADA NAMA TAMBAHAN BAPAH HANJI PKI JAWA.
KABAR NYA DIA SESEKALIMASIH MEMAKAI TAHI LANGÉNG
DIDAHI NYA, DIA TIDAK DAPAT MEMBUANG ADAT-ADAT
BUDHA DAN HINDU NYA MUNGKINBJUGA DIA MASIH MENYEMBAH
SYETAN SEPERTI NENEK-NENEK NYA LIHAT DIBAWAH INI...

I. Pendahuluan

Perkembangan kebudayaan di pulau Sumatra tidak
terlepas dari pengaruh kebudayaan India. Yang masuk ke
Langsa dan Berbagai kelompok masyarakat dari anak
benua India telah datang ke Sumatra sejak masa
pra-sejarah. Karena itu, seperti dikatakan Duta Besar
India, HK Singh untuk Indonesia, “Rakyat India dan
Indonesia memiliki ikatan batin yang kuat. Sebab,
mereka saling mempengaruhi dalam aneka ragam bidang
kehidupan, baik kepercayaan, ideologi keagamaan,
kebudayaan, kesenian, bahasa maupun filsafat.” Hal ini
diawali dengan adanya hubungan wilayah-wilayah yang
dihuni orang Melayu dengan India (terutama India
Selatan) sejak masa Hindu, kemudian Budha, dan
akhirnya Islam tidak pernah putus baik dagang maupun
budaya. Sejak abad ke-13 M, sebagian India selatan
(terutama malabar) sudah memeluk agama islam dan
bermazhab sama dengan orang melayu, yaitu mazhab
Syafei. Tidak hanya Islam, menurut dosen arkeologi UI
Agus Aris Munandar, “Indonesia mewarisi Hinduisme,
Buddhisme, bahkan Islam, dari India.” Warisan
agama-agama ini masih tersisa di beberapa tempat di
Sumatera. Selain itu di beberapa tempat, tampak
sisa-sisa keturunan dan kebudayaan masyarakat India
yang telah berbaur dengan masyarakat di Sumatra.

Dengan apa yang diuraikan di muka, saya berusaha
menerangkan pengaruh kebudayaan asal India, khususnya
India Selatan yang banyak berkembang di pulau Sumatra.
Karena, teringat kembali pada kata-kata Prof.Veth
kira-kira satu abad yang lalu. Ia mengatakan
bahwa,”kita tidak usah selalu saja berfikir bahwa arus
pengaruh kebudayaan Hindu itu harus datang dari pulau
Jawa”. Hal ini saya anggap penting karena sering
dilupakan orang. Semenjak munculnya kudayaan Hindu
Jawa-Bali,semua perhatian banyak tertuju ke sana.
Hampir terlupakan sebuah penetrasi lain yang berasal
dari India Selatan. Masuk melalui suatu kota pelabuhan
di Sumatra Utara yang dulu mungkin merupakan salah
satu kota dagang tertua, terbesar dan paling
internasional dibandingkan dengan kota pelabuhan lain
di Nusantara.

II. PEMBAHASAN

a.Bahasa

Sejak abad ke-4 dan ke-5, pengaruh budaya India
menjadi semakin jelas. Bahasa Sansekerta digunakan
dalam berbagai prasasti. Namun sejak abad ke-7, huruf
India semakin sering dipergunakan untuk menulis
bahasa-bahasa setempat yang kini sudah mengandung
banyak kata pinjaman bukan saja dari bahasa
Sansekerta, tetapi juga dari berbagai prakrit dan
bahasa-bahasa Dravida.
Sampai saat ini, kitab-kitab aksara yang masih sering
di gunakan di masyarakat, Lampung,dan Batak berasal
dari aksara Pallava yang di terima oleh nenek moyang
kita dari hasil berinteraksi dengan pendatang dari
india yang dinasionalisasikan. Beberapa ahli
berpendapat bahwa orang Batak Karo (marga besar
Sembiring) dianggap sebagai keturunan Tamil yang
hingga sekarang paling banyak memperlihatkan pengaruh
kebudayaan dari india Selatan itu. Banyak nama marga
atau sub-marga rumpun Sembiring seperti
Pandia,Meliala,dan Cholia berasal dari bahasa Tamil.

Selain itu, Pengaruh kebudayaan ini (terutama
bahasanya) juga melebar di Minangkabau dan beberapa
daerah di bagian tengah pulau sumatra. Menurut seorang
ahli bahasa Prof.Van Ronkel,kata-kata
seperti,gudang,kuli,suasa,kodi,kolam,peti,
niaga,bedil,dan tembaga,berasal dari Tamil. Begitu
juga kata-kata sehari-hari seperti
marapulai,kuli,pualam,cemeti,jodoh,gundu,badai,kolam,belenggu,dahaga,kanji,
mahligai,maupun nama kue-kue lezat khas minang seperti
talam,onde-onde,apam,dan serabi. 

b.Kesenian

Mendu atau mungkin asalnya bernama main hindu adalah
jenis teater tradisional melayu,karena lahirnya
diilhami oleh wayang farsi yang dibawa mula-mula oleh
orang India ke jajahan Ingris di Penang dan Singapura
dalam kurun 1870-an. Mula-mula wayang farsi memakai
bahasa india (Gargi,1962:154-161). Mendu membawakan
cerita dari Persia dan Timur Tengah lainnya, yang
ceritanya seperti Hikayat Dewa Mendu, dipenggal
menjadi delapan episode yang tamat kurang-lebih dua
bulan. Meskipun cerita yang dibawakan masih cerita
dewa-dewa pengaruh hindu, sedah ditutupi oleh pengaruh
islam dengan pemimpin permainan yang disebut syekh.
Mendu juga populer di Riau sampai sekarang dan di
Sumatra Timur pada awal abad ke-20. Semua teater
tradisional itu bertemakan:

1.Pengalaman seorang pangeran yang mengalami
penderitaan dan akhirnya dengan bantuan pihak ketiga
(jin atau dewa) berhasil mencapai kemenangan dan
memperoleh putri yang cantik sebagai istri.

2.Benturan antara baik dan buruk dengan kemenangan
pada pihak yang baik.

3.mengekalkan tatanan sosial istana dan para bangsawan
selaku pelindung rakyat dan sebagai panutan peradaban
serta tradisi.

Dari Mendu ini, dengan pengaruh barat (opera) lahir
teater yang bersifat peralihan ke teater modern,yaitu
Bangsawan. Di Palembang, Jambi dan Kalimantan teater
ini lebih populer dengan nama Dul Muluk. Bangsawan
sudah berbentuk dua dimensi, sudah berpanggung dan
berlayar banyak dan diiringi pemain-pemain musik.
Berbeda dengan struktur indianisasi Jawa-Bali,
tipologi peran dalam rumpun Sumatra lebih berdasarkan
jenis makhluk dan kedudukan (raja,mentri,jin,
putri,dll), sedangkan pada rumpun Jawa-Bali menekankan
pada watak manusia.

Berbagai raga musik India Selatan juga berpengaruh
pada lagu senandung Melayu. Seperti musik Pesta Boria
yang memperingati terbunuhnya cucu Nabi yaitu Hasan
dan Husin di padang Korbala. Lalu, Calti yang kini
populer disebut Pop Melayu (dangdut) yang juga
menyebar ke seluruh penjuru indonesia, merupakan hasil
perpaduan antara dua budaya itu.

c. Makanan

Salah satu contoh masakan khas sumatra yang merupakan
makanan yang dipengaruhi oleh india ialah masakan
Rendang Daging. Pada masakan ini, digunakan bumbu
ketumbar,bawang putih,bawang merah,cabe
merah,jahe,laos,kunyit,serai,daun salam,
asam,kunyit,dll. Racikan bumbu-bumbu
tersebut,merupakan pengaruh cara memasak dari india.
Seperti yang dikatakan oleh Prof. Dr. Ir. Murdijati
Gardjito, dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru
Besar Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah
Mada (UGM).“Pengaruh India dapat dilihat dari
penggunaan jinten, kunyit, ketumbar, dan jahe.” kata
Prof. Dr. Ir. Murdijati Gardjito, dalam pidato
pengukuhannya sebagai Guru Besar Fakultas Teknologi
Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM). 

d. Adat-Istiadat dan Kebiasaan

Begitu pula dengan pengaruhnya terhadap adat-istiadat
di beberapa daerah di Sumatra. Contohnya pada rumpun
Borbor, di daerah Toba atau Dairi. Mereka memilki adat
membakar mayat dan menghanyutkan sebagian dari
tulang-tulang di sungai. Menurut Joustra itupum juga
merupakan kebiasaan marga Sembiring yang berasal dari
bangsa Tamil. Dalam cerita-cerita mitologi Batak,
beberapa kebiasaaan dan adat Batak, kalender mereka,
malah permainan caur, dianggap berasal dari kebudayaan
yang sama.

III. PENUTUP

Berbagai kebudayaan dari India telah banyak masuk dan
menyerap ke berbagai sendi kehidupan masyarakat
Sumatra. Sistem kepercayaan,adat-istiadat pun
bercampur baur antara yang murni masyarakat setempat
dengan asal India. Banyak hal di daerah sumatra,
terutama di Sumatra Barat dan Utara yang mencerminkan
pengaruh India yang sangat kuat. Selain itu di
beberapa tempat, tampak sisa-sisa keturunan masyarakat
India yang telah berbaur dengan masyarakat di sana.
Nama-nama keluarga (marga) di kalangan masyarakat
Sumatra, berasal dari nama-nama India, hal ini
menunjukkan adanya warisan percampuran antara kedua
budaya tersebut . Maka Lipaya masih ada hubunga denga
syetan WAJAH NYA SEPERTI ORANG BERSIHIR.


--- Ahmad Sudirman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> http://www.dataphone.se/~ahmad
> [EMAIL PROTECTED]
> 
> Stavanger, 31 Desember 2007
> 
> Bismillaahirrahmaanirrahiim.
> Assalamu'alaikum wr wbr.
> 
> 
> 
> ACHÈH SEBAGAI SEBUAH BANGSA DAN ACHÈH SEBAGAI
> NASIONALISMENYA!
> Omar Puteh
> Stavanger - NORWEGIA.
> 
> 
> 
> SEKILAS MENYOROT ACHÈH SEBAGAI SEBUAH BANGSA DAN
> ACHÈH SEBAGAI NASIONALISMENYA!
> 
> Catatan: 
> Rencana Bapak Gubernur Irwandi Yusuf mengajurkan
> kurikulum bahasa Achèh di seluruh sekolah-sekolah di
> Achèh adalah sangat disanjung atau dialu-alukan!
> Apakah salahnya kita belajar bahasa Achèh?
> Mengapakah tidak dikatakan ada salahnya kalau kita
> belajar bahasa Inggris atau Perancis?
> ........
> 
> Orang Pidië bukan sebagai orang Achèh kalau melihat
> pada asal namanya: Pidië (Pidir), karena itu sebuah
> nama bawaan dari sebuah perkampungan di India! 
> 
> Tetapi mereka akan langsung marah-melatah kalau
> sempat dikatakan sedemikian rupa.
> Kèë Achèh! Pakôn ka(h) peugah kèë kôn Achèh? 
> Demikianlah kira-kira agaknya respon yang masih
> manis(?), sekalipun tercuat kesinisannya. 
> 
> Tetapi sebenarnya kalau juga dikatakan orang Pidië
> itu bukan orang Achèh, yah itu adalah dikarenakan
> kesalahan mereka juga. Mengapakah mereka masih
> menuliskan Wilayah (Kabupaten) mereka sebagai 
> Wilayah (Kabupaten) Pidië, tetapi belum lagi
> menuliskan nama wilayah mereka sebagai Wilayah
> (Kabupaten) Achèh Pidië? 
> 
> Nah, ini akan menjadi salah satu tugas paling
> penting dari "Bapak Gubernur" Irwandi Yusuf agar
> segera menepung tawari Wilayah (Kabuten) Pidië
> sebagai Wilayah (Kabupaten) Achèh Pidië!
> 
> Yang sekalipun sudah jelas-jelas terbaca sejarahnya
> bahwa, orang Pidië itu berasal dari India, tetapi
> meraka akan tetap bersitegang untuk mengatakan diri
> mereka (orang Pidië) sebagai Achèh dan tidak lagi
> sebagai orang Pidië-India, seterusnya sampai ke hari
> kiamat, kecuali cukup dengan orang (Achèh) Pidië
> saja, karena mereka telah lama dan telah banyak
> berbauran dengan orang awal dan kemudian dengan
> orang berbilang etnis luar lainnya! Apalagi kalau
> mengenangi kembali akan tapak nostalgia asal kata
> Pidië itu, yang dulunya adalah hanya sebuah areal
> pekan kecil di Kota Sigli. 
> 
> Siapa orang awal di Pidië, sebelum kedatangan khusus
> orang Pidië dari India itu?
> 
> Sultan Iskandar Muda Meukuta Alam-pun, Sultan
> Kerajaan (Negara) Achèh yang memerintah dari
> 1617-1641 adalah orang Pidië! Tetapi kemudian
> beliau terkenal sebagai symbol keagungan bangsa
> Achèh dan nasionalisme-nya. 
> 
> Suatu hal yang lain dan agak berbeda keanehannya
> datang dari orang-orang tempatan di Pulau Jawa
> (kini) yang datangnya lebih awal (dari mana
> datangnya ya?) dan orang-orang Jawa, yang berasal
> dari India (dulu) yang datang kemudiannya, tetapi
> telah ikut menamakan diri kedua rumpun itu, sebagai
> orang-orang (masyarakat) Jawa, sesuai dengan nama
> yang diberikan oleh mereka, dari rumpun yang berasal
> dari India (dulu) itu.
> 
> Jawa (Java) artinya emas. Pulau Jawa artinya Pulau
> Emas, Pulau mas Jawa!
> 
> Tetapi orang-orang (masyarakat) Jawa ini, kemudian
> dengan kerasnya telah menolak, untuk menerima sebuah
> nama sceintific anugrah dari para archiologist
> sebagai Javaman. 
> 
> Karena nama sceintific ini, berunsur ganda: Yang
> pertama berunsur pure scientifik dan yang kedua
> berunsur politis, yang bisa mengkamoflasekan unsur
> historikal: Yang mengatakan bahwa, Jawa yang
> sekarang ini sebagai hasil pembauran antara
> orang-orang asal Jawa datang lebih awal (dari mana
> datangnya yo mas?) dengan orang-orang yang datang
> kemudian dari India (dulu).
> 
> Menerima nama Javaman, yang hanya berunsur pure
> sceintifik: Javaman, berarti telah menerima sebutan
> sebagai bermoyangkan keturunan dari orang-orang asal
> temuan Eugine Dubois atau von Koningvald, yang
> Mojokertois atau Solois, walaupun dalam konteks yang
> berunsur politis telah selalu diagung-agungkan oleh
> Soekarno dan Suharto atau orang-orang (masyarakat)
> sekuturunan sceintifik itu, yang seketurunan dengan
> Darwin dan si kera Hanoman. 
> 
> Manusia asal yang akan memerintah Nusantara?! 
> Deutchland uber alles! 
> Manusia seketurunan dengan Rima Gulam Pawôn @ Rima
> Buya Laôt @ Alauddin Ziyadovich Umarov yang
> atheis-komunis yang akan menggugat sejarah dari
> Halleførs, Fitya, Norsborg, Swedia?
> 
> Tahun 645 M. I Tsing, pengembara dari negeri China
> telah melihat orang-orang (masyarakat) di Pulau Jawa
> di tahun itu, sebagai orang-orang (masyarakat) Jawa!
> Dan orang-orang (masyarakat) di Pulau Sumatra
> sebagai orang-orang (masyarakat) Melayu.
> 
> Tahun 1995 M. Prof Dr Noercholis Madjid, pengembara
> dari Pulau Jawa terlihat di Seminar Melayu Antara
> Bangsa di Hotel Hilton, Shah Alam, Malaysia, masih
> sebagai orang Jawa yang masih sanggup mengatakan
> perasaan ke-Melayu-an dalam dirinya dan dalam diri
> orang-orang (masyarakat) Jawa, di pulau Jawa baru
> sedikit sekali tersemi, walaupun telah dipohonkan
> oleh Prof Dr Siddiq Fadhil, seorang Melayu,
> Malaysia, yang dulunya juga pengembara dari
> Ponorogo, Jawa, agar Prof Dr Noercholis Madjid,
> sebagai "duta" orang-orang (masyarakat) Jawa segera
> berorintasi ke Melayu dan bertukar menjadi Melayu.
> 
> Nah, Abu Takengon bisa tanyakan kepada rakan saya
> Yusra Habib Abdul Gani atau bisa menjumpai Dr
> Hasballah Saat, mantan Menteri HAM dalam Kabinet
> Gusdur Abdurrahman Wahid, bagaimana sesungguhnya
> gambaran struktur sosial-kultural orang-orang
> (masyarakat) Jawa sekarang ini, jika menoleh
> kesejarah asal-muasal struktur sosial-kultural dari
> mereka yang hadir di seminar itu, atau jika kita
> menjeling ke pernyataan Prof Dr Noercholis Madjid si
> "duta" orang-orang (masyarakat) Jawa itu, orang yang
> dikirim Suharto ketika itu. 
> 
> Sebentar datang pertanyaan: Dari manakah asal-muasal
> orang-orang yang telah mendiami awal Pulau Jawa,
> sebelum kedatangan ribuan pendatang dari India
> (dulu) itu? Kalau dari Gunung Kidul? Tidak! Siapa
> yang melempar mereka kesana? Dari Gunung Bromo? Juga
> tidak! Rima Gulam Pawôn @ Rima Buya Laôt @
> Alimuddin Ziyadovich Umarov juga tidak pernah
> melemparkan mereka kesana. Sedangkan mereka
> orang-orang (masyarakat) Jawa disana, di Pulau Jawa,
> sebagaimana telah dikatakan diatas, telah menolak
> menerima diri mereka untuk dikatakan sebagai hasil
> keturunan atau yang seketurunan dengan Darwin atau
> si kera Hanoman, seketurunan dengan Rima Gulam Pawôn
> @ Rima Buya Laôt @ Alauddin Ziyadovich Umarov yang
> atheis-komunis yang akan menggugat sejarah dari
> Halleførs, Fitya, Norsborg, Swedia?
> 
> Itulah sebabnya orang Jawa yang berunsur historikal
> hanya mau dituliskan nama Jawa dalam bahasa Inggeris
> sebagai: Javanese atau Jawanese tetapi tidak sebagai
> Javaman atau Javamen, untuk menepik agar tidak
> dikaitkan dengan nama sceintific itu!
> 
> Itulah juga sebabnya mungkin Wage Rudolf Supratman
> (yang telah memilih Katholik sebagai agamanya, sama
> Katholiknya, seperti pilihan yang dianut oleh R. A.
> Kartini) anak seorang KNIL Belanda dari satuan Korps
> Musik, yang ketika tinggal ditangsi KNIL Belanda di
> Makassar, telah menciptakan lagu "Indonesia Raya",
> hasil sebuah gubahan dari sebuah lagu hula-hula dari
> USA, menuliskan kata Indonesia sebagai "Indones" 
> saja kedalam teks lagu aslinya, mengikut
> karakteristik semangat guratan Javanese atau
> Jawanese, walaupun kemudian telah ditukar ganti oleh
> anak-anak Jawa Komunis, pelopor Soempah Pemoeda 28
> Oktober, 1928, sebagai Indonesia, bersesuaian nama
> kepartaian mereka Partai Komunis Indonesia (PKI)
> yang didirikan ditahun 1924 itu, selain mereka
> menukarkan juga teks lain: Indonesia Mulia menjadi
> Indonesia Merdeka. 
> 
> Mengikut pengamatan J.S. Pilliang, Soempah Pemoeda
> 28 Oktober, 1928, teranggap sebagai sumpah sampah,
> karena sumpah pemuda itu, tampa nasionalisme, tampa
> semangat kebangsaan. Karena semangat kebangsaan atau
> nasionalisme Indonesia baru bercambah diantara tahun
> 1945 - 1949, puluhan tahun kemudian.
> 
> Sebegitupun bangsa Jawa sejak beribu tahun lalu,
> walaupun telah menolak disebut sebagai Javamen,
> namun tidak pernahpun memperdulikan prihal kehidupan
> kebangsaan Jawanya atau nasionalisme Jawanya,
> sekalipun.

__________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and 
know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now. 
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ 



                         

       
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals?  Find them fast with Yahoo! Search.

Kirim email ke