----- Original Message ----- 
From: mediacare 
To: media aceh ; media sumut ; media sumatera ; mediacare ; tempo club 
Cc: Andreas Harsono 
Sent: Tuesday, March 25, 2008 4:13 AM
Subject: [tempo-club] Aceh Yang Menggugat Aceh



Pantau Aceh, 24 Maret 2008 | 2895 kata

Aceh Yang Menggugat Aceh

Oleh Eko Rusdianto

ARISDI DUDUK termenung di kursi merah dalam aula. Ia memakai baju coklat, 
berkantong 
depan. Celana pendek hitam. Ia tak menunjukan ekspresi seperti ratusan 
temannya: 
berteriak dan bergembira. Pandangannya lurus saja ke depan. Beberapa menit 
berlalu, ia 
mengutak-atik telepon genggamnya. Mengetik SMS. Entah pada siapa ditujukan.

Pukul 22.00, acara hiburan di aula itu dimulai. Beberapa kepala desa dan kepala 
mukim 
duduk melepas tawa, yang bisa nyanyi menyumbangkan suara. Ketika seorang dari 
mereka melenggok di atas panggung, yang lain bersorak, tertawa, atau bertepuk 
tangan. 
Riuh. Geuchik yang berdendang itu berjalan ke bibir panggung, membungkuk, 
dengan 
nada tinggi, ia menutup matanya, menikmati syair lagu.

Setelah lagu usai ia berteriak, "Hidup ALA-ABAS."

"Insya Alllah," sambut puluhan geuchik di bawah panggung, seraya mengacungkan 
tangan 
ke atas udara.

Arisdi hanya tersenyum kecil. Ia berdiri meninggalkan ruangan. Saya tetap 
memperhatikannya. Ia duduk di bangku depan aula. Mengeluarkan sebatang rokok 
lalu 
memantiknya dengan korek gas.

Arisdi adalah geuchik Bintang Kekelip, Kecamatan Atu Lintang, Kabupaten Aceh 
Tengah. 
Ada 79 keluarga di kampungnya. Ia datang ke Jakarta Jumat pagi, 14 Maret 2008, 
dari 
bandar udara Polonia Medan.

Setibanya di wisma Sekolah Luar Biasa Bagian A Tunanetra, Jalan Pertanian Raya, 
Lebak 
Bulus, Arisdi ternyata tak dapat memejamkan matanya meskipun kelelahan. Ia 
sangat 
gelisah. Waktu mengubah Jumat menjadi Sabtu. Enam rekan lain sudah terlelap. 
Satu 
kamar tujuh orang. Bila semua geuchik sudah hadir maka satu kamar itu akan 
bertambah 
penghuni menjadi 12-14 orang. Di atas kasur, ia terus berpikir. "Nda tahu lah, 
nda tenang 
saja waktu itu," ingatnya pada saya.

Pagi pun tiba, sekitar pukul 10.00 telepon geggamnya berdering. Ia mengangkat. 
"Maaf 
Pak Geuchik, sebenarnya tak ingin mengganggu konsentrasi Bapak, tapi saya harus 
kabarkan," kata M. Apit, komandan regu kepolisian Atu Lintang.

"Ada apa pak," jawab Arisdi.

"Rumah bapak dibakar, tadi malam!"

Menurut laporan Apit, Jumat malam itu, warga Bintang Kekelip sedang terpulas. 
Tiba-tiba 
rumah Arsidi telah menjadi abu. Rata dengan tanah. Kejadian cepat sekali. Tak 
ada yang 
melihat kejadian. "Itulah saya juga agak kecewa dengan warga, sebab sebelum 
kesini saya 
bilang, `Tolong kampung dijaga.' Lalu mereka menjawab, `Iya Pak.' Tapi ternyata 
ada 
kejadian seperti ini," Arisdi menerawang jauh.

Tak ada yang bisa diselamatkan. Sekarang kekayaannya hanya pada pakaian yang 
dibawa 
ke Jakarta, sekitar lima potong. "Itulah kekayaan saya," ujarnya lirih.

Saat kejadian itu, istrinya menginap di rumah orang tuanya. "Jadi istri dan 
anak saya tak 
apa-apa. Itu saja sudah cukup senang dan bersyukur," kata Arsidi. Ada lagi yang 
menyentuhnya ketika bicara dengan anaknya, yang berusia tiga tahun, via 
telepon. "Ama 
(ayah) baju saya sudah habis terbakar api," kata anaknya.

"Itu saya tak sanggup dengarnya," tutur Arsidi sambil menundukkan kepala, 
dengan nada 
pelan nyaris tak terdengar. Saya diam mendengarnya.

SENIN PAGI, Iwan Gayo, juru bicara pembentukan provinsi ALA berdiri di atas 
panggung 
aula. Ia memakai kaca mata hitam. Kulitnya hitam. Baju coklat, celana coklat, 
topi coklat.

Pertemuan ini membahas isi tuntutan. Iwan menawarkan tiga tuntutan kepada DPR 
Indonesia. Pertama, ia minta pemerintah Indonesia secepatnya mengesahkan RUU 
pembentukan provinsi ALA. Kedua, meminta pemerintah Indonesia untuk 
menganggarkan 
kompensasi terhadap penderitaan panjang warga Gayo, baik akibat dari perang 
antara 
Indonesia dan Darul Islam (1953-1962) serta Indonesia dan Gerakan Acheh Merdeka 
(1976-2005). Ketiga, meminta pemerintah Indonesia membebaskan penderitaan 
rakyat 
Aceh pedalaman atas tuduhan ilegal logging.

Spanduk-spanduk terpasang di berbagai sudut dinding. Isinya tentang seruan 
pemekaran. 

"ALA & ABAS = NKRI"

"Pemekaran provinsi-yes! !! pemekaran negara-no!!! "

"Hentikan penculikan bersenjata dan intimidasi terhadap tokoh-tokoh ALA"

"ALA-ABAS untuk Indonesia."

Gaya bicara Iwan berapi-api. Penuh semangat. Ia membawa sebuah tongkat dari 
besi 
putih, pegangannya berbentuk mulut ular mengeluarkan lidah, di bagian tertentu 
sudah 
hitam, mungkin menunjukkan umurnya. Tongkat kerajaan Linge. Saat pertemuan 
usai, ia 
memperkenalkan tongkat itu pada beberapa geuchik. "Saya perkirakan tongkat ini 
pada 
masa kejayaan Hindu atau Budha, Allahu Alam. Tapi tentu jauh sebelum islam 
masuk," 
katanya. 

Beberapa geuchik menambahkan dan mengkritisi isi tuntutan itu. Tapi ketika 
seorang 
berdiri dari tengah ruangan, semua terdiam. Nada bicaranya pasti. Menurutnya, 
semua 
tuntutan itu terlalu luas dan samar. Mereka bisa menimbulkan masalah baru. Ia 
takut. 
Menurutnya harus direvisi, yang utama adalah pemekaran. Itu saja.

"Nama bapak siapa? Geuchik darimana pak," kata Iwan, menyelidik, memotong.

"Saya bukan geuchik, tapi relawan dari Syiah Utama," jawabnya. 

"Nama Bapak," 

"Dasmika."

"Dasmika .." Iwan mengulang nama itu, dan menulisnya pada kertas.

"Kalau begitu Bapak duduk di samping. Maaf selain geuchik dan perwakilan 
geuchik tak 
boleh bicara. Dan Bapak tak punya hak untuk bicara. Kami bisa tuduh Bapak 
sebagai 
provakator," kata Iwa, suaranya tegas.

Suasana ruangan sekejab menjadi tenang. Hanya ada satu suara. Iwan Gayo.

Hanya Iwan yang datang dengan berbagai tuntutan. Dari 430 geuchik yang hadir, 
sebagian 
besar menuntut pemekaran. Itu saja. "Pokoknya pemekaran," kata Rata Bahagia, 
geuchik 
dari Bener Meriah, bersama empat temannya.

"Kami tak tahu yang lain. Hanya ada satu permintaan, pemekaran. Setelah itu 
pulang. Tapi 
selama belum disahkan kami tidak akan pulang. Itu sudah resiko," ujar Abdul 
Rahman, 
geuchik Merah Munyang.

Iwan Gayo masih terus mengoceh. Ia marah dengan kehadiran orang selain geuchik. 
"Sebenarnya saya mau marah, tapi tak enak sama geuchik-geuchik, " katanya. 
Selain itu ia 
menguraikan, jika tak ada sedikit pun maksudnya untuk bermain dalam wilayah 
politik. 
Perjuangannya bukan demi sesuatu imbalan.

"Saya nda mau jadi gubernur Pak. Saya mau jadi imam, demi Allah, demi Tuhan, 
saya mau 
jadi imam saja," katanya.

PUKUL 12.00, pertemuan itu selesai. Iwan menyantap semangkuk mie ayam dan 
segelas es 
cendol. Tongkat besi itu dibiarkannya menggeletak di atas meja. Saya bertanya 
kepada 
Iwan kemungkinan geuchik menginap. "Yes, kami akan manda di sana (DPR)," 
katanya. 

"Bukankah SBY tidak menyetujui adanya pemekaran?" saya tanya.

"Saya katakan SBY, tak berani dia, karena Aceh dalam pantauan Uni Eropa, 
internasional. 
Kalau SBY mekarkan, maka bisa saja ini akan menghambat perdamaian," ujarnya.

"Bukankah ini yang ditakutkan?" saya tanya.

"Saya nda takut, karena kita ini bagian dari RI, UU 32 tahun 2004, bahwa 
pemekaran itu 
tak terkecuali hanya pada Aceh. Jadi, kita tak takut siapa-siapa. Kita bukan 
anti-GAM, tapi 
kita menghargai perdamaian. Kita hormati wali nangroeh, adat istiadat, agama, 
kita 
hormati. Jadi tak akan pernah kami menjadi penghianat untuk MoU. Dalam MoU 
tidak ada 
juga larangan untuk pengembangan, bahkan di pasal 5 UU pemerintah Aceh, ada 
disebut-
sebut tentang pemekaran."

Iwan kembali menikmati mie ayamnya. Keringat membasahi kepalanya yang botak, 
diusapnya dengan tangan. Tiba-tiba Firman Bintang, koordinator transportasi, 
mendekatinya, "Bang saya sudah tak pegang uang."

"Loh?"

"Begini, Bang Tagor" --Tagor Abubakar, bupati bener Meriah-"udah kirim pertama 
5 juta 
dan kemarin 10 juta. Sekarang sudah habis. Itu hanya untuk beli solar. Dia 
bilang `Kau 
mintalah di Abangmu (Iwan Gayo).' Jadi saya tanya Abang," kata Firman Bintang.

"Jadi kurangnya berapa?"

"Abang hitung aja sendiri. Gaji sopir kan setiap hari 2,5 (250,000). Sekarang 
sudah 
menungggak empat hari. Dikalikan aja delapan bus."

"Ok. Tapi kau tanya juga si Tagor, `Bagaimana dengan geuchik dari Bener 
Meriah?' Mereka 
kan belum diajak jalan-jalan. Yang lain kan sudah?"

SEKITAR pukul 13.00 saya ke warung di samping wisma sekolah luar biasa. Saya 
memesan 
kopi. Seorang geuchik berjalan dengan cepat. "Mbak beli Rinso," katanya pada 
penjual. Ia 
mangambil tiga sachet Rinso kecil harga seribuan. "Mau apa?" geuchik yang lain 
bertanya.

"Mau mencuci,"

"Tidak usah. Tidak kering. Besok saja. Kan ke DPR,"

Dia duduk di meja tempat saya bersama dua temannya. Mereka terus bercerita, 
"Walapun 
nanti sudah mekar, tapi selanjutnya ini masih belum jelas," kata seorang dari 
mereka. Saya 
tanya nama mereka.

"Tak usahlah tulis nama. Kalau mau tulis cerita saja. Tapi nama nda usah ya."

SELASA pukul 10.15. Delapan bus Dedi Jaya yang mengangkut 430 geuchik Aceh 
pedalaman melaju. Perlahan masuk dalam lingkup macetnya Jakarta. Saya ikut 
dalam 
rombongan ini di bus kelima. Dalam bus udara menjadi panas dan pengap. Beberapa 
geuchik membuka bajunya. Mereka kegerahan. Tiba-tiba bus menorobos traffic 
light. "Kita 
ini seperti presiden terkecil, jadi bisa lah terobos lampu merah," kata seorang 
geuchik.

Namun sebelum berangkat mereka melantunkan salawat. Songkok hitam mereka 
dibalut 
bendera Merah Putih. Setiap orang membawa satu bendera dengan tiang pipa dari 
plastik. 

Sebelum berangkat, bersama dua orang temannya, Rusdi geuchik Paringkel, 
kecamatan 
Banda, kabupaten Bener Meriah duduk dibangku depan aula. Saya menawarinya 
rokok. 
Saya bertanya padanya apa perwakilan dari ABAS sudah ada. Ia tak menjawab. Raut 
wajahnya terlihat bingung.

Ia bertanya, "ABAS itu apa."

"Bapak tidak tahu ABAS," kataku.

Sejurus kemudian, temannya menjelaskan jika ABAS adalah satu daerah yang juga 
meminta pemekaran sama dengan ALA.

"Jadi ABAS itu Aceh Barat Selatan," kata geuchik yang lain menjelaskan.

"Saya tahunya hanya ALA," jawab Rusdi.

ALA atau Aceh Leuser Antara meliputi kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah, Aceh 
Singkil, 
Gayo Lues, Aceh Tenggara, dan kota Subulussalam. Sedangkan ABAS atau Aceh Barat 
Selatan mencakup kabupaten Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Barat Daya, 
Aceh 
Selatan dan Simeulue.

Setengah jam kemudian bus itu sampai di depan gedung DPR. Para geuchik tertahan 
di 
luar gedung. Mereka tak diizinkan masuk. Iwan Gayo, dikerumuni wartawan. 
Penampilannya tak berubah. Hanya saja coklat pakaiannya lebih tua. Ia tersenyum 
puas. Ia 
senang publikasi. Dalam lagu bahasa Gayo, namanya disebut-sebut. "Haji Iwan 
Gayo...," 
begitu namanya dilantunkan dalam irama.

Sejenak kemudian, di depan pintu gerbang DPR, didong digelar. Kesenian khas 
Gayo. 
Sembilan geuchik duduk bersila melingkar di atas karpet merah. Satu orang 
sebagai 
pelantun lagu, yang lain memukul bantal kecil hitam, dilekatkan di tangan. 
Mereka 
serempak bergoyang ke kiri dan kanan. Sesekali kepala mereka bertemu di tengah 
lingkaran. Lagunya tentang pemekaran, "Suatu masa ALA akan tersenyum.," begitu 
sepengggal syairnya. Atau, "Haji Iwan Gayo membawa pesan ke seluruh dunia.."

Pukul 14.20 keinginan masuk ke lingkungan DPR terkabul. Mereka diterima tiga 
anggota 
DPD dari Aceh, Adnan NS, Mediati Hafni Hanum, dan Malik Raden, dalam tiga 
gelombang. 
Setiap sesi 50 orang. Para geuchik ini berjalan berderetan. Atribut bendera 
merah putih di 
peci. Bendera lengan dilepas. Di gedung Nusantara V, salah satu gedung di 
Senayan, 
mereka memasuki sebuah ruangan kecil.

Pertemuan yang dingin. Tuntutan mereka, dari tiga butir berubah jadi lima hal. 
"Sebegitu 
zalimnya para petugas. Kok bendera tidak boleh dibawa untuk menghadap anggota 
DPD 
yang terhormat. Saya kira itu pelanggaran. Yang tidak boleh itu dinjak-injak 
pak, tapi 
kalau disandang di mahkota di kepala, itu hak dan protokolernya seperti itu. 
Saya kira itu 
jelas membuktikan jika kita bagian dari NKRI," kata Iwan Gayo.

Iwan bertanya kepada 50 yang masuk gelombang pertama, "Yang Aceh mana?"

Tak ada yang angkat tangan. "Yang Jawa mana?"

Seorang geuchik bernama Tukiran mengangkat tangan.

Iwan menekankan dia bukan orang rasialis. Cuma menekankan bahwa rombongan ini 
beragam. Ada Gayo, Aceh dan Jawa. Ada 56 geuchik keturunan Jawa, campuran 
antara 
keturunan trasmigran dan perantau, dalam rombongan ini. 

"Inilah kami Pak, yang hadir di depan Bapak, yang sepakat dengan apapun yang 
Bapak 
mau. Mati pun kami sudah siap," tegas Hafni Hanum.

"Kami sangat bersyukur karena Bapak-bapak dan Ibu-ibu ini datang kan bawa 
aspirasi 
dari masyarakat warga di sana. Apalagi kepala desa. Artinya, Bapak dan Ibu 
telah 
membantu tugas kami itu. Nah kalau kami datang satu-satu, ke tiap desa 
menanyakan 
apa aspirasi, yang perlu kami perjuangkan, itu kan cape sekali," lanjut Hafni. 

Geuchik yang berkumpul mendengarnya dengan seksama. Raut wajah mereka 
menunjukkan kelelahan. Di luar pagar DPR, mereka diguyur hujan selama satu jam 
lebih. 
Nyaris tak ada tempat berlindung. Pakaian mereka kering di badan.

"Tapi DPD hanya diberikan wewenang, hanya mengusul dan mempertimbangkan, hanya 
dua kekuatan. Mengusul dan mempertimbangkan, " terang Adnan. 

Adnan juga mencontohkan jika DPD itu seperti sebuah kekuatan yang sangat kecil. 
Seperti 
singa yang gagah berani, tapi ompong. Tapi untuk merealisasikan pemekaran ALA, 
itu 
bukan hal yang mustahil. Sebab ada beberapa daerah yang muncul, hanya dari RUU, 
seperti Banten, Kepulauan Riau, Bangka dan Sulawesi Barat.

Hingga pertemuan usai, kepastian akan penandatanganan pemekaran provinsi ALA 
belum 
menemui titik kepastian. Ancaman akan bermalam di DPR dan pencopotan lencana, 
stempel, dan pangkat kepala desa tak dilakukan. Saya bertanya pada Iwan Gayo, 
kemungkinan geuchik bermalam di gedung DPR. "Kayaknya akan sulit," jawabnya.

"Saya tak melihat ada wartawan tadi di dalam," sambungnya.

"Tadi ada Indosiar dan Bali TV," kata saya.

"Saya kira nda ada. Sebab ini harus diberitakan. "

SEBENTAR lagi malam menyelimuti Jakarta. Bakri baru selesai mandi. Ia sibuk 
melayani 
para geuchik dari Aceh sebagai koordinator umum penjemputan. Ia juga yang 
menyiapkan 
tempat penginapan pada mereka. "Ini spontanitas panggilan nurani, itu aja," 
katanya.

Di Jakarta, Bakri adalah pengawas Sekolah Luar Biasa, yang kebetulan sebagai 
putra 
daerah Gayo. "Itu akses kita sebagai pengawas. Tentunya itu dari hasil 
tanaman-tanaman 
saya. Dan ini buahnya," jelasnya.

Saya bertanya bagaimana dengan isu bubarnya perdamaian Aceh bila pemekaran ini 
jalan. 
Ia tak mau menjawab. "Anda ini kan pers, jadi kami harus harus hati-hati jangan 
sampai 
salah ngomong. Iya kan? Jadi kami harus menunggu tokoh kami Haji Muhammad Iwan 
Gayo," sambungnya.

Namun, koordinator pemuda Komite Persiapan Pembentukan ALA, Zam Zam Mubarrok 
menjawabnya. "Pemekaran itu harga mati, tapi harga pasti untuk Aceh."

"Dengan memekarkan ALA maka tugas NAD akan lebih ringan. Nah itu bahasa kita, 
bukannya perpecahan tapi meringankan bebannya Irwandi Yusuf," jelasnya.

Irwandi Yusuf, seorang dosen Universitas Syiah Kuala dan tokoh GAM, adalah 
gubernur 
Aceh sekarang. Irwandi tak menyetujui adanya pemekaran di Aceh. Ia anggap isu 
pemekaran ini hanya permainan elit politik dan melanggar MoU Helsinki.

Zam Zam Mubarrok mengatakan, "Sebenarnya konflik di Aceh terjadi karena 
kesenjangan. 
Miskomunikasi. Secara garis besar, Aceh merasa dianaktirikan oleh Republik dan 
secara 
khusus ALA merasa dianaktirikan provinsi. Justru karena adanya pemekaran ini 
konflik 
akan mudah diatasi. Jangan samakan basisnya GAM, sama dengan kita. Beda!"

"Tidak ada alasan karena adanya pemekaran, maka akan muncul konflik. Kita tidak 
pernah 
mengajak untuk perang. Tapi apabila mereka mengajak perang, kita tidak diam. 
Dengan 
siapa saja yang akan mengacaukan keamanan. Jika pemekaran tidak terlaksana maka 
kita 
akan siap mengajukan ini ke PBB. Karena aspirasi pemekaran ini lahir sebelum 
adanya MoU 
Helsinki," Zam berpanjang lebar.

"Kami setuju dengan perdamaian. Tapi kami tak setuju GAM. Mereka kan mau pisah 
(dengan Indonesia). Kami tidak, hanya minta pemekaran," kata Kamaluddin dari 
Kampung 
Akal, kecamatan Atu Lintang.

Menurut Zam, "GAM masih punya senjata. Dimana perdamaian itu? Ya ga?"

Zam membacakan pesan singkat dari Nasir Jamil, mantan wartawan Serambi dan 
politikus 
Partai Keadilan Sejahtera, juga anggota DPR. "Kami bilang sama dia GAM 
melanggar 
perdamaian," kata Zam.

Balasan Nasir, "Pimpinan GAM juga tidak bisa mengontrol anak buahnya di 
lapangan." 

"Itu artinya dalam tubuh GAM pun ada perpecahan," jelas Zam kembali.

"Kalau Aceh mekar, Irwandi akan mengantongi nilai kursi 2,1 persen, tapi kalau 
tidak 
mekar 4,2 persen rakyat Aceh. `Dia ogah jadi gubernur dengan itu.' Sementara 
dia tak 
sanggup mengurusnya, jalan-jalan. Kapasitas ada, tapi kemampuan fisik dan 
jangkau 
pikirnya tidak sampai ke pedalaman," tutur Iwan Gayo.

Pukul 18.00, rombongan geuchik tiba dari studi banding. Mereka mengunjungi 
Taman 
Buah Mekar Sari dan sehari sebelumnya mereka berkunjung ke Monumen Nasional. 
Saya 
bertanya kenapa studi banding. "Mereka ingin melihat tanaman di sana, dan 
mempelajari 
cara tanamnya. Penghasilan utama di ALA kan ladang," kata Zam. 

"Seperti jalan-jalan juga lah," lanjutnya.

Pukul 19.15 kepala desa berkumpul di ruang makan. Menu makannya cukup baik, ada 
kari 
ayam, sop ayam, ikan, dan sebuah toples besar berisi kerupuk merah. Mereka 
mengantri 
dengan rapi. Beberapa orang memakai sarung dengan kaos kutang, atau hanya 
celana 
pendek. Ada juga yang tak memakai sendal. Mereka makan dengan lahap. "Ayo makan 
dulu," Zam menawari saya.

Tumpahan kuah kari menempel di lantai dan meja makan. Di samping ruangan, bunyi 
piring saling bersentuhan terdengar jelas. Beberapa perempuan dengan sigap 
membilas. 

Sekitar pukul 22.00 gelombang ketiga datang. Ada 90 geuchik. Sambil membawa tas 
dan 
koper, mereka langsung menuju ruang makan. Sementara geuchik lainnya menikmati 
hiburan lagu sesama geuchik.

Arisdi ada di sana. Di atas bangku taman depan aula itu, saya menghabiskan 
malam 
dengannya dan Kamaluddin. Tiba-tiba ia kehabisan rokok. Tanpa berkata apa-apa, 
ia 
berdiri dan berlalu. Namun, beberapa menit setelahnya ia datang membawa dua 
bungkus 
rokok. "Mas, wartawan itu banyak uang ya," tiba-tiba Arisdi bertanya.

"Akh, tidak juga, buktinya saya tak punya uang,"

Tiba-tiba dengan cekatan ia merapatkan tangannya ke kantong bajuku. Tangannya 
berisi 
selembar Rp50 ribu. Saya kaget. Hati saya bergetar keras. Lembaran itu saya 
kembalikan. 
Ia tak mau. "Saya ini anggap Mas sebagai teman," katanya.

"Saya tak bisa menerima ini," jawab saya.

Ia kemudian membuat jarak dari tempat duduk kami. Jelas, Arisdi tak mau uang 
itu 
dikembalikan. 

Uang itu saya pegang. Kemudian berdiri. Saya mengajaknya minum kopi. Tapi malam 
itu 
tak ada kopi. Kami pun minum Coca cola. Empat kaleng. Sebungkus rokok Marlboro. 
Saya 
memakai uang itu. Kembaliannya saya berikan lagi. "Tak usah dikembalikan lah," 
katanya.

Saya bermalam ditempat para geuchik. Saya tidur di musallah. Kembalian uang itu 
tak 
mampu membuat mata terpejam. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 04.00. Beberapa 
jam ke depan akan terang. Pagi pun tiba, dan saya belum sedikit pun memejamkan 
mata. 
Pagi-pagi saya mencari Zam. "Saya minta tolong ini uangnya pak Arisdi. Geuchik 
yang 
rumahnya terbakar," kata saya.

"Ini uang apa?"

"Uang kembaliannya, tadi malam dia lupa ambil," kata saya.

"Oh, iya."

Kemudian saya berjalan keluar mencari angkutan umum jurusan Blok-M.

*) Eko Rusdianto kontributor Pantau Aceh feature service di Jakarta, kelahiran 
Palopo, 
meliput kedatangan para geuchik di Jakarta selama empat hari di Lebak Bulus, 
termasuk 
menginap semalam. Ia mewawancarai sekitar 30 orang dalam rombongan ini.



mediacare
http://www.mediacare.biz


 


--------------------------------------------------------------------------------


No virus found in this incoming message.
Checked by AVG. 
Version: 7.5.519 / Virus Database: 269.21.8/1340 - Release Date: 3/23/2008 6:50 
PM

Kirim email ke