http://www.serambinews.com/old/index.php?aksi=bacaberita&beritaid=45570&rubrik=1&kategori=2&topik=45

  
a.. 8/04/2008 09:22 WIB


* Pintu Pagar Jebol
Demo BRR Makin Panas

[ rubrik: Serambi | topik: Rekontruksi & Rehabilitasi Aceh ]


BANDA ACEH - Aksi demo lanjutan korban tsunami dari pantai barat Aceh, di 
Kantor Pusat BRR NAD-Nias, Senin (7/4) makin panas dan nyaris ricuh. Pintu 
pagar kantor yang berada di kawasan Lueng Bata, Banda Aceh tersebut rusak 
akibat amuk massa. Lima pendemo dari kalangan perempuan pingsan akibat 
kelelahan. 


Pada aksi demo yang ketiga, Senin kemarin, seratusan massa yang tergabung dalam 
Gerakan Peduli Nasib (Gepena) meminta agar mereka ditembak saja dari pada tidak 
dipedulikan. Demonstran yang kebanyakan kaum perempuan melakukan long march 
dari halaman Masjid Jamik Lueng Bata menuju Kantor BRR di bawah pengawalan 
ketat polisi. Pihak keamanan mengunci pintu gerbang untuk menghadang pendemo 
menerobos ke dalam pekarangan BRR. 

Pengunjukrasa tiba di depan pagar utama BRR sekitar pukul 11.30 WIB, dan 
langsung berorasi secara bergantian. Dalam orasinya, mereka mengecam sikap 
Kepala BRR Kuntoro Mangkusubroto yang mengeluarkan statemen di media massa 
bahwa BRR tidak mungkin mengubah kebijakan dana rehab rumah dari Rp 2,5 juta 
menjadi Rp 15 juta. Kuntoro di mana Anda, kenapa hanya berani ngomong di koran, 
tunjukkan batang hidungmu. Ayo sekarang bertemu dengan korban tsunami, teriak 
Fikriadi selaku korlap aksi. 

Lima menit orasi berlangsung, suasana berubah panas. Puluhan massa yang semula 
berada di depan barisan mendobrak pintu masuk sambil berteriak-teriak dan 
meloncat-loncat. Puluhan kaum ibu yang ikut aksi menangis sambil memaki-maki 
BRR dan Kuntoro. Polisi semakin meningkatkan kesiagaan. 

Kondisi semakin memanas ketika massa kembali menerobos pintu besi dengan cara 
mengayun-ayun secara beramai-ramai. Saat itulah aparat keamanan mendekati 
kerumunan massa namun pagar besi tersebut keburu rusak. 

Mobil water canon polisi yang stand by di dalam pekarangan BRR maju mendekati 
pendemo. Ketika polisi mendekat, pendemo langsung menantang dengan kata-kata 
setengah berteriak, Silakan tembak, kalian kan dibeli BRR untuk menembak 
rakyat. 

Hampir saja polisi melepaskan air dari mobil water canon ke arah kerumunan 
massa yang semakin emosi. Namun, pemimpin demo dengan cepat mengambil mikrofon 
menenangkan massa. Sejenak terlihat kondisi mencekam. Anak-anak dan perempuan 
terus menangis. 

Upaya pendemo masuk ke dalam pekarangan BRR untuk bertemu Kuntoro gagal. 
Akhirnya mereka menyanyikan lagu-lagu berbahasa Aceh secara bersamaan yang 
intinya menghujat Kuntoro dan BRR. Mereka juga membaca yasin bersama di tengah 
terik matahari. 

Pada detik detik itulah, petugas keamanan BRR akhirnya membuka pintu pagar yang 
telah dirusak massa. Tiba-tiba lima wakil demonstran dari kalangan perempuan 
pingsan yang diyakini akibat kelelahan. Mereka dibaringkan di depan pendemo 
lainnya. 

Kuntoro telah membuat luka di hati kami, kami hanya ingin bertemu Kuntoro. 
Lihatlah kami, ada yang sudah pingsan hanya ingin bertemu dengan Anda yang 
telah mengkhianati rakyat, tukas Ratibah, seorang pedemo. 

Memasuki waktu shalat zuhur, pendemo beristirahat dan shalat berjamaah. Mereka 
juga menggelar makan bersama dengan nasi putih tanpa lauk pauk di depan pintu 
masuk Kantor BRR itu, sekaligus bergabung dengan puluhan mahasiswa yang baru 
kembali demo dari Kantor Gubernur NAD. 

Sambil makan siang bersama, suasana haru kembali terjadi ketika ibu-ibu 
berteriak histeris meminta dikabulkan bantuan dana rehab rumah sebesar Rp 15 
juta. 

Temui pendemo 

Seorang anggota DPR Aceh, Abdullah Saleh, sekitar pukul 15.00 WIB menemui 
pengunjukrasa. Di hadapan korban tsunami tersebut, Abdullah berjanji 
menghubungi Sekretaris BRR, T Kamaruzzaman agar bisa menemui pengunjukrasa. 
Namun, setelah dihubungi melalui telepon, ternyata HP mantan juru runding GAM 
itu tidak aktif. 

Selanjutnya, Abdullah Saleh menemui seorang perwira polisi yang 
bertanggungjawab mengamankan aksi demo. Ia meminta agar perwira polisi itu 
dapat memberitahukan kepada Kuntoro kondisi terakhir pendemo yang sudah sangat 
kelelahan. Tolong bapak tanyakan kapan Kuntoro ada waktu bertemu mereka, 
pintanya. 

Menurut perwira polisi itu, dirinya memang sudah memberitahukan kepada Kuntoro 
kondisi demonstran, dan Kuntoro sudah membalas SMS dan mengagendakan pertemuan 
dengan para perwakilan korban tsunami dalam beberapa hari ini. Namun, saya 
sangat sesalkan aksi tadi yang merusak pintu. Ini sudah menjurus anarkis dan 
saya harus mulai lagi prosesnya dari nol, sebutnya. 

Para pendemo membubarkan diri sekitar pukul 16.20 WIB setelah mendengar 
pengarahan dari Abdullah Saleh dan koordinator aksi yang menganjurkan korban 
tsunami kembali ke posko karena kondisi sudah sangat lelah. 

Minta bergabung 

Pada waktu bersamaan, aktivis mahasiswa yang menamakan diri mereka Mahasiswa 
Peduli Korban Tsunami dari pantai barat-selatan mendatangi Gedung DPRA dan 
Kantor Gubernur Aceh, menuntut agar anggota dewan dan gubernur bergabung dengan 
korban tsunami yang menggelar aksi di Kantor BRR. 

Kedatangan mereka ke Kantor Gubernur Aceh menumpang dua unit dum truk ukuran 
sedang disambut Sekda NAD, Husni Bahri TOB didampingi sejumlah staf. 

Di depan mahasiswa, Husni mengatakan, masalah yang sedang dituntut korban 
tsunami dari pantai barat-selatan, telah ditanggapi secara maksimal oleh 
Gubernur Aceh. Sekarang Pak Gubernur sedang tidak di tempat. Kita berharap 
semoga gubernur, DPR, dan BRR bisa duduk bersama lagi, kata Sekda Husni Bahri. 

Mendengar tanggapan itu, seorang demonstran mengacungkan tangannya seraya 
mengatakan, kalau tidak ada gubernur dan anggota dewan yang menemui korban 
tsunami yang menggelar demo ke Kantor BRR, Ketua BRR Kuntoro Mangkusubroto 
tidak pernah mau menggubris pernyataan bersama yang ditandatangani gubernur dan 
anggota dewan serta perwakilan BRR. 

Setelah mendapat jawaban dari Sekda Aceh bahwa tak mungkin pihaknya memenuhi 
tuntutan untuk datang ke Kantor BRR bergabung dengan para demonstran, akhirnya 
mahasiswa meninggalkan kantor gubernur dengan perasaan kecewa. Kemudian, mereka 
bergabung dengan para korban tsunami yang sedang menggelar demo di Kantor BRR.(m

Kirim email ke