http://www.serambinews.com/old/index.php?aksi=bacaopini&opinid=1536
a.. 8/04/2008 11:01 WIB Berpikir General Bisa Bikin Gila (Catatan untuk Yusra Habib) [ penulis: Teuku Dadek | topik: Aktifitas Masyarakat ] Sungguh luar biasa, tulisan Yusra Habib Abdul Gani yang menyorot mentalitas dalam Sastra Aceh (opini di Serambi, 7/4/2008). Ini kemudian mengusik saya sebagai orang Aceh. Saya tidak kenal persis siapa Yusra, tapi saya yakin ia orang Aceh yang tinggal di Denmark entah sementara atau memang warga negera di sana. Dan itu tidak penting, dari tulisannya saya menangkap ada kekecewaan atas kedamaian yang saya dan anda rasakan selama ini sebagai pengorbanan GAM dan RI demi kita-kita ini yang sangat lemah. Tulisan itu, awalnya mengalir dan membelah mentalitas melalui sungai sastra di negeri ini, tetapi ujung-ujungnya mengalir dan membelah mentalitas Aceh melalui sungai politik yang terjadi di negeri ini, sebuah kekecewaan atas sikap yang diambil petinggi GAM atas bertekuk lutut untuk tidak merdeka dan berdamai dengan Pemerintah RI. Dan pernyataan yang menyesalkan Zaini Abdullah, Malik Mahmud dan petinggi GAM lainnya atas sebuah sikap yang sangat heroik menurut saya, mundur selangkah untuk memberi kehidupan yang lebih baik bagi rakyat Aceh, demi rakyat yang was-was dan merasa tidak nyaman selama perang. Tulisan itu juga mengambarkan sosok Orang Aceh yang mudah diterkam dan dicengkram dengan uang dan mudah membuat kesepakatan untuk mengadaikan apa saja termasuk Aceh karena sikap dan sifat mataduitan dan beberapa kalimat yang katanya sastra yang salah diartikan dan ini sangat bertolak belakang dengan kenyataan bahwa perang Aceh dengan Belanda dan perang sipil yang baru berakhir tidak dapat diselesaikan dengan uang, jika dapat diselesaikan dengan uang, mengapa negeri ini dianggap negeri yang tidak bisa dikuasai Belanda, sampai tahun 1900-an pahlawan-pahlawan Aceh terus berjuang untuk menunjukan kepada seluruh bangsa, malaikat dan Allah di atas sana bahwa Orang Aceh memang tidak bisa dibeli dan tidak bisa dibendung akan tingginya kehormatan mereka. Sementara itu seluruh bangsa di Jawa, Sumatera non Aceh, Kalimatan dan bagian Indonesia lainnya, mereka sudah menyerah, bahkan tidak mendapat apa-apa atau mungkin juga mendapat banyak uang dan keuntungan dari Belanda, namun ketika itu, Orang Aceh sibuk bermandikan darah dan air mata, mencabik perutnya karena melawan arogansi Belanda yang modern sementara Orang Aceh hanya memiliki senjata seadanya. Demikian juga dengan Perang Sipil baik antara GAM dengan RI, DII/TII dengan RI berlangsung dalam kapasitas yang sangat mengerikan dan membuat bangsa ini dicap sebagai bangsa dan sumber pemberontakan, namun DI/TII diselesaikan dengan cara yang damai, dengan cara yang bermartabat, dengan cara yang menggugah, bukan dengan uang apalagi mengadaikan negeri ini, Yusra mungkin belum pernah mendengar Hadih Majah Aceh, Pat Hujeun Yang Hana Pirang, Pat Prang yang Hana Reuda. Dan mungkin juga ia tidak tahu bahwa Orang Acehlah yang telah membantu Republik Indonesia dengan uang agar negeri ini bisa merdeka dengan kehormatan dan martabat, inilah yang dimaksud dengan Meuyou na Pakat Lampoh Jerat ta Peugala, suatu makluk sastra harus dilihat dari semua sisi, terutama yang dari positif, bukan pakai kacamata kuda. Demikian juga pengorbanan petinggi GAM untuk tidak merdeka dan mau mundur selangkah untuk berdamai, tidak ada jeleknya sebuah ketetapan hati dan prinsip diubah untuk kebaikan, saya yakin dan percaya GAM dan RI akan mempunyai kekuatan dan kemampuan untuk mengobarkan perang yang panjang dan mematikan dengan sikap dan ritme yang mengoncangkan kalbu masyarakat sipil, dunia internasional, masalahnya TNI dan GAM bukan hidup sendiri, mereka hidup berdampingan dengan dengan makluk lemah lainnya yang dinamakan masyarakat sipil dan masyarakat Aceh, peluru mereka bukan hanya menyapa dan dialamatkan kepada sesama mereka yang bertarung di medan perang tetapi lebih sering menyapa dan mencekik serta menerkam mereka yang lemah. Gempa dan tsunami yang menghantam, telah kembali melemahkan Orang Aceh dan semua mereka yang tinggal di wilayah Ji´ee ini, membuat semua orang, seluruh dunia, kristen sampai yang tak punya agama merasa iba, kasihan, mengulurkan tangan, apalagi Orang Aceh sendiri (GAM-SIRA) dan Indonesia (TNI-Polri), karenanya mereka terpaksa mengkaji ulang prinisp mereka seperti diantaranya dilakukan oleh Malik Mahmud dari prinisp Éndatu kita sudah perangi Belanda, sekarang giliran kita perangi Indonesia; ... jika tidak punya bedil, kita pakai pisau; ... jika tidak punya pisau, kita gunakan tangan; ... jika tangan diikat, kita ludahi; ... jika tidak punya ludah, kita pelototi menjadi prinisp mengalah untuk menang dengan menandatangani MoU Helsinki atas nama demokrasi dan atas nama rakyat yang sudah lelah dihantam perang dan digoyang gempa serta ditendang tsunami sehingga menjadi kumal dan kotor, orang yang kalah dari gempa dan tusnami terkapar menjadi mayat terkadang terlentang bertelanjang di tengah lumpur yang kala itu terkadang hanya dilihat saja, baru beberapa kemudian diangkut Snouck memang sudah pergi dan mati, tetapi pandangannya yang sangat provokatif rupanya masih hidup dan mengalir dari kubur, ibarat lagu Elvis Presley dan Bob Marley yang masih dinyanyikan dan didengarkan oleh penggemarnya di seluruh dunia, pendapat Snouck begitu mudah dikutip dan dinyanyikan serta didengarkan para pengemarnya, kendatipun mereka tidak tahu apa yang mereka dengarkan dan ucapkan dari baik lagu tersebut. Membuat satu pengadilan di atas kertas dengan mengutip sebait kalimat yang hidup dalam masyarakat, kemudian dikatakan sastra adalah sangat dhaif. Dulu saya begitu percaya dengan kalimat bahwa orang Melayu pemalas, sejak membaca buku S.A.Alatas yang berjudul Mitos Pribumi Malas. Saya baru mengerti bahwa itu hanya stigma pembenaran untuk menjajah Orang Melayu. Dulu saya begitu percaya dengan pendapat bahwa jangan kasih numpang jualan kepada Orang Pidie, nanti mereka akan masuk ke dalam toko anda sebagai pemilik, setelah saya lihat begitu banyak orang Pidie yang harus gulung tikar bahkan terkadang tidak ada lagi tikar yang harus mereka gulung, saya mulai percaya bahwa jiwa dagang ada pada semua Orang Aceh. Dulu saya juga sangat percaya dengan pendapat betapa dungunya orang Simuelue yang punya uang namun membeli kulkas kendatipun belum ada aliran listrik, sekarang saya tahu orang Simeulue adalah Orang yang paling taat beragama dan mau belajar menuntut ilmu, di Meulaboh sebagian besar masjid di kota kami digerakkan oleh Orang Simeulue sambil menuntut ilmu. Ketika membawa tulisan Yusra saya teringat akan sebuah buku yang diberikan oleh Orang Scientology, kalau di Aceh mereka dikenal sebagai orang massage, tukang kusuk bukan tukang pijat ketika awal tsunami dulu. Ada satu hal yang diajarkan buku tersebut juga para scientology kepada saya bahwa jika seseorang menemukan sebuah kasus kemudian mengeneralkan kasus tersebut sebagai sebuah pendapat umum, maka orang itu sudah dapat diindikasi memasuki tahap awal kegilaan. Misalnya, dulu ketika perang kolonial, ada seorang atau dua orang Aceh atau katakanlah seratus Orang Aceh melakukan menyerang sporadik dan individual kepada pasukan Belanda dengan parang dan senjata alakadar dan seadanya kemudian pihak Belanda menyebutnya dengan Aceh Mord atau Aceh Pungo. Ini berarti pemerintah Kolonial Belanda sudah memasuki awal kegilaan dan malas berpikir. Jika Anda menemukan ada Orang Aceh yang mata duitan dan mudah menggadaikan apa yang bisa mereka gadaikan, kemudian Anda mengatakan semua Orang Aceh seperti itu, maka Anda sudah dianggap Orang yang malas berpikir dan sedang menuju kepintu kegilaan, di Aceh memang banyak Orang sudah gila. *) Penulis adalah pengamat sosial budaya tinggal di Meulaboh http://www.serambinews.com/old/index.php?aksi=bacaopini&opinid=1534 a.. 07/04/2008 09:42 WIB Mentalitas dalam Sastra Aceh [ penulis: Yusra Habib Abdul Gani | topik: Pendidikan ] DAHULU dan juga sekarang, oleh pakar kolonialis tentang falsafah dan seni sastra dipakai sebagai barometer kadar kekentalan nasionalisme, kekuatan politik dan militer suatu bangsa. Dari gerak dan lirik seni sastra yang diluahkan oleh seseorang maupun berkelompok dalam bentuk pepatah, pantun dan puisi tentang: cinta, kritik, pujian, sindiran, membuka ´aib, patriotsme dan heroisme, terpantul mentalitas mereka. Hasil penelitian Francis Xavier (seorang pakar peneliti sastera Melayu yang diutus oleh Portugis sebelum memerangi Melaka tahun 1511) sangat menarik untuk disimak. Dia menyimpulkan, bahwa bangsa Melayu adalah orang mataduitan, sifat irihati dan dengki. Xavier mula-mula terfokus kepada bait pantun: Daripada hidup berputih mata, lebih baik mati berputih tulang. Daripada hidup bercermin bangkai, lebih baik mati berkalang tanah. Ini refreksi patriotisme dan heroisme orang Melayu. Xavier tak mau berhenti sampai di situ. Dia menelusuri lebih jauh jejak-jejak dan menyibak rahasia di sebalik sastera Melayu, hingga menemukan bait pantun: Puas saya bertanam keladi Nenas juga ditanam orang; Puas saya bertanam budi emas juga dipandang orang. Ini yang sangat menarik dalam sorortan Xavier. Portugis ingin membuktikan kadar kekuatan politik dan militier kesultanan Melaka. Untuk itu, dalam kunjungan resmi ke Melaka tahun 1509, diplomat Portugis sengaja memberi kalung emas kepada Bendahara kesultanan Melaka dan tidak memberi apapun kepada Mahmud Syah (Sultan Melaka.) Rupanya, Nina Chattu dan Uthimutha (pegawai Istana Melaka keturunan India), sudah lebih awal diloby (diperalat) oleh Alfonso D´ Albuquerque (dinas intel Portugis) yang menjanjikan sesuatu kepada mereka. Atas dasar janji inilah, keduanya menghembuskan berita ini di kalangan Istana, hingga muncul keretakan dalam pemerintahan Mahmud Syah. Dalam situasi kacau-balau itulah, Portugis menyerang Melaka tahun 1511. Diakui bahwa, kejatuhan Melaka tidak terlepas dari konspirasi politik tadi. Armando Cortesao. The Suma Oriental of Tome Pires , London, 1994, hln 287. Di sini terbukti bahwa pantun Daripada hidup bercermin bangkai, lebih baik mati berkalang tanah dipadamkan oleh bait: Puas saya bertanam budi: emas juga dipandang orang. Orang Melayu ternyata mata duitan, iri dan dengki. Terbukti di sini dan bersamaan dengan itu, jatuhlah Melaka ke tangan Portugis! Giliran Aceh. Untuk meneliti semangat patriotisme dan hiroisme orang Acheh, dikirim Snouck Hurgronje meneliti Hikayat Prang Sabi . Snouck menyimpulkan bahwa hikayat ini berbahaya, sebab di mata orang Aceh, Belanda adalah orang kafir dan perang melawan kafir disifatkan sebagai perang suci, yang kalau tewas berarti mati syahid. Selanjutnya, pakar kolonialis Belanda meneliti seni Seudati yang dicurigai mengandung nilai-nilai karakteristik. Mereka menyimpulkan bahwa Aceh adalah sosok manusia yang rasa ke-aku-annya berlebihan, arogan dan mataduitan . Refreksi mentalitas ini diteliti dari gerak Seudati yang berulangkali mendabik dada (simbul arogansi), menepuk perut (simbul materialisme) dan menyusup secara licik dalam barisan lewat variari gerak yang seragam (simbul menghalalkan segala cara). Upaya menangkalnya, menurut Snouck, De Atjèhers gevoelig te slaan en zo hun superioriteitswaan te ontmen. (Bangsa Aceh itu wajib kita pukul, aniaya dan menghinanya sampai sesakit-sakitnya, supaya mudah kita hancurkan perasaan kemuliaannya). Setelah fatwa Snouck dinilai kurang mengena, pakar kolonialis Belanda mengubah dari pendekatan brutalisme kepada pèngisme. Para Ulèëbalang disogok dengan uang, memberi gelar, pangkat, menjanjikan sesuatu yang menarik dan memberi kuasa semu yang dikontrol. Dijanjikan memberi emas batangan kepada sipembubuh Tgk. Tjhik di Tiro Muhd Saman. Sesudah mati, janji Belanda tidak ditunaikan, bahkan sipembunuh (isteri Pang Abu) ditembak mati. Militer Belanda menembak ke arah semak-belukar dan hutan bambu menggunakan peluru coin (uang rècèh Belanda). Cara ini dipakai supaya mudah menembus jejak-jejak pejuang Aceh. Nyatanya berhasil! Peristiwa ini menjadi tontonan sehari-hari, dimana rakyat yang tak tahu diuntung, berbondong-bondong membersihkan semak-belukar dan menebang perdu bambu sambil memungut uang. Kemudian terbukti, uang tersebut palsu. Trik ini telah mengecoh orang Aceh dengan tipu muslihat perang yang memalukan, menjijikkan dan menjengkelkan. Metode ini kemudian ditransfer oleh Sukarno untuk mengkebiri Gerakan Darul Islam Aceh (priode 1953-1961). Sukarno dengan janji-janji palsunya -Daerah Istimewa Aceh- dalam bidang: agama, pendidikan dan kebudayaan. Ternyata berisi cek kosong untuk Aceh! Habibi menipu Aceh dengan janji: membangun kereta api untuk Aceh . Hasilnya nol! Abdurrahman Wahid menipu Aceh dengan janji: Kalau di Timtim bisa referendum, mengapa di Aceh tidak. Hasilanya kosong! Megawati menipu Aceh dengan janji: kalau saya menang, tidak setetes darahpun tumpah di Aceh. Hasilnya Aceh bersimbah darah! Dalam perang modern sekali pun, kajian tentang seni sastra Aceh tetap diperlukan untuk melacak mentalitas orang Aceh. Saat rundingan antara Aceh-Indonesia yang difasilitasi oleh HDC, tahun 2000-2003, Indonesia meneliti pepatah Aceh: Meunjoë bak pèng gadoh djanggôt (dengan uang, janggut bisa hilang). Oleh sebab itu, Indonesia coba menawarkan $ US. 50.000 melalui Sofyan Tiba, tapi keburu bocor dan transaksi gagal. Di samping itu, memperalat orang Aceh: Bakhtiar Ali, Ramli Ridwan, Ridwan Karim, Naimah Hasan, Amran Zamzami, Usman Hasan, Nasaruddin Haz dan Daud Yusuf untuk menjinakkan GAM di Geneva (priode 2000-2003). Setidak-tidaknya berlaga di meja runding sesama orang Aceh. Walaupun rundingan antara GAM-RI akhirnya gagal di Tokyo. Tetapi pihak Indonesia percaya bahwa, satu saat nanti GAM terjerat bertekuk lutut. Diakui, tidak mudah menjebloskan GAM ke dalam jurang. Perlu masa yang panjang, sebagaimana dikatakan oleh Prof. David Phillip, ... bukan perkara yang mudah bagi GAM untuk mengubur mimpi merdeka. Untuk menyingkir rasa aib atas penolakan tuntutan merdeka, tampung pandangan-pandangannya dalam perjanjian yang bersifat sementara... (Prospects for Peace in Aceh. David Phillips. The Wall Street Journal, 2002) Prediksi David Phillip akhirnya terbukti di Helsinki. Mula-mula ditempuh penjajakan: (1) Mengikut sertakan Hasbi Abdullah (adik kandung Zaini Abdullah) dan Mahyuddin Adan dalam team Tujuh yang dibentuk oleh Sekretaris Negara untuk meloby pimpinan GAM. (2) Dr. Farid (juru runding RI) meloby Tengku Abdullah (Ayah kandung Zaini Abdullah) dan Amir Mahmud (abang kandung Malik Mahmud di Singapura) agar jalan menuju Helsinki mulus. (3) Sofyan Djalil (juru runding RI asal Aceh) menangis di depan juru runding GAM di Helsinki. (4) Menjanjikan kompensasi dan menyalurkan dana integrasi lewat jalur resmi dan tidak resmi kepada pimpinan GAM. Indonesia sudah tahu persis mentalitas orang Aceh lewat pepatah Meunjoë bak pèng gadoh djanggôt. Walaupun Malik Mahmud sebelum MoU Helsinki lantang berkata; Éndatu kita sudah perangi Belanda, sekarang giliran kita perangi Indonesia; ... jika tidak punya bedil, kita pakai pisau; ... jika tidak punya pisau, kita gunakan tangan; ... jika tangan diikat, kita ludahi; ... jika tidak punya ludah, kita pelototi, sebagai isarat bahwa Indonesia seteru warisan nenek moyang kita . Zaini Abdullah garang berucap: Kami tetap perjuangkan Aceh merdeka sampai mati. Kami hanya punya ada dua pilihan: merdeka atau mati syahid. Tapi Indonesia tak kecut dan gentar; pasalnya Indonesia sudah mengantongi anak kunci untuk menerobos benteng GAM, yakni: Meunjoë ka seupakat, lampoh djeurat ta peugala (Kalau sudah sepakat, tanah kuburan kita gadai ). Berbekal anak kunci inilah juru runding RI memberkas dan mencekik GAM hingga menerima konsep self-goverment (baca: otonomi khusus) di Aceh dalam bingkai NKRI dan tunduk kepada konstitusi Indonesia. Bagi orang Aceh segalanya tidak mustahil; tanah kuburan--lokasi, dimana tulang-belulang orangtua, nenek/kakek, datu dan para syuhada berada-- yang dipandang bertuah dan keramat berani mereka gadai. Jadi tidak heran, kalau Zaini Abdullah pasca MoU Helsinki berkata: Bermimpi orang yang masih berjuang menuntut Aceh merdeka dan Malik Mahmud mau menanda tangani MoU Helsinki (menggadai Aceh) atasnama demokrasi di Helsinki. Karena memang, Pepatah Meunjoë ka seupakat, lampoh djeurat ta peugala (Kalau sudah sepakat, tanah kuburan kita gadai), adalah salah satu acuan yang telah turut membentuk mentalitas orang Aceh. Harap maklum, inilah Aceh! *) Penulis adalah Director Institute for Ethnics Civilization Research, Denmark.
