Haaa...haaa...haaaa
Pue haba di Denmark..?

--- Pada Sab, 4/10/08, tawar laut <[EMAIL PROTECTED]> menulis:

Daripada: tawar laut <[EMAIL PROTECTED]>
Subjek: «PPDi» ALAHAI PERDAMAIAN
Kepada: "pdi pdi" <[email protected]>, "acehnisk acehnisk" <[EMAIL 
PROTECTED]>, "acsa group" <[EMAIL PROTECTED]>, "kuasa rakyat" <[EMAIL 
PROTECTED]>, [EMAIL PROTECTED]
Tarikh: Sabtu, 4 Oktober, 2008, 2:13 AM















Njoe keuh saboh bukti bahwa perdamaian di Aceh hana kong lagèë jang ta harap... 


03/10/2008 19:41 WIB

Gubernur Sesalkan Tindakan TNI 
* Pangdam Pertegas Keterlibatan KPA

[ rubrik: Serambi | topik: Kriminalitas ]


BANDA ACEH - Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf menyatakan penyesalannya terhadap 
tindakan aparat TNI di Aceh Utara dan Timur yang menangkap paksa Ketua Partai 
Aceh (PA) dan Ketua Komite Peralihan Aceh (KPA) wilayah Aceh Timur, pada Senin 
(29/9) dini hari. 

“Terkait isu penangkapan terhadap Tgk M Sanusi dan Nek Tu oleh TNI yang 
dipimpin Dandim Aceh Utara tengah malam tadi, menurut pendapat saya, itu adalah 
salah, sebab wewenang tersebut ada pada Polri. Lebih salah lagi kalau disertai 
kekerasan. Penangkapan seperti itu adalah tindakan sewenang-wenang dan ada 
indikasi pelanggaran HAM,” tulis Gubernur Irwandi dalam pesan singkat yang dia 
kirim dari Singapura, tempat kini ia menjalani terapi medis, kepada wartawan 
Serambi di Banda Aceh, Senin subuh. 

Menurut Irwandi, jika pun benar yang menculik anggota TNI itu adalah oknum 
anggota KPA, tapi tidak seharusnya mereka balas dengan menangkap Ketua Partai 
Aceh, termasuk Ketua KPA. “Jangan karena guru yang salah, lalu kepala 
sekolahnya ikut diculik. Tidak benar itu. Tindakan-tindakan ini saya rasa tidak 
boleh dibiarkan, bisa memancing situasi Aceh kembali memanas,” kata mantan 
pengatur strategi propaganda GAM ini. 

Gubernur mengatakan, berdasarkan informasi yang diterimanya, kejadian tersebut 
berawal dari penculikan anggota TNI yang diduga dilakukan oleh mantan kombatan 
GAM. TNI kemudian menangkap Ketua Partai Aceh wilayah Aceh Timur, Tgk Sanusi 
(65) dan Ketua KPA Aceh Timur, Ridwan alias Nek Tu (45). “Menurut info yang 
berkembang, mereka diambil paksa untuk dibarter dengan sandera.. Menurut 
Pangdam, untuk sama-sama cari sandera,” ungkap Irwandi seraya mengatakan ia 
sudah mengkonfirmasikan langsung kejadian itu kepada Pangdam IM, Kapolda Aceh, 
dan juga pihak-pihak terkait di Jakarta. 

KPA terlibat 

Sementara itu, Panglima Daerah Militer (Pangdam) Iskandar Muda, Mayor Jenderal 
TNI Soenarko, yang dihubungi Serambi, Senin (29/9) sore, kembali menegaskan 
bahwa para penculik anggota TNI di Peureulak adalah lima oknum KPA yang 
menggunakan dua senjata api laras panjang, jenis M-16 dan satu pucuk AK-47. 
“Kita punya agen yang mengabarkan penculikan memang dilakukan oleh oknum KPA. 
Jadi, kita tangkap si Sanusi itu untuk kita minta bantu upaya pencarian anggota 
saya,” jelas Pangdam. 

Soenarko mengatakan, setelah Ketua PA dan Ketua KPA dibawa ke Makoramil 
Peureulak Kota guna dimintai keterangan, akhirnya para penculik melepaskan 
anggota TNI dengan kondisi tangan dan kaki terikat sekitar pukul 05.15 WIB, 
Senin (29/9) pagi. 

Ditanya mengenai upaya pengejaran pelaku, Pangdam Soenarko menyatakan hal itu 
diserahkan kepada pihak kepolisian. “Tapi kalau kita dapat di jalan, ya kita 
tangkap terus,” tukas Pangdam. 

Mayjen Soenarko menambahkan, motif penculikan itu hanya untuk mendapatkan uang. 
Hal itu, kata Soenarko, jelas terlihat dari upaya meminta tebusan Rp 30 juta 
kepada istri anggota TNI tersebut. Ditanya tentang situasi dan kondisi 
Peureulak pascapenglepasan sandera dimaksud, Pangdam menyebutkan kondisi di 
kawasan itu biasa-biasa saja. “Aman kok, memangnya ada apa lagi di sana?” tukas 
mantan Danjen Kopassus yang ibunya kelahiran Takengon ini. 

Membantah 

Di pihak lain, Juru Bicara Komite Peralihan Aceh (KPA), Ibrahim bin Syamsuddin 
membantah bahwa KPA terlibat dalam aksi penculikan anggota Koramil Jambo Aye, 
Kopral Kepala Syaiful Abwan. Ibrahim juga menyatakan penyesalan terhadap sikap 
Dandim Aceh Utara, Letkol Inf Yoseph Sudrajat, yang menuding KPA berada di 
balik aksi penculikan itu. Ia menilai, tudingan itu memperlihatkan sikap dan 
penampakan wajah yang tidak menghargai hukum. 

“Seharusnya dia mengerti bahwa tindakan pelanggaran hukum merupakan tindakan 
pribadi, kecuali dilakukan secara terorganisir dan diperintahkan oleh lembaga 
si pelaku,” tegas Ibrahim bin Syamsuddin melalui pesan singkat (SMS) yang 
diterima wartawan, Senin (29/9). 

Menurut pria yang kerap disapa Ibrahim KBS ini, tudingan Dandim tersebut sangat 
tidak beralasan, karena KPA tidak mempunyai agenda untuk melakukan penculikan 
terhadap siapa pun. Selain itu, KPA juga tidak mempunyai kewenangan hukum untuk 
menghukum siapa pun yang dianggap bersalah. 

KBS mengatakan, apa yang disebutkan Dandim saat ini sebenarnya sedang 
memposisikan KPA sebagai musuhnya seperti pada masa konflik dulu. “Ini juga 
memperjelas identitas beliau sebagai kelompok militer garis keras yang tak 
ingin Aceh damai,” sebut KBS seraya mengharapkan agar pernyataan Dandim yang 
menuding dan emosional itu menjadi perhatian dari pimpinannya. 

Lebih lanjut, Ibrahim KBS juga menyebutkan bahwa ucapan-ucapan seperti itu 
sangat tidak pantas untuk kondisi Aceh saat ini. Oleh karena itu, ia berharap 
agar semua pihak taat hukum dan menghindari pengangkangan terhadap hukum.. 

Ibrahim KBS juga mengajak semua pihak menegakkan perdamaian di Aceh, agar 
rakyat Aceh terlepas dari penderitaan seperti yang dialami di masa konflik. 

“Kami selalu menegaskan bahwa hukum harus jadi panglima di Aceh. Oleh 
karenanya, semua pelanggaran hukum harus ditindak, walau siapa pun pelakunya,” 
demikian Ibrahim KBS. (nal/yuh)





[EMAIL PROTECTED] com
www.lauttawar. com
http://kenmahara. multiply. com/

http://www.myspace. com/lingegroup
http://www.youtube. com/user/ wintakengen

 














      Mobile phone fell into water!

Kirim email ke