----- Original Message ----- 
From: Andreas Harsono 
To: andreas harsono ; [EMAIL PROTECTED] 
Sent: Thursday, October 09, 2008 2:53 AM
Subject: [pantau-komunitas] Kepulangan Hasan Tiro ke Aceh, Kesempatan Membuka 
Misteri Sebenarnya


http://modusaceh-news.com/page.php?hal=9&id=972&kategori=1&berita=Kesempata%
20Membuka%20Misteri%20Sebenarnya
 
07 October 2008 Jam 03:00

Kesempatan Membuka Misteri Sebenarnya

- modusaceh-news.com
 
Kepulangan Hasan Tiro ke Aceh, mengundang perhatian Komite Persiapan Aceh
Merdeka Demokratik (KPAMD) yang bermarkas di Amerika Serikat dan Sweden.
Melalui juru bicaranya Edy L Suheri, dia menjawab berbagai pertanyaan media
ini, melalui surat elektronik (email). Apa saja kata mantan wartawan ini?
Berikut petikannya.
 
 
Apa pendapat Anda tentang kepulangan Hasan Tiro ke Aceh?
 
Kami rasa ada baiknya bagi rakyat di Nanggroe,
atas rencana kepulangan Pahlawan Revolusi dan
Pendiri Acheh Merdeka (AM), Yang Mulia Dr. Hasan M
di Tiro. Semoga saja rencana itu terlaksana dan
beliau dapat menjejakkan kaki kembali di tanah
kelahiran.
 
Maksud Anda?
 
Kepulangan beliau diharapkan dapat membuka misteri
seputar keadaan beliau yang sebenarnya. Rakyat
Acheh di Nanggroe akan memperoleh kesempatan untuk
melihat sendiri kondisi beliau, yang sudah tidak
lagi tampil di depan publik sejak terkena serangan
stroke pada tahun 1997 lalu. Di samping, kondisi
beliau sebagai seorang hamba Allah yang telah
berusia 87 tahun, yang secara alamiah sudah
memasuki masa uzur.
 
Apa yang Anda dan kawan-kawan inginkan?
 
Keadaan yang kami inginkan untuk diketahui oleh
seluruh bangsa Acheh secara terang, agar mereka
maklum terhadap keadaan seorang pemimpin bangsa,
namun usaha itu selama ini terhalang karena
dikaburkan oleh bekas pimpinan GAM oligarkhi.
Selama sepuluh tahun terakhir ini, beliau berada
di dalam penjara politik pihak tersebut, beliau
diisolir. Kepemimpinan beliau di masa lalu,
bersama dengan pengaruh dan aura beliau, telah
dijadikan komoditi oleh pihak tersebut untuk
meraih kuasa politik di mata rakyat Acheh.
 
Selengkapnya  Dibawah

Apa pendapat Anda atau KP-AMD, tentang kepulangan Wali Hasan Tiro ke Aceh,
11 Oktober mendatang?
 
Kami rasa ada baiknya bagi rakyat di Nanggroe, atas rencana kepulangan
Pahlawan Revolusi dan Pendiri Acheh Merdeka (AM), Yang Mulia Dr. Hasan M di
Tiro. Semoga saja rencana itu terlaksana dan beliau dapat menjejakkan kaki
kembali di tanah kelahiran.

Kepulangan beliau diharapkan dapat membuka misteri seputar keadaan beliau
yang sebenarnya. Rakyat Acheh di Nanggroe akan memperoleh kesempatan untuk
melihat sendiri kondisi beliau, yang sudah tidak lagi tampil di depan publik
sejak terkena serangan stroke pada tahun 1997 lalu. Di samping, kondisi
beliau sebagai seorang hamba Allah yang telah berusia 87 tahun, yang secara
alamiah sudah memasuki masa uzur. Keadaan yang kami inginkan untuk diketahui
oleh seluruh bangsa Acheh, namun usaha itu terhalang selama ini karena
dikaburkan oleh pimpinan GAM oligarkhi. Selama sepuluh tahun terakhir ini,
beliau berada di dalam penjara politik pihak tersebut, beliau diisolir.

Kepemimpinan beliau di masa lalu, bersama dengan pengaruh dan aura beliau,
telah dijadikan komoditi oleh pihak tersebut untuk meraih kuasa politik di
mata rakyat Acheh.

Apa makna dibalik kepulangan itu?

Terlalu pagi untuk menarik kesimpulan atau merangkum makna dari kepulangan
itu. Ianya masih sebatas rencana atau mungkin saja suatu siasat politik
pimpinan GAM oligarkhi yang sekarang sedang memburu hasrat politik mereka
melalui Partai Acheh.

Benarkah kepulangan itu atas keinginan Wali sendiri atau ada indikasi lain?

Sangat diragukan jika rencana itu adalah kehendak Yang Mulia sendiri.
Apalagi kami, khususnya para anggota Komite di Sweden-termasuk yang dulunya
paling dekat dengan beliau seperti saudara Yusuf Daud-tahu betul bagaimana
prinsip beliau. Beberapa anggota komite yang telah bertemu beliau,
menyaksikan kondisi beliau yang tidak lagi dalam kondisi prima dari segi
daya pikir. Meskipun secara fisik masih sehat. Beliau sudah tidak lagi
berdaya untuk menegaskan keinginan beliau sendiri, dalam kata lain. Coba
pikirkan secara logik, andaikan beliau masih dalam kapasiti normal seperti
masa 1997 ke belakang, tentu saja beliau memainkan peranan strategik dalam
masa beberapa perundingan yang telah lalu, di Geneva, Tokyo dan Helsinki.
Jika pun beliau merestui perjanjian Helsinki, beliau sudah kembali ke Acheh
pada tahun pertama perjanjian itu disepakati.

Indikasi lain sehingga rencana kepulangan itu dibuat karena beberapa sebab;
pertama untuk mendongkrak pengaruh GAM oligarkhi dan sayap politik barunya,
Parti Acheh, yang semakin menurun. Juga strategi isolasi yang sudah terlalu
lama dilakukan ke atas Yang Mulia mulai tidak lagi menguntungkan. Ada
sejumlah kekuatan yang mendesak pembukaan isolasi tersebut, Komite juga, di
samping rombongan pelancong DPRD panitia Qanun WN yang mencoba menerjang
blokade itu. Belum lama ini, seorang peneliti dari Jerman berhasil menjumpai
WN di rumahnya tanpa diketahui oleh pihak pengisolir.

Apa makna dibalik kepulangan Wali bagi keutuhan perdamaian yang sudah
terajut di Aceh?

 Menurut pendapat kami, hampir tak ada suatu nilai tambah bagi terciptanya
sebuah perdamaian yang utuh. Malah keadaan yang berlaku di Acheh saat ini
tidak dapat dikatakan suatu keadaan damai yang absolut (absolute peace).
Keadaan di Acheh adalah kondisi damai negativ atau peredaan konflik semata,
sedangkan core atau inti konflik belum dialamatkan. Lalu suatu `perdamaian'
dipaksakan untuk terwujud agar konflik bersenjata segera usai.  Dengan
alasan memberi peluang kepada rakyat untuk kembali ke tahap kehidupan
normal. Tapi kehidupan normal yang diimpikan itu tidak jua tercapai,
lihatlah keadaan sekarang. Itu sama saja dengan melapisi dompul dan cat baru
ke atas mobil yang berkarat tanpa terlebih dahulu membersihkan dasarnya.
Untuk sementara memang kelihatan cantik dan baru, tak lama karat itu akan
naik kembali ke permukaan.

Persoalan Acheh adalah konflik peninggalan kolonial Belanda yang beralih ke
tangan kolonial Indonesia. Sepeninggalan Belanda, rakyat tidak diberi hak
untuk memilih secara umum (universal suffrage) dalam suatu arena penentuan
status masa depan untuk diri dan tanah mereka. Proses pengambilan keputusan
yang maha penting seperti itu hanya dilakukan oleh sekelompok orang saja,
yang melakukan monopoli kekuatan dan pengaruh. Lalu mengolah atau
mengangkangi hak dan sikap politik rakyat. Padahal yang menanggung resiko
akibat dari keputusan yang salah itu adalah seluruh rakyat Acheh.

Itulah yang terjadi ketika Acheh digabungkan dengan Indonesia, serta
perjanjian Helsinki yang baru ini.

Makanya, sebelum perjanjian itu disepakati, kami berpendapat bahwa langkah
perdamaian harus diawali dengan gencatan senjata paling tidak selama 2
tahun, untuk rehabilitasi korban tsunami dan konflik. Kemudian suatu
referendum untuk menentukan status Acheh harus dilakukan. Hasilnya baru
dapat mendamaikan Acheh secara permanen. Dengan cara demikian, inti konflik
dapat dihilangkan. 
 
KP AMD sendiri setuju Wali Hasan Tiro pulang ke Aceh? 

Komite tidak dalam posisi untuk mengatakan setuju atau tidak. Tetapi kami
melihat rencana itu ada baiknya bagi rakyat Acheh. Mungkin sudah masanya
beliau kembali, apalagi beliau sudah terlalu lama di perantauan dan telah
pensiun dari perjuangan politik aktiv sejak tahun 1997. Berbagai pernyataan
dan keputusan yang dibuat di atas tahun tersebut adalah rekayasa pihak
oligarkhi yang tidak mempunyai kekuatan untuk berdiri sendiri, jika tak
didukung oleh pengaruh beliau. Pihak pendudukan Indonesia pun tidak
lagi melihat beliau sebagai seorang tokoh yang berbahaya, hanya pengaruh dan
cult beliau yang masih berbicara. Dan yang lebih penting, kesempatan ini
dapat digunakan oleh press atau media massa di Acheh untuk membuat interview
dengan beliau dan menyebarkan kebenaran kepada publik. Tapi kami kira hal
itu sulit terjadi, dan KPA telah berkata akan `menyeleksi' para journalis
yang meliput.

Bukankah kepulangan itu bermakna bahwa persoalan merdeka sudah selesai,
ditandai dengan MoU Helsinki?

Anggapan itu kurang tepat atau menyesatkan. Beliau adalah seorang ideolog
dan deklarator Acheh Merdeka, serta bekas pemimpin revolusi. Bagi kami dan
bangsa Acheh yang cinta kemerdekaan, beliau adalah pahlawan bangsa. Di mana
potret beliau berhak ditempatkan dalam deretan para Pahlawan Acheh yang
telah berkorban untuk membebaskan bangsanya, mulai dari Keumala Hayati,
Panglima Polem, Tgk Tjhik di Tiro sampai ke Tjut Njak Dhien. Beliau telah
memperkenalkan kembali identiti Acheh sebagai sebuah Bangsa dan Negara dan
menanamkan kembali ideologi Acheh Merdeka kepada pengikutnya di tahun 1976.
Ideologi itu telah terus berkembang menjadi milik rakyat, menjalar dan
tumbuh subur di dalam sanubari bangsa Acheh. Ideologi itu tak pernah mati,
ia akan turun dari satu generasi ke generasi yang lebih muda. Seperti di
dalam tubuh Komite sekarang yang merupakan perpaduan antara generasi tahun
tahun 1976, 1980, dan 1998. Jadi perjuangan itu tidak hanya bergantung
kepada deklarator, pendiri atau pemimpin.
 
Kami para pengabdi ideologi Acheh Merdeka terus berjuang berdasarkan
tuntunan ideologi itu sendiri. Kami juga taat dan setia kepada pencetus
ideologi sejauh yang bersangkutan sanggup memimpin kami berdasarkan ideologi
yang beliau lahirkan. Jika sang deklarator ideologi bertentangan dengan
ideologi hasil karyanya sendiri, maka yang paling berhak kami ikuti adalah
ideologinya, bukan individu atau personalnya. Jadi ideologi tidak sepenuhnya
bergantung pada sang ideolog. Katakanlah Adam Smith, pembawa ideologi
kapitalism, ajarannya itu akan bertahan dan menjadi milik mereka yang
menerimanya, sekalipun Smith memilih jadi seorang Marxist. Jadi tidak
mungkin ideologinya itu berubah jadi kapitalism-sosialism hanya karena Smith
berubah jadi pengikut Karl Marx. Apalagi jika kita bicara dalam konteks
Acheh, di mana perjuangan bangsa kita tidak terikat seratus persen dengan
status pemimpin. Oleh sebab itu kita sanggup berperang 80 tahun lebih dengan
Belanda. Lain halnya dengan budaya jawa, jika pemimpin mereka ditangkap
seperti Diponegoro, maka seluruh prajuritnya menyerah dan habislah
perjuangan. Selain itu, Kami menghindari pengkultusan yang berlebihan
terhadap seseorang kecuali para Nabi dan Rasul, sekalipun yang berkenaan
adalah seorang pemimpin. Karena ianya bertentangan dengan agama, di samping
berbahaya bagi demokrasi dan psikologi manusia, yang pada dasarnya adalah
korup jika diberi kuasa yang tanpa batas dan tiada aturan yang
mengontrol.        
 
Apa langkah dari pihak Anda selanjutnya?
 
Perjuangan Komite tidak terpengaruh dengan agenda pihak lain di luar
spektrum Komite, termasuk rencana kepulangan Yang Mulia. Walaupun sekiranya
perjuangan Komite berhasil dan beliau masih diberi umur panjang, Komite akan
menempatkan beliau pada kedudukan Wali Negara yang sah. Itu karena beliau
telah berjasa dalam perjuangan ini.

Meskipun beliau sudah tidak mampu untuk melakukan aktiviti secara normal
ketika ini. Namun kami tidak dalam rangka memperjuangkan beliau untuk
menjadi Wali Nanggroe pura-pura di bawah koloni Indonesia, seperti rencana
pihak oligarkhi dan kalangan pro-pendudukan. Sebab menaruh beliau dalam
posisi tersebut adalah penghinaan terhadap ideologi dan pribadi Yang Mulia.
Di mana semangat dan ideologi yang berkenaan masih tetap kami pertahankan
sampai detik ini.
 
Jadi, Komite terus bekerja sesuai dengan agenda yang sudah ditetapkan, yang
antara lain berperan sebagai oposisi terhadap perjanjian Helsinki dan
berjuang untuk self-determination rakyat Acheh. Saat ini kekuatan dan
pengaruh Komite di Acheh semakin bertambah, yang bermakna pelaksanaan suatu
kongres inklusif perlu dipersiapkan, untuk menghadirkan representatif yang
lebih luas di dalam tubuh komite. Kongres ini nantinya yang akan menentukan
kepemimpinan eksekutif dan legislatif gerakan.

"Udép geutanjoë hana juëm meusaboh aneukmanok meunjo hana tapeutheun peuë
njang ka geukeubah lé éndatu. Udép sibagoë lamiët dan djadjahan gob njan
hana juëm meu- sikeuëh ! Meunjo tateupuë(peuë) arti keumuliaan!
UREUENG-UREUENG LAGÈË LÔN 1000 X (SIRIBÈË GO) LEUBÈH GOT MATÉ NIBAk
DIDJADJAH LÉ DJAWA !!! Kheun Tgk Hasan di Tiro
http://www.youtube.com/watch?v=oqJYGoF0SMQ

--- End forwarded message ---

------ End of Forwarded Message



 

Kirim email ke