Indonesia Khususnya Wong jawa yang terkenal mengjual "tempe" berlainan Aceh 
yang selama ini indonesia sedang berjuang dengaan cara apa sekalipun untuk 
merosak kan akhlak dan akhidah bangsa Aceh. Syariat apa yang hendak di jalan 
kan di aceh oleh wong jawa itu sedangkan di jawa yang terkenal dengan 
kehinduannya masih banyak wong wedok yang menjual tempe di tepi jalan. 
cerminkan diri sendiri dulu lek

--- On Thu, 6/11/08, zainal arivin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: zainal arivin <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: [IACSF] Orang Aceh porno juga ya..........
To: [EMAIL PROTECTED]
Date: Thursday, 6 November, 2008, 1:13 PM










Hehehe Hebat Abu Pase. Itu lah maksud saya... Susah ngatakannnya. ........ hehe

--- On Thu, 11/6/08, Ibrahim Ahmad <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:

From: Ibrahim Ahmad <[EMAIL PROTECTED] com>
Subject: Re: [IACSF] Orang Aceh porno juga ya..........
To: [EMAIL PROTECTED] com
Date: Thursday, November 6, 2008, 2:50 AM








Indonesia tak ada jalan keluarnya 

karena

Naik ke atas, turun ke bawah, masuk ke dalam, keluarnya ............ .ke mana?

makanya banyak masalah tak ada jalan keluar.







--- On Thu, 11/6/08, zainal arivin <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:

From: zainal arivin <[EMAIL PROTECTED] com>
Subject: Re: [IACSF] Orang Aceh porno juga ya..........
To: [EMAIL PROTECTED] com
Date: Thursday, November 6, 2008, 5:35 PM









Terlepas dari mubazir atau tidaknya, menurut saya bahasa melayu/indonesia itu 
tidak konsisten. Kalau dikatakan mubazir, harusnya bahasa melayu juga tidak 
perlu "masuk ke dalam" (cukup masuk saja), atau naik ke atas (tapi cukup naik), 
kemudian turun ke bawah (cukup turun). Karena keluarnya tidak ada arah..... 
Jadi ada pendapat yang mengatakan, rugi kalau beradu argumen dengan orang 
melayu/indonesia, karena mereka tidak punya arah (jalan) keluar...... ....... 
Entahlah  
MUdahah-mudahan ada yang menggagas untuk menggali kembali kekayaan bahasa Aceh


--- On Wed, 11/5/08, salman atjeh <[EMAIL PROTECTED] co.uk> wrote:

From: salman atjeh <[EMAIL PROTECTED] co.uk>
Subject: Re: [IACSF] Orang Aceh porno juga ya..........
To: [EMAIL PROTECTED] com
Date: Wednesday, November 5, 2008, 8:47 PM






saya rasa apa yang anda katakan mubazir dalam penggunaan kata harus ditinjau 
kembali.

anda harus membedakan antara mubazir dan penegasan dalam bahasa(kalau dalam 
bahasa arab disebut takid)
kalau gak salah yang dikatakan mubazir contohnya,"seluruh para tamu diharapkan 
duduk" itu mubazir kata2 namanya,yang tidak mubazir :"para tamu diharapkan 
duduk".
tapi kalau kita mengatakan "teubit u luwa" itu adalah takkid kalau dalam 
istilah bahasa arab,tidak dikatakan mubazir kata.artinya benar2 harus teubit 
uluwa,atau ucapan "deuak that pruet" -saya orang timur aceh tapi tidak merasa 
janggal dengan ucapan ini apalagi menggelikan- itu bermakna benar2 deuk.ken 
mubazir,meunyoe dron peugah mubazir,abeh mubazir haba ureung arab nyang leu 
that2 geu pakek takkid.apa anda berani mengatakan bahasa arab miskin juga????




From: | awak | aceh | com | <[EMAIL PROTECTED] com>
To: [EMAIL PROTECTED] com
Sent: Thursday, 6 November, 2008 5:55:29
Subject: Re: [IACSF] Orang Aceh porno juga ya..........





perbedaan makna tidak menunjukkan sesuatu bahasa itu kaya. bisa aja orang 
berangggapan pikiran orang aceh itu selalu terbalik dengan logika (bahasa 
indonesia).
 
saya juga punya pengalaman lucu menyangkut perbedaan makna bahasa melayu 
(malaysia) dengan bahsa indonesia.
 
kalau ada headline koran di malaysia yang seperti ini, "mangsa ribut mati 
lemas," saya bisa jamin 90% orang indonesia akan salah mengartikan kata-kata 
"mangsa", "ribut", "lemas" tersebut. karena seharusnya dalam bahasa indonesia 
itu berarti "korban badai mati tenggelam".
 
kalau masalah dalam bahasa indonesia ga ada kalimat yang setara dengan "teubiet 
u luwa", itu sama sekali tidak menunjukkan bahasa aceh itu kaya kata-kata. itu 
malah salah satu contoh mubazir dalam penggunaan kata (redudansi) yang tidak 
perlu. saya bisa tambahkan, misalnya orang di pesisir barat aceh suka 
mengatakan "deuek that pruet", atau "teunget that mata". bagi orang yang 
tinggal di pesisir timur aceh akan mengganggap ini sesuatu yang lucu, karena 
sudah pasti yang dueuk atau pun troe itu adalah perut. jadi penegasan dueuk 
pruet itu merupakan redudansi yang mubazir dan menggelikan bagi mereka, dan 
sama sekali bukan menunjukkan bahasa aceh (barat) itu.
 
BTW. bahasa melayu yang diadobsi oleh bangsa aceh jaman dulu jelas bukan bahasa 
indonesia. justru orang indonesia juga mengadopsi bahasa, mungkin karena 
"kekayaannya" itu.


 
2008/11/5 zainal arivin [EMAIL PROTECTED] com











Ah belum tentu juga.... Coba cermati satu lagi cerita yang saya kutip dari Ayah 
Panton.... Katanya mungkin perbedaan bahasa inilah yang menjadi Aceh dengan 
Indonesia tidak bisa bersatu beneran dari dulu...
 
Contoh: ketika kita bilang rhueng, orang jakarta bilang punggung, sehingga 
seakan tidak mungkin ketika ada yang bilang tidur dengan punggung... (eh ngon 
punggong).
 
Kemudian,  ketika orang Aceh bilang neuheun, orang jakarta bilang tambak, 
padahal jelas sekali bahwa neuheun itu seperti uruek yang lebar. Maka si orang 
Aceh menjelaskan bahwa yang dimaksud tambak adalah mengambil tanah untuk 
ditimbun ke dalam lobang besar. Eeeh malah orang Jakarta bilang itu adalah 
urug........ . padahal bagi orang Aceh, urug (kadang terdengar uruk atau uruek 
bagi orang Pidie), adalah lobang di tanah.... 
 
Terus untuk membuktikan bahwa bahasa Aceh kaya kata-kata coba padankan 
kata-kata ini dengan bahasa Melayu atau Indonesia)
 
1. Tamong u dalam (dalam bahasa melayu masuk ke dalam)
2. Ek u ateuh (naik ke atas)
3. Tren u miyub (turun ke bawah)
4. Tubiet u luwa (nah di sinilah bahasa Melayu atawa Indonesia tidak ada 
padanannya, mereka hanya mengatakan keluar, tidak tahu kemana). 
 
Entahlah,... ......... ...... Tapi enakan bahas seperti ini, ketimbang 
memaki-maki orang di milis... hehe Saleum

--- On Wed, 11/5/08, | awak | aceh | com | <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:

From: | awak | aceh | com | <[EMAIL PROTECTED] com>
Subject: Re: [IACSF] Orang Aceh porno juga ya..........
To: [EMAIL PROTECTED] com
Date: Wednesday, November 5, 2008, 7:15 AM 







bahasa aceh itu miskin kata-kata. paling banyak itu cuma 5000-an kata. makanya 
bahasa aceh tidak cocok untuk dijakdikan bahasa pengantar ilmu pengetahuan. 
saya pikir, itu sebabnya orang aceh mengadopsi bahasa melayu sebagai medium of 
instruction di dayah dan juga penulisan kitab jaman dulu.
 
 


 
2008/11/5 zainal arivin [EMAIL PROTECTED] com











Kawan-kawan, ngomong-ngomong soal mesum-mesuman, saya mau tanya sedikit tentang 
cara pandang orang Aceh terhadap binatang. Ini saya kutip dari cerita Pak Din 
Djalil (ayah panton).
 
Katanya, dalam soal binatang, tampaknya cara pandang orang Aceh cukup berbeda 
dengan orang Melayu, apalagi dengan orang barat (Inggris, dll). Tak percaya, 
coba tanya sama orang barat bagaimana di menghitung jumlah lembu, dia pasti 
hitung kepalanya (head to head). Satu kepala, dua kepala, dst... Kalau orang 
Melayu dia hitung ekornya, satu ekor, dua ekor, dst. Tapi coba tanyakan kepada 
orang Aceh, apanya yang dihitung ya.......... .....
 
 


-- 
[61:2] Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang 
tidak kamu kerjakan? 
[61:3] Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang 
tidak kamu kerjakan.




-- 
[61:2] Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang 
tidak kamu kerjakan? 
[61:3] Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang 
tidak kamu kerjakan.




 














      

Kirim email ke