http://www.sinarharapan.co.id/berita/0901/05/nus04.html

Waspadai Potensi Separatisme Berlabel Etnis di Kalimantan



Pontianak - Pemerintah Republik Indonesia dan Federasi Malaysia diminta 
meningkatkan kewaspadaan dan kepekaan kolektif terhadap potensi gerakan 
separatisme berlabelkan etnis tertentu yang sewaktu-waktu dapat merongrong 
kewibawaan dan keutuhan masing-masing kedua negara di Kalimantan.
Hal itu dikemukakan Ketua Lembaga Kajian Strategis dan Advokasi Ummat 
Kalimantan Barat Rousdy Said kepada SH, Minggu (4/1). Wilayah Federasi Malaysia 
di Kalimantan mencakup Negara Bagian Sabah dan Negara Bagian Sarawak. Wilayah 
Indonesia meliputi Provinsi Kalimantan Timur, Selatan, Tengah dan Barat.


Sementara itu, Ketua Dewan Pimpinan Nasional Majelis Adat Dayak Kalimantan, 
Agustinus Teras Narang dalam salah satu kesempatan di Pontianak belum lama ini, 
menegaskan, bagi masyarakat Suku Dayak, Negara Kesatuan Republik Indonesia 
(NKRI) sudah merupakan harga mati. Gubernur Kalimantan Tengah itu menjamin, 
masyarakat Suku Dayak di wilayah Indonesia, tidak akan mudah terpancing oleh 
gerakan yang dapat merongrong kewibawaan pemerintah Indonesia dan tetap berada 
di barisan terdepan dalam menjaga keutuhan NKRI.


Rousdy mengatakan, situasi politik di Malaysia akhir-akhir ini yang terus 
memanas pasca-Pemilu Sela, Sabtu, 8 Maret 2008 lalu, sudah mulai muncul 
indikasi ketidakpuasan golongan masyarakat tertentu di Negara Bagian Sabah dan 
Sarawak. Ketidakpuasan terhadap kepemimpinan Barisan Nasional (BN) yang 
dimotori United Malays National Organization (UMNO) telah membuat sebagian 
masyarakat di Malaysia lebih simpati terhadap program yang ditawarkan oposisi 
yang mengedepankan pluralisme yang dimotori mantan Deputi Perdana Menteri, 
Anwar Ibrahim tersebut. 


"Implikasi ketidakpuasan tidak menutup kemungkinan suatu saat masyarakat di 
Sabah dan Sarawak ingin memisahkan diri dari Malaysia, membentuk negara sendiri 
dan atau bergabung dengan Indonesia, melalui konsep identitas tertentu. 
Indonesia dan Malaysia mesti mengambil langkah terpadu dalam 
mengantisipasinya," ujar Rousdy.


Berdasarkan pengamatan Rousdy, indikasi kentalnya politik identitas yang 
mencuat ke permukaan akhir-akhir ini di Kalimantan, jika tidak disadari, bisa 
menimbulkan nasionalisme sempit yang skalanya melampaui batas administratif 
suatu negara.Ia mengungkapkan, di masa mendatang memang diperlukan adanya 
kewaspadaan dan kepekaan kolektif pemerintah Indonesia dan Malaysia, terkait 
permasalahan di Kalimantan. Pulau Kalimantan dimiliki tiga negara, yakni 
Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam. Ia juga mengatakan, intensitas 
asimilasi, pertukaran dan atau pertemuan budaya antar-sesama etnis Dayak dari 
kedua negara, bisa menjadi permasalahan sensitif, jika pihak yang terkait 
langsung, tanpa disadari, dengan mudah terjebak kepentingan jangka pendek.


Menurutnya, masyarakat di Kalimantan yang berada di tiga negara itu, banyak 
yang memiliki kesamaan budaya, sehingga proses asimilisasi berjalan sangat 
cepat. Dalam kondisi demikian, antara komunitas masyarakat berlatar belakang 
budaya yang sama, akan merasa senasib dan sepenanggungan apabila ada anggota 
komunitasnya di salah satu negara mengalami praktik ketidakadilan politik, 
ekonomi, sosial dan budaya.(aju) 

Kirim email ke