Kualitas Pemilu 2009 Diragukan * Gempar: Terimalah Secara Lapang Dada 14 April 2009, 12:01 Utama Administrator
Asnawi juru bicara PA Aceh Timur, didampingi Sekretarisnya dalam konferensi pers Asnawi juru bicara PA Aceh Timur, didampingi Sekretarisnya Sulaiman Ismail alias GM, dan Ketua Bapilu PA Amiruddin Zakaria dalam konferensi pers, Minggu (12/4) siang di Kantor DPW PA di Peureulak. SERAMBI/ ISKANDAR USMAN BANDA ACEH - Sejumlah elit partai politik di Aceh menyatakan keraguannya terhadap kualitas Pemilihan Umum 9 April 2009. Selain karena banyaknya warga yang tidak bisa memilih sebab namanya tidak masuk dalam daftar pemilih tetap (DPT), juga mencuatnya sejumlah laporan intimidasi dari berbagai wilayah. Pendapat ini disuarakan beberapa elit parpol secara terpisah kepada Serambi, Selasa (13/4). Ketua Umum Partai Daulat Aceh (PDA) Tgk Harmen Nuriqmar, menyatakan, adanya indikasi kecurangan dalam bentuk tekanan atau intimidasi di lapangan, telah menggangu konsentrasi rakyat Aceh dalam menentukan pilihannya. Karena itu, kata Tgk Harmen, sejumlah laporan lisan yang diterima dari beberapa pengurus wilayah, kini sedang disusun dalam bentuk laporan resmi yang akan segera dilayangkan kepada Panwaslu Aceh, KIP, dan ditembuskan kepada Bawaslu dan KPU Pusat. Setelah mendapat data akurat, kata Tgk Harmen, kemungkinan pihaknya akan meminta KPU dan Bawaslu menggelar pemilu ulang di Aceh, terutama di TPS bermasalah. Suara hampir senada disampaikan Ketua DPW PPP Aceh, Tgk Faisal Amin. Menurutnya, kualitas pemilu belum baik apalagi banyak kelemahan di tingkat TPS dan PPK. Ia berharap tidak ada penggelembungan suara di tingkat PPK serta tidak ada upaya menaikkan caleg yang disukai oleh kelompok tertentu. Rendahnya kualitas Pemilu 2009 di Aceh juga diutarakan Ketua DPW Partai Bulan Bintang, Jufri Effendi, dan Sekretaris Partai Bintang Reformasi (PBR) Aceh, Ibrahim Saleh. Menurut Jufri Effendi, pihaknya menerima laporan kecurangan dalam bentuk intimidasi serta berkurangnya partisipasi masyarakat dalam memilih. “PBB menunggu laporan tertulis dari DPC dan apabila ada kecurangan tentu sangat layak apabila KIP dan panwaslu menggelar pemilu ulang,” sebut Jufri. Suara yang lebih keras diutarakan Ketua Umum DPP Suara Independen Rakyat Aceh (SIRA), Muhammad Taufik Abda. Melalui email yang dikirim ke Serambi, mantan aktifis ini menyatakan belum dapat menerima sepenuhnya hasil pemilu yang berlangsung di bawah bayang intimidasi, kecurangan, serta buruknya sistem penyelenggaraan pemilu. Menurut Taufik, kesimpulan itu diambil berdasarkan laporan sementara para saksi Partai SIRA dari berbagai daerah dan lembaga pemantau pemilu. “Keputusan resmi partai disampaikan setelah rapat pleno majelis tinggi partai pada 17 April 2009 mendatang dan menunggu penetapan rekapitulasi suara penghitungan akhir di tingkat provinsi oleh Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh,” katanya. Sementara Sekretaris DPD PDI-P Aceh, Zaini Djalil memberi apresiasi terhadap pemilu yang terlaksana secara aman, meski keberhasilan dari sisi kualitas tidak seperti yang diharapkan. Hal ini, kata dia, terjadi akibat lemahnya KPU/KIP dan panwas dalam menjalankan tugasnya. Aturan yang kerap berubah, kata Zaini, juga berefek kepada munculnya pihak yang memanfaatkan keadaan untuk memenangkan partainya dengan cara tidak sportif. Pemilih yang dapat mengunakan haknya, tetapi tidak bisa memberikan sesuai pengetahuan, kebebasan, dan nurani yang dimiliki. Hasil pemilu di Aceh babak baru dalam perpolitikan baik dari parlok dan parnas yang menang. “Kami berharap keputusan politik yang diberikan rakyat Aceh pada partai pemenang baik parnas maupun parlok harus menjadikan Aceh lebih aman dan lebih baik,” kata dia. Ini Kepercayaan Rakyat Sementara itu, Ketua Gerakan Masyarakat Partisipatif (GeMPAR) Aceh, Auzir Fahlevi SH, antusiasnya masyarakat dalam mengikuti Pemilu 2009 membuktikan bahwa pesta demokrasi telah berlangsung sukses. Auzir meminta kepada semua peserta pemilu agar menerima hasilnya dengan lapang dada. “Kalau pun pihak yang menilai pemilu diwarnai teror dan intimidasi maka itu adalah klaim pihak yang tidak bisa menerima kekalahan partai maupun caleg secara lapang dada. Mereka mengkambinghitamkan teror dan intimidasi sebagai bentuk kekecewaan. Kami pikir hal seperti ini harus dibuktikan secara hukum. Jangan cuma direka-reka,” ungkap Auzir. Kemenangan PA, ujar Auzir, harus dihargai oleh semua pihak. Perolehan suara mayoritas merupakan sebuah kepercayaan masyarakat pada kader partai ini. Ia berharap kemenangan ini harus bisa mengakomodir aspirasi masyarakat baik di DPRK maupun DPRA. “Hargai kemenangan parpol lain dan jangan untuk kepentingan pribadi maupun kelompok, lalu melahirkan konflik baru di Aceh,” ujarnya.(swa) ============================================================== Tgk Hasan di Tiro: Lumo djawa (jawa) dum di Atjèh (Aceh) ! http://www.youtube.com/watch?v=H7wcl7m8xp8&feature=related Tgk Hasan di Tiro: Ureuëng Atjèh Kahabéh Gadoh Karakter ! http://www.youtube.com/watch?v=H8mbiUwHpIY&feature=related Tgk Hasan di Tiro: Peuë (Puë) peunjakét Bangsa Atjèh uroë njoë ? http://www.youtube.com/watch?v=sbJsJtdDFE8 Tgk Hasan di Tiro: Gubernur, Bupati, Camat dst nakeuh geupeunan Lhoh (Pengkhianat)! http://www.youtube.com/watch?v=oqJYGoF0SMQ&feature=related Tgk Hasan di Tiro: "Ureuëng njang paléng bahaja keu geutajoe nakeuh - djawa keumah djipeugot urg atjèh seutotdjih nibak seutot geutanjoe. Mantong na urg atjèh njang tém djeuët keu kulidjih, keu sidadudjih, keu gubernurdjih, keu bupatidjih, keu tjamatdjih, dll. Mantong na biëk droëteuh njang djak djôk dan peusah nanggroe atjèh keu djawa!" http://www.youtube.com/watch?v=Gbjb04wKWow&feature=related "Udép geutanjoë hana juëm meusaboh aneukmanok meunjo hana tapeutheun peuë njang ka geukeubah lé éndatu. Udép sibagoë lamiët dan djadjahan gob njan hana juëm meu-sikeuëh ! Meunjo tateupuë(peuë) arti keumuliaan! UREUENG-UREUENG LAGÈË LÔN 1000 X ( SIRIBÈË GO ) LEUBÈH GOT MATÉ NIBAk DIDJADJAH LÉ DJAWA !!! Kheun Tgk Hasan di Tiro http://www.youtube.com/watch?v=oqJYGoF0SMQ ================================================================================
