----- Original Message ----- 
From: winwannur 
To: [email protected] 
Sent: Wednesday, August 26, 2009 4:26 PM
Subject: [pantau-komunitas] Anggota DPRK Dilantik dan Musim Jilat-Menjilatpun 
Dimulai


  Akhirnya pelantikan anggota baru DPRK Aceh Tengah periode 2009-2014 jadi 
dilaksanakan. Setelah sebelumnya sempat tertunda akibat berbagai masalah yang 
menyertai Pemilu legislatif yang berlangsung beberapa waktu yang lalu.

Sejak reformasi bergulir ada banyak perubahan mencolok berkaitan dengan 
pembagian kekuasaan antara eksekutif dan legislatif. Dibanding zaman orde baru 
dulu,sekarang peran legislatif dalam menentukan berbagai kebijakan daerah 
menjadi lebih besar. Salah satu contohnya bisa kita lihat betapa besar peran 
DPRK Aceh tengah dalam menggoalkan proses penjualan lahan dan mesjid Panti 
Asuhan Budi Luhur kepada BPD Aceh beberapa waktu yang lalu.

Maksud awal dari pemberian peran yang lebih besar kepada legislatif dalam 
menentukan arah kebijakan pemerintahan tidak lain adalah untuk meminimalisir 
penyelewengan yang dilakukan oleh eksekutif dalam menentukan arah atau 
melaksanakan sebuah kebijakan. 

Tapi dengan mentalitas tikus pejabat dan politikus Indonesia yang rata-rata 
terkenal rakus sejak dahulu kala. Tentu saja yang dipikirkan oleh mayoritas 
pejabat maupun politikus yang terlibat dalam menyusun kebijakan untuk daerah 
bukanlah apa yang terbaik untuk daerah, tapi apa yang terbaik yang bisa 
dilakukan untuk pemerataan rezeki diantara eksekutif dan legislatif beserta 
kroni-kroninya.

Akhirnya maksud dan semangat awal dari perubahan inipun menjadi jauh panggang 
dari api. Rakyat yang menjadi pemberi mandat tertinggi, majikan yang menggaji 
para pejabat dan politikus itu malah dijadikan komoditi oleh para pesuruh dan 
pelayannya sendiri. 

Begitulah dengan pola baru pembagian kekuasaan ini, posisi legislatif sekarang 
menjadi sangat penting dan strategis. Para pejabat tidak bisa menggoalkan 
ambisi mereka tanpa persetujuan legislatif. Maka belakangan kitapun menyaksikan 
fenomena baru dalam setiap pelantikan anggota legislatif baru. Fenomena baru 
itu adalah banyaknya pejabat yang berusaha mendekat dan menjilat anggota 
legislatif yang baru.

Seperti juga di daerah lain, fenomena yang sama juga terjadi di Aceh Tengah. 
Setelah resmi terpilih menjadi anggota DPRK, banyak wajah-wajah baru yang akan 
menduduki kursi empuk dewan terhormat itu yang mulai didekati dan dijilat-jilat 
oleh para pejabat di kabupaten ini. Yang paling aktif melakukan penjilatan itu 
biasanya adalah pejabat-pejabat karatan yang sudah lama malang melintang dalam 
percaturan birokrasi pemerintahan. Yang menjadi sasaran adalah para wajah baru 
di parlemen yang meskipun banyak mendapat dukungan tapi masih tergagap-gagap 
ketika tiba-tiba memperoleh kekuasaan.

Salah satu pejabat yang paling sibuk dan paling aktif dalam usaha menjilat 
calon anggota DPRK yang sudah resmi terpilih adalah Drs. H. Albar, mantan camat 
Bebesen yang sekarang menjabat kepala dinas Sosial Aceh Tengah, otak di balik 
penjualan lahan dan mesjid panti asuhan Budi Luhur. Yang sembunyi ketakutan 
ketika rombongan mahasiswa Gajah Putih yang dipimpin oleh Iwan Bahagia mendemo 
bupati memprpotes penjualan lahan dan mesjid Panti Asuhan itu.

Berkaitan dengan adanya pelantikan anggota DPRK Aceh Tengah kemarin, seorang 
pengurus Partai Aceh yang saya kenal cukup baik menceritakan kepada saya. 
Menjelang pelantikan kemarin, Albar yang bergelar haji dan mengaku yatim sejak 
kecil tapi menurut laporan sebuah LSM menilap uang jatah harian anak-anak yatim 
yang tinggal di Panti Asuhan Budi Luhur, mulai mendekati salah satu calon 
anggota terpilih yang mewakili Partai Aceh. Kepada si anggota DPRK terpilih ini 
Albar menawarkan hadiah satu setel jas untuk dipakai waktu pelantikan kemarin.

Seperti kata ungkapan terkenal dalam dunia politik "tidak ada musuh dan teman 
abadi, yang ada hanyalah kepentingan yang abadi" sehingga meskipun di masa 
konflik dulu Albar adalah salah satu orang yang sangat anti dengan orang-orang 
yang sekarang berada di Partai Aceh, tapi ketika saat ini arah angin berubah, 
Albar yang cerdas dan ber-IQ tinggi ini dengan cepat memahami, sosok mana yang 
harus dia dekati demi melanggengkan kepentingannya yang abadi.

Menurut pengamatan saya dan juga pengurus Partai Aceh yang saya ajak bicara 
ini. Sosok anggota DPRK ini dipilih Albar untuk dijilat karena Albar yang 
sosoknya mengingatkan kita pada HARMOKO, menteri penerangan legendaris di masa 
orde baru dulu ini, karena Albar tahu betapa strategisnya posisi Partai Aceh di 
pemerintahan Aceh saat ini. Sehingga bukan tidak mungkin saat pemilihan ketua 
DPRK nanti, sosok yang sedang berusaha dia jilat inilah yang akan terpilih 
menjadi ketua. Jadi kalau sosok ini berhasil dia jilat, segala kebijakan yang 
berdasarkan'ide' dan 'kreatifitas' Albar seperti 'kreatifitasnya' saat 
mengusulkan pada Bupati untuk menjual Panti Asuhan Budi Luhur dulu akan mudah 
dilaksanakan.

Untungnya, menurut pengurus Partai Aceh ini, si anggota terpilih yang pernah 
lama tinggal di Bali itu menolak menerima tawaran Albar karena khawatir ada 
konsekwensi yang harus dibayar dari 'budi baik' yang ditawarkan Albar.

Albar sendiri hanyalah satu dari banyak pejabat yang berperilaku serupa. 
Karenanya saya yakin, tawaran-tawaran seperti itu yang ditujukan kepada anggota 
DPRK terpilih bukan hanya datang dari Albar seorang saja. 

Kemudian, anggota DPRK Aceh Tengah terpilih juga tidak semuanya bermental 
seperti anggota Partai Aceh di atas. Banyak anggota DPRK Aceh tengah terpilih 
yang mencalonkan diri sebagai anggota legislatif memang murni karena alasan 
'bisnis' dan 'perut' semata. Sama sekali bukan demi kepentikan konstituen yang 
dia wakili.

Salah satu anggota DPRK Aceh Tengah terpilih yang dilantik kemarin yang banyak 
disorot oleh para mantan aktivis tahun 1998 dulu adalah anggota DPRK yang 
bernama Ikwanussufa yang mewakili Demokrat. Para mantan aktivis tahun 1998 dulu 
banyak yang mengatakan bahwa Ikhwanussufa yang saya kenal cukup baik ini 
sebagai sosok yang oportunis dan tidak punya pendirian, sangat mudah berpaling 
pada yang mampu memberinya peluang kekuasaan. 

Saya sendiri tidak tahu mengenai pribadi Ikhawanussufa sejauh itu, tapi melihat 
rekam jejaknya sangat mungkin apa yang dikatakan para mantan aktivis ini memang 
begitu adanya. Saya sendiri masih mengingat apa yang dikatakan oleh 
Ikhwanussufa saat demo Referendum di Aceh Tengah dulu. Ketika itu Ikhwanussufa 
inilah yang memunculkan ide untuk menjadikan Tgk. Ilyas Leubee menjadi pahlawan 
nasional. Saya menduga dia akan menjadi politikus yang bergabung di Partai 
Aceh, Tapi sekarang dia justru berada di kubu Demokrat. 

Jadi, maksud saya menulis ini bukanlah menyerang pribadi Drs. H. Albar atau 
Ikhwanussufa, mereka hanya jadi contoh kasus saja. Tapi maksud saya menuliskan 
ini adalah, dengan adanya pelantikan anggota DPRK yang baru lalu. Marilah kita 
sebagai masyarakat Aceh tengah dan yang berada jauh di luar Aceh Tengah tapi 
tetap memiliki kepedulian terhadap tanoh Gayo, tanoh warisan endatu kita untuk 
terus membuka mata lebar, mengawasi setiap gerak langkah dan mengkritisi setiap 
kebijakan yang akan ditelurkan oleh para anggota DPRK yang baru ini.

Karena perilaku para pejabat dan politikus yang mengutamakan untuk 
mengenyangkan perut sendiri ini bisa dikurangi hanya dengan cara menghidupkan 
elemen demokrasi keempat yaitu PERS.

Dan yang lebih menarik lagi, PERS sekarang bukan hanya media resmi yang untuk 
wilayah Aceh tengah juga sudah berhasil dikebiri oleh Pemda dengan cara memberi 
'budi baik' kepada para wartawannya. Sekarang blog dan publikasi di milis dan 
facebookpun bisa mempengaruhi opini publik. 

Malah khusus untuk Aceh Tengah, orang Gayo sekarang mengalami lompatan quantum 
dalam penerimaan informasi. Orang Gayo yang memiliki akses informasi sangat 
rendah karena tidak suka membaca koran, kini malah sangat familiar dengan 
internet.

Ini bisa terjadi karena orang Gayo memiliki karakter khas 'unung-unung'. 
Karakter itu membuat orang Gayo rata-rata tidak mau kalah dengan teman dan 
kolega soal kecanggihan Handphone yang mereka punya. Orang gayo bahkan yang 
tinggal di tengah kebun kopi di Weh Ni Konyel sanapun malu jika punya handphone 
yang tidak memilik fasilitas internet. 

Begitulah, karakter orang Gayo yang sering dipandang rendah dan dianggap 
sebagai sikap negatif ini justru memberi efek positif. Dengan perilaku yang 
baru ini, informasi yang disampaikan melalui media internet justru lebih 
efektif dibanding koran. Kalau ingin menyampaikan ide kepada orang Gayo 
sekarang, jauh lebih efektif melalui internet ketimbang koran. 

Jadi sebenarnya para pejabat dan politikus Aceh Tengah rugi membayar dan 
mengumpani para wartawan cetak untuk dijadikan corong, karena koran hanya 
memiliki oplag yang tidak lebih dari 200 eksemplar untuk seluruh Aceh Tengah 
dan Bener Meriah, pembacanyapun ya cuma kalangan pemda. politikus, kolega dan 
keluarga mereka sendiri. Sehingga untuk kasus ini, wartawannya kenyang, pejabat 
dan politikusnya nggak dapat apa-apa.

Seharusnya kalau Pemda mau 'mengumpani' wartawan, yang diumpani itu Khalisuddin 
dan Win Ruhdi Bathin yang disangka banyak orang adalah nama asli saya. Karena 
mereka berdua wartawan untuk media online, yang pengaruh tulisannya terhadap 
pembentukan opini masyarakat Aceh Tengah jauh lebih terasa (he he he...sori 
rinen)

Jadi karena menyampaikan ide melalui media internet kepada orang Gayo terbukti 
efektif, mulai hari ini marilah kita mulai untuk mengamati setiap gerak langkah 
para anggota DPRK terpilih yang baru dilantik ini dalam menjalankan tugasnya 
dan mari kita tuliskan setiap kejanggalan dan kebijakan 'ajaib' yang mereka 
rencanakan.

Wassalam

Win Wan Nur
www.winwannur.blog.com
www.winwannur.blogspot.com



Kirim email ke