http://www.sinarharapan.co.id/cetak/berita/read/wisata-gerilya-nanggroe-di-pucok-krueng/

Senin, 04 Januari 2010 14:39 
Wisata Gerilya Nanggroe di Pucok Krueng
OLEH: JOHN JOSEPH SINJAL



Lhoknga (Aceh Besar) - Perjalanan menuju hulu Sungai Pucok Krueng dari 
pelabuhan nelayan di Lhoknga, Aceh Besar, bagaikan naik perahu menyusuri "Delta 
Mekong" di berbagai film tentang perang Vietnam.


     
Tujuan kami ketika itu adalah menyaksikan salah satu basis perbukitan yang 
dijadikan markas gerilya Gerakan Aceh Merdeka (GAM), di mana di bawahnya 
terdapat sumber pengadaan air bersih yang layak minum. Wilayah tersebut kini 
dijadikan proyek percontohan Wisata Gerilya Nanggroe yang dikelola oleh Aceh 
Explorer pim­pinan pria berkebangsaan Belanda, Mendel Pools atau sebagai mualaf 
akrab dipanggil dengan nama Nurdin. 


Menjawab pertanyaan SH, Nurdin mengakui bisnis turismenya ini terinspirasi 
model perjalanan wisata gerilya di Vietnam dan El Salvador. "Rute-rute 
persembunyian para gerilyawan di masa lalu, kini jadi jalur wisata para turis 
yang ingin tahu lokasi kehidupan bergerilya di hutan, sungai, bukit, dan 
gua-gua, serta bagaimana mereka bertahan hidup dari sumber air alam dan 
tumbuhan-tumbuhan liar," paparnya pekan lalu. 


"Dulu, kalau Anda bukan pengikut GAM, bila masuk ke sini harus bersenjata," 
kenang lelaki bule beristri perempuan Aceh itu. Nurdin dengan puluhan anak buah 
yang sekitar 30 orang di antaranya adalah mantan anggota GAM, resmi menjalankan 
bisnis ini sejak Maret 2007. "Saya memang terlebih dulu mendekati para 
gerilyawan GAM untuk menjalankan pariwisata gerilya, karena mereka yang paling 
tahu jalan-jalan tikus menuju wilayah pusat perlawanan mereka," jelasnya. 


Ia melanjutkan, "Saya sebenarnya lebih suka ini disebut semacam ekowisata, 
tetapi Pak Irwandi Yusuf (Gubernur Aceh) yang memilihkan nama wisata gerilya, 
meski berakibat dikritik dan tidak mau didanai lembaga swadaya masyarakat (LSM) 
dengan alasan politik sensitif," tambahnya. Irwandi Yusuf menyetujui program 
wisata "bukan pantai" ini karena dinilai selaras dengan tujuan untuk membuka 
lapangan pekerjaan bagi para mantan gerilyawan GAM yang bisa ditugaskan selaku 
pemandu jalan, sebagai pembimbing simulasi perang gerilya, serta dalam 
permainan perang-perangan hingga pelatihan outbound.  

Petualangan
Kegiatan ini berunsur petualangan, memusatkan wisata gerilya di Pucok Krueng, 
Aceh Besar, karena lokasinya dinilai paling strategis di dekat Laut Malaka dan 
memenuhi unsur petualangan menyusuri sungai di tengah rerimbunan sisa hutan 
alam yang masih ditinggali monyet-monyet liar dan biawak. Bahkan, di hutan 
perbukitannya, masih menetap beberapa beruang madu, elang, dan burung walet. 


Di bukit batu yang terjal itu juga didapati tujuh makam ulama korban 
pertempuran melawan Belanda, dan dulu dijadikan sebagai tempat singgah dan 
berziarah bagi pasukan GAM yang diyakini selalu melindungi mereka dalam 
pemberontakannya. Di wilayah perbukitan Pucok Krueng juga ditemui Gua Harimau, 
yang konon menjadi arah pelarian para gerilyawan ketika diburu pasukan Tentara 
Nasional Indonesia (TNI). 


Nurdin juga menunjukkan sisa-sisa jejak pasukan TNI yang memburu GAM di wilayah 
itu, melalui bekas kaleng makanan dan botol minuman serta sepatu khas TNI, 
berikut bekas area perkemahan yang pernah dibangun prajurit TNI di kawasan itu. 
Bisa dimengerti, kalau kawasan basis GAM di Pucok Krueng termasuk menjadi 
sasaran pengintaian dan penyergapan pasukan TNI di masa lalu, karena di situ 
terdapat lokasi sumber air minum yang bermakna sangat vital. 
Wilayah bekas pusat basis GAM di Sigli, Meulaboh, Aceh Barat, juga akan 
diperkenalkan sebagai daerah Wisata Gerilya Nanggroe lainnya. n

Kirim email ke