http://www.surya.co.id/2010/02/04/merusak-tanaman-warga-warga-ancam-racuni-gajah-bernomor.html
Merusak Tanaman Warga, Warga Ancam Racuni Gajah Bernomor Kamis, 4 Februari 2010 | 14:39 WIB | Posts by: jps | Kategori: Berita Terkini, Sumatera | ShareThis * Minta BKSDA Turun PEUREULAK - SURYA- Warga Krueng Tuan, Desa Seumanah Jaya, Kecamatan Ranto Peureulak, Aceh Timur, mengancam akan meracuni tiga ekor gajah bernomor seri, yang selama ini terus merusak tanaman warga berupa padi dan sawit, apabila tidak segera mendapat perhatian serius dari pihak terkait. Warga juga menyesalkan pernyataan Kepala Badan Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) Provinsi Aceh, Abubakar Cekmat, yang menyatakan, tiga ekor gajah yang diklaim warga bernomor seri dan hilir mudik di areal pertanian bukan gajah jinak piaraan Pusat Latihan Gajah (PLG). Tapi, gajah liar yang melintasi jalur jelajahnya. "Kami tidak tahan lagi, jika tidak segera direspons kami tidak sungkan-sungkan untuk meracun binatang berbadan besar ini. Perlu kami sampaikan kepada BKSDA bahwa, masyarakat di sini bisa membedakan gajah jinak dan gajah liar. Kalau mau lihat turun langsung ke lapangan lah," kata Muhat Alias Tayeb, warga Seumanah Jaya kepada Serambi, Rabu (3/2). Menurut Muhat, bila BKSDA provinsi mengklaim gajah tersebut bukan gajah jinak, maka masyarakat sudah merasakan jika salah satu gajah tersebut pernah berkali-kali masuk ke dalam kompleks SD Seumanah Jaya dan komplek Dayah Nurul A'la. "Masyarakat tidak berani lagi ke ladang takut diinjak gajah ini. BKSDA, pemerintah daerah dan provinsi harus cepat mengambil tindakan sebelum daya rusak semakin besar," katanya. Muhat juga membenarkan pada tahun 2007 silam pawang gajah pernah dikirim ke sana. Kepada warga juga diberikan mercon untuk menghalau gajah. Waktu itu upaya tersebut dilaporkan berhasil karena yang dihadapi adalah gajah liar. "Karena itu kami dapat ide untuk membuat meriam bambu menggunakan karbit. Namun kondisi saat ini sangat berbeda dengan tiga gajah ini, yang tidak mau beranjak sama sekali meski diusir degan meriam bambu laras pipa 10 inci," ungkapnya. Dengan kondisi demikian, sambung Muhat, warga berkesimpulan tiga ekor gajah bernomor tersebut bukan gajah liar seperti yang dikatakan BKSDA provinsi, tapi gajah jinak. Sementara warga juga menegaskan, dari akhir 2008 sampai saat ini tidak ada pawang gajah yang datang ke desa mereka. Disebutkan, pihaknya tidak dapat merincikan laporan kerugian masyarakat akibat kerusakan yang ditimbulkan dari gangguan gajah ini. Bahkan pada tahun 2008 silam salah seorang warga meninggal dunia akibat diamuk binatang berbadan bongsor ini. "Kami tidak tahu bagaimana cara lagi, jangan salahkan kami, jika kami bertindak," pungkasnya. Sebelumnya, Kepala Badan Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) Provinsi Aceh, Abubakar Cekmat menyatakan, tiga ekor gajah yang diklaim warga bernomor seri dan hilir mudik serta merusak areal pertanian di kawasan Krueng Tuan, Kecamatan Ranto Peureulak Aceh Timur itu, bukan gajah jinak piaraan Pusat Latihan Gajah (PLG). Tapi, gajah liar yang melintasi jalur jelajahnya. is/serambi indonesia
