Tgk Hasan di Tiro: Lumo djawa (jawa) dum di Atjèh (Aceh) ! 
http://www.youtube.com/watch?v=H7wcl7m8xp8&feature=related 

Tgk Hasan di Tiro: Ureuëng Atjèh Kahabéh Gadoh Karakter ! 
http://www.youtube.com/watch?v=H8mbiUwHpIY&feature=related 

Tgk Hasan di Tiro: Peuë (Puë) peunjakét Bangsa Atjèh uroë njoë ? 
http://www.youtube.com/watch?v=sbJsJtdDFE8 

Tgk Hasan di Tiro: Gubernur, Bupati, Camat dst nakeuh geupeunan Lhoh 
(Pengkhianat)! 
http://www.youtube.com/watch?v=oqJYGoF0SMQ&feature=related 

Tgk Hasan di Tiro: "Ureuëng njang paléng bahaja keu geutajoe nakeuh - djawa 
keumah djipeugot urg atjèh seutotdjih nibak seutot geutanjoe. Mantong na urg 
atjèh njang tém djeuët keu kulidjih, keu sidadudjih, keu gubernurdjih, keu 
bupatidjih, keu tjamatdjih, dll. Mantong na biëk droëteuh njang djak djôk dan 
peusah nanggroe atjèh keu djawa!" 
http://www.youtube.com/watch?v=Gbjb04wKWow&feature=related 

"Udép geutanjoë hana juëm meusaboh aneukmanok meunjo hana tapeutheun peuë njang 
ka geukeubah lé éndatu. Udép sibagoë lamiët dan djadjahan gob njan hana juëm 
meu-sikeuëh ! Meunjo tateupuë(peuë) arti keumuliaan! UREUENG-UREUENG LAGÈË LÔN 
1000 X ( SIRIBÈË GO ) LEUBÈH GOT MATÉ NIBAk DIDJADJAH LÉ DJAWA !!! 
Kheun Tgk Hasan di Tiro 
http://www.youtube.com/watch?v=oqJYGoF0SMQ 
================================================================================

--- On Sat, 4/10/10, insiders ignoramus <[email protected]> wrote:


From: insiders ignoramus <[email protected]>
Subject: «PPDi» Re: «PPDi» Pasangan berzina diarak bogel keliling 
kampung+syariah biadab
To: [email protected]
Date: Saturday, April 10, 2010, 4:53 PM


  








Salam hormat Bung,


Baca baik2 petikan dibawah ini!


"Mereka kemudiannya ditarik keluar dan diarak berbogel keliling kampung, 
diikat di sebatang tiang dan dipukul menggunakan kayu serta tangan mereka 
sehingga menjadi hitam dan biru."


Bukankah kutipan seperti diatas ini sering kita dengar dan baca ketika 
diberlakukan DOM di Aceh.antara 1989-1998? Dulu ABRI sering masuk rumah yang 
dicurigai anggota GAM: mengheret pemilik rumah dari tempat tidur dan 
menyiksa di depan orang ramai yang telah dipaksa berkumpul. Atau menelanjangi 
kaum ibu di depan orang ramai, seperti yang terjadi di Teupin 
Raya Pidie, juga di masa darurat militer.


Sekarang, dimasa damai, paska MoU, orang Aceh sendiri yang
meneruskan perbuatan terkutuk dan diluar hukum ini, dengan modus
operandi yang sama tetapi atas alasan2 lain lagi: dicurigai melanggar syariah.
Meng-arak2 seorang perempuan/lelaki telanjang keliling kampung, tidak ada 
bedanya mempertonton ibu atau adik perempuannya sendiri yang telanjang kepada 
orang ramai.


Ini namanya syariah bodoh dan biadab! Syariah yang tidak bertanggung- jawab!


Tetapi yang lebih biadab lagi adalah polisi Aceh, termasuk polisi WH, yang 
sengaja membiarkan rakyat Aceh main hakim sendiri: membiarkan hukum 
rimba tumbuh dan subur di masa aman, dan membiarkan rakyat Aceh saling 
berhantam sesama sendiri dengan cara melegitimasi orang kampung sebagai algojo 
”penegak hukum”.


”Mereka kemudiannya ditarik keluar dan diarak berbogel keliling kampung, diikat 
di sebatang tiang dan dipukul menggunakan kayu serta tangan mereka sehingga 
menjadi hitam dan biru."


Peristiwa2 seperti di atas ini bukan suatu fenomina baru di Aceh paska damai. 
Kita juga telah menyaksikan orang2 yang dihajar massa, berdarah-darah sampai 
babak-belur, karena kedapatan mencuri atau ingin mencuri seekor kambing atau 
seekor bebek. Setelah remuk-redam baru polisi datang untuk ”menyelamatkan 
korban dari amukan massa yang sudah marah”, persis seperti dalam adegan filem2 
cowboy Amerika. Saya tidak pernah mendengar polisi atau polisi syariah 
memprotes (tidak dikatakan menghukum) terhadap tindakan sewenang-wenang yang 
dilakukan oleh pareman gampong.


Mungkin menganiaya atau mempermalukan orang lain bagi sebagian orang merupakan 
”hiburan”; bagi sebagian lagi merupakan ”kebutuhan”; dan bagi sebagian besar 
lainnya hanya ikut-ikutan – karena tidak ada kerja lain.
Kenapa praktik2 biadab ini terus dibiarkan di Aceh?


Kalau memang penduduk kampung sudah lama mendeteksi atau mengetahui gelagat 
pasangan tersebut, kenapa tidak seorangpun yang melapor ke polisi atau polisi 
syariah? Atau mungkin juga polisi sudah malas ngurusin perempuan pakai baju 
ketat, muda-mudi berciuman, berdua-duaan dengan yang bukan muhrim dan lain2 
lagi. Tetapi kemana sudah ”Ureuëng Tuha Peuët”, ”Imum Meunasah”, abu2 di dayah 
dan pasantren? Apakah mereka juga diundang untuk menyaksikan pameran tersebut? 
Wallahu 'Alam!


”Mereka kemudiannya ditarik keluar dan diarak berbogel keliling kampung, diikat 
di sebatang tiang dan dipukul menggunakan kayu serta tangan mereka sehingga 
menjadi hitam dan biru."


Memang tepat sekali seperti dikatakan sebagian orang bahwa yang dimaksud dengan 
damai adalah ”tidak ada perang” - tidak lebih dari itu. Peringatan atau cobaan 
Tuhan yang begitu dahsyat melalui gempa dan tsunami tidak memberi pelajaran 
apa2 kepada Aceh: Maksiat, kriminalitet, korupsi oleh pejabat terus merajalela 
dan orang Aceh malah bertambah curang, jahat, rakus, tamak dan biadab.


Apakah semata-mata karena ekonomi, politik atau kepemimpinan yang menyebabkan 
Aceh dan manusia Aceh begitu terpuruk sekarang?


Saya rasaTIDAK juga.


Aceh memiliki segala-galanya tetapi sudah kehilangan jatidiri, marwah, dan 
wibawa. Dalam keadaan sekarang Aceh memerlukan seorang ”rasul” extra untuk 
memperbaiki moral atau akhlaq orang Aceh yang sudah bobrok itu. Bukankah 
Mohammad S.A.W. diutus ke dunia untuk memperbaiki atau menyempurnakan 
budipekerti yang baik (makaarimal Akhlaaq)?


Kalau moral seseorang sudah sangat merosot (dekadens), maka manusia tersebut 
tidak malu/segan2 lagi untuk berbuat salah. Dan kalau sifat malu itu dicabut 
dari seseorang, maka manusia tersebut telah berhenti menjadi manusia - ka saban 
lagèë lumo atawa hana atôran lé: djirot peuë2 njang rhôh; djirhak ho2 njang 
galak djih; atra gob-atra djih; haleuë-hareuëm hana laku lé keu djih; hana soë 
njang djiseugan lé dan trôk 'an njang pedjeuët dan pelahé djih hana djituri lé.


Pernah terbaca satu artikel di Opini Serambi tahun lalu (27 Agustus 2009) oleh 
Dr Asna Husin, kebetulan teman sekelas saya di Sekolah Menengah Islam (SMI) 
dulu, tentang suatu penyakit kronis yang diderita Aceh sekarang - penyakit 
TIDAK MALU.


Dengan merujuk kepada sebuah hadits ”Fain Lam Tastahyi Fasna` Ma Syi’ta (Kalau 
kamu tidak memiliki malu, lakukan apa saja), Asna menyimpulkan bahwa MALU 
merupakan kualitet yang paling penting bagi manusia, karena malu dapat mencegah 
manusia dari perbuatan mungkar. Dan sebaliknya, jika manusia tidak punya rasa 
malu, tambahnya, mereka tidak lebih dari seekor hewan dan sanggup melakukan apa 
saja. Dr Asna sempat juga memberikan beberapa contoh korupsi dan sogok menyogok 
yang dilakukan oleh pejabat, termasuk NGO, tanpa rasa malu sedikitpun.


Sebenarnya inilah persoalan yang dihadapi aceh sekarang: krisis iman dan 
dekadensi moral yang cukup parah yang sudah menjadi akar atau punca dari segala 
permasalahan. Dan jika generasi sekarang tidak berusaha untuk memperbaikinya, 
maka generasi mendatang akan menerima warisan ini yang jauh lebih buruk lagi.


”Mereka kemudiannya ditarik keluar dan diarak berbogel keliling kampung, diikat 
di sebatang tiang dan dipukul menggunakan kayu serta tangan mereka sehingga 
menjadi hitam dan biru."


Bung,


Dalam hidupku, ini pertama sekali aku merasa malu menjadi orang Aceh.




Salam sampai jumpa lagi















--- On Fri, 9/4/10, sunny <am...@tele2. se> wrote:


From: sunny <am...@tele2. se>
Subject: «PPDi» Pasangan berzina diarak bogel keliling kampung
To: Undisclosed- Recipient@ yahoo.com
Date: Friday, 9 April, 2010, 5:21


  



http://www.utusan. com.my/utusan/ info.asp? 
y=2010&dt=0409&pub=Utusan_Malaysia&sec=Luar_Negara&pg=lu_06.htm
 

Pasangan berzina diarak bogel keliling kampung
 
BANDA ACEH 8 April - Seorang guru bersama kekasihnya yang merupakan isteri 
orang, diarak bogel mengelilingi kampung mereka setelah didapati berzina 
sebelum dipukul oleh penduduk dan kini berdepan dengan hukuman sebat di 
khalayak umum.
Guru itu yang hanya dikenali sebagai Bus, berusia 36 tahun ditangkap semasa 
mengadakan hubungan seks dengan seorang suri rumah Yus, 28, di Aceh oleh 
penduduk kampung.
"Penduduk kampung menyerbu rumah wanita itu dan mendapati mereka sedang 
berdua-duaan, '' kata pegawai penguatkuasa Syariah Aceh Barat, Teuku Abdurrazak.
"Mereka kemudiannya ditarik keluar dan diarak berbogel keliling kampung, diikat 
di sebatang tiang dan dipukul menggunakan kayu serta tangan mereka sehingga 
menjadi hitam dan biru.
"Penduduk kampung sangat marah... jika polis lambat tiba di tempat kejadian, 
pasangan itu mungkin mati,'' kata Abdurrazak.
Menurutnya lagi, pasangan itu kini berhadapan hukuman sembilan sebatan jika 
didapati bersalah berzina.
Aceh melaksanakan sebahagian undang-undang Syariah pada 2001 sebagai sebahagian 
daripada pakej autonomi dari Jakarta bertujuan untuk menghapuskan sentimen puak 
pemisah. - AFP








      

Kirim email ke