Salam,
Refleksi bung MG kali ini menggugah saya untuk meneruskan diskusi ini. Anda berada disebarang saya, dan hari ini saya berada disebenang sini. Tulisan Anda mengenai 'kritik' ini mengingatkan saya kepada salah seorang tokoh fav saya, Albert Camus (1913-60). Saya saya sangat yakin sekali bahwa nama Camus ini sudah tak asing lagi bagi mereka yang pernah belajar atau mengambil jurusan filsafat.
Camus dilahirkan dalam keadaan miskin, meski demikian ia berhasil keluar dari -- meminjam istilahj Rizqon Khamami -- lingkaran setan itu (miskin). Sudahlah masa-masa kecilnya dihiasi dengan hidup sebagai seorang miskin, sakit-sakitan lagi. Sungguhpun demikian dengan segala kebesaran jiwanya, akhirnya ia juga berhasil memperoleh gelar sarjananya. Kemiskinan bukan pengahalang baginya dalam menuju cita-cita.
Sebagai seorang insan akademik, ia mampu mentransfer keilmuannya kepada banyak orang melalui tulisannya. Hal ini mengingatkan saya kepada kondisi kehidupan intelektual sekaligus menghidupkan tradisi ilmiah yang seharusnya terus maju dan berkembang di linkungan kita, India ini, tapi karena berbagai macam alasan, tradisi ilmiah tersebut sampai saat ini masih mati suri. Situasi yang semacam ini sepertinya akan terus berlanjut, baik ketika dikritisi, apalagi bila tidak dikritisi.
Di India, bila kita cermati secara seksama, sudah banyak diantara rekan-rekan kita yang secara akademik mereka adalah orang yang seharusnya mampu untuk menjadi seorang yang benar-benar ahli dibidangnya. Sayangnya nuansa ini belum ada terasa. Seperti pernah disinggung oleh salah seorang rekan kita bahwa sepertinya lulusan India ini akan kembali lagi ke habitatnya masing-masing. Bila memang demikian kenyataannya, apa yang salah dengan kita?
Kritikan, meskipun pedas hendaknya dipandang sebagai pemicu supaya kita menjadi lebih baik lagi. Bila dikritik sebagai aktor yang paling terburuk perannya dalam sebuah film, misalnya, jadikan kritikan itu sebagai pemicu untuk berubah ke arah yang lebih baik lagi. Jangan pula kritikan itu dimasukkan kedalam hati, kemudian kritikan itu dianggap sebagai pembunuh semangat kita, lantas pada akhirnya kita benci kepada yang mengkritisi itu tadi. Inilah resiko kita sebagai makhlus sosial, makhluk yang bertulang belakang. Kita tak bisa hidup tanpa ada orang lain. Kalau kata Albert Camus, "We are condemned to live together." Kita ini dihukum untuk harus hidup bersama.
Bahkan sering muncul dalam lamunan saya kalau sudah mengingat-ingat masalah kebaikan dan kemajuan bersama, bahwa kita ini diciptakan oleh Tuhan adalah ' to complete not to competete each other'. Sayangnya, ajakan yang telah disampaikan secara bijak tidak diindahkan juga, kemudian ajakan tersebut berubah menjadi sebuah kritikan, ternyata dampak negatifnya jauh lebih besar lagi, apa itu? kebencian. Bila kebencian ini sudah muncul, hal-hal positif apapun yang disampaikan oleh sipengkritik ini, niscaya tak akan pernah diindahkan lagi.
Saya yakin rekan-rekan lain pasti memiliki pendapat berbeda. Bung Qisa'i, kita tunggu sergahan Anda. Mungkin rekan-rekan kita K' Nita, Nidya, Ayu, ingin curhat juga, kita tunggu. Bagaimana dengan rekan-rekan di Roorkee, Bangalore, Hyderabad, Pune, Agra dan Aligarh? Dari pojok kampung ini, kami ucapkan selamat mengikuti ujian. Semoga sukses semua.
Wassalam,
IzaM -
Promosi: Telusuri tumpahan hati saya mengenai 'Arti Bahagia' di link berikut ini: http://www.ppi-india.org/BUKA/halaman.php?ArtID=415
Mario Gagho <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Refleksi: Tak Mau Kritik, Tak Berhak Dipuji
Oleh Mario Gagho
"........Menarik dicatat adalah kata sambutannya waktu menerima
penghargaan sebagai artis terburuk itu.
"Saya menerima penghargaan ini dg tulus hati. Saya
menganggap ini sebagai kritik bagi saya untuk tampil
lebih baik di filem-filem saya berikutnya. Saya masih
ingat pesan ibu saya bahwa 'Kamu tidak berhak dipuji
kalau kamu tidak bisa menerima kritikan'."
........Mario Gagho
Agra University
www.ppi-india.org
---------
* * * * *
Zamhasari Jamil
Pelajar Islamic Studies
Jamia Millia Islamia - A Central University
New Delhi - India 110 025
Website Kampus : http://www.jmi.ac.in
Website Pribadi : http://www.e-tafakkur.blogspot.com
Website PPI India : http://www.ppi-india.org
Email: izamsh@ yahoo.com
Do you Yahoo!?
Plan great trips with Yahoo! Travel: Now over 17,000 guides!
_________________________________________________________________________
Mhs/Masy. indoindia diharapkan untuk selalu melihat diskusi harian di http://www.ppi-india.da.ru dan situs resmi PPI http://www.ppi-india.org ==========================================================================
Catatan penting:
1- Harap tdk. memposting berita, kecuali yg berkenaan dg masyarakat/mahasiswa/alumni India
2- Arsip milis: http://groups.yahoo.com/group/ppi-india ;
3- HP Ketua PPI (Jusman): 09810646659 ; Sekjen PPI(Mukhlis): 09897407326
4- KBRI Delhi(11)26110693;26118642; 26118647
5- KJRI Mumbai (022)3868678;3800940;3891255
Yahoo! Groups Links
- To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppi-india/
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
