Salam,
Ehem...., kritik dan godaan. Celotehan bung Sai ini kembali menggelitik hati saya untuk memperpanjang wacana 'godaan' atau 'kritik' ini. Bagaimana tidak, saya memang penikmat kritikan. Sikap yang ditunjukkan oleh mereka yang dikritisi, ada yang bersedia untuk menerima walaupun dari raut mukanya terlihat ketidaksukaannya, tapi ada juga yang malah meminta untuk dikritik. Beberapa bulan silam, ketika saya meminta salah seorang rekan wanita kita (saat ini beliau sudah kembali ke Indonesia dan sudah married lagi, :D)untuk menjadi Pembawa Acara dalam sebuah acara yang diadakan oleh PPI India ini, saya tak menyangka bahwa kesempatan yang diberikan tersebut ternyata merupakan sebuah penghargaan yang berarti baginya. Katanya, "Zam, terima kasih ya yang udah mau menunjuk saya sebagai Pembawa Acara, terus kalau ada kekurangan yang kamu lihat, mohon dikritisi saja, saya yakin pengalaman ini suatu saat akan bearti sekali bagi saya setelah kembali ke Indonesia kelak." Saya tak pernah menyangka bahwa rekan wanita kita ini akan berkata demikian, sebab sepengetahuan saya bahwa beliau adalah orang yang secara keilmuan dan pengalaman plus dari sisi tingkatan akademis jauh lebih tinggi saya. Tapi rupanya, beliau tetap berprinsip bahwa belajar tak mesti dari seniornya, dari yuniornya juga tak apa-apa. Fenomena yang sering terjadi dilingkuangan saat ini adalah selalu menanti dan bahkan menyalah senior yang tak pernah "mengajarkan" untuk berbuat ini dan itu. Tapi menurut saya mereka yang masih mengklaim dirinya ini masih "yunior", adalah sudah cukup senior bagi saya. Untuk membentuk image positif mahasiswa Indonesia di India, kita tak bisa lagi mengandalkan senior-senior kita terdahulu. Sebab masa yang lalu tak dapat untuk kita tarik kembali, tapi yang mesti kita sadari adalah bagaimana usaha kita membentuk image poisitif mahasiswa Indonesia di India atau lulusan India ini. Sebab saat ini kitaadalah senior bagi yunior-yunior kita. Walaupun sebenarnya di India ini istilah senior-yunior ini tak perlu untuk ditumbuhkembangkan. Bagi saya, setelah status ID Card saya berubah menjadi mahasiswa, maka semua kia menjadi setara. Jangan pernah bertanya apa yang telah diberikan oleh pendahulu kita kepada kita, tapi tanyakanlah apa yang sudah kita berikan kepada penerus-penerus kita. Ingat Mesrir? Nama lulusannya begitu 'besar' bukan karena semua mereka itu pintar- pintar, tidak. Tapi mereka yang pintar tersebut bisa membentuk image positif bagi lulusan-lulusan setelahnya. Di kalangan mahasiswa Indonesia di India, banyak yang pinter. Terbukti dari banyaknya rekan-rekan kitayang meraih 'first division', tapi sayang kepintarannya tersebut hanya dinikmati sendiri, tanpa pernah membagi kepintarannya tersebut kepada orang lain. Hal ini bisa kita rasakan tatkala kita meminta mereka untuk membantu kita membuat suatu karya ilmiah, mereka masih menolak karena membuat suatu karya ilmiah bukan ladangnya. Akhirnya saya menjadi yakin dengan apa yang pernah diungkapkan guru saya ketika masih nyantri dulu, "Zam, nilai tak menajmin masa depan seseorang." Adagium ini mungkin ada benarnya, paling tidak semacam itulah fenomena yang sedang mengitari kehidupan mahassiwa di India saat ini. Sebagai insan akademik, seyogyanya kita harus tahan untuk dikritisi. Sebab tanpa adanya kritikan, kita senantiasa dibuai untuk selalu berada diatas 'kebenaran'. Kembali ke ungkapan Camus sepeti yang pernah saya sebutkan sebelumnya, "we are condemned to live together". Dan karena kita ini harus hidupo bersama, maka wajar bila kita menginginkan rekan kita berhasil seperti halnya orang lain. Bukankah kita diciptakan untuk salaing melengkapi, bukan saling berkompetisi. Silakan berkompetisi, tapi tetap untuk saling melengkapi. Bingunkan dengan istilah ini? Tante Mala, kalau Anda masih bingung dengan gaya saya berfikir semacam ini, silakan Anda kuliah lagi untuk program doktor ya, hehehhe.... I miss u Mala. Tadi malam, sambil ngerumpi bersama Sai dan Fachim di Teflas, JNU, juga sempat terlintas dalam obrolan kami tentang, "Mengapa yach mahasiswi-mahasiswi Indonesia di India rada-rada pasif semua?" Kalau sekiranya ada yang galak semisal Mala sekarang, niscaya nuansa akademis dilingkungan pelajarIndonesia ini akan semakin terasa. Sayangnya ketika Mala masih di India dulu, ia juga disibukkan pacaran ama Mario Gagho, hehehe. Apakah nasib mahasiswa/i Indonesia di India ini akan sama seperti buih-buih dilautan itu? Banyak dalam kuantitas, tapi minim dalam kualitas. Cukuplah di Indonesia saja kita mendengar bahwa "semakin banyak sarjana lulusan perguruan tinggi, maka semakin bertambah pula jumlah pengangguran". Menurut Fachim, sebenarnya bukan gak pekerjaan, tapi mereka sendiri yang malas untuk membuat pekerjaan. Terkait dengan masalah pekerjaan ini, saya kembali teringat dengan pesan Pak Dalton dan pesan Pak Nahot ketika memberi sambutannya dalam acara Syukuran Kelulusan Alumni India yang diketui oleh Sotardodo beberapa bulan silam bahwa "seyogyanya lulusan India ini nantinya mampu menciptakan lapangan pekerjaan". Sedangkan untuk menjadi seorang pemimpin yang tangguh, Bu Niniek sudah pernah menjelaskannya di forum yang sama. Terima kasih untuk Dewan Penasehat PPI semua. Wassalam, IzaM - --- In [email protected], "Qisai" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Salam, > > Memang untuk beberapa waktu terakhir sepertinya forum milis ini > agak 'sepi' dari isu2 yang menggoda. Dan tampaknya undangan Ustadz > Izam, B.A untuk sedikit memberikan coretan-coretan kecil atas tulisan > MG sangat 'menggoda' untuk diterima. Mungkin rekan2 yang lain bisa > menyusul untuk meluangkan sedikit waktunya ditengah ketatnya jadwal > ujian untuk ikutan nimbrung dan berceloteh ria diforum kita ini. > ........... > Regards > > Qisa'i > Dept of Political Science, > AMU, Aligarh (UP) > > * * * * * > > Zamhasari Jamil > > Pelajar Islamic Studies > > Jamia Millia Islamia - A Central University > > New Delhi - India 110 025 > > Website Kampus : http://www.jmi.ac.in > > Website Pribadi : http://www.e-tafakkur.blogspot.com > > Website PPI India : http://www.ppi-india.org > > Email: izamsh@ yahoo.com ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> DonorsChoose. A simple way to provide underprivileged children resources often lacking in public schools. Fund a student project in NYC/NC today! http://us.click.yahoo.com/KZzaMD/.WnJAA/HwKMAA/igXolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> _________________________________________________________________________ Mhs/Masy. indoindia diharapkan untuk selalu melihat diskusi harian di http://www.ppi-india.da.ru dan situs resmi PPI http://www.ppi-india.org ========================================================================== Catatan penting: 1- Harap tdk. memposting berita, kecuali yg berkenaan dg masyarakat/mahasiswa/alumni India 2- Arsip milis: http://groups.yahoo.com/group/ppi-india ; 3- HP Ketua PPI (Jusman): 09810646659 ; Sekjen PPI(Mukhlis): 09897407326 4- KBRI Delhi(11)26110693;26118642; 26118647 5- KJRI Mumbai (022)3868678;3800940;3891255 Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppi-india/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
