--- In [email protected], "Zamhasari Jamil" <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
> 
> Salam,
> 
> Satu hal yang perlu untuk kita biasakan adalah manakala kita duduk 
> bersama juga sambil berdiskusi. Tentunya berdiskusi yang bisa 
> menambah wawasan keilmuan masing-masing diantara kita. Kata "kita" 
> yang saya maksud adalah bukan bermakna "saya" dan "Nidya", tapi 
> antara kita yang mengklaim diri sebagai "mahasiswa" dan "mahasiswi".

*** Secara teori tepat. Pada dasarnya diskusi adalah kebebasan 
berpendapat yang bertanggung jawab serta menghargai perbedaan 
berpendapat. Namun hal yg Bung izam lontarkan terkadang disalah 
gunakan yg akhirnya malah membicarakan atau mendiskusikan hal� orang 
yg bahkan meleset dari etika dan tata cara berdiskusi tersebut. 
Baikkah menurut anda metode berdiskusi dijadikan ajang membahas 
prihal personalitas seseorang yg tidak ada kaitannya dengan topik 
awal diskusi? atau diskusi yg sebenarnya anda maksud adalah curhat?

> 
> Kita juga tak perlu memandang rendah diskusi "warung kopi", sebab
> tak jarang sebuah ide besar muncul dalam diskusi warung kopi
> tersebut.

*** Benar. Tak semesti kita memandang rendah diskusi "warung kopi" 
atau kalo boleh saya menambahkan dgn sebutan "diskusi bawah tanah" 
karena memang ide� besar akan muncul dalam diskusi tersebut. Namun yg 
menjadi permasalahannya sekarang adalah penggunaan etika dan tata 
cara berdiskusi. Berjalankan diskusi tersebut dengan baik jika cara� 
berdiskusi dengan baik di abaikan? tak perlu dirincikan lebih detail 
bagaimana dan seperti apa etika berdiskusi yg baik.

> Dan Nidya yang sering mengadakan diskusi warung kopi bersama bung 
> Qisai dan bung Fachim ini tentunya secara tidak langsung telah 
> menyerap keilmuan seorang doktor di bidang politik dan keilmuan 
> seorang majister di bidang komputerisasi. Tentunya, tujuan semacam 
> ini bisa tercapai bila di dalam setiap perjumpaan itu ada celah 
untuk 
> mendiskusikan masalah kedua bidang keilmuan ini (politik dan 
> komputer).

*** Senang sekali saya medengarnya jika pada diskusi tersebut akan 
menitik beratkan pendiskusiannya pada bidang� yg digeluti masing� 
individu atau istilah kerennya sharing lah apalagi kita mahasiswa, 
tapi saya tidak yakin hal tersebut dapat diterapkan dengan sepenuhnya 
dan hanya beberapa orang saja yg mampu. Banyak fenomena yg telah kita 
liat disekitar kita saat ada rekan-rekan yg ingin berdiskusi eh toh 
malah akhirnya bukan berdiskusi justru membuat sebuah sejarah + kisah 
yg ntah dari mana dan bagaimana sejarah tersebut dapat terciptakan. 
Bukan berarti dalam argument saya ini saya tidak menyetujui diskusi. 
Saya sangat setuju. Liat ketika bung MG atau rekan� lainnya 
mendiskusikan sesuatu hal dan apa yg kita nikmati? wawasan, wacana, 
pemikiran, sudut pandang yg begitu luas yg mudah dicerna oleh siapa 
saja. Dan diskusi tersebut tidak dalam bentuk personal justru meluas. 
Dan saya secara pribadi sangat salut. Dan saat berdiskusi tidak perlu 
terlalu vocal. Menyerang ini menyerang itu (istilah), ntah apa dan 
siapa yg diserang saya juga kurang tahu.

> 
> Mbak Nidya, sebenarnya sentilan-sentilan saya agar rekan-rekan 
> mahasiswi Indonesia ini --sebutlah supaya unjuk gigi-- tersebut 
> bukanlah untuk menyinggung pribadi seseorang, melainkan sebagai 
> bentuk kepedulian saya agar rekan-rekan mahasiswi dan juga rekan-
> rekan mahasiswa tak terbuai oleh situasi dan lingkungan di India 
ini.

*** Sepertinya tidak ada yg terbuai oleh situasi dan lingkungan di 
India ini, walaupun ada mungkin hanya sebagian saja itu pun kalau 
ada. Mungkin ke-vocal-an --sesuai pengakuan anda sendiri-- bung izam 
yg begitu terlalu semangat dalam mengexpresikan ide "unjuk gigi" yg 
notabenenya sebagai salah bentuk kepedulian bung izam agar rekan-
rekan mahasiswi dan juga rekan-rekan mahasiswa tidak terbuai oleh 
situasi dan lingkungan di India juga terkadang memberi dampat yg 
tidak compitable. Contohnya: Jika emang seseorang tidak punya 
keahlian dalam bervocal apakah layak anda paksa agar rekan tersebut 
bisa bervocal lalu tampil lebih dari teman� kita di Indonesia yg 
setiap harinya berdemonstrasi? Saat di Indonesia tepat hal tersebut 
diterapkan dan bahkan secara tidak langsung fenomena lingkungan di 
Indonesia juga membentuk seseorang untuk bertindak vocal. Dan tidak 
dapat kita pungkiri bahwa seseorang itu memiliki keahlian masing� dan 
itu dapat terlihat oleh kita jika selalu diasah.

> Sebab, baik di kampus maupun di lingkungan komunitas pelajar 
> Indonesia di India ini, nuansa kehidupan ilmiah itu seolah mati 
suri.

*** Tidak ada yg mati suri di India ini. Kita dapat membangun diri 
kita masing� dan itu juga sesuai kemampuan yg dimilikinya. Namun 
dalam membangun nuasa ilmiah tersebut pasti setiap orang memiliki 
cara dan metodenya masing�. Kalau boleh saya meminjam kata� bung 
MG "banyak baca!", ini yg akan membuat cara berpikir kita akan lebih 
ilmiah, minimal kita mampu menggunakan kata� yg lebih baik dalam 
menyampaikan sebuah ide dan yg sangat terpenting penyampaian tersebut 
dapat dimengerti oleh orang lain.

> 
> Saya tak bisa membayangkan apa yang terjadi jika sekiranya diadakan 
> "cerdas-cermat" antara mahasiwa/i yang belajar di India dan di 
> Indonesia. Mahasiswa/i yang belajar di Indonesia yang saya maksud 
> tentunya mahasiswa/i yang belajar di UI atau UGM atau UIN Jakarta.

*** Kenapa anda harus membayangkan dampak negatif jika 
diadakannya "cerdas-cermat" antara mahasiswa/i India dan Indonesia 
(UI, UGM, UIN)? seharusnya anda termotivasi dan bergerak dari 
sekarang untuk melihat jauh kedepan keahlian yg anda dan kita semua 
tekuni masing�. Jika anda ahli dalam berpolitik gunakan keahlian anda 
dalam berpolitik dan jika suatu saat anda dihadapkan (adu 
ketangkasan) pada acara "cerdas-cermat" dengan mahasiswa/i Indonesia 
yg ahli pada ilmu kimia, fisika atau kedokteran dan siapa yg akan 
bisa menjawab pertanyaan� yg diajukan oleh dewan juri apabila 
pertayaan tersebut berkisar tentang dunia politik? jelas anda kan? 
dan juga sebaliknya anda akan kwalahan jika harus menjawab pertanyaan 
yg berkaitan dengan ilmu kimia, fisika dan lainnya yg mungkin kurang 
anda tekuni.

 
> Mengapa saya membandingkan kita dengan mereka? Tentunya saya 
melihat 
> bahwa pada kenyataannya kita belajar di India ini juga di 
universitas-
> universitas papan atas.

*** Seharusnya kita tidak perlu membandingkan apakah kita duduk di 
universitas papan atas atau tidak. Namun akan lebih baik lagi jika 
kita dituntut untuk menekuni pengetahuan yg kita tekuni.

> 
> Saya "iri" sekali begitu di inbok email saya banyak sekali undangan 
> dari rekan-rekan di tanah air untuk menghadiri seminar ini dan itu, 
> diskusi, workshop dsb. Saya bisa membayangkan bagaimana lincahnya 
> mereka dalam menganalisa, membahas dan mengkaji suatu persoalan 
atau 
> permasalahan.

*** Kenapa anda harus "iri", wong anda juga tak dapat berbuat apa� 
untuk dapat menghadiri seminar ini dan itu, diskusi ini diskusi itu 
secara darat kan atau hadir secara langsung pada acara tersebut? lalu 
yg seharusnya anda "iri" kan yaitu bagaimana suatu saat atau mungkin 
saat ini juga ide-ide yg anda peroleh tersebut anda curahkan pada 
diskusi� yg mungkin anda dapat tampil atau hadir didalamnya. Menurut 
saya anda sangat aktif dalam berbagai forum diskusi baik Milis 
Nasional dan sebagainya dan sebagainya. Dan ini juga salah satu point 
penting buat anda bukan? dimana suatu saat anda akan secara mudah 
mengolah segala ide-ide yg sebelumnya telah anda terima baik dari 
diri anda sendiri atau pun dari rekan-rekan anda yg sebelumnya 
mengajak anda untuk berdiskusi, berseminar dan sebagainya.

> 
> Untuk itu, adalah sangat menarik sekali bila kita membudayakan 
dalam 
> setiap perjumpaan kita juga diselingi dengan sedikit diskusi yang 
> berfaedah. Tentunya dengan tidak mengenyampingkan obrolan kita 
> seperti biasa: kisah cinta dan asmara. Betulkan mbak Nidya? 

*** Saya sangat sepakat. Dan apalagi jika dikaitkan dengan 
keorganisasian PPI kita dan justru hal tersebut merupakan agenda yg 
semestinya dijalankan dan memiliki pertanggung jawabannya secara sah. 
Bukan hanya disaat kita berjumpa karena justru pembahasan diskusi 
akan berputar keluar dari arti diskusi sesungguhnya dan ini sangat 
berbahaya dan mungkin saja akan membentuk "pasukan� bawah tanah" yg 
tidak jelas. Dan itu telah terbukti. Ingat ko kan Zam? jangan gitu 
lah! serius dikit lah kalo benar� mau berdiskusi! jangan kaya wak wak!

> 
> Wassalam,

*** Wassalamualaikum....
> 
> K' Haji -(Panggilan baru buat saya selain Ust. Dinamis, hehehe)
> 
> 
> --- In [email protected], Nidya <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > Dear...
> > Wah..bahagia sekali akhirnya saya bisa ngisi di milis ini.Karena 
> sometimes,saya merasa blum bisa nymbung dengan arena topics yang 
> biasa dibahas di milis.
> > Apalagi dengan singgungan2 dari k'izam agar mahasiswi2 juga bisa 
> unjuk gigi di milis.Ditambah dengan hasil diskusi dinner kemaren 
> dengan senior saya K'fahim n k'sai.
> > 'ayo dong nid do something in milis'.Ehem,,,ok deh..
> > Wah untuk tema'What type of Men Do Women Want',sepertinya agak 
> sungkan tuk ngomentar ini.
> > Coz as u knows that saya masi terbilang 'kurang ilmu' ttg 
> cowo.harus tanya byk ke master saya K'izam n k'ulis.
> > Kalo diliat dari sisi wanita sih..yaa..siapa juga ga pengen punya 
> cowo yang perfect<tul gak m'mala!!!>
> > Entah pengertian perfect ini apa,karena setiap individu pasti 
punya 
> tipe2 cowo idaman yang berbeda. 
> > Well..menurut saya..cowo bisa dilihat dari 3 sisi.
> > 1.Phisically
> >   Hahha...untuk yang satu ini cewe mana sih yg gak mau punya cowo 
> macem tampang Tom Cruise<ganteng bo!>,ato selera mba mala macem 
> Sahrukan wala.
> >   Emang secara basicly tampang menjadi lirik pertama oleh para 
> wanita.Apalagi kalo ditunjang sama badan athletis ala beckham<mo 
dong!
> >.
> >   Kita2 kalo jadi cewek pasti akan lagsung Pailing in lop with 
dat 
> guy,pd pangangan pertama.hehehe...
> > 2.Mentally
> >   Slain fisik cowo harus ditunjang dengan mental juga.Maksudnya 
itu 
> loh..kayak baik hati,jujur,tidak 
> sombong,pengertian,perhatian,romantis dan sifat2 yang membuat cewe2 
> kelepek2.
> >   Tunggu!!ada yang kurang,percuma kan kalo tidak ditunjang dengan 
> iman yang kuat serta amal ibadah saleh.
> >   Coz sometimes saya melihat byk org2 yg sudah jadi pa haji..tapi 
> kok jarang salat??
> >   Bingung aku...
> > 3.Yang laen2...
> >   Hehehe..kalo yang ini sih ada gak ada diusahakan ada.Yaitu 
> hepeng<ngambil dari istilah echa>.Emng kita sebagai cewek ga muna 
ttg 
> hal yang satu ini.
> >   Why not???<tul ga mba???>.Kalo ga ada modal juga repot.Tar yang 
> traktir syapa dong??.hahha..Jadi cewek matre dong??
> >   Ya gak matre juga siy..asal bisa ngebuat happy juga uda syukur 
> kok...
> >      But disatu sisi juga ada cewe yang berpendapat "udah sukur 
lu 
> ada yang mau".
> > No matter metro sexual men or macho ones.Klo uda cinta<Apa sih 
> cinta itu?tell me!!>ya..sok wae lah..
> > I think its the same ya,yang penting bisa membahagiakan 
pasangannya 
> itu sudah mantep!!!
> > Seperti saya,banyak yang masih yakin kalo jodoh di tangan 
> Allah.Tpi,harus kah cewe hanya menunggu bak gadis pingitan?
> > pan sekarang jaman modern.
> > Soo..Ladies..show up lah!!!
> > Maaf ya kepada cowok2...bukan maksudnya menyinggung kalian 
> semua,tapi apa daya.
> > Saya hanya memberi komentar n unek2 mewakili cewe2 yang ada.
> > Ya,,kalo cowo2 merasa ada yang memenuhi syarat diatas bisa 
langsung 
> mengajukan proposal dan berkas2nya.
> > <apaan sih!!>.
> >       
> >       Salam,
> >    _imutsekali_
> >  BA,Delhi University





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Take a look at donorschoose.org, an excellent charitable web site for
anyone who cares about public education!
http://us.click.yahoo.com/1gzaND/8WnJAA/HwKMAA/igXolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

_________________________________________________________________________
Mhs/Masy. indoindia diharapkan untuk selalu melihat diskusi harian di 
http://www.ppi-india.da.ru dan situs resmi PPI http://www.ppi-india.org 
==========================================================================
Catatan penting:
1- Harap tdk. memposting berita, kecuali yg  berkenaan dg 
masyarakat/mahasiswa/alumni India
2- Arsip milis: http://groups.yahoo.com/group/ppi-india ; 
3- HP Ketua PPI (Jusman): 09810646659 ; Sekjen PPI(Mukhlis): 09897407326
4- KBRI Delhi(11)26110693;26118642; 26118647
5- KJRI Mumbai (022)3868678;3800940;3891255  
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppi-india/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke