** Milis Nasional Indonesia ppi-india **
Jawa Pos
Kamis, 25 Mar 2004,

Primordialisme dan Konflik Antarfakultas
Oleh Salman Nasution *

Munculnya perpecahan lebih banyak disebabkan perasaan superioritas terhadap
diri sendiri dan menganggap orang lain sebagai inferior. Perpecahan lebih
banyak melahirkan konsep aku (yang individual), bukan kami/kita (yang lebih
sosial). Ke-aku-an termanifestasi dalam kelasku, klanku, kelompokku,
kedudukanku, kampusku, fakultasku, agamaku, dan sebagainya yang biasa kita
sebut sebagai primordialisme.

Nilai primordialisme itu sebetulnya wajar. Hal tersebut menjadi tidak wajar
dan bisa menimbulkan perpecahan ketika perasaan superioritas terhadap
ke-aku-an itu sangat berlebihan. Paham egoisme dan kecenderungan individual
bisa menjadi genderang awal praktik diskriminasi yang sangat bias kelas
sosial. Saya kira, di situlah titik awal kritik Karl Marx terhadap model
pembangunan kapitalis.

Sayangnya, model pembangunan ala kapitalis tersebut ikut diadopsi
universitas di Indonesia dengan melakukan reformasi di universitas seperti
yang diajukan kaum reformis liberal di Barat. Dalam kenyataannya, rancangan
reformasi itu tidak lain ditujukan untuk meluruskan organisasi universitas
agar sesuai kepentingan ekonomi neokapitalis dan masyarakat neokapitalis.

Pembenahannya adalah melakukan reorganisasi universitas dan membagi-bagi
tempat belajar dengan kebutuhan ekonomi neokapitalis. Bahkan, ada stigma
umum yang dikampanyekan. Yakni, 100 ribu insinyur akan lebih baik dihasilkan
universitas dalam lima tahun daripada 50 ribu sosiolog atau 20 ribu filosof
yang bakal tidak mendapatkan pekerjaan layak. Sehingga, muncullah sisi
eksklusifitas fakultas. Ada kategori fakultas favorit dan berkelas seperti
kedokteran, ekonomi, dan teknik serta kategori fakultas yang tidak bonafide
seperti filsafat.

Usaha seperti itu menempatkan fungsi universitas pada posisi subordinat
terhadap kebutuhan langsung ekonomi neokapitalis dan masyarakat. Hal
tersebut akan menggerakkan keterasingan dan jarak mahasiswa di antara
fakultas yang berbeda semakin besar. Jika kecenderungan universitas dan
pendidikan sudah mengarah seperti itu, gap sosial antara mahasiswa akan
terlihat.

Dalam dunia pendidikan, hal tersebut akan berakibat fatal. Mahasiswa seolah
tidak diizinkan memilih karir, bidang studi, dan disiplin ilmu yang
dikehendaki serta berhubungan dengan keahlian dan kebutuhannya. Tapi, mereka
dipaksa menerima pekerjaan, disiplin ilmu, dan bidang studi yang berhubungan
dengan kepentingan penguasa masyarakat kapitalis serta tidak berhubungan
dengan kebutuhannya sebagai manusia.

Semakin tingginya sisi eksklusifitas fakultas dalam universitas bisa
mengakibatkan konflik dalam tubuh mahasiswa. Sebab, beberapa kasus tawuran
antarmahasiswa lebih banyak dipicu arogansi dan egoisme fakultas yang
sebetulnya bermuara pada tidak terjalinnya solidaritas keilmuan serta
solidaritas gerakan di antara mereka. Kalau mereka menyadari, satu bidang
keilmuan tidak mungkin berdiri sendiri. Hal itu harus ditopang bidang ilmu
yang lain. Sehingga, sangat penting melakukan hubungan interdispliner dan
cross-fertilization antarilmu, bukan malah membangun arogansi dan egoisme.

Memang, menanamkan pemahaman tersebut tidak mungkin bisa sekali jadi, harus
melewati tahap dan proses panjang. Tapi, minimal dilakukan dengan penyadaran
bahwa eksklusifitas bisa membawa pada perpecahan -bisa dalam bentuk tawuran
atau perkelahian antarfakultas atau antardisplin ilmu. Perlu disadari,
perpecahan merupakan fenomena patologi sosial. Jika tidak segera dibenahi,
perpecahan (konflik) tidak hanya terjadi dalam bentuk manifes yang
insidental, tapi bisa berujung menjadi konflik laten yang berkepanjangan.

Titik rawan yang perlu diwaspadai terhadap sering terjadinya tawuran di
kampus adalah saat kegiatan penerimaan mahasiswa baru yang biasa dikenal
dengan inisiasi kampus, meski pada waktu-waktu lain mungkin terjadi.
Misalnya, kasus yang terjadi baru-baru ini, yakni perkelahian antara Menwa
UII dan UGM.

Konflik horizontal antarmahasiswa dalam satu universitas, dengan kata lain
antarfakultas, cenderung menjadi tradisi dan konflik yang laten. Misalnya,
dalam penerimaan mahasiswa baru, nuansa permusuhan antarafakultas A dan
fakultas B yang telah bertahun-tahun terjadi terus-menerus dinyalakan pada
adik kelasnya. Kita harus memiliki komitmen kuat untuk memutuskan mata
rantai konflik laten seperti itu agar tidak berlarut-larut.

Secara pribadi, saya berpendapat bahwa fenomena kekerasan fisik yang lahir
dari tindakan mahasiswa saat ini merupakan buah pahit sistem pendidikan kita
yang gagal dalam membentuk kepribadian manusia-manusia di dalamnya sebagai
seorang intelektual sekaligus seorang moralis.

Tidak hanya pada pendidikan tinggi. Melainkan, sejak pendidikan dasar,
bahkan pada keluarga, tampaknya, aspek-aspek moral masih belum ditanamkan
secara serius. Akibatnya, kekerasan-kekerasan berbau fisik semacam itu tak
terhindarkan bahkan semakin mentradisi turun-temurun.

Selain hal tersebut, kita semua berharap terhadap munculnya kesadaran dalam
diri kita bahwa solidaritas sesama mahasiswa perlu semakin
ditumbuhkembangkan. Sebab, bukan eranya lagi sesama mahasiswa saling tawuran
hanya mengatasnamakan kelompok, jurusan, fakultas, atau komunitas. Sebab,
bukankah seharusnya kita padu, solid, dan satu dalam langkah serta visi
untuk meluluhlantakkan musuh kita bersama yang tidak lain adalah sistem yang
menindas, arogan, dan kekuasaan yang lalim? ***
. Salman Nasution, Sekjen BEM KM UGM



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Buy Ink Cartridges or Refill Kits for your HP, Epson, Canon or Lexmark
Printer at MyInks.com. Free s/h on orders $50 or more to the US & Canada.
http://www.c1tracking.com/l.asp?cid=5511
http://us.click.yahoo.com/mOAaAA/3exGAA/qnsNAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke